Pages

Kamis, 22 Desember 2011

Orang dan Bambu Jepang, Catatan Seorang Gai-Jin

Yang Inferior selalu berkiblat pada yang Superior. Karena itu, membaca sisi kehidupan orang Jepang dari seorang yang pernah tinggal di sana selama 22 tahun menjadi sangat menarik.
Ajip Rosidi, penulis buku ini, menjadi Profesor tamu di Jepang sejak tahun 1981 hingga 1994. Selama kurun waktu itu, ia mengamati Jepang beserta ragam budaya dan orang – orangnya. Kita bersyukur bahwa Ajip tidak sekedar mengamati namun juga menuliskannya menjadi sebuah buku sehingga kelak banyak orang yang juga akan mengetahui sisi kehidupan sebuah Negara maju.
Sebagaimana kalimat yang saya tulis di awal, di banyak tempat dalam buku ini, Ajip banyak  membandingkan Jepang dengan Indonesia. Namun, Ajip membandingkannya bukan karena merasa rendah diri. Yang saya rasakan, Ajip merasa “perih” karena sebenarnya Indonesia bisa lebih baik daripada Jepang.
Dalam bab Berobat, Ajip menuturkan bahwa ia pernah mengalami serangan jantung ketika berada di Indonesia. Ia pun berobat ke Rumah Sakit jantung. Di sana sang dokter mengatakan bahwa ia harus dioperasi by-pass karena ada penyumbatan. Ajip mengatakan bahwa kalau harus dioperasi ia akan melakukannya di Jepang karena ia memiliki asuransi di sana. Berbekal surat dan video rekaman ketika ia dikatater oleh dokter Indonesia ia berobat ke dokter Aihara. Dan apa kata dokter Aihara? Ajip tidak perlu dioperasi karena penyumbatan itu hanya pada saluran darah yang kiri!
Di rumah sakit Jepang pun Ajip mengamati betapa pasien sangat dihargai. Berbeda dengan kebanyakan rumah sakit di Indonesia, rumah sakit di Jepang tidak mewajibkan pasien membayar jaminan ketika akan dirawat di rumah sakit. Kata Ajip, Rumah Sakit berkewajiban merawat orang sakit tidak peduli apakah ia punya uang atau tidak (halaman 87). Beberapa waktu lalu saya melihat berita tentang orang sakit yang tidak mendapatkan perawatan di sebuah rumah sakit di Surabaya. Baru setelah ditayangkan di televisi, beberapa pejabat berduyun – duyun ke Rumah Sakit itu dan menjamin perawatannya!
Yang berikutnya, Ajip mengamati juru rawatnya. Di kantor para juru rawat itu tidak ada kursi! Di kantor juru rawat itu hanya ada sebuah meja bundar tempat dimana para juru rawat melakukan sesuatu. Ya Alloh, jadi selama menjalankan tugas, para juru rawat itu terus menerus berdiri! (halaman: 88).
Kalau ada panggilan dari kamar pasien, para juru rawat itu berlari menuju kamar pasien. Bayangkan, berlari! Dan, tidak ada televisi untuk kantor juru rawat. Dokter di Jepang seringkali memeriksa tekanan darah pasien sendiri. Ketika ke rumah sakit, marilah kita sesekali mengamati keadaan rumah sakit kita dan membandingkan dengan pengamatan Ajip di Jepang.

Dalam bab Negara Industri, Ajip mengamati listrik di Jepang. Jepang adalah Negara industri yang maju. Namun, Jepang hanya menggunakan tegangan listrik 110 Volt. Kita yang berkeinginan agar menjadi Negara industry yang juga maju mengubah tegangan listrik 110 volt itu menjadi tegangan 220 volt. Dan biaya untuk pengubahan tegangan itu dibebankan kepada konsumen.
Tegangan listrik yang 110 volt di Jepang mencukupi kebutuhan rakyat Jepang. Selama tinggal di Jepang selama 22 tahun, Ajip hanya mengalami mati listrik selama satu kali saja! Dan itu pun diberitahukan sebulan sebelumnya! Bagaimana dengan Indonesia? Tidak heran jika Taufik Ismail mengatakan bahwa ia Malu Menjadi Orang Indonesia. Indonesia belum juga menjadi Negara industry bahkan menjadi Negara penghutang. Dan listrik 220 volt itu sedemikian seringnya mati. Di tempat saya, dengan hanya turun hujan selama beberapa jam saja, listrik bisa mati tanpa saya ketahui apa sebabnya. Dalam sehari bisa sampai lima kali mati listrik. Entah berapa barang elektronik yang rusak karena seringnya turun tegangan dan mati listrik itu.
Kita tentu ingin sekali menjadi warga dari sebuah Negara yang makmur dan bermartabat layaknya Jepang. Sayangnya kita seringkali terjebak pada pemikiran bahwa sebuah Negara yang maju pastilah Negara yang menarik secara fisik. Karena itulah kita fokus pada berbagai hal yang bersifat fisik. Gedung – gedung tinggi dibangun, mall – mall banyak terdapat di sudut – sudut kota tanpa mempertimbangkan tata kota yang baik. Namun kita melupakan pembangunan manusianya. Ciri – ciri fisik memang menjadi salah satu penanda kemakmuran, namun jangan lupa bahwa yang menciptakan kemakmuran adalah manusianya. Kita belum berhasil dalam membangun manusia. Banyak dari kita yang lebih mementingkan diri sendiri. Korupsi semakin sulit saja diberantas. Itu salah satu contohnya.
Ajip menceritakan bambu Jepang hingga Yakuza dalam buku ini. Namun sayang sekali, ia tidak menceritakan tentang gempa. Gempa adalah salah satu ciri dari Jepang. Saya ingin sekali mengetahui bagaimana Jepang mengantisipasi gempa baik secara fisik maupun pembelajaran kepada warganya.
Namun begitu, meskipun bisa jadi sekarang semua sudah banyak berubah di Jepang, buku ini tetap layak kita baca sebagai salah satu referensi untuk mengetahui sisi kehidupan Jepang.




Informasi Buku:
Buku 25
Judul: Orang dan Bambu Jepang, Catatan Seorang Gai-Jin
Penulis: Ajip Rosidi
Penerbit: Pustaka Jaya
Tebal:  208 halaman
Cetakan:  II,Desember 2009

Kamis, 15 Desember 2011

Love Bites: The Twilight Saga's Companion

Kerja keras sepertinya menjadi tema dari buku ini. Twilight Saga adalah novel yang memiliki banyak penggemar di seluruh dunia. Dan buku ini, sebagaimana judulnya, merupakan bacaan pendamping dari novel itu. Namun, alih – alih hanya mengisahkan tentang tokoh – tokoh novel, buku ini banyak menceritakan kerja keras yang harus dilakoni si penulis cerita dan aktor – aktris yang bermain di film Twilight Saga sehingga baik buku ataupun film Twilight Saga bisa sedemikian sukses di pasaran. 

Twilight Saga ditulis oleh Stephenie Meyer. Stephenie sepertinya masuk dalam kategori – meminjam istilah Malcolm Gladwell – penulis yang “cepat panas”. Twilight ditulisnya tanggal 2 Juni 2003 dan selesai pada akhir agustus tahun yang sama. Dalam sehari ia bisa menulis 10 sampai 12 halaman dalam spasi tunggal. Karenanya tidak heran jika proses penulisan novel yang tebal namun memiliki banyak penggemar fanatik ini hanya diselesaikan Stephenie hanya dalam waktu tiga bulan saja. Akan tetapi sebelum tenar, naskah Twilight ini ditolak kurang lebih delapan penerbit. Tanpa kegigihan Stephenie mungkin naskah Twilight hanya akan menjadi kertas berjamur di sudut kamar tidur Stephenie! 

Darimana Stephenie mendapatkan inspirasi dalam menulis novelnya? Siapa yang mengira jika ternyata ia menulis novel percintaan vampir ini dari mimpinya. Apa isi dari mimpinya silakan anda baca sendiri. Jika ia menjadikan mimpinya sebagai inspirasi dalam menciptakan novel laris ini, jalan cerita novel twilight ternyata banyak diadaptasi dari Novel terkenal sepanjang masa karya Jane Austen; Pride and Prejudice. Bahkan perjalanan hidup tokoh Twilight ternyata mirip dengan perjalanan hidup tokoh – tokoh di Pride and Prejudice. Liv Spencer, penulis buku ini memerlukan sepuluh halaman untuk menunjukkan kesamaan jalan cerita Pride and Prejudice dengan Twilight. Bahkan di halaman 48 Liv menulis bahwa Stephenie Meyer menciptakan pasukan pembaca baru Pride and Prejudice dengan menuliskan novel Twilight ini. 

Sayangnya, meski di judul ada tambahan kalimat “ The Twilight Saga’s Companion” dari Penerbit Atria, buku ini hanya menghabiskan tiga bab saja untuk membahas buku Twilight. Sisanya, 18 bab, berisi tentang film Twilight. Saya sebenarnay lebih menginginkan agar buku ini berkisah tentang bagaimana Stephenie berdamai dengan hatinya sendiri ketika menciptakan tokoh – tokoh novelnya. Saya sangat ingin tahu bagaimana kehidupan normal Stephenie ketika menuliskan novel ini. Bagaimana hubungan ia dengan suaminya dan anak – anaknya ketika menulis. Bayangkan, suami Stephenie bahkan harus rela berhenti bekerja dan menjadi “Bapak Rumah Tangga” karena kesibukan Stephenie dalam menulis! Karena itu, menurut saya ada baiknya Penerbit Atria memberi judul buku ini dengan Love Bites: The Twilight Saga Movie’s Companion! 

Akan tetapi, meskipun sedikit kecewa, saya tetap mendapatkan pesan berharga dari buku ini. Pesan itu adalah bahwa jika kita menginginkan sesuatu, kita harus memperjuangkannya. Robert Pattinson pemeran Edward Cullen dalam film Twilight adalah contoh pertama pekerja keras. Robert awalnya dicemooh para penggemar Twilight ketika diketahui akan memerankan Edward Cullen. Menyadari beban yang sangat berat dari para penggemar Twilight, Robert berusaha mati – matian agar dapat memerankan Erward Cullen dengan sebaik – baiknya. Bayangkan, Robert menamatkan tiga buku Twilight hanya dalam satu akhir pekan saja. Dan bahkan untuk lebih menjiwai perannya, Robert pernah berniat untuk tidak berbicara dengan orang lain selama sebulan lamanya! 

Begitu juga dengan Taylor Lautner yang memerankan Jacob Black. Karena dalam kisahnya, Jacob Black adalah seorang yang bertubuh besar, Taylor pun melatih tubuhnya dengan keras sehingga bobot tubuhnya naik 13 kilogram hanya dalam waktu 11 bulan saja. 

Kerja keras yang semacam ini seringkali saya dengar dari aktor – aktor luar negeri. Namun saya jarang mendengarnya dari aktor – aktor kita sendiri. Banyak dari aktor kita yang hanya bermodalkan tampang keren saja tanpa dibarengi kemampuan acting yang baik. Produk film atau buku – buku kita sering terkesan dibuat secara terburu – buru agar cepat selesai sehingga siapapun akan mampu merasakan kehambaran atau kedangkalannya. 

Mungkin buku ini kurang memenuhi keinginan saya namun untuk pelajaran yang saya dapat darinya, saya merekomendasikannya untuk anda baca. 

Informasi Buku:
Buku 24
Judul: Love Bites: The Twilight Saga's Companion
Penulis: Liv Spencer
Penerjemah: Nengah Krisnarini
Penerbit: Penerbit Atria
Tebal:  360 halaman
Cetakan:  I, November 2011

Rabu, 07 Desember 2011

Video Review Buku Steve Jobs

Ada banyak hal dari Steve Jobs yang tidak saya ketahui. Buku ini benar - benar inspiratif sehingga saya merasa perlu untuk membuat videonya. Berikut video yang saya maksud:

Steve Jobs memang orang yang penuh inspirasi.

Lihat video saya yang lain di Youtube

Selasa, 06 Desember 2011

Steve Jobs


Buku ini hanya memerlukan satu kata saja – inspiratif – untuk menunjukkan bahwa ia sangat layak untuk dibaca oleh siapapun. Steve Jobs dikenal dengan presentasi – presentasinya yang memukau dan kata – katanya yang “bersayap”.  Namun buku ini menguak lebih dalam lagi sisi kehidupan Steve Jobs yang mungkin belum anda ketahui.
Terus terang saja saya lebih mengenal Bill Gates daripada Steve Jobs sebagaimana lebih banyak orang yang menggunakan Windows daripada Macintosh. Saya tidak terlalu akrab dengan Mac. Karenanya tentu saja saya tidak begitu peduli dengan Steve Jobs. Bahkan ketika membaca sebuah artikel yang berisi berita bahwa Jobs didiagnosa menderita kanker pun saya tidak begitu peduli. Reaksi saya sangat jauh berbeda dengan ketika saya mendapati sebuah artikel yang berisi cemoohan terhadap Bill Gates. Orang yang mencemooh Bill Gates adalah orang bar – bar, begitu pikir saya saat itu (pemikiran yang terus saya pertahankan hingga akhirnya saya mengenal Richard Stallman beserta ide – idenya).
Namun Jobs adalah orang besar dibalik Apple Computer. Karena itu, saya harus mengenalnya lebih dalam. Steve Jobs adalah seorang yang sangat perfeksionis. Dan Walter Isaacson, penulis buku ini, adalah seorang penulis biografi yang dipilih Jobs untuk menuliskan riwayat hidupnya. Kesimpulan saya, buku ini pasti dapat memuaskan keingintahuan saya terhadap kehidupan Steve Jobs. Dan saya benar.
Ibu biologis Steve Jobs, Joanne Schieble, hamil di luar nikah dengan seorang asisten pengajar muslim dari Suriah, Abdulfattah Jandali. Hubungan Joanne dengan Jandali tentu tidak direstui. Karenanya, ketika Jobs lahir, ia diserahkan untuk diadopsi. Sedianya Jobs akan diadopsi oleh pasangan pengacara karena Joanne menginginkan agar Jobs diadopsi oleh lulusan perguruan tinggi. Namun pasangan pangacara itu membatalkan niatnya karena mereka menginginkan seorang anak perempuan. Jobs akhirnya diadopsi oleh seorang yang bahkan tidak lulus sekolah menengah, Paul Jobs, seorang yang memiliki minat besar di bidang permesinan. Awalnya Joanne tidak mau menandatangani surat adopsi. Namun setelah Paul Jobs berjanji bahwa ia akan menyekolahkan Jobs sampai ke perguruan tinggi, barulah Joanne setuju. Akan tetapi, orang tua yang menyerahkan dirinya untuk diadopsi tak pelak melukai jiwanya. Seorang teman dekat Jobs, Del Yocam mengatakan: “Menurutku, keinginannya untuk mengendalikan apa pun yang dia ciptakan, berasal langsung dari kepribadiannya dan fakta bahwa dia telah ditinggalkan ketika lahir.” (hal. 6).
Coba anda perhatikan kalimat Del Yocam berikut: ....keinginannya untuk mengendalikan apa pun yang dia ciptakan...... Apa maksudnya? Komputer Apple paling terkemuka sepanjang masa, Macintosh, sebenarnya dinamai demikian oleh Jef Raskin. McIntosh adalah jenis apel kesukaan Raskin. Ejaannya diubah menjadi Macintosh agar tidak menyamai nama pembuat peralatan audio, McIntosh Laboratory. Namun Raskin berbeda pandangan dengan Jobs soal performa Macintosh. Raskin hanya ingin sebuah komputer dengan harga $1.000. Dengan harga serendah itu, sudah bisa dipastikan bahwa performa komputer itu biasa – biasa saja. Berbeda dengan Raskin, Jobs menginginkan sebuah komputer yang hebat. Ia tidak mempedulikan berapa harga yang akan dibandrol. Menurutnya, komputer hebat layak untuk dihargai dengan harga yang tinggi. Raskin pun dipecat.
Bisa jadi masa lalu Jobs juga sangat berpengaruh pada kepribadiannya yang kasar bahkan kejam. Jobs mengelompokkan orang yang bekerja di sekelilingnya dengan orang – orang yang “mendapatkan pencerahan” dan orang – orang yang “tidak baik”. Hasil karya mereka juga dinilai sebagai karya yang “terbaik” atau “sampah”. Ia seringkali meneriaki ide orang yang bekerja padanya sebagai sampah. Namun jika beberapa hari kemudian ia menyetujui ide itu, ia akan membicarakannya kepada setiap orang sehingga seolah – olah ide itu berasal dari dirinya.
Meskipun Jobs sering mencela, ia sangat menghormati orang yang memiliki keyakinan terhadap idenya. Jika Jobs mencela salah seorang insinyurnya dan sang insinyur membantah dengan mengatakan bahwa ia sedang melakukan yang terbaik, Jobs seringkali bisa menerima ide itu. Jobs pernah melihat kerja Bill Atkinson dan mencelanya sebagai sampah. Atkinson membantahnya dan menjelaskan mengapa yang ia kerjakan merupakan sesuatu yang terbaik. Jobs pun menyerah.
Berdasarkan pengalamannya, Atkinson mengajari rekan – rekannya agar menerjemahkan celaan “sampah” Jobs dengan: “katakan kepadaku mengapa itu adalah cara terbaik untuk melakukannya”. (hal. 157). Banyak orang yang tidak menyukai gaya kepemimpinan Jobs. Tetapi, orang – orang terdekat Steve Jobs adalah orang – orang yang memiliki kepribadian kuat. Bukan para penjilat.
Buku ini memang biografi Steve Jobs. Namun sebenarnya saya menginginkan agar Steve Wozniak mendapatkan porsi yang banyak mengingat ia adalah salah seorang di balik kesuksesan Jobs. Ia lah yang menciptakan Apple yang pertama. Dan ia jugalah satu – satunya orang yang tidak pernah dicela atau diperlakukan kasar oleh Jobs. Mungkin perlu buku setebal buku Jobs ini untuk menuliskan riwayat hidup Steve Wozniak.
Mengulang tulisan saya di awal, saya sangat menyarankan anda membaca buku ini. Ada banyak hal dari Steve Jobs dan Apple Computer yang perlu kita ketahui. Jobs mungkin orang yang sangat serius dan kaku. Namun siapa sangka jika di masa mudanya, bersama Wozniak, ia seringkali melakukan kenakalan dengan memanfaatkan kemampuannya di bidang elektronika? Apa hubungan logo Apple (apel tergigit) dengan Alan Turing, penemu komputer pertama yang mati bunuh diri dengan menggigit apel berlapis sianida? Apa yang dimaksud dengan distorsi realitas lapangan? Dan tahukah anda bahwa Jef Raskin, yang memberi nama Macintosh dan Steve Jobs (dua orang seteru) sama – sama meninggal karena kanker? Bacalah dan selamat datang di kehidupan Jobs yang warna – warni.
 
 
Informasi Buku:
Buku 23
Judul: Steve Jobs
Penulis: Walter Isaacson
Penerjemah:Word ++ Translation Service dan Tim Bentang
Penerbit: Penerbit Bentang
Tebal: 
728  halaman + Photo
Cetakan: 
I, Oktober 2011

Jumat, 11 November 2011

Luka dan Api Kehidupan

Anda pernah main Super Mario Bros? Pernahkah anda bayangkan jika tiba – tiba anda masuk ke dimensi game popular itu, dan setiap kali anda berhasil melakukan sesuatu anda mendapatkan tambahan “kehidupan”? Di buku karya Salman Rushdie ini anda akan menemukan yang seperti itu.
Buku ini berkisah tentang Luka, seorang anak dari seorang pendongeng yang terkenal. Rashid Khalifa. Luka ini memiliki dua peliharaan yang tidak biasa. Pertama, adalah seekor beruang dan satunya adalah anjing – eh kalo yang ini biasa ya. Nama kedua binatang itu lebih tidak biasa lagi. Si beruang diberi nama anjing, dan si anjing diberi nama beruang.
Cara mendapatkan dua piaraan ini pun tidak biasa.
Suatu kali sebuah sirkus datang ke kota. Luka yang melihat betapa kejamnya pelatih binatang dalam melatih binatang – binatang itu agar dapat tampil maksimal di sirkus menjadi begitu berang dan menyumpah: “Semoga semua binatangmu berhenti mematuhi perintahmu dan cincin apimu melalap habis tenda jelekmu.” Sangat aneh, tiba – tiba saja semua binatang berhenti mematuhi si pawang  ketika sirkus berlangsung dan di malam harinya tenda – tenda sirkus itu benar – benar terbakar habis. Anjing si beruang dan beruang si anjing, dua binatang dari beberapa binatang sirkus itu menghampiri rumah Luka dan menjadi sahabatnya.
Luka digambarkan sebagai anak yang suka sekali main video game. Mengenai kesukaan anak bungsunya ini, si ayah, Rashid Khalifa dan ibunya, Soraya berbeda pendapat. Rashid beranggapan bahwa video game dapat melatih ketangkasan dan ketrampilan Luka sedangkan ibunya yang lebih rasional menganggap bahwa permainan itu tidak akan bermanfaat bagi Luka. Ketika berdebat dengan Rashid, Soraya berkata:
“Ini bukan ketrampilan yang berguna. Dalam dunia nyata tidak ada level – level, hanya ada kesulitan. Jika dia membuat kesalahan ceroboh dalam permainan itu, dia mendapat kesempatan lain. Jika dia membuat kesalahan ceroboh dalam ujian kimia, dia mendapat nilai minus. Hidup ini lebih keras daripada video game. Inilah yang perlu dia ketahui, dan begitu juga kamu.” (halaman 26).
Dalam hal ini, saya sependapat dengan ibunya Luka. Namun dalam cerita ini, ketangkasan Luka dalam bermain game benar – benar membantunya ketika ia berada di dimensi game. Eh, tapi bagaimana ceritanya hingga Luka bisa masuk ke “alam” game? Begini ceritanya. Suatu kali, Rashid Khalifa merasakan berat pada kakinya. Merambat ke tangannya lalu tubuhnya dan akhirnya ia jatuh tertidur yang tidak bisa dibangunkan. Belakangan Luka tahu bahwa yang menyebabkan demikian adalah pemilik sirkus yang ingin menuntut balas sumpah serapah Luka yang telah menghancurkan karir sirkusnya. Luka ingin menyelamatkan ayahnya dengan masuk ke dunia magis untuk mencuri api kehidupan demi menyelamatkan ayahnya.
Membaca buku Rusdhie ini saya teringat dengan buku Alice and Wonderland. Luka dan Alice sama – sama masuk ke dimensi lain dan bertemu dengan tokoh – tokoh bernama aneh. Coba eja nama berikut: Nobodaddy, Jaldibadal, El Tiempo dan Insultana Ott. Aneh bukan?
Buku ini ditulis dengan kecerdasan imajinasi yang bagus menurut saya. Namun, sangat berat untuk melepas prasangka pada penulis yang pernah mendapatkan ancaman hukuman mati karena menulis novel yang berjudul The Satanic Verses ini. Coba renungkan kalimat yang ada di halaman 20 ini:
“Informasi penting tata letak Negeri Dongeng ini – dan, bahkan, keberadaannya sendiri – telah tersembunyi selama ribuan tahun, dijaga oleh kaum misterius, perusak kesenangan berjubah, yang menyebut diri mereka Aalim, atau Yang Serba Tahu.”
Dengan mencermati kalimat yang tercetak tebal (cetakan tebal dari saya sendiri) kita yang sudah tahu masa lalu Salman Rusdhie pasti merasakan betapa masih dalamnya kebencian Rusdhie terhadap Ulama yang dulu pernah menjatuhkan fatwa hukuman mati kepada sang pengarang.
Terlepas dari latar belakang Salman Rusdhie yang controversial, pesan yang ingin disampaikan dalam kisah Luka ini begitu penting. Kita seringkali ditentukan oleh lingkungan yang membentuk kita. Begitu kuatnya dominasi lingkungan di sekitar kita membuat kita “mengekor” apapun yang menjadi kebiasaan atau yang menjadi keyakinan dari lingkungan kita itu. Rusdhie dengan kisah Lukanya ingin menyampaikan bahwa sebaik apapun nampaknya “jalan” yang dipilih oleh kebanyakan orang, akan lebih baik jika kita memilih “jalan” kita sendiri, jalan sepi yang kemungkinan dihindari oleh banyak orang lain (The Road Not Taken, Robert Frost)
Pesan inilah yang membuat buku ini sangat layak untuk kita baca.


Informasi Buku:
Buku 22
Judul: Luka dan Api Kehidupan
Penulis: Salman Rusdhie
Penerjemah:Yuliani Liputo
Penerbit: Serambi
Tebal: 
300 halaman
Cetakan: 
I, September 2011