Pages

Selasa, 31 Mei 2011

Blink, Kemampuan Berpikir Tanpa Berpikir

Bayangkanlah hal ini: Suatu saat anda sakit dan merasa perlu untuk mendatangi dokter. Anda masuk ke ruang praktek dokter itu dan sang dokter terus menulis di atas kertas seolah – olah tidak ada orang lain, tidak tersenyum dan baru berbicara ketika anda mengatakan bahwa anda perlu pertolongan. Jika anda mengalami hal ini, apakah menurut anda dokter semacam ini bisa menjadi seorang dokter yang baik? Yang bisa menyembuhkan banyak pasien? Saya rasa anda akan menjawab: “Meskipun sang dokter bergelar Ph. D dari Amerika, nampaknya berat bagi dia menjadi seorang dokter yang berhasil.”
Jika pertanyaan semacam ini diberikan kepada seratus orang lainnya, saya yakin sebagian besar dari mereka akan menjawab bahwa dokter ini tidak akan menjadi dokter yang sukses. Namun, pertanyaannya, bagaimana mereka bisa yakin bahwa sang dokter akan gagal? Bagaimana mereka bisa mengambil kesimpulan hanya dari kesan pertama mereka atas sang dokter? Itulah Blink!
Buku kedua dari Malcolm Gladwell ini berisi tentang kesimpulan yang kita buat berdasarkan kesan pertama kita atas sesuatu. Menurut Gladwell kesan pertama kita atas sesuatu benar – benar kuat, benar – benar penting dan terkadang benar – benar baik. Tentu saja pendapat Gladwell ini mendapatkan banyak kritikan. Bagaimana sebuah kesimpulan dari sebuah kesan bisa dikatakan sebagai sebuah kesimpulan yang baik? Saya teringat pepatah dalam buku Stephen Covey, 7 Habits of Highly Effective People, yang berbunyi: “Ukur dua kali, potong sekali”. Pepatah yang berasal dari aktivitas tukang kayu ini mengajarkan kepada kita agar berpikir matang, mengumpulkan sebanyak mungkin informasi sebelum membuat kesimpulan dan berbuat. Kita memang diajari untuk tidak terburu – buru.
Namun, seperti dalam Tipping Point, Gladwell memiliki cukup data yang menguatkan pendapatnya ini. Berikut ini contohnya: Suatu saat ada seorang yang mendatangi Museum J. Paul Getty di California dan mengatakan bahwa ia memiliki sebuah patung dari abad ke enam sebelum masehi. Pihak museum melakukan penelitian atas patung itu dengan peralatan canggih dan berkesimpulan bahwa patung itu memang patung dari jaman purbakala. Maka pihak museum pun membelinya.
Akan tetapi ketika dipamerkan, pakar sejarah dan pemahat profesional mengatakan bahwa patung itu bukan dari jaman purbakala. Pihak museum melakukan penelitan dengan peralatan canggih selama empat belas bulan sebelum berkesimpulan bahwa patung itu memang berasal dari jaman purba. Tapi pakar sejarah dan pemahat profesional dengan yakin mengatakan bahwa patung itu palsu hanya setelah selubung patung dibuka. Dan tahukah anda siapa yang benar? Para pakar dan pemahat profesionallah yang benar!
Masih banyak lagi kisah – kisah yang menguatkan pendapat Gladwell dalam buku ini. Ada Vic Braden, seorang pelatih tenis profesional yang tahu bahwa seorang petenis akan mendapatkan double fault hanya dari servis yang dilakukannya. Ada Brian Grazer yang tahu bahwa Tom Hanks akan menjadi seorang bintang film top sejak ia bertemu untuk yang pertama kalinya dengan Hanks. Dan juga ada David Sibley yang mengetahu apakah seekor burung itu langka atau tidak dari jarak dua ratus meter dan ketika sang burung sedang terbang!
Namun, dalam buku ini juga Gladwell menulis bahwa tidak selamanya kesan pertama itu benar. Konon, Gladwell mendapatkan ide untuk menulis buku ini dari pengalaman pribadinya. Gladwell, suatu saat berkeinginan untuk memanjangkan rambutnya yang kribo. Ketika ia berjalan di sebuah jalan, tiba – tiba muncul beberapa orang polisi yang berniat untuk menangkap dia karena menurut polisi itu ia mirip dengan sketsa pemerkosa yang sedang dicari – cari polisi. Tentu saja polisi itu salah. Inilah contoh dari kesan pertama yang salah.
Kesalahan dalam kesan pertama seperti ini disebut Gladwell sebagai  “Warren Harding Error”. Mengapa Gladwell menyebutnya demikian? Warren Harding adalah presiden Amerika ke 29 yang terpilih karena kesalahan kesan pertama. Harding adalah seorang yang bertubuh tinggi besar dan tampan. Orang – orang pun memilihnya menjadi Presiden karena tampilan fisiknya yang sempurna. Tetapi, Harding hanya menjadi presiden Amerika selama dua tahun – mati karena stroke – dan banyak sejarawan setuju bahwa Harding adalah presiden Amerika terburuk.
Ya, buku ini memang berisi tentang kesimpulan dari kesan pertama yang baik dan kesimpulan dari kesan pertama yang buruk sekaligus. Namun, buku ini tidak hanya berisi kisah – kisah dari keduanya tetapi juga berisi bagaimana caranya agar kita dapat menarik kesimpulan yang baik dari kesan pertama. Karena banyak orang yang bisa membuat kesimpulan yang baik dari kesan pertama mereka, Gladwell mengatakan bahwa sebenarnya membuat kesimpulan yang baik dari kesan pertama itu bisa dipelajari dan dilatih. Blink juga berisi hal terakhir ini.
Bagi saya, Blink jauh lebih enak dinikmati daripada Tipping Point. Dan seperti Tipping Point, kekuatan buku ini adalah banyaknya data – data dari lapangan.

Informasi Buku:
Buku 4
Judul: Blink, Kemampuan Berpikir Tanpa Berpikir
Penulis: Malcolm Gladwell
Penerjemah: Alex Tri Kantjono Widodo
Penerbit: Gramedia
Tebal: 316 halaman
Cetakan: VI,Februari 2009

4 komentar:

  1. Have finished reading The Tipping Point, now towards to Blink. Good reading, very enlightening! :)

    BalasHapus
  2. @dela: Thanks. Such an interesting book right?

    BalasHapus
  3. Walah...kok jadi tertarik sama Blink juga ya? Alamat bakal membengkak wishlist-ku nih! Beginilah selalu efek blogwalking ke para blogger buku. Selalu menemukan buku yg bagus, hehehe...

    BalasHapus
  4. @Fanda: sejak menulis Tipping Point, Gladwell terus menulis buku yang, bagi saya sangat bermutu. Baca deh, sehabis membaca buku ini, saya melihat langit. Dan saya rasa langit jauh lebih biru daripada biasanya. he he he. makasih dah berkunjung mbak fanda.

    BalasHapus