Pages

Jumat, 24 Juni 2011

What The Dog Saw, Dan Petualangan – Petualangan Lainnya

Buku terakhir dari Malcolm Gladwell ini berisi esai – esai Gladwell di majalah The New Yorker. Berbeda dengan tiga buku Gladwell sebelumnya, buku ini diberi judul What The Dog Saw.  Apa yang dilihat oleh anjing?
Ketika saya masih kecil, teman – teman saya bilang bahwa ketika ada seekor anjing menggonggong di malam hari berarti anjing itu sedang melihat mahluk halus yang tengah melintas. Tentu saja buku Gladwell ini jauh dari takhayul – takhayul semacam itu. Sembilan belas esai yang ada di buku ini berangkat dari keingintahuan Gladwell pada apa yang ada di balik pekerjaan harian orang lain.
Buku ini dibagi dalam tiga bagian. Bagian pertama berisi tentang orang – orang yang memiliki obsesi – Gladwell lebih suka menamainya sebagai Jenius Minor. Bagian dua berisi kisah – kisah yang dapat kita gunakan sebagai cara untuk menata pengalaman,  dan bagian tiga berisi perkiraan – perkiraan yang seringkali dibuat oleh seseorang terhadap orang lain.
Sebenarnya, judul buku ini diambil dari judul salah satu esai dari bagian pertama. Esai ini berisi kisah seorang Cesar Millan, pelatih anjing dan pembawa acara Dog Whisperer di saluran National Geographic. Kalau anda pernah menonton tayangan Dog Whisperer anda akan tahu bahwa Cesar adalah seorang penolong bagi seseorang yang memiliki anjing yang bermasalah. Anjing – anjing yang berulah dan memporak porandakan seluruh rumah atau bahkan yang menyerang manusia sekalipun akan dapat diatasi oleh Cesar. Kalau dilihat dari judul tayangan, Dog Whisperer, kita akan berkesimpulan bahwa Cesar adalah seseorang yang memiliki kekuatan supranatural sehingga dia bisa “membisiki” anjing nakal sehingga anjing itu menjadi penurut. Namun tidak, ketrampilan yang dimiliki oleh Cesar sesungguhnya bisa dimiliki oleh siapa saja asalkan mereka mengetahui bagaimana seekor anjing berpikir.
Menurut Cesar, seekor anjing akan mematuhi pemiliknya jika pemilik si anjing itu memiliki keberadaan (presence). Apakah seseorang memiliki keberadaan atau tidak, jika dilihat dari mata seekor anjing, itu terlihat dari sikap, bahasa tubuh seseorang itu. Bahasa tubuh yang menghadirkan keberadaan inilah yang tidak dimiliki oleh semua orang sehingga seekor anjing berani menindas pemiliknya.
Di bagian kedua dari buku, ada kisah yang sangat menarik bagi saya. Di ajang piala Wimbledon 1992, Jana Novotna bertarung melawan Steffi Graf. Novotna memimpin pertandingan. Tinggal satu poin lagi ia akan memenangkan pertandingan. Namun, di detik – detik terakhir ini, permainan Novotna menjadi sangat buruk. Ia bertanding layaknya seorang amatir. Berkali – kali ia melakukan kesalahan yang membuat dirinya akhirnya dapat ditaklukkan oleh Steffi Graf.
Setelah menulis kisah Novotna, Gladwell menulis tentang kecelakaan pesawat yang dialami oleh John F. Kennedy, jr. yang membawanya  menemui ajal. Pada bulan juli 1999, Kennedy mengendarai pesawatnya. Malam itu berkabut. Awalnya Kennedy menggunakan jajaran lampu di jalanan sebagai pedoman terbang. Tapi kabut menutupi cahaya lampu itu sehingga akhirnya pesawatnya oleng dan terjatuh.
Novotna dan Kennedy sama – sama mengalami kegagalan. Namun penyebab kegagalan keduanya tidak sama. Novotna gagal karena tercekat (choked) sedangkan Kennedy jatuh karena panik. Apa beda antara tercekat dengan panik? Tercekat terjadi karena kita berpikir terlalu banyak tentang apa yang seharusnya kita lakukan. Sedangkan panik terjadi karena kita berpikir terlalu sedikit tentang apa yang seharusnya kita lakukan.
Novotna adalah seorang pemain tenis profesional. Ia telah memiliki jam berlatih dan jam tanding yang sangat banyak. Jadi, kekalahannya dari Graf tentu tidak disebabkan oleh kurangnya latihan. Tetapi, kekalahannya disebabkan ia terlalu banyak berpikir tentang segera menyelesaikan pertandingan dengan sebaik – baiknya. Pikiran ini mempengaruhi pola permainan Novotna. Alih – alih bermain dengan santai, ia bermain dengan tegang. Karenanya ia banyak melakukan kesalahan dalam memukul bola.
Berbeda dengan Novotna, Kennedy belum memiliki jam terbang tinggi dalam mengendarai pesawat. Maka ketika ia mengalami masalah ketika terbang, ia malah terfokus dalam menemukan cahaya yang akan dijadikannya pedoman terbang. Ia tidak melakukan tindakan yang akan menyelamatkannya – yaitu memaksimalkan penggunaan peralatan di pesawat terbang yang dinaikinya. Ketika masalah yang dihadapinya semakin serius, ia semakin terfokus dalam mencari cahaya bukan ke alat. Ia belum memiliki pengalaman dalam memaksimalkan penggunaan alat. Maka, jatuhlah pesawat itu bersama dirinya.
Di bagian akhir terdapat satu kisah yang akan menyentak paradigma berpikir kita tentang kejeniusan. Kita selalu beranggapan bahwa semua orang jenius pasti cepat dalam berkarya. Namun keyakinan kita yang semacam ini tidak sepenuhnya benar. Memang banyak orang jenius yang memiliki kecepatan dalam berkarya. Namun tidak sedikit juga yang lambat dalam melahirkan karyanya.
Ben Fountain berhasil menulis bukunya yang mendapat pengakuan sebagai buku yang baik ketika ia berumur empat puluh tahun dan setelah berjuang mati – matian dalam menulis dan setelah beberapa kali ditolak oleh penerbit. Fountain berbeda dengan Herman Melville yang menulis satu buku per tahun di umur dua puluhan dan ketika di umur tiga puluhan ia berhasil menulis karya terbaiknya Moby Dick. Ben Fountain lebih mirip Mark Twain yang perlu menghabiskan waktu hingga sepuluh tahun untuk menulis Huckleberry Finn.
Lalu apa yang menyebabkan seseorang lambat dalam melahirkan karya sedang yang lain cepat dalam berkarya? Ini disebabkan mereka memiliki tipe kreativitas yang berbeda. Orang – orang seperti Herman memiliki tipe kreatifitas konseptual sehingga hingga ia mampu menyelesaikan karyanya dengan cepat. Sedangkan orang seperti Fountain dan Mark Twain memiliki tipe kreatifitas eksperimental. Mereka perlu mencoba – coba dalam berkarya. Tak heran jika mereka lambat dalam berkarya.
Masih terdapat banyak kisah di buku ini selain kisah – kisah yang saya cuplik di atas. Kalau mau jujur, sebenarnya kisah – kisah semacam ini banyak terjadi di sekeliling kita. Atau mungkin sudah pernah kita baca. Namun Gladwell, sekali lagi, mengangkat kisah – kisah itu, dan melihatnya dari sudut pandang yang sama sekali berbeda. Membaca buku – buku Gladwell akan mencerahkan pemikiran kita dan membiasakan diri kita untuk melihat segala sesuatu dari sisi lain.



Informasi Buku:
Buku 6
Judul: What The Dog Saw, Dan Petualangan – Petualangan Lainnya
Penulis: Malcolm Gladwell
Penerjemah: Zia Anshor
Penerbit: Gramedia
Tebal: 457 halaman
Cetakan: II, Pebruari 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar