Pages

Minggu, 14 Agustus 2011

Memperbaiki Nasib

Kabarnya, John Lennon, Agatha Christie, Winston Churchill, Tom Cruise dan Leonardo da Vinci adalah orang – orang yang memiliki cacat mental. Kalau kemudian mereka menjadi orang – orang besar di bidangnya masing – masing, tentu jalan yang mereka tempuh sedemikian panjang. Namun, bukankah orang yang memiliki cacat mental ataupun normal – normal saja tetap harus meniti jalan yang panjang untuk mencapai kesuksesan? Bukankah itu merupakan harga yang harus dibayar?
Tentu saja begitu. Yang jadi persoalan adalah, mengapa ada orang yang secara mental baik-baik saja, tidak mampu mencapai keberhasilan sebagaimana orang – orang yang saya sebut di atas? Tentu faktor – faktor seperti koneksi dan nasib baik juga memiliki pengaruh. Akan tetapi, kebanyakan orang – orang yang memiliki kemampuan di atas rata – rata pun tidak menjadi apa – apa karena mereka tidak memiliki sikap yang mendorong mereka ke keberhasilan.
Buku Memperbaiki Nasib yang dikarang oleh Dr. Ibrahim Elfiky ini berbicara mengenai sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang agar selalu memperoleh keberhasilan sepanjang hidupnya. Tunggu dulu, bukankah keberhasilan ditentukan oleh kecerdasan? Einstein menjadi besar karena kecerdasannya yang luar biasa. Tidak selalu. Christopher Langan memiliki IQ 195 sedangkan Einstein “hanya” 150. Apakah anda pernah mendengar nama Christopher Langan? Tidak? Tentu saja, Langan memang cerdas, tapi ia “bukan siapa – siapa”.
Jika Ibrahim Elfiky pernah membaca sebuah iklan bimbingan belajar yang berbunyi: BAHASA INGGRIS + MATEMATIKA = SUKSES, tentu ia akan tersenyum. Ya, kecerdasan ataupun bakat yang cemerlang bukan penentu utama keberhasilan. Saat SMA, saya benar – benar menyukai grup band Nirvana. Musik mereka menghentak dan lirik – lirik lagu mereka memiliki makna ganda. Di balik musik dan lirik yang brilian itu, terdapat seorang yang tampan dan cool, Kurt Cobain. Tentu saja saya sangat kecewa ketika mendengar berita tentang kematian Kurt, di saat popularitasnya sedang berada di puncak. Namun saat mengetahui bahwa Kurt mati karena bunuh diri, saya mencoba mencari tahu mengapa dan betapa terkejutnya saya ketika mengetahui bahwa salah satu penyebab bunuh diri itu adalah karena istrinya yang terlalu dominan sehingga membuat ia begitu tertekan. Nah, bukankah bakat cemerlang pun bukan jaminan keberhasilan?
Orang memang perlu cerdas dan berbakat, mereka perlu jaringan, kesempatan dan nasib baik untuk berhasil. Tapi jika tidak dibarengi dengan sikap yang baik, keberhasilan jadi begitu sulit untuk diraih. Sayangnya, seringkali sikap dan perilaku kita sudah demikian permanen. Menurut Elfiky, ada lima hal yang mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang. Yang pertama adalah orang tua. Masuk akal, karena orang tua adalah orang – orang pertama yang bergaul dengan kita. Orang tua kita, meski dengan maksud yang baik, terkadang berbuat kesalahan sehingga membentuk sikap kita hingga kita dewasa. Padahal, di usia tujuh tahun, 90% nilai pendidikan yang diajarkan oleh orang tua akan tertanam di pikiran seorang anak.
Kedua adalah sekolah. Anda tentu masih ingat guru yang membuat anda jengkel sekali. Sekali anda tidak menyukai gurunya, apakah anda akan menyukai pelajaran yang diampunya? Yang ketiga adalah sahabat. Apakah anda perokok? Jika ya, saya sangat yakin bahwa jika bukan orang tua anda, pasti kawan – kawan anda yang mempengaruhi anda untuk merokok.
Yang keempat adalah informasi. Seorang tokoh di sinetron Anak Menteng – ini sinetron saat saya masih SMA, selalu mengemut permen lolipop. Esok harinya di sekolah, teman – teman saya banyak yang mengemut lolipop. Dan yang kelima adalah diri sendiri.
Elfiky, dalam buku ini, tidak membahas empat hal yang pertama. Ia banyak berbicara mengenai faktor yang kelima itu. Intinya, sebenarnya kitalah yang seharusnya bertanggung jawab atas apapun yang terjadi pada kita. Kita tidak perlu mencari – cari alasan atas apapun yang menimpa kita. Dalam buku setebal 190 halaman inilah Elfiky memberitahukan cara – cara agar kita bisa menjadi pribadi yang memiliki sikap terbaik, yang akan menghantarkan kita ke kesuksesan.
Jika anda sudah terbiasa membaca buku – buku pengembangan diri yang tebal – tebal seperti buku yang ditulis oleh Stephen Covey atau Dale Carnegie, membaca buku Elfiky ini seolah menyesap setetes air dari samudra yang luas. Namun, jika anda memerlukan buku yang bisa anda buka setiap saat anda memerlukan nasihat, tanpa perlu membaca penjelasan yang bertele – tele, buku ini untuk anda.
Terakhir, saya rasa buku ini terwakilkan tagline sebuah iklan es krim: Sedap Sekali Hap!.



Informasi Buku:
Buku 14
Judul: Memperbaiki Nasib, Terapi Mengendalikan Diri Agar Hidup Terus Lebih Baik
Penulis: Dr. Ibrahim Elfiky
Penerjemah: Nur Hizbullah
Penerbit: Zaman
Tebal:  190 halaman
Cetakan:  2011

1 komentar: