Pages

Kamis, 18 Agustus 2011

Untung Surapati


Sumbangsih Yudhi Herwibowo bagi kesusastraan Indonesia perlu kita apresiasi. Dia mengubah teks sejarah yang jarang bisa dinikmati khalayak umum, menjadi sebuah novel yang menarik. Dan yang sudah saya baca, diantara novel sejarahnya yang lain, adalah Untung Surapati ini.
Untung Surapati adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang saya ragu kalau siswa – siwa kita tahu tentang dia. Saat saya kecil dulu, kisah Untung Surapati dan Kapten Tack dibuat umbul (kertas kecil – kecil bergambar yang dimainkan dengan cara melemparkannya ke udara). Jadi, meskipun hanya sedikit, kita mengenal Untung Surapati ini. Namun, sekarang siapa yang mau memainkan umbul?
Saya tidak tahu apakah Untung Surapati tercantum dalam buku teks IPS saat ini. Akan tetapi, meskipun tercantum, buku teks tetaplah buku teks – sangat sedikit menarik perhatian kita. Oleh karena itu, jerih payah Yudhi Herwibowo dalam meramu teks sejarah menjadi sebuah novel sejarah yang istimewa ini sangat perlu kita hargai.
Untung Surapati, awalnya adalah seorang budak dari Mijnheer Moor. Badannya yang kecil dan kurus membuat teman – teman budak yang lain memanggilnya dengan sebutan “kurus”. Dan ia, sampai beberapa saat, memang dipanggil dengan sebutan itu. Namun, Mijnheer Moor merasa selalu mendapatkan keuntungan setelah si Kurus ikut dengannya. Karena itulah Moor mengubah nama Kurus itu menjadi Untung. Sejak itulah nama Untung melekat pada dirinya.
Karena kesetiaannya kepada keluarga Moor, Untung mendapatkan perlakuan istimewa. Saban hari Untung bermain dengan anak Mijnheer Moor yang bernama Suzanne. Dan selama ia masih bermain dengan Suzanne, ia dibebaskan dari tugas – tugas yang lain. Suzanne senang sekali dengan kupu – kupu sehingga ia selalu mengajak Untung untuk menangkapnya. Tidak ada yang menduga bahwa kebiasaan Suzanne dan Untung saat masih kanak – kanak ini akan tetap mewarnai sejarah kehidupan Untung Surapati hingga ia menjadi dewasa.
Dalam sebuah kesempatan, Untung melihat sesosok manusia yang berlari di atas air. Ia menjadi begitu kagum dengan orang ini. Karena kekaguman yang luar biasa itulah ia berani mencegat orang yang bisa berlari di atas air ini di ujung sungai. Orang sakti ini adalah Ki Tembang Jara Driya. Orang yang berambut putih meskipun masih muda ini kemudian menjadi guru bela diri Untung Surapati. Ki Tembang pulalah yang pertama kali mengenalkan Untung dengan kondisi bangsanya yang sedemikian sengsara.
Menurut saya, Suzanne dan Ki Tembang adalah dua orang yang membuat Untung menjadi pejuang bagi bangsanya. Jika tidak ada Suzanne, mustahil Untung melakukan pemberontakan. Dan jika tidak ada Ki Tembang, Untung tidak akan mampu melakukan perlawanan. Keadaan semacam ini bukanlah keadaan biasa yang bisa terjadi pada setiap orang. Oleh karena itu, kesimpulan saya, Untung sedari awal memang telah dipersiapkan (baca: ditakdirkan) untuk menjadi seorang pahlawan. Karena dua orang ini, Untung menjadi orang yang terkenal. Bagi pribumi ia pahlawan dan bagi VOC, ia adalah duri dalam daging yang seharusnya segera dibinasakan.
Novel Untung Surapati ini ditulis dengan gaya tutur yang mengalir lancar. Membaca novel ini, bagi saya layaknya menonton wayang wong – akhir cerita sudah sedemikian terang benderang. Namun, penulis mampu membangkitkan keingintahuan pembaca sedari awal. Pada bagian prolog, penulis menuturkan cerita penangkapan Untung Surapati. Awalnya Untung telah diumumkan mati dan dikubur di dua tempat yang berbeda. Namun terdengar desas – desus bahwa Untung sebenarnya masih hidup. Karena itu kompeni mengutus Majoor Goovert Knole untuk membasmi pemberontak dan pengikutnya ini. Dalam peperangan kecil, akhirnya Knole berhasil mengalahkan pasukan Untung. Setelah kekalahan itulah Knole berusaha memastikan bahwa Untung telah tewas dengan membuka tandu yang diyakini dipakai untuk mengangkut Untung. Yudhi menuliskannya dengan bahasa yang membangkitkan minat ingin tahu:
Tangannya kemudian segera menyibak kain yang menutup tandu itu. Dan, detik itu juga, ia terbelalak!
Sayangnya, di beberapa bagian terdapat hal yang menurut saya menjadi kekurangan dari novel ini:
Pertama, penulis terlalu berpanjang lebar dengan fakta – fakta sejarah. Di awal – awal buku ini penulis bahkan menuliskan kalimat berikut: VOC merupakan singkatan dari..........  Menurut saya, apalagi ditulis di awal novel, fakta – fakta seperti ini kembali menurunkan minat pembaca untuk membaca lebih lanjut setelah tersulut minatnya dengan membaca prolog.
Kedua, ketimbang menjlentrehkan fakta sejarah dengan panjang lebar, menurut saya akan lebih baik bagi penulis untuk mengeksplorasi kondisi batin tokoh – tokohnya. Bagaimana perasaan Suzanne ketika Untung melarikan diri, bagaimana saat – saat terakhir Suzanne menemui ajal, dan bagaimana kesedihan Untung saat mendengar berita kematian kekasihnya saya rasa kurang dikembangkan.
Ketiga, ketidak konsistenan penulis dalam menggunakan istilah “Kakak” dan “Kakang”. Kedua kata ini bermakna sama. Namun mengapa Untung memanggil Pande dengan sebutan “kakak”, Suzanne juga memanggil Untung dengan sebutan “Kakak”, sedangkan Raden Ayu Goesik memanggil Untung dengan sebutan “Kakang”?
Itu kelemahan novel ini menurut saya. Akan tetapi, kelemahan ini tidak perlu mengurangi niat kita untuk mengapresiasi jerih payah Yudhi Herwibowo dalam mengangkat kisah sejarah, yang bisa jadi tidak diminati banyak orang, menjadi sebuah cerita yang apik.


Informasi Buku:
Buku 15
Judul: Untung Surapati
Penulis: Yudhi Herwibowo
Penerbit: Metamind
Tebal:  660 halaman
Cetakan:  Februari 2011

8 komentar:

  1. ini novel sejarah pertama yang saya baca dan saya menikmati jalan ceritanya. Tapi memang ada beberapa jalan cerita yg masih bikin saya bingung. Awal mulanya kan Untung cuma berseteru sama Ayahnya Suzanne, kok jadi tiba-tiba berseteru sama VOC ya?

    BalasHapus
  2. "Oleh karena itu, jerih payah Yudhi Herwibowo dalam meramu teks sejarah menjadi sebuah novel sejarah yang istimewa ini sangat perlu kita hargai."

    Betul sekali. Seandainya aja waktu saya masih sekolah udah ada buku2 kayak gini ;)

    BalasHapus
  3. @orybun: ah biasa mbak yang kayak gitu. dibaca lagi deh, pasti kelewatan. he he hehe
    @ annisaanggiana: makasih ya.

    BalasHapus
  4. saya berminatdengan buku-buku apa yang digunakan Yudhi dalam menyusun novel ini. Tentunya menarik juga buat dibaca

    nice review mas Eko

    BalasHapus
  5. terima kasih atas reviewnya mas. ini menarik sekali...

    tentang latar sejarah memang saya gunakan untuk penjelas latar. saya sadar kadang ini terasa banyak, saya sendiri sebenarnya ingin menghilangkan begitu saja. itu lebih mudah dan simple. tapi tentu harus ada latar belakang dari sebuah kisah. paparan itu merupakan bentuk ringkas, dan sudah saya saring sedemikian rupa. maaf kalo ternyata masih sangat berlebihan...

    tentang sebutan kakak dan kakang dipakai dengan mengikuti keberadaan tokoh. tentu saat di batavia untung akan memanggil kakak, demikian juga suzanne yang dididik dengan kultur batavia. namun raden ayu goesik koesuma tentu saja akan memanggil kakang karena walau ia menetap di banten, namun asal muasalnya tetaplah dari kartasura.

    demikian mas. sekali lagi terima kasih atas masukannya... :)

    BalasHapus
  6. buku yang menarik. padahal aku agak2 nggak suka buku yang bergenre seperti ini. tapi setelah baca reviewnya, kayaknya aku tertarik buat baca. :)

    BalasHapus
  7. @Helvry: sedari awal saya juga berpikir: "Wah, buku ini mas helvry banget nih.." he hehe. makasih dah komentar.
    @Chilfia: ya, kerja keras penulis betul - betul terasa di buku ini, dibaca mbak. makasih

    BalasHapus
  8. @Yudhi Herwibowo: Waaahhh, surprise!! review-ku dibaca oleh sang penulis. Saya tersanjung mas Yudhi. Mengenai komentar saya atas buku ini, tentu sangat subjektif mas. Pendapat saya dengan pembaca lain tentu bisa berbeda kan?
    Mengenai kakang dan kakak: oh gitu ya? makasih penjelasannya mas.
    sekali lagi, makasih dah membaca dan mengomentari review saya mas. Saya tunggu buku berikutnya.

    BalasHapus