Pages

Senin, 17 Oktober 2011

Battle Hymn of the Tiger Mother

Proses belajar akan berhasil dengan baik hanya jika kita melakukannya dalam kondisi menyenangkan. Begitu teori buku – buku pendidikan dan pembelajaran yang saya baca dari dulu. Buku Quantum Learning adalah buku yang sangat menyenangkan bagi saya hingga saya pernah membacanya berkali – kali. Dan saya rasa, setelah buku Bobby DePorter ini terbit, metode pembelajaran di negeri kita ini menambahkan kata “menyenangkan” di belakangnya. Model pembelajaran PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) muncul di Indonesia pada tahun 1999, pada tahun yang sama buku terjemahan Bobbi DePorter terbit di Indonesia.
Untuk beberapa lama saya terpengaruh dengan metode belajar yang menyenangkan ini. Saya juga begitu memuja metode belajar Montessori sehingga saya pernah menulis kecaman terhadap proses pembelajaran di TK yang saya rasa terlalu menuntut anak – anak agar segera bisa menulis dan membaca. Namun, setelah saya membaca resensi buku Amy Chua, Battle Hymn of the Tiger Mother, saya rasa saya perlu meninjau ulang keyakinan saya itu.
Amy Chua adalah seorang profesor hukum di Yale University. Sebagai seorang anak imigran China di Amerika, ia mendapatkan pendidikan yang keras dari ayahnya yang juga seorang profesor di University of California. Chua diharuskan selalu mendapatkan nilai A plus. Ia diharuskan berbicara menggunakan bahasa China di rumah dan dipukul jika terlontar bahasa Inggris. Ia juga harus belajar matematika dan piano setiap sore dan tidak pernah diijinkan untuk menginap di rumah temannya.  
Ketika tiba saatnya Chua menjadi orang tua, ia pun menerapkan pola pendidikan serupa kepada anak – anaknya. Hal ini dilakukannya bukan karena ia hanya mengikuti ayahnya dalam mendidik anak. Namun, ia begitu percaya dengan sebuah pepatah China yang berbunyi: “Kemakmuran tidak pernah bertahan lebih dari tiga generasi”. Jika pepatah ini dikaitkan dengan keluarga Chua, generasi pertama adalah ayah dan ibunya sendiri. Mereka adalah imigran yang hidup di Amerika secara pas – pasan. Mereka terus bekerja keras hingga menjadi akademisi yang sukses. Namun, sebagai orang tua, mereka adalah orang tua yang keras dan kikir.
Generasi kedua adalah generasi Chua sendiri. Karena didikan yang keras dari orang tuanya, ia juga menjadi seorang akademisi sukses lulusan Harvard University. Sedangkan generasi ketiga adalah generasi anak – anak Chua. Anak – anak Chua hidup makmur karena kerja keras yang telah dilakoni oleh kakek – nenek dan orang tuanya. Kenyamanan hidup yang sedemikian rupa inilah yang  seringkali berperan dalam merosotnya kualitas generasi. Chua sadar dengan hal ini, dan ia tidak ingin anak – anaknya menjadi penyebab kemerosotan generasi.
Sebagai orang tua Amy Chua juga mengharuskan anak – anaknya mendapatkan nilai A di setiap pelajaran sekolah, melarang mereka menonton TV atau main game komputer, melarang mereka main musik kecuali piano dan biola dan, seperti ayahnya, ia juga melarang anak – anaknya untuk menginap di rumah temannya.
Meskipun anak – anak Chua berhasil mendapatkan nilai A di setiap pelajaran, namun buku ini sebagian besar berkisah tentang “peperangan” Amy Chua dalam mendidik anak – anaknya bermain piano dan biola. Mengapa piano dan biola? Menurut Chua, dua instrumen ini adalah instrumen yang paling sulit dimainkan. Dan menurutnya, keindahan terletak pada kesukaran. Ia tidak akan pernah mengijinkan anak – anaknya bermain drum misalnya karena alat musik seperti ini hanya akan membawa anak – anaknya menjadi pecandu narkoba. (halaman 9).
Orang tua China, sebagaimana yang diyakini oleh Chua, tidak mengutamakan kesenangan dalam membesarkan anak. Ketika ia bertengkar dengan anak – anaknya karena mereka merasa ibu mereka terlalu keras, Amy Chua berkata: “Tujuan Mommy sebagai orang tua adalah menyiapkan kalian untuk masa depan – bukan untuk membuat kalian suka pada Mommy”. (hal. 50). Amy Chua mengkritik habis – habisan budaya Amerika dalam membesarkan anak yang menurutnya hanya akan berujung pada hilangnya rasa hormat anak kepada orang tua. Sesuatu yang sangat tabu jika terjadi pada orang tua Asia.
Amy Chua berhasil dalam mendidik anak – anaknya. Dalam berbagai kesempatan, kedua anaknya mendapatkan pujian sebagai pianis dan violis berbakat. Chua memiliki dua anak perempuan. Sophia, anak pertama, adalah pemain piano klasik hebat, kolektor nilai A dan meskipun seringkali berperang mulut dengan ibunya, ia adalah anak yang berbakti. Sedangkan anak Chua yang kedua, Lulu, adalah pemain biola, begitu mahir dan mencintai biola. Namun ia adalah seorang pemberontak. Menurut saya, karena Lulu-lah, Amy Chua menulis buku ini (jika anda membaca buku ini, ada sebuah kisah tak terbayangkan yang terjadi di Rusia antara Lulu dan ibunya, sehingga Chua menulis buku ini sekembalinya dari Rusia, dan juga yang kemudian memporakporandakan paradigma berpikir Amy Chua).
Buku yang sudah lama saya nantikan akan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ini adalah buku yang sangat kontroversial sekaligus mengilhami. Ketika kita menerapkan metode belajar yang menyenangkan gaya barat, kita masih saja mendengar berita tentang orang tua murid yang khawatir anaknya tidak lulus ujian. Ketika saya menulis review ini, saya mendengar anak SMK di kota saya yang dilarikan ke rumah sakit karena tawuran. Jika memang metode belajar  menyenangkan ala barat tidak bisa menjawab permasalahan pendidikan kita, mungkin ada baiknya kita beralih ke metode Amy Chua.


Informasi Buku:

Buku 19

Judul: Battle Hymn of the Tiger Mother
Penulis: Amy Chua

Penerjemah: Maria Sundah
Penerbit: Gramedia
Tebal:  248 halaman
Cetakan:  September 2011

7 komentar:

  1. Hahaha.. Ini review berimbang yang pertama aku baca tentang buku ini.. Kebanyakan siy pada ngga suka dengan metode amy chua ini.. Tapi mungkin dia ada benarnya juga ya :)

    BalasHapus
  2. @annisa: saya lebih suka gaya "ibu china" dalam membesarkan anak - anaknya. tapi ending buku ini mengejutkan lho

    BalasHapus
  3. Saya baru selesai baca buku ini tadi malam dan anak2 saya ketakutan saya akan menerapkan metode Amy Chua ini. Masing2 metode baik Barat maupun China saya rasa ada nilai positifnya sendiri2, tinggal kita memilih mana yang paling cocok diterapkan ke anak kita. Karena ternyata Amy Chua pun terpaksa "bertekuk lutut" menghadapi Lulu.
    Saya sendiri beranggapan bahwa menerapkan disiplin yang terlalu ketat pada anak akan ada dampak negatifnya. Seperti yang Lulu katakan pada Amy, jangan berlebihan, saya rasa itu lah yang paling adil baik bagi ibu maupun anak.

    BalasHapus
  4. saya dididik ibu sacara keras. tapi efeknya saya malah stres karena bertentangan dengan karakter saya yg ingin bebas tapi tetap bertanggung jawab. sedangkan ibu lebih banyak tidak percaya akan kemampuan saya. saya jadi pendiam dan minder.sebaiknya juga memperhatikan kepribadian si anak jika ingin mendidik secara keras. untuk jaman sekarang agaknya sulit

    BalasHapus
  5. Secara tradisional, orang Indonesia mendidik anaknya dengan cara ketat. Oleh karena itu buku ini mudah diterima oleh orang Indonesia. Saya merekomendasikan buku ini bagi orang tua yang bimbang dalam membesarkan putra-putrinya; memoar Amy ini dapat memberi inspirasi.

    BalasHapus
  6. saya membaca review buku ini hari ini melalui majalah intisari edisi februari. dan beberapa hari yang lalu saya dan bapak saya membahas cara mendidik anak yang hampir sama "keras dan tegas" pada buku serial anak2 mamak karya tere-liye. dua cara yang sama-sama keras dan berhasil mensukseskan anak2 mereka . kupikir mendidik seperti ini ada sisi positif dan negatif.

    BalasHapus
  7. Menurut saya .. Bukunya keren. Ami tidak ikut arus dgn ikut2an metode didik yg dilakukan sebagian besar orang dilingkungan dia, tp dia memilih untuk mendidik sesuai pemahaman dia. Tiap keluarga memiliki metode mendidik yg berbeda2, ambil sisi positifnya dari buku ini dan jgn ikutin sisi negatifnya. Sering saya liat ortu jaman sekarang penuh kebimbangan dlm menerapkan disiplin krn pandangan2 yg blng kalau mendidik penuh ketegasan akan membuat anak frustasi. Menurut saya tegas itu perlu, tp mengekang jgn.

    BalasHapus