Pages

Rabu, 12 Oktober 2011

Orang Kristen Naik Haji

Sebagaimana Mekah bagi tokoh – tokoh yang ada di buku ini, judul buku ini pun membangkitkan rasa keingintahuan yang besar pada saya. Bagaimana bisa seorang yang berbeda keyakinan melakukan suatu ritual dari agama lain? Karenanya, pemberian judul Orang Kristen Naik Haji, bukan Orang Kristen di Mekah (Judul asli buku ini adalah Christian at Mecca) merupakan kecerdasan penyunting yang akan membuat banyak orang penasaran dengan isinya.
Awalnya saya mengira buku ini adalah buku humor atau semacamnya. Dan tentu saja saya salah. Buku ini berisi pengalaman orang – orang non Islam pada zaman dulu dalam menjejakkan kakinya di Mekah. Apa istimewanya seseorang yang bepergian ke wilayah lain? Bukankah Columbus telah mengarungi lautan untuk kemudian menemukan Amerika? Keistimewaannya adalah karena orang non muslim dilarang untuk menginjakkan kakinya di Bumi Suci Umat Islam itu.
Namun larangan selalu menambah besarnya rasa ingin tahu beberapa orang. Karena itu mereka mempertaruhkan nyawa untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka itu. Mereka mempelajari bahasa dan adat istiadat kaum muslimin, menyamar menjadi orang muslim dan bepergian ke Mekah. Memang tidak semua tokoh dalam buku ini berani mempertaruhkan nyawa hanya demi memuaskan keingintahuan mereka. Ada beberapa dari mereka yang terdampar di Mekah karena pertikaian. Dan ada diantara mereka yang melakukannya karena jiwa petualangan yang menggelora.
Di antara tokoh – tokoh yang ada di buku ini, ada dua tokoh yang menarik perhatian saya. Yang pertama adalah Christian Snouck Hurgronje. Hurgronje sudah sangat akrab di telinga saya karena ia ada dalam pelajaran sejarah SMP saya. Guru Sejarah saya mengatakan bahwa Hurgronje adalah seorang yang cerdas, yang menuntut agama Islam di tanah lahirnya Islam agar ia dapat diterima di kalangan ulama Aceh. Ilmu Agama Islam yang dikuasainya dengan baik itu digunakan untuk memuluskan siasat Devide et Impera  di antara para ulama Aceh itu.
Kita tahu bahwa Aceh adalah wilayah di kepulauan nusantara yang memiliki umat Islam terbanyak. Penduduk Aceh melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda dengan semangat Perang Sabil. Oleh karena itu perlawanan mereka sangat sulit dipadamkan. Dalam Perang Sabil, orang Aceh berperang untuk mencari mati, kematian yang didambakan oleh orang Islam (syahid). Jika Belanda berkeras melawan mereka, tentu banyak biaya dan nyawa yang harus dikorbankan. Karena itulah politik Devide et Impera diterapkan. Di sinilah peran Hurgronje diperlukan.
Namun hanya itu saja yang saya ketahui mengenai Hurgronje. Ternyata, setelah membaca buku ini, ada peristiwa – peristiwa menarik yang dialami Hurgronje di Mekah yang tidak diajarkan oleh guru sejarah saya. Seperti peristiwa prasasti Tayma yang menjadi penyebab diusirnya Hurgronje dari Mekah. Di beberapa halaman buku ini pun tercetak foto – foto Mekah hasil jepretan Hurgronje pada saat itu. Foto – foto itu menarik karena merekam suasana Mekah pada saat itu.
Tokoh yang kedua adalah Leon Roches. Kisah Roches dalam menjelajahi Mekah seolah film percintaan beserta lika - likunya. Awalnya Roches aktif di kegiatan sosial yang mempertemukannya dengan seorang janda beserta seorang gadis cantik bernama Khadijah. Mereka pun saling jatuh cinta. Namun sayang, tak lama berselang, sang gadis dipindahkan oleh sang ayah. Roches pun mencari kekasih hatinya itu sembari mempelajari Islam.
Dari kisah Roches, saya mencatat pendapat Roches mengenai orang Islam saat itu. Roches mengatakan bahwa orang Islam memiliki keimanan yang kuat (halaman 194). Namun keimanan mereka tanpa dibarengi dengan tindakan nyata. John Ludwig Burckhardt pun mengatakan bahwa umat Islam saat itu memiliki moral dan akhlak yang hina dan munafik. Burckhardt menambahkan bahwa orang Islam di sana hanya berkeinginan untuk mencari harta sebanyak – banyaknya lalu menghabiskannya untuk memuaskan hawa nafsu mereka (halaman  133).
Umat Islam kala itu memang mengalami kemerosotan moral yang sangat luar biasa. Bukan Cuma akhlak mereka yang luntur tetapi dari sisi aqidah pun mereka mengalami degradasi. Karena itulah saat itu muncullah gerakan Wahabi yang mencoba untuk mengembalikan umat Islam kepada ajaran Islam yang hak. Kata Wahabi dalam buku ini tercetak dalam 34 halaman. Namun dari halaman – halaman itu wahabi selalu terkesan sebagai kelompok garis keras yang kejam. Badia Y Leblich lah yang mengakui bahwa orang – orang wahabi adalah orang – orang yang memiliki sifat baik dan lurus (halaman 80).
Yang mengejutkan, ternyata pulau Jawa disebut – sebut dalam buku ini. Indonesia memang belum lahir saat itu. Jadi untuk menyebut orang yang berasal dari Jawa, ya hanya disebut Jawa saja tanpa menyebut Indonesia.  Di halaman 24 saya senang karena Jawa disebut – sebut sebagai salah satu wilayah yang memiliki penganut Islam yang banyak selain India dan China. Namun di halaman 306 Snouck Hurgronje mengatakan bahwa budak perempuan dari Jawa adalah salah satu penyebar khurafat di  Mekah; indikasi belum baiknya praktek keislaman orang Jawa pada waktu itu.
Buku ini menarik karena ditulis dari penuturan tokoh – tokoh kristen yang benar – benar mengalami bahayanya hidup di Mekah. Namun tentu ada baiknya jika buku ini tidak dijadikan satu – satunya rujukan. Jika ada buku – buku serupa ini yang ditulis oleh orang Islam yang hidup di masa itu, tentu sangat baik untuk dijadikan perbandingan.


Informasi Buku:
Buku 18 
Judul: Orang Kristen Naik Haji
Penulis: Augustus Ralli
Penerjemah: Taufik Damas
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Tebal:  371 halaman
Cetakan:  I, Agustus 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar