Pages

Jumat, 04 November 2011

The Boy Sherlock Holmes, Eye of the Crow

Sir Arthur Conan Doyle memang luar biasa. Setelah menginspirasi Aoyama Gosho dalam menciptakan tokoh detektif cilik, Conan. Kini ia menginspirasi Shane Peacock dalam menulis buku ini.
Sherlock Holmes terkenal karena kepiawaiannya dalam memecahkan berbagai kasus. Kisahnya dibaca di berbagai belahan dunia dan ia terus mendapatkan penggemar baru hingga saat ini. Holmes beserta topinya yang legendaris itu telah menjadi ikon kisah – kisah detektif. Saya, dengan sangat ekstrim meyakini bahwa tidak ada satupun kisah detektif setelah Holmes yang tidak terpengaruh olehnya.
Namun, Peacock menulis bahwa di sisi lain dari otak Holmes yang brilian itu tersimpan kekelaman. Dalam buku ini Holmes kecil digambarkan sebagai anak yang memiliki kehidupan masa kecil yang tragis. Ayahnya memang seorang jenius dan seorang calon profesor. Sedang ibunya adalah seorang wanita ningrat yang memiliki darah seni yang kental. Sayangnya, hubungan cinta antara ayah Holmes dan ibunya ini tidak direstui oleh orang tua Rose Sherrinford-ibu Holmes-karena Wilber Holmes-ayah Sherlock-adalah seorang Yahudi. Kenekatan mereka dalam mempertahankan cinta membuat Rose tidak lagi diakui sebagai anggota keluarga Sherrinford dan Wilbur gagal menjadi profesor. Sherlock Holmes adalah buah cinta mereka yang lahir dalam kehidupan yang miskin.  Saya rasa, Peacock sengaja membuat kelam masa lalu Holmes karena Holmes-di masa tuanya adalah seorang pecandu. Kebiasaan buruk yang mungkin dilakukannya untuk menghilangkan memori masa kanak – kanaknya yang gelap.
Kasus pertama Holmes dalam buku ini adalah terbunuhnya seorang aktris secara misterius. Namun sebelum pembunuh sebenarnya terungkap, polisi sudah terlanjur percaya bahwa pembunuh aktris itu adalah seorang Arab yang bernama Mohammad. Polisi sedemikian yakin bahwa si pembunuh adalah Mohammad karena dari TKP terdapat jejak kaki bernoda darah yang ketika ditelusur sampailah kepada tempat tinggal Mohammad. Sebuah pisau berlumuran darah yang terdapat dalam kamar Mohammad pun menjadi penguat. Namun, Holmes sangsi.
Holmes lalu menyelidik. Mata jelinya menangkap bahwa di TKP terdapat beberapa burung gagak. Ayah Holmes, Wilbur adalah seorang ilmuwan yang menekuni perilaku burung. Menurut Wilbur, burung gagak adalah burung yang suka dengan segala sesuatu yang berkilau. Karena gagak – gagak itu terus berkeliaran di TKP, Holmes pun meneliti TKP dengan seksama. Berkat kejeliannya dalam mengamati perilaku gagak itulah ia menemukan sebuah bola mata palsu yang mengantarkannya pada sang pembunuh.
Peacock menulis petualangan pertama Holmes ini dengan sangat memikat. Setiap akhir bab membuat saya ingin meneruskan ke bab berikutnya. Sepertinya penulis memang sengaja menjaga rasa penasaran pembaca hingga ke halaman terakhir. Namun begitu, ada satu hal yang membuat saya berpikir bahwa itulah kekurangan dari buku ini. Sherlock Holmes ditahan karena dicurigai berperan dalam pembunuhan. Di dalam tahanan itulah ia dibantu oleh seorang yang baru saja dikenalnya untuk melarikan diri. Bagaimana ia bisa melarikan diri? Sang teman menjatuhkan kunci selnya ke dalam pasta sarapan Holmes agar membentuk pola kunci sehingga Holmes dapat membuat duplikat kunci itu dari pasta yang mengering. Saya rasa kisah – kisah Holmes selalu rasional. Nah, menurut anda, apakah mungkin membuat sebuah kunci tiruan dari pasta yang mengering? Apalagi kunci tiruan itu juga sukses membuka pintu sel.
Yang mungkin saja disengaja oleh Shane Peacock adalah latar belakang Sherlock Holmes yang setengah Yahudi – ia sering di-bully karena latar belakang ini, menolong seorang muslim yang dituduh telah melakukan pembunuhan. Kepedulian seorang Yahudi kepada seorang muslim terdengar begitu “aneh” di telinga saya karena apa yang terjadi di   Palestina. Apakah Peacock ingin menyampaikan pesan perdamaian melalui kisah ini? Atau ia hanya ingin menonjolkan sisi kecerdasan dan petualangan Sherlock Holmes yang murni?
Dalam buku ini, Peacock juga menyisipkan tokoh yang ada dalam kisah Holmes ketika dewasa yaitu Inspektur Lestrade. Sir Arthur Conan Doyle pun muncul sebagai Andrew C. Doyle, anggota perkumpulan kunjungan sesama. Doyle digambarkan memiliki seorang anak perempuan yang bernama Irene, ia memiliki peran yang sangat penting dalam membantu Holmes memecahkan misteri pembunuhan ini.
Terakhir, ada sebuah kisah kelam di akhir – akhir halaman yang menurut saya merupakan pendorong Holmes dalam memilih jalan hidupnya – memecahkan berbagai kasus yang segera akan ditemuinya di masa mendatang hingga dewasanya. Suatu hal yang tragis yang bisa jadi membuat Holmes terjebak dalam penggunaan obat terlarang ketika dewasa karena merasa bersalah berkepanjangan.
Peacock menggambarkan Holmes sebagai pribadi yang jenius sekaligus memiliki luka dalam kepribadiannya. Satu hal yang tidak akan anda temui di kisah Sherlock Holmes ketika ia sudah dewasa.


Informasi Buku:
Buku 21
Judul:
The Boy Sherlock Holmes, Eye of the Crow
Penulis: Shane Peacock
Penerbit: Qanita
Tebal: 
351 halaman
Cetakan: 
I, Oktober 2011

2 komentar:

  1. Hmm...aku belum pernah baca Holmes-nya Doyle, tapi jadi pengen juga baca ini..

    BalasHapus
  2. @fanda: meskipun tidak sebagus Holmes-nya Doyle, buku ini lumayan menegangkan lho.

    BalasHapus