Pages

Minggu, 06 November 2011

Surgabukuku Birthday Giveaway

Ketika Melmarian bertanya: BagaimanaSurga Buku menurut versimu? Aku teringat dengan masa ketika aku masih di  “Dunia Buku”. Ya, sebelum aku berada di Surga Bukuku, aku tinggal di Dunia Bukuku untuk beberapa lama.
Di Dunia Bukuku, aku sudah akrab dengan huruf – huruf. Aku sudah akrab dengan kata, kalimat, lalu teks. Aku sudah karib dengan berlembar – lembar kalimat. Namun aku harus menahan diri untuk tidak terlalu berharap memiliki jilidan – jilidan kertas yang mengikat kalimat.
Kawan sepermainanku berlangganan Bobo yang datang tiap hari kamis. Lalu ia berbaik hati meminjamiku majalah keluarga kelinci itu di hari Rabu minggu depannya. Begitu seterusnya. Aku memang berkesempatan untuk menikmati teks – teks yang mengembangkan imajinasiku tapi tetap saja rasa untuk memiliki tidak bisa aku singkirkan.
Aku ingin membaca, aku ingin memajangnya dan aku ingin kembali membacanya setiap kali aku rindu. Namun, ketika kuutarakan keinginanku itu kepada Bapakku, beliau menjawab: “Tentu saja bapak ingin agar engkau juga memiliki majalah itu, namun,  tak tersisa lagi uang untuk membelinya.” Aku mengerti.
Suatu hari, temanku yang baik hati itu membuka sebuah halaman dari majalahnya lalu ditunjukkannya kepadaku. Oh, halaman itu berisi sebuah iklan tentang sudah terbitnya buku detektif anak – anak berjudul Memburu Kereta Api Hantu. Lima Sekawan yang tenar karena selalu diperbincangkan kawan – kawanku di jam – jam istirahat sekolah.
Selang beberapa waktu lamanya, temanku menunjukkan sebuah buku tebal dengan sampul hitam. Inilah buku Lima Sekawan itu. Betapa memikat sekali kelihatannya. Aku berniat untuk meminjamnya dan menghabiskan waktu hanya berdua dengannya. Namun kawanku yang baik berkata: “Aku tidak bermaksud untuk menjadi kawan yang bakhil bagimu. Namun buku ini masihlah baru. Ia selayak kekasih bagiku. Buku ini begitu tebal. Karenanyalah ia begitu mahal. Dan tentu tak perlu aku menjelaskan kepadamu bahwa ia kubeli dari tempat yang jauh”. Engkau memang bisa mendapatkan Bobo di kota kecilku. Namun untuk membeli buku – buku bagus engkau harus bepergian ke Jogja atau Solo.
Aku kecewa sekali mendengarnya. Namun tentu hak kawanku untuk tidak meminjamkan bukunya. Aku tidak selayaknya marah karena selama ini ia telah berbaik hati meminjamiku majalah. Seluruh buku di perpustakaan sekolah sudah semua aku baca. Tak tersisa satupun juga. Tom Sawyer, Winnetou, juga si Doel yang anak Betawi. Tapi Lima Sekawan berbeda. Mereka istimewa. Maka aku pun masygul karena tak berkesempatan membacanya.
Tentu saja temanku bercerita kisah Memburu Kereta Api Hantu. Tapi, pasti berbeda mendengarkan pengalaman orang lain dengan mengalaminya. Karena itu, alih – alih memuaskan rasa ingin tahuku, cerita temanku malah semakin membuatku bermuram durja.
Untunglah aku segera tersadar. Bermuram durja tidaklah bijaksana. Tentu lebih baik aku tekun berusaha agar suatu saat kelak aku juga mendapatkan buku – buku serupa. Aduhai, jika aku kembali teringat jam – jam panjang dimana aku berjuang. Waktu – waktu yang sunyi dimana aku berdoa. Semoga kelak aku bisa berada di Surga Bukuku sendiri. Memajang rak – rakku yang tinggi.
Oh, kiranya Tuhan kasihan padaku. Dia benar – benar memberiku Surga Buku. Hohohoho buku – buku setebal bantal menghias rak buku yang megah. Dan selepas penat bekerja, aku akan duduk di depan deretan buku – buku itu. Dengan teduh memandangi sebagaimana pecinta ikan memandangi koi. Koi – koi itu mengusir penat yang terkumpul seharian, kata pecinta Koi. Hhmm, deretan bukuku lebih berwarna – warni. Mereka mampu mengusir tumpukan penat semalam dan sehari ini.
Anehnya, lama – lama aku gundah kembali. Aku sudah di Surga Buku. Mengapa aku gundah? Gundah adalah kata sifat yang muncul di Dunia Buku. Bukan di Surga Buku. Tentu ada yang salah. Mengapa? Berpuluh – puluh Kata Mengapa membawaku kepada perenungan. Hingga suatu malam aku mendapatkan jawaban. Aku gundah karena ingin menikmati Surga Bukuku sendirian. Aku bakhil karena temanku menikmati bukunya untuk dirinya sendiri. Wahai, betapa bodohnya aku. Karena itu aku sesegera memanggil teman – temanku hadir. Inilah Surga Bukuku. Ambillah satu, dua atau sepuluh. Jangan kau pikirkan jika halaman – halamannya “Dog-eared”. Janganlah kau gundah bila salah satu dari mereka hilang karena engkau lupa menaruhnya dimana.
Yah,mereka berkumpul bersamaku. Berbincang dengan santai mengenai suatu kisah. Mendiskusikannya dan saling memberi saran. Mencela sesekali dan memuji sesekali. Dan aku mendapatkan kebahagiaanku kembali. Kawan – kawan, Surga Bukuku tidak kunikmati sendiri. Membaginya membuat Surga Bukuku menjadi lebih memiliki arti.


Cerpen ini aku tulis untuk ikut memperingati blog Melmarian (http://surgabukuku.wordpress.com) yang sudah genap setahun. Aku berharap tulisan ini menjadi perantara bagiku untuk mendapatkan buku Dunia Sophie-nya Jostein Gaarder.

6 komentar:

  1. Dah jarang baca buku berbahasa Indonesia, lebih asyik buku import, harganya juga ga mahal dan kontent jauh lebih bagus. Btwe main ke t4ku ya ?
    http://kuntostore.blogspot.com

    BalasHapus
  2. berharap suatu hari nanti ada pojokan penuh buku di rumahku nanti, aminnnnnnnnn :) mari membaca dan mengoleksi ! hidup surga bukuuuu , yay .

    ps: aku suka gmana masnya menganalogikan buku-buku itu seperti koi . bener banget , kadang hatiku tentram sendiri liat tumpukan bukuku , heheh ..

    BalasHapus