Pages

Rabu, 29 Juni 2011

The Adventures of Tom Sawyer

Saya rasa Petualangan Tom Sawyer merupakan novel terjemahan pertama yang saya baca. Saya membacanya ketika duduk di kelas tiga SD; di usia – usia itu, saya masih sangat menikmati majalah Bobo atau Ananda.
Saat itu jam istirahat. Biasanya saya dan teman – teman menghabiskan setengah jam waktu istirahat itu di perpustakaan. Ketika saya sedang membolak – balik sebuah buku, seorang teman saya cekikikan saat membaca sebuah buku. Ia memperlihatkan satu halaman dengan gambar yang bertuliskan: ....hingga terlihatlah tulisan, “Aku cinta padamu” pada saya. Pada waktu itu, mengatakan “Aku Cinta Padamu” merupakan suatu hal yang tabu. Kami biasa saling ejek dengan mengatakan bahwa si A adalah pacar si B. Wajar, jika teman saya itu tertawa – tawa  membaca tulisan itu. Saya meletakkan buku yang saya pegang dan bersama – sama teman saya itu membolak – balik buku yang menggelikan itu. Untungnya teman saya tidak berminat membacanya. Maka saya pun gantian mengambil buku itu dan berniat meminjamnya.
Petualangan Tom Sawyer saat itu dicetak dalam lima jilid, seingat saya. Dan buku yang saya pegang adalah salah satu jilid saja. Saat itu juga saya mencari jilid – jilid yang lain di seluruh rak perpustakaan karena meskipun bersambung, jilid – jilid yang lain menyebar di seluruh rak. Syukur karena ternyata semua jilid masih ada. Saya meminjam semuanya, membacanya berkali – kali dan mengembalikannya ke perpustakaan setelah saya hampir lulus dari SD itu.
Setelah itu, saya pun “putus hubungan” dengan buku luar biasa itu. Berpuluh tahun kemudian, tahun 2006,  buku itu dicetak ulang untuk yang kelima kalinya. Masih diterbitkan oleh Pustaka Jaya, diterjemahkan oleh Djokolelono, dan ilustrasi oleh A. Wakidjan. Namun, berbeda dengan cetakan yang saya baca ketika SD, cetakan kelima ini sudah digabungkan dalam satu jilid. Saya pun membacanya kembali dan mengenang masa – masa SD saya.
Tom Sawyer adalah seorang yatim piatu yang tinggal bersama bibinya, Bibi Polly. Ia adalah seorang anak yang memiliki kecerdasan, kenakalan dan kelicikan khas anak lelaki. Saya kira, saat itu saya menyukai Petualangan Tom Sawyer karena merasa Tom Sawyer pantas dijadikan panutan. Meskipun bibi Polly sadar kalau dikelabuhi oleh Tom, namun Tom selalu bisa mengelabuhi sang bibi. Selain dengan bibinya, Tom juga tinggal dengan Mary dan Sidney, saudara tirinya. Berbeda dengan Tom, Sidney dan Mary adalah anak baik – baik.
Petualangan Tom Sawyer mengambil seting abad ke 19. Saat itu masih ada perbudakan. Masih banyak terdapat takhayul – takhayul. Takhayul – takhayul ini banyak dijumpai di banyak bagian dari buku. Salah satu contohnya adalah ketika Tom memberitahu Huck bagaimana cara mengobati kutil yang diderita oleh Huck. Menurut Tom, kutil bisa diobati dengan melemparkan bangkai kucing di kuburan pada tengah malam saat siangnya terdapat orang jahat yang dikubur. Sembari melemparkan bangkai itu diucapkanlah mantra: 'Devil follow corpse, cat follow devil, warts follow cat, I'm done with ye!' (dalam buku terbitan Pustaka Jaya diterjemahkan: “Setan ikuti mayat, kucing ikuti setan, kutil ikuti kucing. Kau tak kuperlukan lagi”).
Saya menyukai Petualangan Tom Sawyer karena kisah Tom merupakan kisah keseharian yang dekat dengan kehidupan masa kecil saya. Saat kecil kami takut dengan lolongan anjing di malam hari. Di kampung saya terdapat batu besar di pinggir jalan. Dan kami tidak berani melintas di jalan itu pada hari jum’at karena katanya si batu akan melahap kami jika berani melakukannya. Kami suka bermain perang – perangan dan menganggap diri kami adalah pahlawan pembela kebaikan. Kami juga memiliki teman sekelas yang kami dilarang untuk bergaul dengannya karena ia adalah anak yang sangat nakal. Di buku Tom Sawyer, takhayul dan berperan sebagai bajak laut atau Indian merupakan kesukaan Tom dan teman – temannya. Di sana juga ada Huckleberry Finn, gelandangan yang menyebabkan Tom dicambuk oleh gurunya karena berbincang dengannya. Mungkin yang berbeda adalah keberanian Tom untuk merayu Becky Thatcher, gadis pujaannya. Seperti saya katakan di muka, pergaulan anak laki – laki dan perempuan sampai taraf “pacar – pacaran” merupakan hal tabu.
Dan satu lagi, kami tidak pernah minggat dari rumah sebagaimana yang dilakukan oleh Tom dan teman – temannya. Kami juga belum pernah mengungkap kejahatan ketika kami bermain seperti yang terjadi pada Tom. Kami tidak seberani Tom. Mungkin jika kami berhasil mengungkap kejahatan sebagaimana Tom, buku Petualangan Tom Sawyer ini tidak menarik lagi bagi saya, karena tidak ada bedanya dengan keseharian saya.
Petualangan Tom Sawyer bertutur seputar kehidupan Tom dengan keluarganya, dengan sekolah, dengan Becky gadis pujaannya, dengan teman – temannya dan dengan pembunuh berdarah Indian. Mark Twain merangkai kisah keseharian Tom ini dengan sangat baik. Petualangan Tom Sawyer sangat terkenal di seluruh dunia dan saya rasa juga mempengaruhi penulisan karya sastra di seluruh dunia. Saya pernah membaca buku “Si Doel Anak Betawi” dan bab pertama dari buku “Si Doel Anak Betawi” sangat mirip dengan bab pertama dari buku Petualangan Tom Sawyer ini. Saya kira “Si Doel Anak Betawi” juga terinspirasi Petualangan Tom Sawyer.
Ada satu hal yang mengganjal dalam penerjemahan The Adenture of Tom Sawyer ini. Ketika saya membaca Petualangan Tom Sawyer terbitan Pustaka Jaya, kata “Showed Off” di buku aslinya diterjemahkan dengan “Jual Tampang”. Ketika SD saya bertanya – tanya terus arti dari kata “Jual Tampang” itu. Di terbitan Bentang, kata “Showed Off” diterjemahkan dengan “Pamer”. Saya rasa, baik “Jual Tampang” atau “Pamer” tidak pas untuk menerjemahkan kata “Showed Off”. Bagi saya, terjemahan terbaik untuk “Showed Off ” adalah “Cari Perhatian.”
Buku terbitan Bentang ini saya sambut dengan suka cita. Saya ingin agar anak – anak juga membaca buku petualangan Tom Sawyer ini agar mereka dapat lebih menghargai bermain di luar rumah, bersosialisasi dengan teman sebaya mereka. Saat ini, banyak anak yang lebih suka bermain dengan gadget mereka dibandingkan dengan teman – teman mereka.

Judul: The Adventures of Tom Sawyer
Penulis: Mark Twain
Penerjemah: Nin Bakdi S.
Penerbit: Penerbit Bentang
Tebal: 356 halaman 
Cetakan: I, April, 2011

Senin, 27 Juni 2011

Lee Raven Boy Thief

Walaupun saya “sukses” menyelesaikan buku ini, kebosanan menghinggapi saya dalam menit – menit selama membacanya. Mengapa? Karena membaca buku ini seperti memunguti potongan – potongan puzzle kemudian berpusing – pusing menyusunnya agar kesuluruhan cerita bisa mewujud. Mungkin saya terlalu berlebihan. Namun menurut saya buku ini akan lebih menarik jika ditulis dalam gaya yang mengalir. Bukan seperti seorang polisi yang menanyai beberapa orang saksi agar mendapatkan gambaran kasus yang terjadi.
Buku ini sebenarnya berisi kisah tentang perjalanan sebuah buku ajaib sejak masa prasejarah sampai masa moderen. Karena telah melewati masa yang sedemikian panjang, buku ini bisa merekam peristiwa apapun yang telah dialaminya. Selain ia bisa merekam seluruh buku yang telah ditulis di dunia ini, ia juga mampu menceritakan perjalanan hidupnya. Menceritakan? Ya, buku ajaib ini bisa berbicara. Namun dalam kisah Lee Raven ini, sang buku ajaib hanya berbicara kepada Lee Raven saja.
Namun kisah ini ditulis oleh Zizou Corder dengan gaya bertutur berbeda. Terus terang, saya baru kali ini menemui novel dengan gaya bertutur semacam ini. Corder seolah bertemu dengan tokoh – tokoh dalam novel ini dan mewancarai mereka satu persatu. Inilah tokoh – tokoh yang bertutur dalam novel ini:
Pertama adalah Lee Raven. Ia adalah tokoh utama dalam cerita. Lee adalah seorang penderita disleksia. Karena alasan inilah sang buku ajaib kemudian berbincang dengan Lee Raven, suatu hal yang tidak ia lakukan terhadap orang lain. Meskipun Lee adalah seorang pencopet, sang buku ajaib memandang Lee sebagai anak yang baik. Ia percaya pada Lee.
Kedua adalah Finn Raven, ia adalah saudara Lee Raven. Ia adalah orang yang menolong Lee Raven terhindar dari kejaran polisi. Ketiga adalah saudara Lee Raven yang lain yaitu Billy Raven. ia adalah seseorang yang mencuri buku ajaib dari Lee Raven untuk dijual kepada Nigella Lurch.
Keempat adalah Edward Maggs. Ia adalah pemilik toko buku. Seorang yang berhati baik tetapi sempat mengurung Lee Raven karena menelusup ke dalam rumahnya diam – diam. Ia juga orang yang dipercaya oleh Ernesto de Saloman untuk menyimpan buku ajaib ini sebelum tercuri oleh Lee Raven.
Yang berikutnya adalah Janaki. Ia adalah gadis keturunan India yang bekerja di toko Edward Maggs. Ia adalah seorang gadis yang cerdas. Menurut Maggs, Janaki adalah seorang gadis yang memiliki kemampuan berbicara dengan gaya moderen. Inilah alasan mengapa Maggs mengandalkan Janaki dalam berdialog dengan orang lain. Janaki adalah orang pertama yang mengetahui keberadaan buku ajaib setelah tercuri. Sekali lagi ini berkat kecerdasannya.
Lalu ada Nigella Lurch. Ia adalah seorang anak penulis yang gagal. Ia sendiri juga meniti karir sebagai penulis. Namun, ia juga berbisnis. Beberapa diantaranya adalah bisnis ilegal seperti perdagangan senjata, dan perdagangan manusia. Inilah yang mendatangkan banyak uang padanya. Nigella Lurch ingin memiliki sang buku ajaib. Untuk itu ia melakukan apapun agar dapat memilikinya.
Yang terakhir adalah si buku ajaib. Isi dari buku ajaib ini bisa berubah – ubah sesuai dengan minat si pembaca dirinya. Ketika ia dibuka oleh Maggs, halaman – halaman dari buku berisi tentang diari Shakespeare. Ketika dibuka oleh Lee Raven, ia berisi cerita – cerita dari buku Beano Annual. Buku yang sering dibacakan ibu Lee Raven  untuknya.
Baiklah, sekarang akan saya sampaikan mengapa buku ini membosankan bagi saya. Seperti saya katakan di awal, kisah dalam buku ini dituturkan oleh para tokoh cerita. Memang penuturan satu tokoh meneruskan penuturan tokoh yang lain. Tetapi, kisah yang sudah kita baca dari penuturan tokoh sebelumnya seringkali diulangi oleh tokoh yang berikutnya. Karena itu, saya kira jika tidak ditulis dalam gaya seperti ini mungkin novel ini tidak akan setebal 295 halaman. Selain itu, kadang penuturan suatu tokoh tidak langsung meneruskan kisah. Tetapi tokoh yang baru ini mengenalkan dirinya terlebih dahulu. Nigella Lurch menuturkan kisah hidupnya terlebih dahulu sebelum menyambung kisah tentang si buku ajaib. Karenanya, selagi kita terfokus pada kisah tentang si buku ajaib, tiba – tiba kita harus mendengarkan riwayat hidup si Nigella Lurch ini. Bagi saya, ini seperti menonton kartun Donald Duck, dan ketika seru – serunya kita dialihkan ke film dokumenter tentang bagaimana Donald Duck dilahirkan oleh Walt Disney.
Lalu, ada sebuah kalimat panjang sekali yang memaksa saya mengerutkan dahi. Inilah kalimat di halaman 57 itu:
Kakek buyutnya kakekku, yang bernama Frederick Bryden Raven, pada akhir hayatnya mengetahui bahwa rute utama dari seluruh gorong – gorong utama dan sebagian besar gorong setempat: gorong tua yang berbasis pada parit dan sungai tua di London yang telah ditutui ketika dipenuhi kotoran, dan parit Mr. Bazalgette yang baru, tinggi, cukup bagus, dan bersih, dilengkapi undak – undakan masuk dan keluar, dan jadwal pembersihan mingguan sehingga kau bisa berencana untuk keluar pada hari sebelumny dan mendapatkan sampah yang sudah menumpuk selama seminggu dan tidak ikut tergelontor.
Saya rasa ini masalah dalam penerjemahannya saja. Penerjemah seharusnya bisa membuat kalimat ruwet seperti itu menjadi sederhana. Terakhir, ada pada akhir – akhir cerita. Halaman – halaman akhir, saya rasa sangat janggal dan terlalu dipaksakan . Yang janggal? Si buku ternyata memiliki kemampuan yang luar biasa. Tetapi mengapa kemampuan ini tidak muncul ketika ia “disiksa” oleh Niggela Lurch?
Kesimpulannya: buku dengan sampul yang bagus tetapi dengan isi yang memaksa saya memberi bintang satu saja.


Informasi Buku:
Buku 7
Judul: Lee Raven Boy Thief, Lee Raven Pencopet Cilik
Penulis: Zizou Corder
Penerjemah: Debbie J. Christ dan Donna Widjajanto
Penerbit: Gramedia
Tebal: 295 halaman
Cetakan: I, April 2011

Jumat, 24 Juni 2011

What The Dog Saw, Dan Petualangan – Petualangan Lainnya

Buku terakhir dari Malcolm Gladwell ini berisi esai – esai Gladwell di majalah The New Yorker. Berbeda dengan tiga buku Gladwell sebelumnya, buku ini diberi judul What The Dog Saw.  Apa yang dilihat oleh anjing?
Ketika saya masih kecil, teman – teman saya bilang bahwa ketika ada seekor anjing menggonggong di malam hari berarti anjing itu sedang melihat mahluk halus yang tengah melintas. Tentu saja buku Gladwell ini jauh dari takhayul – takhayul semacam itu. Sembilan belas esai yang ada di buku ini berangkat dari keingintahuan Gladwell pada apa yang ada di balik pekerjaan harian orang lain.
Buku ini dibagi dalam tiga bagian. Bagian pertama berisi tentang orang – orang yang memiliki obsesi – Gladwell lebih suka menamainya sebagai Jenius Minor. Bagian dua berisi kisah – kisah yang dapat kita gunakan sebagai cara untuk menata pengalaman,  dan bagian tiga berisi perkiraan – perkiraan yang seringkali dibuat oleh seseorang terhadap orang lain.
Sebenarnya, judul buku ini diambil dari judul salah satu esai dari bagian pertama. Esai ini berisi kisah seorang Cesar Millan, pelatih anjing dan pembawa acara Dog Whisperer di saluran National Geographic. Kalau anda pernah menonton tayangan Dog Whisperer anda akan tahu bahwa Cesar adalah seorang penolong bagi seseorang yang memiliki anjing yang bermasalah. Anjing – anjing yang berulah dan memporak porandakan seluruh rumah atau bahkan yang menyerang manusia sekalipun akan dapat diatasi oleh Cesar. Kalau dilihat dari judul tayangan, Dog Whisperer, kita akan berkesimpulan bahwa Cesar adalah seseorang yang memiliki kekuatan supranatural sehingga dia bisa “membisiki” anjing nakal sehingga anjing itu menjadi penurut. Namun tidak, ketrampilan yang dimiliki oleh Cesar sesungguhnya bisa dimiliki oleh siapa saja asalkan mereka mengetahui bagaimana seekor anjing berpikir.
Menurut Cesar, seekor anjing akan mematuhi pemiliknya jika pemilik si anjing itu memiliki keberadaan (presence). Apakah seseorang memiliki keberadaan atau tidak, jika dilihat dari mata seekor anjing, itu terlihat dari sikap, bahasa tubuh seseorang itu. Bahasa tubuh yang menghadirkan keberadaan inilah yang tidak dimiliki oleh semua orang sehingga seekor anjing berani menindas pemiliknya.
Di bagian kedua dari buku, ada kisah yang sangat menarik bagi saya. Di ajang piala Wimbledon 1992, Jana Novotna bertarung melawan Steffi Graf. Novotna memimpin pertandingan. Tinggal satu poin lagi ia akan memenangkan pertandingan. Namun, di detik – detik terakhir ini, permainan Novotna menjadi sangat buruk. Ia bertanding layaknya seorang amatir. Berkali – kali ia melakukan kesalahan yang membuat dirinya akhirnya dapat ditaklukkan oleh Steffi Graf.
Setelah menulis kisah Novotna, Gladwell menulis tentang kecelakaan pesawat yang dialami oleh John F. Kennedy, jr. yang membawanya  menemui ajal. Pada bulan juli 1999, Kennedy mengendarai pesawatnya. Malam itu berkabut. Awalnya Kennedy menggunakan jajaran lampu di jalanan sebagai pedoman terbang. Tapi kabut menutupi cahaya lampu itu sehingga akhirnya pesawatnya oleng dan terjatuh.
Novotna dan Kennedy sama – sama mengalami kegagalan. Namun penyebab kegagalan keduanya tidak sama. Novotna gagal karena tercekat (choked) sedangkan Kennedy jatuh karena panik. Apa beda antara tercekat dengan panik? Tercekat terjadi karena kita berpikir terlalu banyak tentang apa yang seharusnya kita lakukan. Sedangkan panik terjadi karena kita berpikir terlalu sedikit tentang apa yang seharusnya kita lakukan.
Novotna adalah seorang pemain tenis profesional. Ia telah memiliki jam berlatih dan jam tanding yang sangat banyak. Jadi, kekalahannya dari Graf tentu tidak disebabkan oleh kurangnya latihan. Tetapi, kekalahannya disebabkan ia terlalu banyak berpikir tentang segera menyelesaikan pertandingan dengan sebaik – baiknya. Pikiran ini mempengaruhi pola permainan Novotna. Alih – alih bermain dengan santai, ia bermain dengan tegang. Karenanya ia banyak melakukan kesalahan dalam memukul bola.
Berbeda dengan Novotna, Kennedy belum memiliki jam terbang tinggi dalam mengendarai pesawat. Maka ketika ia mengalami masalah ketika terbang, ia malah terfokus dalam menemukan cahaya yang akan dijadikannya pedoman terbang. Ia tidak melakukan tindakan yang akan menyelamatkannya – yaitu memaksimalkan penggunaan peralatan di pesawat terbang yang dinaikinya. Ketika masalah yang dihadapinya semakin serius, ia semakin terfokus dalam mencari cahaya bukan ke alat. Ia belum memiliki pengalaman dalam memaksimalkan penggunaan alat. Maka, jatuhlah pesawat itu bersama dirinya.
Di bagian akhir terdapat satu kisah yang akan menyentak paradigma berpikir kita tentang kejeniusan. Kita selalu beranggapan bahwa semua orang jenius pasti cepat dalam berkarya. Namun keyakinan kita yang semacam ini tidak sepenuhnya benar. Memang banyak orang jenius yang memiliki kecepatan dalam berkarya. Namun tidak sedikit juga yang lambat dalam melahirkan karyanya.
Ben Fountain berhasil menulis bukunya yang mendapat pengakuan sebagai buku yang baik ketika ia berumur empat puluh tahun dan setelah berjuang mati – matian dalam menulis dan setelah beberapa kali ditolak oleh penerbit. Fountain berbeda dengan Herman Melville yang menulis satu buku per tahun di umur dua puluhan dan ketika di umur tiga puluhan ia berhasil menulis karya terbaiknya Moby Dick. Ben Fountain lebih mirip Mark Twain yang perlu menghabiskan waktu hingga sepuluh tahun untuk menulis Huckleberry Finn.
Lalu apa yang menyebabkan seseorang lambat dalam melahirkan karya sedang yang lain cepat dalam berkarya? Ini disebabkan mereka memiliki tipe kreativitas yang berbeda. Orang – orang seperti Herman memiliki tipe kreatifitas konseptual sehingga hingga ia mampu menyelesaikan karyanya dengan cepat. Sedangkan orang seperti Fountain dan Mark Twain memiliki tipe kreatifitas eksperimental. Mereka perlu mencoba – coba dalam berkarya. Tak heran jika mereka lambat dalam berkarya.
Masih terdapat banyak kisah di buku ini selain kisah – kisah yang saya cuplik di atas. Kalau mau jujur, sebenarnya kisah – kisah semacam ini banyak terjadi di sekeliling kita. Atau mungkin sudah pernah kita baca. Namun Gladwell, sekali lagi, mengangkat kisah – kisah itu, dan melihatnya dari sudut pandang yang sama sekali berbeda. Membaca buku – buku Gladwell akan mencerahkan pemikiran kita dan membiasakan diri kita untuk melihat segala sesuatu dari sisi lain.



Informasi Buku:
Buku 6
Judul: What The Dog Saw, Dan Petualangan – Petualangan Lainnya
Penulis: Malcolm Gladwell
Penerjemah: Zia Anshor
Penerbit: Gramedia
Tebal: 457 halaman
Cetakan: II, Pebruari 2010

Senin, 20 Juni 2011

Outliers, Rahasia di Balik Sukses

Diantara keempat buku Gladwell, Outliers adalah buku yang paling saya sukai. Walaupun Buku Gladwell selalu penuh kejutan, Outliers mengangkat tema yang menarik minat hampir sebagian besar orang; kesuksesan. Buku tentang kesuksesan yang pertama kali saya baca adalah 7 Habits of Highly Effective People karangan Stephen Covey. Lalu buku – buku Dale Carnegie dan juga Emotional Intelligence-nya Daniel Goleman. Buku Covey dan Carnegie selalu memuat tips – tips untuk meraih kesuksesan. Buku – buku semacam ini selalu laris manis hingga perlu dicetak ulang berkali – kali dan bahkan Covey perlu menulis kebiasaan ke-8 yang perlu dilakukan agar meraih kesuksesan dalam buku yang sangat tebal.
Namun, meski mengangkat tema yang sama, Outliers beda. Banyaknya data yang termuat dalam buku ini masih mengingatkan saya dengan bukunya Daniel Goleman. Tapi, Gladwell menulisnya dari sisi yang berlainan.
Jika dalam Tipping Point, Gladwell menulis seputar perubahan yang mungkin saja terjadi, dan dalam Blink ia menggugah setiap orang agar lebih memperhatikan intuisi, dalam Outliers, Gladwell menulis tentang faktor – faktor yang menyebabkan orang meraih kesuksesan dan kebalikannya, faktor – faktor yang menyebabkan orang gagal dalam meraih kesuksesan.
Sebelum lebih jauh, ada baiknya kita memahami makna dari outliers itu. Saya membuka kamu Oxford Advance Learner’s Dictionary untuk mengetahui arti dari Outliers itu dan tidak menemukan kata itu di dalamnya. Karenanya lebih baik kita mengambil penjelasan Gladwell untuk menjelaskan arti dari Outliers itu. Ketika ditanya apa itu Outliers, Gladwell mengatakan bahwa Outliers merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan   sesuatu atau fenomena yang berada di luar kebiasaan.
Di pembukaan, Gladwell menulis contoh dari Outliers itu. Di tahun 1950-an, penyakit jantung menjadi epidemi di Amerika Serikat. Penyakit jantung menjadi penyebab utama kematian pria yang berusia di bawah 65 tahun. Namun di Roseto, Pennsylvania, jarang sekali orang yang meninggal karena penyakit jantung. Inilah Outliers itu.
Namun fenomena Roseto bukanlah disebabkan kekuatan magis atau mukjizat. Maka dilakukanlah penelitian. Pertama, ditelitilah kebiasaan makan orang Roseto. Jika mereka tidak terkena serangan jantung, bisa dipastikan pola makan mereka sehat. Namun itu keliru. Orang – orang Roseto mengkonsumsi lemak babi, mereka perokok berat dan jarang berolahraga. Lalu apa yang menyebabkan Outlier muncul pada orang – orang Roseto? Ternyata, faktor utama yang membuat mereka terhindar dari serangan jantung adalah mereka memiliki kehidupan sosial yang sehat. Mereka saling berkunjung, mereka saling bantu dan mereka saling menghormati.
Di seluruh bagian buku ini anda akan disuguhi dengan kejutan – kejutan ajaib yang merontokkan keyakinan kita selama ini. Saat ini, betapa banyak orang tua yang sangat memperhatikan nutrisi anak – anak mereka. Menyekolahkan mereka di sekolah – sekolah terbaik dan mengikutkan mereka dalam berbagai les. Asumsi umum yang diterima, orang – orang yang memilik kecerdasan di atas rata – rata, mereka akan lebih mungkin mendapatkan kesuksesan dibandingkan dengan orang yang memiliki kecerdasan biasa – biasa saja. Tetapi, jika outlier terjadi, orang yang lebih cerdas dari Einstein sekalipun tidak akan menjadi apa – apa.
Christopher Langan memiliki IQ sebesar 195, 30 persen lebih tinggi daripada IQ Einstein. Tapi, ia tinggal di peternakan kuda dan tidak menjadi akademisi seperti yang diidam – idamkannya meskipun ia menguasai teori matematika super rumit dan memiliki kefasihan bahasa yang tanpa tanding. Ia bisa jadi berkali lipat lebih pintar daripada Masatoshi Koshiba, peraih Nobel Fisika dari Jepang. Tapi ia tidak bisa menjadi apa – apa karena outlier terjadi padanya. Apa outlier yang terjadi pada Langan? Silakan anda baca sendiri bukunya.
Melalui Outliers, Gladwell ingin memberitahu bahwa kesuksesan yang terjadi pada seseorang bukanlah disebabkan semata – mata oleh usaha pribadi dari orang tersebut.  Kesuksesan yang terjadi merupakan efek dari kombinasi usaha pribadi, usaha dari banyak orang dan berbagai keadaan yang berpengaruh. Oleh karenanya, masyarakat memiliki kontribusi dalam menentukan kesuksesan atau ketidaksuksesan dari seseorang.
Ide di paragraf di atas (masyarakat memiliki kontribusi dalam menentukan kesuksesan atau ketidaksuksesan dari seseorang)sangat menarik bagi saya. Ketika review ini saya tulis, saya membaca berita tentang Ruyati, TKW yang dihukum pancung karena didakwa melakukan pembunuhan di Arab Saudi. Mengapa negara kaya seperti Indonesia harus mengirimkan TKW yang menjadi bulan – bulanan di luar negeri? Mengapa banyak negara yang meremehkan negara besar ini?
Kita adalah negara yang kaya dengan sumber daya. Asumsinya, kita mampu menjadi negara yang mandiri dan disegani negara – negara lain. Tapi, jika kita merujuk pada Gladwell, Indonesia adalah contoh yang baik untuk outlier. Agar kita menjadi negara yang disegani kita perlu menyadari ide dari Gladwell: masyarakat memiliki kontribusi dalam menentukan kesuksesan atau ketidaksuksesan dari seseorang
Selain tema yang menarik, tampilan buku ini juga menarik bagi saya. Ilustrasi sampul yang sama persis dengan edisi bahasa Inggrisnya saya rasa mampu “berbicara” mengenai isi buku. Di bagian atas sampul, terdapat gambar kelereng, menurut saya itu kelereng, yang terkumpul dengan kelereng – kelereng lain. Sedangkan di bawah tulisan OUTLIERS terdapat satu kelereng  yang terpisah dengan kumpulan kelereng di atas tadi.
Saran saya, baca buku ini.


N.B: Saya tidak bisa memenuhi janji saya untuk menulis Review setiap minggu pagi. Minggu – minggu lalu saya disibukkan dengan urusan – urusan pekerjaan yang menuntut waktu luang saya.Baru hari ini saya bisa menuliskan Review saya yang selanjutnya. Mudah - mudahan saya bisa selalu memenuhi target untuk membaca dan menuliskan reviewnya setiap minggu.

Informasi Buku:
Buku 5
Judul: Outliers, Rahasia di Balik Sukses
Penulis: Malcolm Gladwell
Penerjemah: Fahmy Yamani
Penerbit: Gramedia
Tebal: 339 halaman
Cetakan: I, 2009