Pages

Jumat, 29 Juli 2011

The Day of The Jackal

Kecerdasan dan kesigapan intelijen selalu memukau. Karena itu, saya begitu menikmati buku The Day of The Jackal ini. Dalam buku setebal 607 halaman ini anda akan disuguhi detil – detil aktivitas intelijen yang mungkin belum anda ketahui. Dan dengan membacanya, mungkin akan terbesit pemikiran dalam benak anda sebagaimana juga melintas dalam pikiran saya.
Novel ini sebenarnya ditulis berdasarkan upaya pembunuhan terhadap presiden Prancis, Charles De Gaulle oleh kolonel Jean-Marie Bastien-Thiry di Petit-Clamart pada 22 Agustus 1962.  OAS (Organisation de l’Armee Secrete) adalah kelompok yang mendalangi upaya pembunuhan itu. OAS membelot terhadap pemerintah sebagai ketidakpuasan terhadap De Gaulle yang memberikan kemerdekaan kepada Algeria. OAS berupaya membunuh presiden De Gaulle agar Algeria tetap berada di bawah kekuasaan Prancis.
Namun upaya pembunuhan itu gagal. Dalam sejarah aslinya, memang presiden De Gaulle tidak mati terbunuh meskipun OAS telah merancang pembunuhan terhadap dirinya berkali – kali. Dalam The Day of The Jackal, kisah nyata upaya peristiwa Petit-Clamart pada 22 Agustus 1962 menjadi awal cerita. Dan kisah berikutnya adalah rekaan dari Frederick Forsyth, si penulis cerita.
Alkisah, kegagalan di Petit-Clamart pada 22 Agustus 1962 itu tidak membuat pentolan OAS patah semangat. Kegagalan yang mereka dapatkan membuat mereka mengupayakan pembunuhan berikutnya. Namun berbeda dengan upaya di Petit-Clamart, kali ini mereka menyewa seorang pembunuh bayaran professional. Seorang yang benar – benar ahli di bidangnya tetapi anonym dan hampir – hampir tak terlacak. Orang yang di sampul hingga kata terakhir dalam novel hanya dikenal dengan nama sandinya; Jackal (Jakal).
Setelah kesepakatan antara Jackal dan Letnan kolonel Marc Rodin, pemimpin OAS, dibuat, Jackal pun memulai aksinya. Di sinilah detil – detil intelijen yang memukau itu muncul. Saya mencatat beberapa detil itu:
Pertama, Jackal selalu menggunakan uang tunai dalam melakukan transaksi apapun (halaman 72). Mengapa? Karena uang tunai membuatnya tidak terlacak. Berbeda jika ia menggunakan kartu kredit misalnya. Awalnya, saya memandang ini sebagai sebuah cara yang cerdas. Namun kemudian saya berpikir, apakah di tahun itu sudah ada kartu kredit?
Kedua, saat anggota OAS meremas dan membuang kertas yang berisi nomor telepon di bandara, Jackal memungut kembali gumpalan kertas itu dan membakarnya (halaman 73). Kewaspadaan yang luar biasa menurut saya.
Ketiga, saat kembali dari memesan senjata, ia berjalan sejauh dua blok sebelum naik taksi (halaman 128). Dan sesudah memesan paspor palsu, ia berjalan sejauh lima blok sebelum naik taksi (halaman 137). Menurut anda mengapa ia harus berjalan kaki dulu sebelum mencegat taksi?
Keempat adalah ketekunan si Jackal dalam mempelajari calon korbannya. Ia memesan buku melalui pos dengan menggunakan nama palsu dan alamat dari sebuah flat yang ia sewa untuk beberapa hari saja. Ia membaca buku – buku tentang presiden De Gaulle itu sampai pagi (halaman 95). Salah satu buku yang dibaca oleh si Jackal, Le Fil de l’Épée, merupakan benar – benar salah satu karya tulis presiden De Gaulle.
Kelima adalah ketelitian dan kecermatan Jackal dalam memilih tempat untuk mengeksekusi sang presiden.
Jelas – jelas si Jackal ini bukan hanya seseorang dengan ketangguhan fisik yang baik melainkan juga kecerdasan di atas rata – rata. Kecerdasan yang memikat inilah yang membuat detektif Prancis dipecundangi Jackal hingga berkali – kali.
Sebagai seorang reporter di Reuters yang menulis tentang Prancis, Frederick Forsyth tentu sangat mengenal Prancis dan OAS. Ia bergabung dengan Reuters pada tahun 1961, satu tahun sebelum kegagalan OAS dalam membunuh presiden Prancis di Petit-Clamart. Ketajaman analisisnya membuatnya tahu apa yang menjadi penyebab kegagalan  OAS. Dengan menulis The Day of the Jackal, Forsyth seolah – olah menasehati para anggota OAS  agar melakukan pembunuhan dengan cara – cara seperti yang ia tulis di dalamnya. Namun naas, ternyata bukan OAS yang mengadopsi cara membunuh ala Forsyth, melainkan orang – orang yang benar – benar terobsesi dengan buku ini. Vladimir Arutinian, orang yang berupaya membunuh George W. Bush adalah salah satunya.
Saya katakan buku ini luar biasa menarik. Satu – satunya kelemahan buku ini adalah: akhir dari cerita – entah disengaja oleh Forsyth atau tidak – telah terungkap sejak halaman awal, yaitu di baris – baris akhir halaman 97.  Memang masih ada kejutan lain di akhir buku ini tapi, jika tidak diselamatkan oleh detil – detil yang menarik, mungkin saya hanya membaca buku ini sampai pada halaman 97 saja.
Karena halaman 97  itu pula saya memberi bintang 4 untuk novel ini.


Informasi Buku:
Buku 12
Judul: The Day of The Jackal
Penulis: Frederick Forsyth
Penerjemah: Ranina B. Kunto
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Tebal: 607 halaman
Cetakan: I, Juni 2011

Sabtu, 16 Juli 2011

My Uncle’s Dream, Impian Pamanku

Saya mengenal Fyodor dari Fyodor. Maksud saya, saya mengenal Fyodor Dostoevsky, pengarang dari Rusia, dari Fyodor, nama samaran dari Gordon Lyon (seorang hacker ternama penemu Nmap). Jika seorang hacker terkenal menggunakan nama seorang sastrawan sebagai samaran, saya yakin sastrawan itu pasti hebat. Saya pun mencari tahu dan menemukan jawaban mengapa Lyon menggunakan nama Fyodor. Gordon Lyon berkata:
Like many hackers, I enjoy reading. For a while in the early 90s I was particularly enamored with Russian author Fyodor Dostoyevsky. Shortly after reading his Notes From Underground, I logged onto a new BBS using the handle Fyodor as a whim. It stuck. I'm a little embarrassed that a Google search for Fyodor now lists me before Dostoevsky. I guess it is hard to earn and maintain a decent PageRank when you're dead.
Saya pun mencari kemana – mana, pesen kemana – mana buku Fyodor yang berjudul Notes from Underground itu. Sembari menunggu Notes from Underground, beberapa hari yang lalu saya ke perpustakaan sekolah dan ternyata ada satu buku karangan Fyodor di perpustakaan sekolah yang umumnya minim buku itu.
Memang bukan Notes from Underground, melainkan My Uncle’s Dream. Dan buku ini tidak setenar Notes from Underground. Tapi saya kira lumayan untuk mengawali perkenalan saya dengan Fyodor. Oke sebelum ke My Uncle’s Dream, kita kenalan dulu dengan Fyodor Dostoyevsky. Fyodor Mikhailovich Dostoyevsky adalah seorang pengarang Rusia sekaligus seorang aktivis sosialis utopis yang pernah akan dihukum mati karena aktivitas politiknya. Karya Fyodor yang paling terkenal adalah Crime and Punishment, The Brothers Karamazov dan Notes from Underground. Sejak menulis novel pertamanya, Poor Folk, di usianya yang ke 23, Fyodor semakin produktif menulis.
Membaca Impian Pamanku serasa menonton sinetron kita. Bukan, saya tidak mengatakan bahwa Impian Pamanku adalah sebuah karya yang dangkal dan tidak bermutu sebagaimana sinetron Indonesia. Maksud saya, Impian Pamanku mengangkat tema keculasan – keculasan untuk mendapatkan status sosial, berebut kehormatan dan lelaki atau perempuan.
Tokoh utama dari Impian Pamanku adalah Marya Moskaleva. Ia adalah seorang yang sangat ambisius. Sangat mengharapkan penghargaan yang tinggi dari orang lain dan kekayaan. Ia adalah perempuan yang sangat dominan sehingga hanya seorang pria lemah dan bodohlah yang mau menjadi suaminya. Belakangan kelemahan dan kebodohan suaminya ini membuat Marya tidak nyaman dan membuat sang suami, Afanasy Matveich, hidup terpisah di desa.
Marya memiliki seorang anak perempuan yang bernama Zena. Sang anak memadu kasih dengan seorang guru. Namun sayang sang ibu tidak merestuinya. Karenanya Zena menjalankan hubungan gelap dengan sang kekasih. Bercinta melalui surat – surat yang ditulisnya untuk kekasih gelapnya itu. Namun, segera desas – desus tentang surat – surat itu beredar yang membuat sang ibu bersikap keras dan melarang sang anak berhubungan dengan sang kekasih. Kenyataan ini membuat kekasih gelap Zena itu sakit.
Tidak disebutkan mengapa Marya melarang anaknya memadu kasih dengan guru desa itu. Namun perkiraan saya karena sang guru tidak akan meningkatkan status sosial Marya. Dugaan saya semakin kuat ketika muncul Count K. Count K. adalah seorang tua, rapuh secara fisik, dan pikun tetapi ia adalah seorang pesolek paling top. Count K. digambarkan sebagai seorang yang memilki biji mata dari kaca sebagai ganti dari matanya yang rusak.
Marya yang melarang anaknya untuk menikah dengan seorang guru yang sebaya dan muda, kini merancang cara agar Count K. bersedia menikahi anaknya. Keculasan Marya begitu menggemaskan dalam buku ini. Ia begitu berpengaruhnya sehingga orang – orang di sekelilingnya bisa dengan mudah ditaklukkan. Namun yang lebih menggemaskan adalah bahwa tiga lelaki yang ada dalam buku ini sama – sama lelaki yang lemah. Yang pertama adalah pacar Zena yang akhirnya mati karena cinta yang kandas. Kedua adalah Afanasy Matveich yang bagai kerbau dicocok hidung ketika berhadapan dengan Maria, lalu yang ketiga adalah Pavel Alexandrovich, orang yang menginginkan Zena.
Buku ini mengajarkan kepada saya satu hal penting; jika kita sangat mencintai sesuatu, akan sangat mudah bagi kita untuk diperbudaknya. Cinta yang terlalu kepada sesuatu akan membuat kita melakukan keculasan sekaligus kebodohan yang menggelikan. Menyelesaikan buku ini menyisakan kesimpulan dalam diri kita bahwa sebaik – baik sikap dalam segala hal adalah sikap tengah – tengah (Moderat). Sindiran Fyodor terhadap kondisi masyarakat Rusia pada waktu itu terasa masih sangat relevan hingga saat ini.
Fyodor menurut saya sangat berhasil dalam memotret kondisi sosial masyarakat dengan penekanan pada sisi psikologis tokoh – tokohnya. Ia sangat piawai dalam menggambarkan kondisi batin tokoh – tokohnya hingga keculasan Marya membuat saya menjadi muak dan kelemahan tokoh lelakinya membuat saya menjadi gemas. Saya belum tahu apakah buku yang telah saya baca ini merupakan terjemahan dari versi ringkas atau yang penuh. Saya kira transisi dari satu tokoh ke tokoh lainnya begitu cepat sehingga terkesan seperti naskah drama. 


Informasi Buku:
Buku 11
Judul: My Uncle’s Dream, Impian Pamanku
Penulis: Fyodor Dostoyevsky
Penerjemah: Sigit Djatmiko, Pitoresmi Pujiningsih
Penerbit: Penerbit Jendela
Tebal: 258 halaman
Cetakan: I, Januari 2001

Jumat, 08 Juli 2011

Robinson Crusoe

Kalau ada buku yang sudah saya idam – idmkan sejak lama namun baru bisa saya baca tahun lalu, buku itu adalah Robinson Crusoe. Suatu kali, adik kelas saya memberi saya buku Easy Classics terbitan Dian Rakyat. Buku itu berisi ringkasan dari The Adventures of Huckleberry Finn. Di lembar belakang buku itu, Penerbit Dian Rakyat mengiklankan Easy Classics lainnya: Robinson Crusoe. Ditulis di halaman itu:
“Robinson Crusoe is the story of a brave man who is ship-wrecked on an island and has to learn how to survive on his own.”
Membaca kalimat itu saja, sudah terbayang di benak saya bagaimana si Robinson Crusoe itu. Seorang petualang sejati yang bertahan hidup di alam liar, berpakaian compang – camping dan berewokan. Namun, keinginan untuk membacanya terpaksa saya tahan. Tidak mudah untuk mencari buku seperti itu di kota kecil saya.
2010 Elex Media menerbitkannya. Dan saya bersyukur bisa mendapatkan karya Daniel Defoe ini. Robinson Crusoe benar – benar mirip dengan gambaran saya sebelumnya. Dia sebenarnya lahir di sebuah keluarga yang mapan. Namun, jiwa petualangannya memanggilnya untuk mengembara – sesuatu yang tidak disetujui oleh ayahnya.
Kuatnya keinginan dan kerasnya tekad membuat Crusoe melarikan diri dari rumah ayahnya dan bergabung dengan pelaut. Namun, kapal yang mereka tumpangi tenggelam, membunuh semua penumpang kecuali Crusoe yang selamat walau terdampar di sebuah pulau kosong.
Robinson Crusoe bukan cerita mengenai bagaimana seseorang bertualang di laut melainkan tentang bagaimana seseorang harus bertahan hidup di kondisi yang paling sulit.
Sambil membaca lembar demi lembar buku ini, saya membayangkan bagaimana jika saya mengalami apa yang dialami oleh Robinson Crusoe ini. Bagaimana saya bisa bertahan hidup tanpa sesuatu yang bisa saya makan. Tanpa alat yang bisa saya gunakan, dan tanpa naungan yang melindungi saya dari panas dan hujan. Jika selama ini saya berada di antara orang – orang dan harus membiasakan diri berada diantara binatang – binatang liar! Jiwa yang terbiasa dengan kenyamanan tentu akan tumbang jika harus berada dalam keadaan demikian. 
Crusoe yang berjiwa petualang pun harus berjuang melawan dirinya sendiri ketika terdampar di pulau kosong itu. Pergulatan batin yang dialami oleh Crusoe memberi  kita pelajaran bahwa minat saja tidaklah cukup. Diperlukan tekad yang bulat dan keberanian untuk melakukan apa yang kita minati. Tekad bulat dan keberanian inilah yang menyelamatkan Crusoe dari kematian.
Kita seringkali baru mau melakukan sesuatu ketika dalam keadaan terpaksa. Dalam keadaan terpaksa, Crusoe belajar membuat perkakas, membuat tempat tinggal, beternak dan bertani. Berapa waktu yang diperlukan Crusoe untuk melakukan semua itu? Sangat lama. Membuat perkakas yang baik dan bisa digunakan diperlukan ketelatenan dan kesabaran. Dan kita bisa belajar dari ketelatenan dan kesabaran yang ditunjukkan oleh Crusoe.
Satu pelajaran yang saya rasa paling penting adalah  kita seharusnya belajar sebanyak mungkin ketrampilan. Apa salahnya bagi seorang pelajar untuk belajar berdagang? Apa salahnya bagi seorang pegawai untuk belajar bertani. Apapun profesi kita, apakah salah jika kita belajar keahlian – keahlian yang nampaknya tidak berkaitan dengan profesi kita? Crusoe yang bukan tukang kayu, bukan tukang batu dan bukan petani, harus melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh tukang kayu, tukang batu dan petani karena keadaan. Ketrampilan yang telah kita pelajari mungkin saja bisa berguna saat kita berada dalam kondisi yang tidak kita harapkan akan menimpa kita.
Di tengah petualangan yang dialaminya, Crusoe bertemu dengan Friday, seorang biadab dan kanibal yang diselamatkannya  dari kanibal lain. Crusoe mengajarinya agar menjadi manusia beradab. Ia mengajarinya berbahasa, mengajarinya mengenal Tuhan dan yang paling penting adalah mengajarinya untuk berhenti memangsa sesamanya. Kisah – kisah Crusoe dengan Friday ini ditulis sedemikian rupa sehingga nampak bahwa bangsa Inggris adalah sebuah bangsa yang lebih beradab dari bangsa – bangsa lain. Crusoe menganggap Friday sebagai pelayannya dan Friday, yang pada awal – awal pertemuannya dengan Crusoe sering menyembahnya, memanggil Crusoe dengan panggilan “Tuan”.
Novel ini ditulis dengan gaya penulisan buku diary. Karena itu, alurnya sangat lambat. Anda tidak akan segera disuguhi aksi – aksi perang si Crusoe ini. Juga tidak terlalu banyak dialog di novel ini. Semua telah diwakili diskripsi dari si Crusoe.
Karena ditulis secara deskriptif, tokoh cerita menjadi begitu terang benderang. Perkembangan karakter Crusoe, dari yang mulanya labil menjadi jauh lebih matang, terungkap dalam potongan – potongan peristiwa yang dialaminya.  Jika kita sabar membaca kalimat demi kalimat dalam novel ini, tanpa sadar akan mengendap dalam benak kita bagaimana seharusnya manusia menjalani hidup. Apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia agar memiliki karakter yang baik. Selebihnya, novel ini akan menyadarkan kita agar lebih mensyukuri hidup.
.
Informasi Buku:
Buku 10
Judul: Robinson Crusoe
Penulis: Daniel Defoe
Penerjemah: Peusy Sharmaya
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tebal: 512 halaman
Cetakan: Juli 2010

Senin, 04 Juli 2011

Petualangan Tintin di Tanah Soviet

Stephen Spielberg menyutradarai film Tintin yang akan dirilis desember mendatang. Entah apa yang mendorong Spielberg untuk menyutradarai film yang diangkat dari komik legendaris itu. Maksud saya, mengapa baru sekarang Spielberg berminat memproduksi Tintin. Padahal Tintin adalah komik yang memiliki penggemar fanatik di setiap generasinya.
Tentu banyak kalangan yang menunggu – nunggu film ini. Termasuk saya. Karena itu, meskipun komik Tintin sudah pernah diterbitkan oleh penerbit Indira, dan juga telah diterbitkan oleh Gramedia beberapa waktu lalu, serta telah banyak diulas oleh penggemar buku dan Tintin, saya juga berniat untuk menuliskan review saya sendiri atas komik – komik Tintin itu.
The Adventures of Tintin, In The Land of The Soviets adalah serial Tintin yang pertama. Herge menggambarnya dalam format hitam putih. Dan meskipun disebut – sebut original, karakter Tintin di In The Land of The Soviets tidak sebaik karakter Tintin di buku – buku selanjutnya – satu hal yang bisa dimaklumi karena ini merupakan karya pertama.
Herge belum pernah pergi ke Rusia ketika menulis Tintin in Soviets ini. Ia mengarang komik ini berdasarkan buku yang ia baca: Moscou sans voiles: Neuf ans de travail au pays des Soviets yang ditulis oleh Joseph Douillet. Tintin in Soviets ditulis Herge sebagai sindiran atas negara itu dan sebagai bentuk ketidaksukaan Herge atas komunisme. Soviets melakukan propaganda bahwa komunisme telah menghasilkan kemakmuran. Di dalam komik ini, Herge menyindir bahwa kemakmuran yang digembar – gemborkan oleh Soviets hanya merupakan isapan jempol belaka. Digambarkan oleh Herge bahwa orang – orang membakar jerami dan memukul – mukul besi agar orang – orang menganggap bahwa pabrik di Soviets tengah beroperasi. Di halaman lain Herge menggambarkan orang – orang miskin yang tengah mengantri roti, padahal Soviets melakukan ekspor terigu. Herge merekam kediktatoran pemerintahan Soviets dengan menggambarkan pemilu di bawah todongan pistol.
Meskipun bisa dikatakan sebagai sebuah komik politik, Tintin in Soviets ditulis dengan model film kartun. Membaca komik ini mengingatkan saya akan kartu Tom and Jerry. Perseteruan antara si Tom dan Jerry seringkali digambarkan dengan sangat “khayal”. Di awal komik ini, Tintin dibom. Meskipun kereta yang ditumpanginya rusak parah, baju yang dipakainya compang – camping, toh Tintin tidak mengalami luka sedikitpun! Sangat tidak masuk di akal.
Saya mencatat beberapa hal yang tidak masuk di akal itu. Pertama adalah kulit pisang. Seorang polisi rahasia yang membuntuti Tintin memasang kulit pisang di depan sebuah toko pakaian agar Tintin terpeleset dan jatuh. Bayangkan betapa konyolnya hal ini. Seorang polisi rahasia sebuah negara besar musuh Amerika memasang kulit pisang untuk menjebak seseorang! Saya tidak tahu apakah Herge yang menciptakan jebakan kulit pisang ini untuk yang pertama kali. Yang jelas, sampai sekarang masih bisa kita jumpai film – film kartun yang memuat jebakan kulit pisang ini.
Kedua adalah sebuah troli yang dikendarai oleh Tintin yang dapat mengejar kereta api yang telah lebih dulu berangkat. Adegan seperti ini pun masih ada sampai sekarang. Ketiga adalah hantu. Dua orang polisi rahasia yang akan menangkap Tintin, lari ketakutan karena Tintin dan Snowy menggunakan kain putih layaknya hantu. Bagaimana seorang penakut bisa menjadi anggota agen rahasia?
Ada satu hal, di luar khayalan, yang mengingatkan saya pada lagu band Radiohead; Karma Police. Ceritanya, Tintin mencuri mobil yang tengah diparkir. Tintin tidak pernah tahu bahwa mobil itu sedang diperbaiki oleh pemiliknya. Mobil yang sedang diperbaiki ini, meskipun dapat berjalan, bensinnya bocor. Sang pemilik yang jengkel menyulut bocoran bensin itu. Api menjalar mengikuti bensin yang menetes dari mobil yang dikendarai Tintin. Apakah Radiohead terinspirasi komik Tintin?
Banyak lagi khayalan – khayalan di dalam komik ini yang bagi orang dewasa bisa jadi sangat membosankan. Sebenarnya jika dibuat lebih realistis, bagi saya komik ini akan menjadi sangat menarik. Namun, sepertinya itu memang bukan style Herge. Tintin muncul pertama kali dalam suplemen bagi anak – anak di koran Belgia, Le Vingtieme Siecle. Artinya, Herge memang awalnya menulis petualangan Tintin bagi anak – anak. Jika kemudian Herge mengangkat tema politik dalam komiknya, ia tetap membumbuinya dengan khayalan – khayalan khas anak – anak.
Namun ada satu hal yang mengganjal bagi saya. Di awal komik, ditulis bahwa Tintin akan menulis berita tentang Soviet setiap minggunya dan ia juga akan menyertakan potret – potret yang ia ambil sendiri di Rusia. Namun, hanya ada satu bagian di komik dimana Tintin menulis berita dan ia tidak mengirimkannya ke kantor berita dimana ia bekerja. Dan, tidak ada satupun gambar yang menunjukkan Tintin sedang memotret.
Namun, terlepas dari kekurangan di sana – sini, Tintin in Soviets tetaplah tonggak dari sebuah komik legendaris yang memiliki penggemar fanatik di setiap generasi.

Informasi Buku:
Buku 9
Judul: Petualangan Tintin Wartawan “Le Petit Vingtieme” di Tanah Soviet
Penulis: Herge
Penerjemah: Donna Widjajanto
Penerbit: Gramedia
Tebal: 142 halaman
Cetakan: April 2008