Pages

Senin, 31 Oktober 2011

Pride and Prejudice

Teman saya yang, maaf, bertubuh pendek memacari lelaki yang bertubuh tinggi. Ketika saya tanya mengapa, ia menjawab: “Untuk memperbaiki keturunan.” Ketika saya membaca buku Fyodor, Impian Pamanku, saya mendapatkan jawaban atas pertanyaan: “Mengapa seorang ibu dari perempuan yang cantik memaksa anaknya menikahi seorang tua yang penyakitan?”. Apa jawabannya? Jawabannya sama ketika saya selesai membaca buku Pride and Prejudice; untuk meningkatkan status sosial.
Pride and Prejudice ditulis oleh Jane Austen pada tahun 1813. Sedangkan Uncle’s Dream ditulis Fyodor pada tahun  1859. Yang satu ditulis di Inggris dan satunya lagi di Rusia. Yang membuat saya heran, karena sama – sama ditulis di tahun 1800an, apakah pada masa itu masyarakat Eropa sudah sedemikian bobrok moralnya sehingga tanpa malu – malu mereka berbuat culas dan bodoh hanya untuk meningkatkan status sosial mereka?
Pertanyaan saya di paragraf atas bisa dijadikan PR. Sekarang langsung saja kita ke kisah dalam buku. Kisah diawali dengan datangnya seorang lelaki tampan nan kaya, Mr. Bingley ke Netherfield Park. Mrs. Bennet, yang memiliki beberapa anak perempuan menginginkan agar salah satu dari anaknya dapat dinikahi oleh Mr. Bingley sehingga bisa meningkatkan status sosial mereka.
Gayung bersambut. Nampaknya Mr. Bingley terpikat dengan kecantikan anak tertua Mrs. Bennet, Jane. Melihat gelagat ini, Mrs. Bennet menyusun rencana agar Mr. Bingley semakin terpikat dengan Jane. Kecerdasan Mrs. Bennet dalam bersiasat ditambah dengan keberuntungan memuluskan rencananya.
Mr. Bingley yang berparas menawan ditambah dengan perilaku yang memikat dan, tentu saja kekayaan yang dimilikinya menjadi buah bibir di kalangan para wanita. Namun, ternyata tokoh sempurna ini bukanlah tokoh utama dalam cerita. Yang menjadi tokoh utama adalah sahabat Mr. Bingley, Mr. Darcy. Berbeda dengan Mr. Bingley yang populis, Mr. Darcy adalah seorang yang dicitrakan sebagai seorang lelaki yang sombong dan menyebalkan.
Saking menyebalkannya, bahkan Elizabeth, adik Jane, yang juga merupakan tokoh utama dalam kisah ini mengatakan bahwa Mr. Darcy adalah laki – laki terakhir yang dipilihnya untuk dinikahi. Keburukan perilaku Mr. Darcy bertambah dengan munculnya tokoh berikutnya, Wickham, anak baptis dari ayah Mr. Darcy. Wickham mengatakan bahwa Mr. Darcy jauh lebih jahat jika dibandingkan dengan apa yang nampak secara lahiriah. Pengakuan Wickham ini semakin menambah kebencian setiap orang kepada Mr. Darcy.
Wickham, berbeda dengan Mr. Darcy, mempunyai pembawaan yang menarik. Karenanya, orang tentu lebih percaya kepada Wickham daripada Mr. Darcy. Akan tetapi jalan cerita yang panjang dan bertele – tele akhirnya menyingkap siapa sebenarnya Mr. Darcy dan Wickham. Dan juga akan memberitahukan kita bagaimana akhir kisah dari Bennet Bersaudari.

Ada beberapa catatan yang terlintas di benak saya ketika membaca Pride and Prejudice. Tokoh Wickham dalam kisah ini mengingatkan saya pada apa yang disebut Malcolm Gladwell sebagai Warren Harding Error. Harding adalah seorang yang tampan dan berpenampilan menarik sehingga ia terpilih menjadi presiden Amerika. Namun siap sangka jika Harding, di akhir karirnya, dinilai sebagai presiden Amerika yang terburuk?
Kisah ini bersetting Inggris di awal abad 19. Dan dari Pride and Prejudice saya tahu bahwa pada masa itu, anak perempuan tidak memiliki hak waris. Mr. Bennet yang tak memiliki seorang pun anak laki – laki terancam mewariskan kekayaannya kepada keponakannya, Mr. Collins. Apakah keadaan semacam ini masih berlanjut hingga sekarang? Satu lagi PR untuk saya.
Berikutnya adalah sesuatu yang aneh menurut saya. Suatu kali Elizabeth beserta paman dan bibinya mengunjungi kediaman Mr. Darcy. Elizabeth belum pernah sekalipun berkunjung ke sana dan saat ia dan paman bibinya berkunjung ke sana, si tuan rumah, Mr. Darcy, tak ada di rumah. Yang aneh menurut saya adalah bagaimana bisa seseorang mengunjungi rumah orang lain dan seolah – olah ia sedang mengunjungi museum – keluar masuk ruangan rumah dan menilai sekelilingnya?  
Buku ini memang terasa bertele – tele. Namun nama besar Jane Austen dan kepopuleran buku Pride and Prejudice ini menurut saya membuatnya menjadi begitu layak untuk dibaca.


Informasi Buku:

Buku 20

Judul: Pride and Prejudice
Penulis: Jane Austen
Penerbit: Qanita
Tebal:  585 halaman
Cetakan:  III,Mei 2011

Senin, 17 Oktober 2011

Battle Hymn of the Tiger Mother

Proses belajar akan berhasil dengan baik hanya jika kita melakukannya dalam kondisi menyenangkan. Begitu teori buku – buku pendidikan dan pembelajaran yang saya baca dari dulu. Buku Quantum Learning adalah buku yang sangat menyenangkan bagi saya hingga saya pernah membacanya berkali – kali. Dan saya rasa, setelah buku Bobby DePorter ini terbit, metode pembelajaran di negeri kita ini menambahkan kata “menyenangkan” di belakangnya. Model pembelajaran PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) muncul di Indonesia pada tahun 1999, pada tahun yang sama buku terjemahan Bobbi DePorter terbit di Indonesia.
Untuk beberapa lama saya terpengaruh dengan metode belajar yang menyenangkan ini. Saya juga begitu memuja metode belajar Montessori sehingga saya pernah menulis kecaman terhadap proses pembelajaran di TK yang saya rasa terlalu menuntut anak – anak agar segera bisa menulis dan membaca. Namun, setelah saya membaca resensi buku Amy Chua, Battle Hymn of the Tiger Mother, saya rasa saya perlu meninjau ulang keyakinan saya itu.
Amy Chua adalah seorang profesor hukum di Yale University. Sebagai seorang anak imigran China di Amerika, ia mendapatkan pendidikan yang keras dari ayahnya yang juga seorang profesor di University of California. Chua diharuskan selalu mendapatkan nilai A plus. Ia diharuskan berbicara menggunakan bahasa China di rumah dan dipukul jika terlontar bahasa Inggris. Ia juga harus belajar matematika dan piano setiap sore dan tidak pernah diijinkan untuk menginap di rumah temannya.  
Ketika tiba saatnya Chua menjadi orang tua, ia pun menerapkan pola pendidikan serupa kepada anak – anaknya. Hal ini dilakukannya bukan karena ia hanya mengikuti ayahnya dalam mendidik anak. Namun, ia begitu percaya dengan sebuah pepatah China yang berbunyi: “Kemakmuran tidak pernah bertahan lebih dari tiga generasi”. Jika pepatah ini dikaitkan dengan keluarga Chua, generasi pertama adalah ayah dan ibunya sendiri. Mereka adalah imigran yang hidup di Amerika secara pas – pasan. Mereka terus bekerja keras hingga menjadi akademisi yang sukses. Namun, sebagai orang tua, mereka adalah orang tua yang keras dan kikir.
Generasi kedua adalah generasi Chua sendiri. Karena didikan yang keras dari orang tuanya, ia juga menjadi seorang akademisi sukses lulusan Harvard University. Sedangkan generasi ketiga adalah generasi anak – anak Chua. Anak – anak Chua hidup makmur karena kerja keras yang telah dilakoni oleh kakek – nenek dan orang tuanya. Kenyamanan hidup yang sedemikian rupa inilah yang  seringkali berperan dalam merosotnya kualitas generasi. Chua sadar dengan hal ini, dan ia tidak ingin anak – anaknya menjadi penyebab kemerosotan generasi.
Sebagai orang tua Amy Chua juga mengharuskan anak – anaknya mendapatkan nilai A di setiap pelajaran sekolah, melarang mereka menonton TV atau main game komputer, melarang mereka main musik kecuali piano dan biola dan, seperti ayahnya, ia juga melarang anak – anaknya untuk menginap di rumah temannya.
Meskipun anak – anak Chua berhasil mendapatkan nilai A di setiap pelajaran, namun buku ini sebagian besar berkisah tentang “peperangan” Amy Chua dalam mendidik anak – anaknya bermain piano dan biola. Mengapa piano dan biola? Menurut Chua, dua instrumen ini adalah instrumen yang paling sulit dimainkan. Dan menurutnya, keindahan terletak pada kesukaran. Ia tidak akan pernah mengijinkan anak – anaknya bermain drum misalnya karena alat musik seperti ini hanya akan membawa anak – anaknya menjadi pecandu narkoba. (halaman 9).
Orang tua China, sebagaimana yang diyakini oleh Chua, tidak mengutamakan kesenangan dalam membesarkan anak. Ketika ia bertengkar dengan anak – anaknya karena mereka merasa ibu mereka terlalu keras, Amy Chua berkata: “Tujuan Mommy sebagai orang tua adalah menyiapkan kalian untuk masa depan – bukan untuk membuat kalian suka pada Mommy”. (hal. 50). Amy Chua mengkritik habis – habisan budaya Amerika dalam membesarkan anak yang menurutnya hanya akan berujung pada hilangnya rasa hormat anak kepada orang tua. Sesuatu yang sangat tabu jika terjadi pada orang tua Asia.
Amy Chua berhasil dalam mendidik anak – anaknya. Dalam berbagai kesempatan, kedua anaknya mendapatkan pujian sebagai pianis dan violis berbakat. Chua memiliki dua anak perempuan. Sophia, anak pertama, adalah pemain piano klasik hebat, kolektor nilai A dan meskipun seringkali berperang mulut dengan ibunya, ia adalah anak yang berbakti. Sedangkan anak Chua yang kedua, Lulu, adalah pemain biola, begitu mahir dan mencintai biola. Namun ia adalah seorang pemberontak. Menurut saya, karena Lulu-lah, Amy Chua menulis buku ini (jika anda membaca buku ini, ada sebuah kisah tak terbayangkan yang terjadi di Rusia antara Lulu dan ibunya, sehingga Chua menulis buku ini sekembalinya dari Rusia, dan juga yang kemudian memporakporandakan paradigma berpikir Amy Chua).
Buku yang sudah lama saya nantikan akan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ini adalah buku yang sangat kontroversial sekaligus mengilhami. Ketika kita menerapkan metode belajar yang menyenangkan gaya barat, kita masih saja mendengar berita tentang orang tua murid yang khawatir anaknya tidak lulus ujian. Ketika saya menulis review ini, saya mendengar anak SMK di kota saya yang dilarikan ke rumah sakit karena tawuran. Jika memang metode belajar  menyenangkan ala barat tidak bisa menjawab permasalahan pendidikan kita, mungkin ada baiknya kita beralih ke metode Amy Chua.


Informasi Buku:

Buku 19

Judul: Battle Hymn of the Tiger Mother
Penulis: Amy Chua

Penerjemah: Maria Sundah
Penerbit: Gramedia
Tebal:  248 halaman
Cetakan:  September 2011

Rabu, 12 Oktober 2011

Orang Kristen Naik Haji

Sebagaimana Mekah bagi tokoh – tokoh yang ada di buku ini, judul buku ini pun membangkitkan rasa keingintahuan yang besar pada saya. Bagaimana bisa seorang yang berbeda keyakinan melakukan suatu ritual dari agama lain? Karenanya, pemberian judul Orang Kristen Naik Haji, bukan Orang Kristen di Mekah (Judul asli buku ini adalah Christian at Mecca) merupakan kecerdasan penyunting yang akan membuat banyak orang penasaran dengan isinya.
Awalnya saya mengira buku ini adalah buku humor atau semacamnya. Dan tentu saja saya salah. Buku ini berisi pengalaman orang – orang non Islam pada zaman dulu dalam menjejakkan kakinya di Mekah. Apa istimewanya seseorang yang bepergian ke wilayah lain? Bukankah Columbus telah mengarungi lautan untuk kemudian menemukan Amerika? Keistimewaannya adalah karena orang non muslim dilarang untuk menginjakkan kakinya di Bumi Suci Umat Islam itu.
Namun larangan selalu menambah besarnya rasa ingin tahu beberapa orang. Karena itu mereka mempertaruhkan nyawa untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka itu. Mereka mempelajari bahasa dan adat istiadat kaum muslimin, menyamar menjadi orang muslim dan bepergian ke Mekah. Memang tidak semua tokoh dalam buku ini berani mempertaruhkan nyawa hanya demi memuaskan keingintahuan mereka. Ada beberapa dari mereka yang terdampar di Mekah karena pertikaian. Dan ada diantara mereka yang melakukannya karena jiwa petualangan yang menggelora.
Di antara tokoh – tokoh yang ada di buku ini, ada dua tokoh yang menarik perhatian saya. Yang pertama adalah Christian Snouck Hurgronje. Hurgronje sudah sangat akrab di telinga saya karena ia ada dalam pelajaran sejarah SMP saya. Guru Sejarah saya mengatakan bahwa Hurgronje adalah seorang yang cerdas, yang menuntut agama Islam di tanah lahirnya Islam agar ia dapat diterima di kalangan ulama Aceh. Ilmu Agama Islam yang dikuasainya dengan baik itu digunakan untuk memuluskan siasat Devide et Impera  di antara para ulama Aceh itu.
Kita tahu bahwa Aceh adalah wilayah di kepulauan nusantara yang memiliki umat Islam terbanyak. Penduduk Aceh melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda dengan semangat Perang Sabil. Oleh karena itu perlawanan mereka sangat sulit dipadamkan. Dalam Perang Sabil, orang Aceh berperang untuk mencari mati, kematian yang didambakan oleh orang Islam (syahid). Jika Belanda berkeras melawan mereka, tentu banyak biaya dan nyawa yang harus dikorbankan. Karena itulah politik Devide et Impera diterapkan. Di sinilah peran Hurgronje diperlukan.
Namun hanya itu saja yang saya ketahui mengenai Hurgronje. Ternyata, setelah membaca buku ini, ada peristiwa – peristiwa menarik yang dialami Hurgronje di Mekah yang tidak diajarkan oleh guru sejarah saya. Seperti peristiwa prasasti Tayma yang menjadi penyebab diusirnya Hurgronje dari Mekah. Di beberapa halaman buku ini pun tercetak foto – foto Mekah hasil jepretan Hurgronje pada saat itu. Foto – foto itu menarik karena merekam suasana Mekah pada saat itu.
Tokoh yang kedua adalah Leon Roches. Kisah Roches dalam menjelajahi Mekah seolah film percintaan beserta lika - likunya. Awalnya Roches aktif di kegiatan sosial yang mempertemukannya dengan seorang janda beserta seorang gadis cantik bernama Khadijah. Mereka pun saling jatuh cinta. Namun sayang, tak lama berselang, sang gadis dipindahkan oleh sang ayah. Roches pun mencari kekasih hatinya itu sembari mempelajari Islam.
Dari kisah Roches, saya mencatat pendapat Roches mengenai orang Islam saat itu. Roches mengatakan bahwa orang Islam memiliki keimanan yang kuat (halaman 194). Namun keimanan mereka tanpa dibarengi dengan tindakan nyata. John Ludwig Burckhardt pun mengatakan bahwa umat Islam saat itu memiliki moral dan akhlak yang hina dan munafik. Burckhardt menambahkan bahwa orang Islam di sana hanya berkeinginan untuk mencari harta sebanyak – banyaknya lalu menghabiskannya untuk memuaskan hawa nafsu mereka (halaman  133).
Umat Islam kala itu memang mengalami kemerosotan moral yang sangat luar biasa. Bukan Cuma akhlak mereka yang luntur tetapi dari sisi aqidah pun mereka mengalami degradasi. Karena itulah saat itu muncullah gerakan Wahabi yang mencoba untuk mengembalikan umat Islam kepada ajaran Islam yang hak. Kata Wahabi dalam buku ini tercetak dalam 34 halaman. Namun dari halaman – halaman itu wahabi selalu terkesan sebagai kelompok garis keras yang kejam. Badia Y Leblich lah yang mengakui bahwa orang – orang wahabi adalah orang – orang yang memiliki sifat baik dan lurus (halaman 80).
Yang mengejutkan, ternyata pulau Jawa disebut – sebut dalam buku ini. Indonesia memang belum lahir saat itu. Jadi untuk menyebut orang yang berasal dari Jawa, ya hanya disebut Jawa saja tanpa menyebut Indonesia.  Di halaman 24 saya senang karena Jawa disebut – sebut sebagai salah satu wilayah yang memiliki penganut Islam yang banyak selain India dan China. Namun di halaman 306 Snouck Hurgronje mengatakan bahwa budak perempuan dari Jawa adalah salah satu penyebar khurafat di  Mekah; indikasi belum baiknya praktek keislaman orang Jawa pada waktu itu.
Buku ini menarik karena ditulis dari penuturan tokoh – tokoh kristen yang benar – benar mengalami bahayanya hidup di Mekah. Namun tentu ada baiknya jika buku ini tidak dijadikan satu – satunya rujukan. Jika ada buku – buku serupa ini yang ditulis oleh orang Islam yang hidup di masa itu, tentu sangat baik untuk dijadikan perbandingan.


Informasi Buku:
Buku 18 
Judul: Orang Kristen Naik Haji
Penulis: Augustus Ralli
Penerjemah: Taufik Damas
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Tebal:  371 halaman
Cetakan:  I, Agustus 2011

Sabtu, 01 Oktober 2011

Saga No Gabai Baachan


Saya memberi bintang 4 untuk buku ini karena saya suka memoar. Terlebih lagi yang inspiratif. Meski menurut saya tidak ada memoar sebaik Totto Chan, buku ini luar biasa.
Baiklah, sebelum kita membicarakan Saga No Gabai Baachan, saya ingin anda membaca paragraf ini. Sering kita dengar tentang seseorang yang begitu mengidolakan seseorang lainnya dan begitu inginnya ia bertemu dengan pujaan hati itu. Tapi ketika terwujud keinginannya, ia malah menangis histeris atau tak bisa berkata kata. Anda bisa melihat kisah seperti ini di acara acara televisi mengenai orang muda yang ingin bertemu artis pujaannya. Ketika menulis ini saya teringat sebuah foto tentang rakyat jelata yang bertemu presiden Soekarno. Si rakyat itu begitu kagumnya dengan sang negarawan sehingga ia menangis dan bersimpuh di kaki beliau.
Menurut anda, mengapa seseorang bisa sampai sedemikian “gilamengidolakan selainnya? Bagaimana bisa orang orang yang kuat dan perkasa rela menggotong seorang ringkih dan sakit sakitan seperti Jendral Soedirman? Ada banyak jawaban tentunya, tapi menurut saya seseorang diidolakan karena ia memiliki “kekuatan. Dan “kekuatanserupa itulah yang membuat saya segera menaruh hormat yang mendalam kepada nenek Osano, tokoh utama dalam buku ini.
Nenek Osano adalah nenek Akihiro Tokunaga (Yoshichi Shimada) sang empunya cerita. Ia adalah seorang yang sangat miskin. Namun kemiskinan tidak membuatnya bersedih hati ataupun mengeluh. Sebaliknya, ia adalah orang yang selalu bersyukur dengan hidupnya. Nenek berusia 58 tahun ini mencari penghidupan dengan menjadi tukang bersih bersih di sebuah Universitas.
Akihiro, sang cucu, awalnya hidup di Hiroshima bersama ibunya yang menjanda setelah kematian ayahnya akibat bom atom. Namun, kekhawatiran sang ibu dengan pendidikan Akihiro sang ibu harus bekerja keras sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk mengawasi Akihiro memaksanya untuk menitipkan Akihiro pada neneknya di Saga. Pengalaman Akihiro bersama neneknya di Saga inilah yang ditulis oleh Yoshichi.
Kemiskinan yang diderita oleh nenek Osano ternyata membuat sang nenek memiliki budi yang hebat dan pekerti yang luhur. Ia memasang galah di sungai dekat rumahnya sehingga sayur-mayur jelek yang dibuang di pasar dapat tersangkut di galah tersebut. Ia mengikatkan tali ke tubuhnya dan mengikatkan juga sebuah magnit di ujung tali lainnya, kemudian menyeret magnit itu ketika berjalan pulang dari bekerja. Di magnet itulah menempel logam logam yang dikumpulkannya untuk kemudian dijual. Bukankah ini budi yang hebat?

Soal pekerti yang luhur, ada sebuah adegan yang mengisahkannya. Suatu saat seorang sepupu nenek Osano bertandang ke rumah untuk meminjam uang. Ditulis dalam lembar adegan ini keheranan Akihiro. Bagaimana seorang yang muda dan masih mampu berusaha bisa meminjam uang kepada seorang tua yang mengalami kesulitan hidup? Tapi tanpa banyak berkata – kata, sang nenek pun mengambil uang simpanannya dan meminjamkannya!
Mengenai kejadian ini, Yoshichi Shimada menulis di halaman 199:
“Bila dipikir – pikir, kehidupan kami sehari – hari tidaklah selalu mudah, namun jika melihat kejadian seperti ini, aku benar – benar tidak tahu apakah nenek memang pelit atau malah royal. Sungguh nenek yang aneh.”
Kadang orang menyebut orang yang memiliki banyak pengalaman sebagai orang yang telah banyak makan asam garamnya kehidupan. Dan memang kesulitan – kesulitan hidup akan selalu melahirkan kebijaksanaan. Saya rasa kesulitan hidup yang diderita nenek Osano membuatnya memandang uang sebagai alat, dan bukan sebagai tujuan hidup. Karena uang adalah alat, maka ia menggunakannya seperlunya saja. Yang saya maksud dengan seperlunya adalah berhemat ketika memiliki uang dan tidak terbebani ketika tidak memiliki uang.
Saya tidak tahu apakah kemiskinan yang diderita oleh Yoshichi dan Neneknya merupakan musibah atau berkah. Namun, menurut saya, jika Yoshichi tidak mengalami hidup miskin ketika kecilnya dan juga tidak mengalaminya bersama sang nenek, kemungkinan besar ia tidak menjadi seperti sekarang ini; menjadi seorang entertainer yang sukses.
Saat ini saya melihat banyak orang tua yang menitipkan anak – anak mereka kepada nenek dan kakek sang anak karena alasan kesibukan mencari nafkah di kota. Namun jatah uang yang dikirimkan orang tua ditambah dengan kakek nenek yang memanjakannya malah membuat hidup sang anak menjadi berantakan. Sepanjang yang saya ketahui, anak yang dititipkan kepada nenek dan kakeknya seperti ini menjadi anak yang bermasalah di sekolah.
Karena itu, buku ini sudah selayaknya dibaca oleh anak, orang tua dan juga kakek nenek. Pengalaman orang lain terlalu sayang untuk hilang dan dilupakan sebagaimana matinya orang yang memiliki pengalaman itu. Pengalaman orang lain sedemikian berharganya sehingga kita perlu memungutnya untuk kita jadikan pelajaran.

Informasi Buku:
Buku 17
Judul: Saga No Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga)
Penulis: Yosichi Shimada
Penerbit: Kansha Books
Tebal: 
245 halaman
Cetakan: 
I, April 2011