Pages

Minggu, 15 Januari 2012

Clara's Medal

Mestakung menginspirasi Feby Indirani untuk menulis Clara’s Medal. Namun, berhasilkah Feby menginspirasi orang lain dengan Novel ini?
Adalah Prasetyo dan Bram Wibisono, Fisikawan lulusan luar negeri yang sedih melihat perkembangan pendidikan fisika di Indonesia. Mereka kemudian bekerja sama mendirikan FUSI, sebuah lembaga yang melatih siswa – siswa berbakat dari seluruh Indonesia untuk mengikuti kompetisi Fisika dunia.
Di tengah perjalanan terjadi perselisihan diantara Tyo dan Bram. Bram berpikir bahwa Tyo lebih berorientasi pada medali ketimbang ilmu fisika. Sedangkan Tyo berpikiran bahwa medali adalah jalan untuk perkembangan ilmu fisika di Indonesia. Perselisihan itu berakhir dengan pengunduran diri Bram Wibisono dari FUSI.
Hubungan antara Tyo dan Bram kembali terjadi ketika Clara, putri Bram Wibisono bergabung dengan FUSI sebagai calon peserta Olimpiade Fisika. Meskipun pada awalnya Bram tidak menyutujui keinginan Clara, ia bisa mengerti ketika mendengar alasan Clara.
Cerita kemudian beralih ke Asrama FUSI dimana anak – anak terpilih dari seluruh Indonesia dilatih untuk menghadapi Olimpiade Fisika di Singapura. Latar belakang anak – anak itu menjadi bahan cerita tersendiri. Dengan sangat mengalir, Feby menuturkan karakter masing – masing anak dan aktivitas mereka di asrama.
Dari kejadian – kejadian di asrama yang dituturkan oleh Feby, peristiwa kecurangan yang dilakukan Angga dan peretasan (Hacking) yang dilakukan oleh Bagas terlihat paling menonjol. Selain menghasilkan pelajaran berharga bagi Angga dan Bagas, kelakuan Bagas ternyata juga mengancam kelangsungan FUSI.
Di sampul buku, Profesor Yohanes Surya mengatakan bahwa novel ini inspiratif. Akan tetapi menurut saya, novel ini akan jauh lebih inspiratif lagi jika Feby menuliskannya dengan lebih cermat dan tidak terburu – buru. Kekurangcermatan Feby bagi saya begitu mengganggu. Berikut yang menurut saya kekurangcermatan Feby.
Pertama, pada halaman 20, Erik mengatakan bahwa Bagas, si peretas, biasa menghabiskan waktu berjam – jam untuk mempelajari bahasa pemrograman komputer. Padahal di halaman 105 Prasetyo mengatakan bahwa penggunaan internet dibatasi. Lagipula, jika memang Bagas punya kegemaran meretas computer, saya kira ia tidak akan melakukannya di asrama ketika ia mengikuti pelatihan dan seleksi FUSI.
Kedua, di halaman 52 dan 60 disebutkan bahwa Angga dan Made merokok ketika mereka baru saja sampai di asrama. Merokok? Tidak bisa dipungkiri bahwa memang ada siswa SMP atau SMA yang merokok. Namun, sangat sulit menerima cerita tentang siswa yang berbakat Fisika merokok. Merokok sangatlah tabu bagi siswa. Jikalaupun seorang siswa berprestasi merokok, saya kira rasa malunya akan menghalanginya untuk merokok secara terang – terangan. Apalagi sampai ketua FUSI, Prasetyo,  mengetahuinya (halaman 105). 
Ketiga, hampir semua tokoh utama dalam novel ini memiliki latar belakang keluarga yang suram. Orang tua Clara bercerai. Bagas kurang mendapatkan perhatian dari ayahnya, sedangkan ibunya telah meninggal. Arif yang dari Madura, setiap hari harus mendengar orang tuanya bertengkar. George korban bullying teman sekolahnya. Saya juga agak kesulitan menerima cerita ini. Anak – anak berprestasi biasanya berasal dari keluarga baik – baik yang harmonis. Sedangkan keluarga yang bermasalah biasanya juga menghasilkan anak – anak yang bermasalah. Bisa jadi Feby sengaja membuat kisah semacam ini untuk menekankan konsep MESTAKUNG. Bahwa Mestakung pun sudah terjadi pada masing – masing peserta. Namun bagi saya ini terlalu dipaksakan.
Keempat, di halaman 406, Clara mengatakan bahwa lagu Kangen dari Dewa 19 merupakan lagunya ketika ia masih kecil. Padahal di halaman 362 ditulis bahwa Meddy berusia 8 tahun di tahun 1999. Bisa dipastikan bahwa Meddy dan Clara seusia. Jika ada senjang usia pasti hanya dalam hitungan bulan saja. Lagu Kangen Dewa 19 keluar tahun 1992. Jika di tahun 1999 Clara berusia 8 tahun, kemungkinan besar di tahun 1992 Clara baru berusia satu tahun! Bayi berusia satu tahun bisa mengingat lagu Dewa 19? Konon, Feby lahir tahun 1979. Lagu Kangen bisa jadi didengarkan Feby Indirani kecil. Tapi bukan Clara. Ada baiknya lagu Kangen diganti dengan Roman Picisan atau Cemburu. Clara kecil bisa jadi mengenal lagu – lagu itu.

Selebihnya ada beberapa hal yang menurut saya terlalu dipaksakan oleh Feby. Kasus Peretasan (hacking), Erik yang langsung membaca buku Engineering Thermodynamic ketika ia baru saja sampai dari Medan. Dan Bagas yang tiba – tiba saja jadi ramah setelah Clara menyapanya ketika sedang memetik gitar.
Meskipun demikian saya suka dengan perselisihan antara Tyo dan Bram mengenai FUSI. Perselisihan yang bisa digunakan untuk mewakili ketidakpuasan sebagian masyarakat dengan tetap terselenggaranya Ujian Nasional. Saya juga suka dengan ilmu – ilmu Fisika yang ditulis di beberapa tempat.
Jika saja Feby Indirani lebih cermat.


Informasi Buku:
Buku 28
Judul: Clara’s Medal
Penulis: Feby Indirani
Penerbit: Qanita

Tebal:  474 halaman
Cetakan:  I, September 2011

6 komentar:

  1. Hmmm.. Sayang sekali kalo gitu ya..

    BalasHapus
  2. sayang banget kalo gitu ceritanya... yang seharusnya bisa menginspirasi malah jadi terkesan memaksa menjadi inspirasi...

    atau mungkin si penulis nggak ngerti kosep MESTAKUNG sehingga ceritanya jadi berantakan??? *dihajar pencinta Fisika*

    BalasHapus
  3. Hai thank you ya reviewnya..ijinkan saya jawab satu persatu yaa :

    1. penggunaan internet di asrama memang dibatasi, tapi di sisi lain mereka tidak diperlakukan seperti anak kecil dan diawasi oleh satpam. Mereka justru diberikan kebebasan, terserah mau seperti apa mengatur waktu, yang penting adalah hasilmu tidak menurun. Jika dirimu membaca, pasti akan tahu juga ada peserta lain yang hobinya main game, membaca komik dll, dan peserta yang lain bisa mengira mereka tidak belajar, karena mereka memang tidak kelihatan belajar di hadapan teman-temannya. Tp tetap saja hasilnya bagus Hal yang seperti ini memang terjadi berdasarkan wawancara saya dengan peserta olimpiade fisika. Jadi Bagas membawa akses internetnya sendiri dan hanya sesekali saja memakai akses internet di asrama. Dan kenapa memilih melakukannya saat dia di asrama? Ya sama saja kenapa ada yang membaca komik dan main game berjam-jam. Buat Bagas itu hiburannya.

    2. Soal rokok, nah mengatakan seorang siswa berbakat fisika tidak mungkin merokok, menurut saya sama saja dengan mengatakan bahwa dokter tidak mungkin merokok, atau siswa berbakat fisika tidak mungkin cantik. Tidak mungkin itu adalah stereotypingnya. Kenyataannya, ada saja siswa berbakat fisika merokok, banyak dokter merokok, dan ada saja siswa berbakat fisika yang cantik dan gemar belanja. Life sometimes is stranger than fiction, my friend :) Prasetyo memperlakukan anak didiknya tidak seperti anak kecil tapi sebagai orang dewasa. Dia hanya memberikan aturan-aturan secara garis besar saja.

    3. Para remaja ini memiliki latar belakang keluarga yang suram? Ah nggak juga George yang kamu sebutkan nggak memiliki latar belakang keluarga suram tuh.. dia pernah jadi korban bullying itu kan hal yang berbeda dong. Jadi kalau George dimasukkan ke dalam kategori 'keluarga suram' itu bukanlah perbandingan yang cermat :) . Medy boleh jadi punya masa lalu kelam sebagai korban kerusuhan Ambon, tapi keluarganya baik-baik saja. Yang lain-lain yang kebetulan tidak diceritakan bisa diasumsikan normal. Anak-anak berprestasi pasti dibesarkan di keluarga harmonis, sementara yang bermasalah dibesarkan di keluarga bermasalah? Lagi-lagi ini adalah sterotyping. Banyak orang cerdas dan berprestasi yang saya kenal datang dari keluarga bermasalah, meskipun banyak juga yang memang datang dari keluarga bahagia. Sebaliknya, ada saja kasus2 yang saya dengar bahwa seseorang menjadi pengguna narkoba, padahal keluarganya penuh perhatian (ini sungguhan ada beberapa kasus yang saya dengar sendiri dari sumber pertama). Menyedihkan memang, that's life. Sometimes it's a lot different than you expected. Tapi kalau menurut kamu dipaksakan, ya itu kan menurut kamu, pendapat kamu, jadi sah-sah saja orang berpendapat berbeda :)

    BalasHapus
  4. (sambungan)

    4. Orang punya memori masa kecil itu bisa beragam sumbernya. waktu kecil saya misalnya bisa mendengar my Way Frank Sinatra, lagu yang populer saat saya masih jauh dari dilahirkan. Lagu Kangen cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia hingga bertahun-tahun sesudahnya, meskipun ketika pertama kali diluncurkan katakanlah Clara baru berusia 1 tahun. Ketika dia berusia 7 tahun pun tidak mustahil kan dia mendengar lagu Kangen?

    Dan jika saya lahir tahun 1979, saya bukan lagi anak kecil saat lagu Kangen pertama kali dinyanyikan :)

    5. Kasus peretasan yang menurutmu dipaksakan, sudah saya jawab di poin pertama ya. Eric membaca Engineering Thermodinamic saat ia baru sampai dari Medan? Kenapa nggak? Itu memang salah satu buku teori yang dipelajari kok.. katakanlah darimana ia mendapatkannya memang tidak dijelaskan. Tapi kenapa tidak mungkin? Apa karena (lagi-lagi ) stereotyping tertentu tentang peserta dari Medan ?

    6. Bagas tiba-tiba jadi ramah pada Clara? Well dalam hidup itu, banyak hal yang tidak kita sangka terjadi kerap bisa terjadi kok, sebab kita nggak tahu apa yang terjadi dalam diri seseorang. Bagas pada dasarnya adalah orang yang kesepian, dan chemistry di antara mereka bisa saja mulai terjadi saat Clara mencuri-curi pandang kepadanya. Bagas yang sok cool bisa kelihatan tidak peduli, tapi bukan berarti tidak merasa :).

    Demikian ini sekadar berbagi sudut pandang saja dari saya sebagai penulisnya. Karena sebuah buku bisa terbit dari kerja banyak orang yang terlibat seperti editor dan teman-teman di penerbit, maka bisa jadi kami berbagi sudut pandang yang sama tentang 'apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin terjadi' . Jika menurutmu dipaksakan dan sebagainya, tidak mungkin bla-bla-bla, ya menurutku itu sederhananya adalah perbedaan referensi, pengalaman, dan sudut pandang saja. I value your point of view .

    Dan oiya, jika ingin lebih cermat, nama saya Feby Indirani, bukan Feby Indira :)

    Terimakasih ya :)

    BalasHapus
  5. @Feby Indirani: tanggapan yang sungguh memuaskan. makasih. anyway... itu sudut pandang saya ya. sudut pandang pembaca lain tentu beda - beda. saya hanya mencoba untuk jujur aja, meskipun ternyata aku juga nggak begitu cermat menilai. he he hehe. makasih sekali lagi.

    BalasHapus
  6. Berhubung saya baru separuh baca jadi skip review dan langsung baca kolom komentar untuk menghindari spoiler~

    Terlalu banyak hal yg ga logis ya kayaknya~ tapi fiksi itu ga selalu harus ngikut logika sih, jadi.. ntar komen lagi kalau uda selesai baca deh. Hehe

    BalasHapus