Pages

Minggu, 01 Januari 2012

Seratus Tahun Kesunyian

Merangkum peristiwa selama satu abad tentu tidak mudah. Karena itu pula buku ini memiliki jalan cerita yang sangat cepat.
Awalnya saya mengira buku ini merupakan buku sains fiksi. Karena di halaman – halaman awal, buku ini memuat berbagai jargon yang berkenaan dengan sains. Astrolabe, sekstan, philosopher’s egg dan merkuri muncul di muka. Saya menjadi begitu bergairah untuk segera membacanya. Namun ternyata saya salah.
Seratus Tahun Kesunyian berkisah tentang Jose Arcadio Buendia yang membunuh Prudencio Aguilar karena ia mengejeknya impoten. Tak disangka – sangka hantu Prudencio terus muncul menyiksa Jose dengan rasa bersalah. Karenanya ia dan istrinya pun meninggalkan kampung mencari tempat tinggal baru. Sampailah mereka ke tempat yang sangat terpencil. Tempat baru mereka itu disebut Macondo.
Di Macondo pasangan Jose Arcadio Buendia dan Ursula Iguaran memiliki putra dan putri yaitu Jose Arcadio, Aureliano Buendia dan Amaranta. Macondo begitu terpencilnya hingga ia terputus dengan kehidupan luar. Satu – satunya yang sering mengunjungi Macondo adalah kelompok gypsy. Gypsy inilah yang mengenalkan berbagai produk teknologi dan membuat Jose Arcadio Buendia menjadi begitu tertarik dengannya.
Namun keterasingan Macondo tidak berlangsung lama. Kota kecil ini kemudian terhubung dengan kota – kota yang lain. Dan ternyata keterkaitan Macondo dengan kota lain ini merupakan awal bencana dari Macondo yang awalnya aman tentram. Tersiar kabar bahwa golongan liberal telah memutuskan berperang melawan golongan konservatif. Aureliano Buendia bersimpati dengan golongan liberal itu dan memutuskan berperang bersamanya. Ia pun mengangkat dirinya sendiri menjadi Kolonel.
Perang saudara tak terelakkan lagi. Kekejaman dan kebrutalan pemimpin Macondo semakin membuat daerah itu menjadi tidak menentu. Namun peperangan pun tidak berlaku selamanya. Perang berhenti dengan ditanda tanganinya perjanjian damai. Lepas dari peperangan yang menghancurkan, Macondo kembali dihantam permasalahan yang tak kalah dahsyatnya. Permasalahan yang akan membuat Macondo kembali menjadi kota sebagaimana asalnya dulu ketika ia baru dibangun oleh Jose Arcadio Buendia dan Ursula Iguaran. Apakah permasalahan yang dimaksud dan apa makna di balik judul Seratus Tahun Kesunyian dapat anda temukan di halaman – halaman buku ini.
Membaca Seratus Tahun Kesunyian akan mengingatkan kita pada kisah Nabi Adam dan Siti Hawa yang diusir dari surga karena telah melakukan dosa dengan memakan buah terlarang. Jose dan Iguaran berkelana ke daerah terpencil sebagaimana Adam dan Hawa harus hidup di bumi yang jauh dari kenikmatan.
Jose membangun kota yang nyaman hingga terjadi peperangan yang menghancurkan sebagaimana dunia yang awalnya tempat yang damai namun dalam gilirannya akan mengalami ketentraman hidup dan ketakutan perang. Akan berselang – seling antara kenyamanan dengan kegelisahan dan semua itu nantinya akan menjadikan dunia tempat kita hidup ini kembali menjadi tempat yang asing bahkan bagi kita sendiri yang telah menempatinya selama jutaan tahun.
Saya kurang menikmati membaca buku ini. Seperti yang saya tulis di awal, sumber ketidaknikmatan itu adalah karena penulis harus merangkum seluruh peristiwa yang terjadi dalam waktu seratus tahun. Karenanya, satu peristiwa, tidak peduli apakah itu penting atau tidak seringkali ditulis hanya dalam beberapa kalimat saja. Jalan cerita yang cepat dan pendek – pendek ini membuat saya menjadi begitu cepat bosan. Selain itu saya terkadang harus membuka halaman sebelumnya untuk mengetahui kaitan sebuah peristiwa dengan peristiwa sebelumnya. Dengan segera saya melupakan peristiwa awal yang ada kaitannya dengan peristiwa yang tengah saya baca karena begitu sedikitnya kalimat yang menggambarkannya!
Menurut saya, novel ini juga mencampurkan antara kehidupan nyata dengan khayalan “aneh”. Di kisah ini terdapat seorang tokoh yang bernama Remedios dengan julukan si Cantik. Ia dikisahkan sebagai seorang wanita tercantik di dunia. Yang aneh, ketika seseorang yang benar – benar terobsesi dengannya mengintipnya ketika sedang mandi, ia tidaknya marah atau malu melainkan malah berkata: “Hati – hati, nanti jatuh!”, sambil meneruskan mandinya. Lebih aneh lagi ketika mengetahui bahwa siapapun yang menyukai Remedios pasti akan mati. Si pengintip itu mati terjatuh dari genteng tempat ia mengintip sebelum Remedios menyelesaikan mandinya. Dan puncak keanehan itu adalah ketika Remedios terbang menuju surga beserta dengan tubuh fananya!
Novel yang sering disebut sebagai novel memikat ini ternyata tidak membuat saya mendapatkan kesan mendalam ketika selesai membacanya. Sepertinya saya memang bukan penikmat novel semacam ini.


Informasi Buku:
Buku 26
Judul: Seratus Tahun Kesunyian
Penulis: Gabriel Garcia Marquez
Penerbit: Bentang
Tebal: 547 halaman
Cetakan:  I, Mei 2007

10 komentar:

  1. Wah...jadi gak pengen baca deh. Lalu sebenarnya apa yang mau dikatakan penulisnya lewat buku ini? Kritik sosial atau gimana?

    BalasHapus
  2. eits..jd ragu2 mo beli bukunya...

    BalasHapus
  3. @fanda: kalo mau dikatakan kritik sosial juga boleh. soalnya didalamnya ada konflik antara golongan liberal dengan pemerintah konservatif yang korup. buku ini pasti akan menarik bagi penikmat sastra. kalo aku sih cuma reading for fun soalnya. makasih mbak fanda.
    @yayun riwinasti: tetap bisa dicoba kok. gak rugi juga! he he he

    BalasHapus
  4. wewww mas eko ternyata berhasil menyelesaikan buku ini. hiiihiih.. punyaku sendiri masih tertimbun di laci.. belum tersentuh.. keren deh mas :D

    BalasHapus
  5. keren reviewnya, jadi ada pencerahan sedikir tentang isi buku ini, hehe. soalnya aku udah baca dan mandeg, gak tau apa yang ingin disampekan penulisnya, sejauh ini yg aku tangkep tentang konflik keluarga yg sangat membingungkan silsilahnya, namanya sama semua :D

    BalasHapus
  6. @ana: membaca tanpa menikmati dengan tidak membaca ternyata beda tipis. hehehehe. makasih

    @peri hutan: yang bikin bosen itu karena penulis harus merangkum seratus tahun dalam 500an halaman mbak. makasih

    BalasHapus
  7. Menyimak. Memang pengalaman baca bisa berbeda di tangan pembaca.

    BalasHapus
  8. hmmm ... nama-nama tokohnya mirip2. Jadi, pas baca masih sesekali buka diagram silsilah di depan (agak ribet). Tapi malah bikin saya pengen baca bukunya yg lain. Ini baru mau mulai Love in The Time of Cholera. Udah baca review-nya sih, tapi semoga bisa menemukan hal lain di dalamnya ...
    salam kenaalll ^_^

    BalasHapus
  9. Kalo aku sih suka.. Hmmm.. Nampaknya persepsi orang memang berbeda-beda yah??

    BalasHapus
  10. Mas dan mbak..
    Ada yg mau jual buju ini ga ya??
    Saya lg nyari ni,, atau ada info yg mau jual gitu..
    Makasi

    BalasHapus