Pages

Minggu, 12 Agustus 2012

God Sees the Truth, but Waits (Short Story)

Sebuah cerita pendek memang tidak ditulis serumit sebuah novel. Namun kesan setelah membaca sebuah cerita pendek yang baik sebanding dengan membaca sebuah novel yang tebal. Saya menemukan cerita pendek – cerita pendek yang memukau karya sastrawan – sastrawan Rusia. Dan diantara para sastrawan Rusia, Tolstoy, menurut saya, merupakan salah seorang yang paling menonjol.
Terinspirasi oleh mbak Fanda, yang mengulas cerita pendek satu persatu dari sebuah kumpulan cerita pendek, saya pun berniat untuk mengulas cerita pendek – cerita pendek karya Tolstoy. Mengapa Tolstoy? Ketenaran War and Peace membuat saya ingin membaca karya sastrawan yang satu ini. Gutenberg menyediakan versi digital dari semua karya Tolstoy untuk diunduh secara gratis. Namun untuk alasan kenyamanan, saya lebih memilih versi cetaknya. Karena belum menemukan novel ini dalam versi cetaknya, saya pun membaca cerpen – cerpennya dalam versi digitalnya. Membaca cerpen meskipun dalam format digital jauh lebih mudah daripada membaca novel dalam format yang sama. 
Cerita pendek Tolstoy yang saya baca pertama kali adalah God Sees the Truth, but Waits. Cerpen ini berkisah tentang seorang saudagar yang bernama Ivan Dmitrich
Aksionov
. Di masa mudanya Aksionov adalah seorang pemabuk yang terkadang berbuat onar. Namun setelah ia menikah, ia menghentikan kebiasaan buruknya itu. Suatu kali, Aksionov berpamitan kepada keluarganya untuk pergi ke sebuah pekan raya untuk berdagang. Istrinya mencoba mencegahnya karena ia bermimpi buruk tentang Aksionov. Tentu saja Aksionov menolak membatalkan rencananya.
Ia pun berangkat. Di tengah perjalanan ia bertemu seorang saudagar kenalannya dan mereka menginap di penginapan yang sama. Mereka berbagi kamar di penginapan itu. Di pagi harinya Aksionov bangun lebih awal. Ia bersiap dan melanjutkan perjalanan kembali. Di tengah perjalanan ia berhenti untuk mengistirahatkan kudanya. Namun tanpa disangka – sangka, dalam istirahatnya itu, tiga orang serdadu mendekatinya dan menuduhnya telah membunuh saudagar kenalannya di saat mereka berbagi kamar di penginapan. Aksionov tidak bisa mengelak karena sebuah pisau yang berlumuran darah ditemukan di dalam tas yang dibawanya. Ia pun ditahan.
Di dalam tahanan, istri dan anak – anaknya menjenguknya. Dan bertambahlah duka Aksionov saat istrinya pun ragu jika Aksionov tidak melakukan kejahatan itu. Ia menangis dan pasrah. Jika istrinya pun tidak mempercayainya, siapa lagi yang dapat diharapkannya? "It seems that only God can know the truth; it is to Him alone we must appeal, and from Him alone expect mercy."  Katanya pada dirinya sendiri. Ia berhenti berusaha agar dibebaskan dan hanya berdoa kepada Tuhan. Dia dihukum cambuk dan dibuang ke Siberia.
Dua puluh enam tahun sudah ia dipenjara di Siberia. Dan mimpi buruk istrinya pun menjadi kenyataan, rambutnya memutih dan jenggotnya berwarna keabu – abuan. Ia jarang tertawa dan berbicara. Namun ia selalu berdoa. Karenanya, ia menjadi orang yang dituakan di tahanan dan disegani.
Suatu saat, sekelompok tahanan baru datang. Melalui obrolan,  tahulah Aksionov bahwa  salah satu dari mereka, Makar Semyonich,  adalah sang pembunuh saudagar dua puluh enam tahun yang lalu. Kemarahan yang meluap membuat Aksionov terus menerus berdoa namun kali ini doanya tidak menentramkan hatinya.
Ketentuan Tuhan membuat Aksionov memergoki Makar sedang membuat lubang di lantai untuk melarikan diri. Makar yang ketakutan mengancam Aksionov jika sampai melaporkan apa yang telah dilihatnya. Atas izin Tuhan juga akhirnya penjaga penjara mengetahui lubang untuk melarikan diri itu. Maka para tahanan pun ditanyai tentang siapa yang membuat lubang itu. Tak terkecuali Aksionov. Namun Aksionov bungkam. Ia tidak melaporkan apa yang telah dilihatnya.
Aksionov bungkam bukan karena takut kepada Makar. Ia hanya berpikir bahwa jika ia melaporkannya, ia tidak mendapatkan manfaat darinya. And, after all, what good would it be to me? Kebaikan hati dan kebijaksanaan yang timbul dari penderitaan selama bertahun – tahun inilah yang membuat akhir cerita menjadi begitu mengharukan sekaligus mencerahkan hati.
Cerita pendek Tolstoy yang satu ini mengandung makna yang sangat dalam. Terkadang Tuhan harus menimpakan kemalangan kepada seseorang agar ia kembali kepadaNya dan mendapatkan ketentraman hidup. Aksionov yang bekas pemabuk diselamatkan Tuhan melalui perkawinan. Dan ia yang saudagar kaya disadarkan Tuhan melalui dua puluh enam tahun di penjara atas kejahatan yang tidak dilakukannya bahwa membalas dendam bukanlah cara yang bijak untuk menentramkan hati.
Mengapa cerpen ini diberi judul God Sees the Truth, but Waits? Tentu saja Tuhan tidak tidur sehingga Dia pasti tahu siapa yang bersalah. Mudah saja bagi Tuhan untuk menunjukkan siapa yang telah membunuh sang saudagar. Namun Dia lebih mengutamakan kebaikan bagi Aksionov daripada mengungkap siapa yang telah berbuat dosa.
Saya tidak melihat cela dari cerita pendek ini. Kejeniusan Tolstoy telah menyelamatkannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar