Pages

Jumat, 28 September 2012

The Tokyo Zodiac Murders


Setelah 40 tahun tidak ada yang sanggup memecahkan misteri pembunuhan berantai di Tokyo, akhirnya Kiyoshi Mitarai berhasil mengungkapnya.
Kasus pembunuhan yang dikenal dengan Pembunuhan Zodiak Tokyo itu memang sangat pelik. Awalnya, ditemukan sebuah catatan dari seorang seniman edan yang sangat terobsesi dengan wanita cantik, Heikichi Umezawa. Dalam catatan itu diketahui bahwa Umezawa berharap dapat menciptakan seorang wanita sempurna dari  potongan – potongan tubuh wanita. Berdasarkan pengetahuannya tentang zodiak, ia tahu bahwa kepala manusia yang sempurna adalah kepala orang yang memiliki zodiak Aries. Dada wanita yang sempurna adalah dada wanita yang berbintang Cancer. Untuk perut yang sempurna, wanita berbintang Virgolah yang memilikinya. Wanita berbintang Scorpio memiliki pinggul yang paling baik. Sedangkan untuk paha wanita yang sempurna didapat dari wanita berbintang Sagitarius. Dan untuk kaki yang sempurna, wanita Aquarius yang memilikinya.
Suatu kebetulan yang aneh jika ternyata wanita – wanita dengan bintang yang dibutuhkan untuk menciptakan wanita sempurna itu, ternyata berada di sekeliling Umezawa; anak – anaknya dan dua keponakannya. Meskipun mereka anak – anak dan keponakan sendiri, Umezawa telah berniat untuk membunuh mereka dengan racun lalu memutilasi tubuh mereka untuk digabungkan menjadi satu perempuan sempurna. Perempuan yang akan diberi nama Azoth (A to Z, kreasi tertinggi. Saya baru tahu dari novel ini makna nama dari mobil ATOZ).
Awalnya saya mengira bahwa pembunuhan oleh Umezawa inilah yang telah mempecundangi Polisi selama empat puluh tahun. Tapi saya salah. Ternyata, sebelum sempat membunuh putri – putrinya itu, Umezawa telah terbunuh di studionya sendiri. Ketika menyelidiki kasus pembunuhan Umezawa itulah polisi menemukan catatan Umezawa yang berisi rencananya untuk menciptakan Azoth.
Kasus pembunuhan Umezawa sendiri merupakan kasus yang teramat rumit karena Umezawa dibunuh di studionya yang terkunci rapat dari dalam. Dan kasus ini semakin bertambah pelik ketika hanya beberapa saat setelah pembunuhan Umezawa, anak – anak dan keponakannya pun terbunuh persis seperti yang tertulis dalam catatannya. Siapakah pembunuhnya? Lalu apa motif dari pembunuhan sadis yang telah mempermalukan Kepolisian Jepang selama empat puluh tahun itu?
Pengaruh Sherlock Holmes dalam novel ini sangat terasa. Dan Soji Shimada, penulis novel ini, tidak menutup – nutupinya. Tapi ia memang menciptakan tokoh utama, sang detektif, Kiyoshi Mitarai, kebalikan dari Sherlock Holmes. Jika Sherlock Holmes digambarkan sebagai seorang pengguna kokain, Mitarai merokok pun tidak. Jika Sherlock Holmes sering menggoda Dr. Watson karena analisisnya yang dangkal, di Tokyo Zodiac Murder ini, asisten Mitarai, Kazumi Ishioka, yang membuat malu Mitarai. Detektif Mitarai sangat serius mempelajari kasus ini. Dan setelah berpikir keras ia menemukan sebuah teori yang dia anggap sebagai pemecahan atas kasus pembunuhan zodiac Tokyo. Namun Ishioka mengatakan bahwa telah ada orang lain yang mengatakan teori tersebut dan terbukti bahwa teori itu salah. Karena hal ini, Mitarai tersinggung dan marah besar (halaman 118)
Meskipun dari beberapa sisi Soji Shimada terpengaruh Sherlock Holmes, melalui buku ini Soji mengkritik kisah – kisah Sherlock Holmes yang ditulis oleh Conan Doyle tersebut. Ia, melalui sang tokoh cerita, Detektif Mitarai, mengkritik Sherlock Holmes yang dalam sebuah cerita menyamar sebagai wanita. Menurut Soji, tinggi tubuh Holmes yang 180 senti itu tidak memungkinkan untuk menyamar sebagai wanita.
Dan saya senang bukan kepalang ketika Soji juga mengkritik kisah Sherlock Holmes yang berjudul Sabuk Berbintik, karena kritikan yang sama juga saya tulis di review saya; Petualangan Sherlock Holmes
Meskipun novel ini sangat memukau saya, namun buku ini juga memiliki lubang – lubang yang bisa kita gunakan untuk mengkritik. Pertama adalah putri – putri dan keponakan Umezawa yang memiliki bintang persis dengan yang dikehendakinya untuk menciptakan Azoth. Ini memang fiksi. Tapi yang dikatakan oleh Umezawa sebagai “kebetulan” ini, bagi saya merupakan kebetulan yang teramat aneh dan terlalu dipaksakan.
Kedua adalah tidak tegasnya Soji dalam menentukan karakter Sherlock Holmes, apakah ia karakter dalam buku yang ditulis oleh Conan Doyle atau karakter asli yang ditulis oleh Dr. Watson. Ketika membaca dialog antara Mitarai dan Ishioka dari halaman 168 sampai 171, kita akan mendapatkan kesan bahwa Holmes adalah karakter asli yang ditulis kisahnya oleh Dr. Watson. Tapi di halaman 169, Soji menulis:
“Baik…. Sabuk Berbintik. Itu kesukaan Arthur Conan Doyle sendiri, dan juga kisahnya yang paling terkenal.”
Saya sangat menyukai kaver novel ini, simpel tapi sangat elegan. Pilihan warna dasar putih yang dikombinasikan dengan warna hitam, abu – abu atau merah membuat saya suka. Buku Sherlock Holmes keluaran Gramedia yang terbaru, The Reader dan sekarang Tokyo Zodiac Murder memiliki sampul yang nyaman di mata saya. Namun sampul belakang buku ini juga memiliki kekurang tepatan. Di sampul belakang itu tertulis:
Dengan didampingi Dr. Watson versinya sendiri – seorang illustrator dan penggemar kisah detektif, Kazumi Ishioka…..
Padahal yang mengkhayal jadi Sherlock Holmes adalah Ishioka. (halaman 167).
Kisah yang luar biasa ini akan membuat anda tercengang dan puas. Karenanya saya sempat bertanya: Mengapa Gramedia harus menunggu sampai 25 tahun untuk menerbitkan buku yang luar biasa ini.



Informasi Buku:
Buku 34
Judul: The Tokyo Zodiac Murders
Penulis: Soji Shimada
Penerbit:  Gramedia
Tebal:  354 halaman
Cetakan:  Juli 2012

9 komentar:

  1. Mbak, aku Sagitarius tapi kok pahaku nggak bagus ya? hahahaha...btw iya, ada unsur2 holmesnya ya, kayaknya org jepang terobsesi sama conan doyle, detektif conan juga kan =D

    BalasHapus
  2. Wah, jeli sekali. Suatu saat nanti akan ada yg menulis cerita detektif kemudian mengkritik Miratai :)

    BalasHapus
  3. ahhh itu gimana bikin covernya bisa gerak-gerak gituuu?? *salah fokus*

    BalasHapus
  4. terbitnya juga nunggu agak lama setelah terjemahannya selesai mas

    BalasHapus
  5. @Astrid: Tanya Umezawa aja mbak, hahahaha.
    @bacaanbzee: kritik pasti ada mbak. siapapun yang nulis
    @ana: gambar gif mbak
    @tezar: nggak, kan di jepang terbit pertama kali tahun 1987 mas, kok baru sekarang nerbitinnya?

    Terima kasih semua

    BalasHapus
  6. btw buku ini ada serinya gak sih?

    BalasHapus
  7. @sinta nisfuanna: nggak ngerti mbak. kalo ada pengen juga

    BalasHapus
  8. aku sudah baca ini juga, bener2 bagus ceritanya :)
    selama ini belum pernah baca karya pengarang jepang, ini ternyta cerita detektif n misteri yg bagus banget.

    BalasHapus
  9. So aggree! Kenapa Gramedia baru nerbitin buku ini setelah bener-bener lama T-T
    Tapi fortunately lah in the end udah diterbitin, kalo gak mana bisa dapet cerita seseru ini ><
    Anw covernya eye catching banget (so glad it caught me!) bikin penasaran hehe.

    BalasHapus