Pages

Rabu, 25 Januari 2012

The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde

Siapakah Dr. Jekyll itu? Ia adalah seorang dokter terhormat yang disegani. Ia adalah seorang yang suka beramal dan tidak ada orang yang tak kenal dengannya. Akan tetapi sebuah kanehan tiba – tiba saja menyergap Mr. Utterson, pengacara dan teman dari Dr. Jekyll. Dokter yang baik itu tiba – tiba saja menitipkan sebuah surat wasiat kepada Mr. Utterson yang berbunyi bahwa jika ia mati atau menghilang seluruh kekayaannya akan diwariskan kepada Mr. Hyde. Siapakah Mr. Hyde?
Di sinilah letak keanehannya. Bagaimana bisa seorang terhormat mewariskan kekayaannya kepada seseorang yang, tidak dikenal? Benar, Mr. Hyde tidak dikenal oleh siapapun. Termasuk oleh Mr. Utterson sendiri.
Dalam usahanya untuk mencari tahu siapa Mr. Hyde itulah ia mendengar sebuah cerita yang aneh dari sepupu jauhnya, Mr. Enfield. Di suatu pagi ia melihat seorang lelaki yang menabrak seorang gadis kecil. Yang sangat mengejutkan, dengan tenang lelaki itu malah menginjak – nginjak si gadis kecil itu lalu berlalu tanpa merasa bersalah sama sekali.  Orang – orang yang melihat kejadian itu kemudian menahan lelaki yang tak berbelas kasih tersebut.
Si lelaki yang dengan memandangnya saja sudah menimbulkan perasaan benci itu, dengan tenang mengatakan bahwa ia akan membayar ganti rugi dari kejahatan yang telah dilakukannya. Ia memberi sebuah cek dengan jumlah uang yang besar dan yang mengejutkan cek itu ditandatangani oleh Dr. Jekyll. Dari cerita itu, meskipun dengan perasaan ngeri, Mr. Utterson berkesimpulan bahwa orang yang tak memiliki rasa kasih saying itu adalah Mr. Hyde yang dicari – carinya selama ini.
Hampir setahun berselang, seorang pelayan perempuan melihat seorang lelaki yang dikenalnya sebagai Mr. Hyde, membunuh seorang terhormat yang bernama, Sir Danvers Carew. Mr. Utterson menjadi lebih terkejut lagi. Bagaimana bisa seorang terhormat seperti Dr. Jekyll mewariskan seluruh hartanya kepada seorang pembunuh? Ia sempat berprasangka bahwa Dr. Jekyll dulunya pernah melakukan suatu perbuatan yang tidak terpuji. Dan orang yang mengetahui rahasia masa lalu Dr. Jekyll itu memerasnya sebagai imbalan tutup mulut.
Karena takut dengan keselamatan Dr. Jekyll, Mr. Utterson mendesak Dr. Jekyll untuk memberitahu hubungan Dr. Jekyll dengan Mr. Hyde. Mengetahui bahwa ahli warisnya telah menjadi seorang kriminal buron, Dr. Jekyll berjanji bahwa ia tidak akan lagi berhubungan dengan Mr. Hyde. Dan setelah peritiwa pembunuhan itu, Mr. Hyde memang bagai hilang ditelan bumi.

Sejak itu, Dr. Jekyll yang awalnya menghindar dari kehidupan sosial, menjadi orang yang kembali populer secara sosial. Ia melakukan amal lagi dan kegiatan – kegiatan sosial lainnya. Namun, ternyata itu tidak berlangsung lama. Dr. Jekyll kembali menarik diri dari kehidupan sosial dan mengunci diri di laboratoriumnya.  Teman – temannya merasakan keanehan ini. Dan mereka mencoba mencari tahu. Upaya yang membawa mereka pada kengerian yang tak pernah mereka pikirkan. Kengerian tentang siapa sebenarnya Mr. Hyde.
Buku tipis ini ditulis dengan sangat cerdas. Sangat terasa kesan bahwa cerita ini ditulis dengan cermat dan lama. Karena usaha si penulis, Robert Louis Stevenson, cerita yang dituturkan dalam cetakan buku yang tipis ini meninggalkan kesan yang dalam. Kalimat – kalimat yang bernas, cukup mampu membuat saya puas.
Meskipun begitu tetap ada satu ganjalan. Penulis kurang menjelaskan detil ilmiah penelitian Dr. Jekyll yang menggemparkan. Meskipun sangat khayal, paparan ilmiah dalam novel Jurrasic Park, tentang bagaimana dinosaurus berhasil dihidupkan kembali, terasa masuk akal dan menjadikan novel itu begitu kaya. Di novel ini, saya membaca seorang dokter melakukan sebuah eksperimen dengan hasil yang sulit dibayangkan. Dan eksperimennya itu hanya dengan memanfaatkan beberapa macam bubuk kimia saja! Bagaimana bisa? Tidak dijelaskan.

Akan tetapi, mengingat bahwa novel ini ditulis di tahun 1886, dan bisa dikatakan sebagai sebuah novel klasik, sesuatu yang menurut saya bisa menjadi kekurangan dalam novel ini, bisa dimaklumi. Karenanya, kekurangan itu tidak membuat novel ini menjadi cacat.
Selain memikat, ternyata novel ini mengandung nilai moral dan – jika bisa dikatakan demikian – sindiran yang halus  sekaligus. Stevenson seolah ingin mengingatkan kepada kita semua bahwa dalam setiap kita terdapat seekor “srigala”. Terkadang srigala itu terbelenggu sehingga orang lain tidak akan mampu melihat wujud “fisiknya”. Namun tak jarang srigala itu muncul dan membuat malu yang tak tertahankan.  
Seringkali kita berhasil mengurung srigala itu sehingga ia tidak berdaya sama sekali, namun juga tak jarang kita membiarkannya lepas namun berusaha menyelamatkannya dari pandangan orang lain.
Robert Louis Stevenson berpesan lewat kisah ini bahwa setiap kita memiliki dua sisi. Sisi baik dan sisi buruk. Semuanya berpulang kepada kita masing – masing, apakah kita akan gigih dalam menetapi sisi baik itu atau menyerah pada cengkeraman sisi buruk.




Informasi Buku:
Buku 29
Judul: The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde
Penulis: Robert Louis Stevenson
Penerjemah: Julanda Tantani
Penerbit: Gramedia

Tebal:  128 halaman
Cetakan:  I, Mei 2011

Minggu, 15 Januari 2012

Clara's Medal

Mestakung menginspirasi Feby Indirani untuk menulis Clara’s Medal. Namun, berhasilkah Feby menginspirasi orang lain dengan Novel ini?
Adalah Prasetyo dan Bram Wibisono, Fisikawan lulusan luar negeri yang sedih melihat perkembangan pendidikan fisika di Indonesia. Mereka kemudian bekerja sama mendirikan FUSI, sebuah lembaga yang melatih siswa – siswa berbakat dari seluruh Indonesia untuk mengikuti kompetisi Fisika dunia.
Di tengah perjalanan terjadi perselisihan diantara Tyo dan Bram. Bram berpikir bahwa Tyo lebih berorientasi pada medali ketimbang ilmu fisika. Sedangkan Tyo berpikiran bahwa medali adalah jalan untuk perkembangan ilmu fisika di Indonesia. Perselisihan itu berakhir dengan pengunduran diri Bram Wibisono dari FUSI.
Hubungan antara Tyo dan Bram kembali terjadi ketika Clara, putri Bram Wibisono bergabung dengan FUSI sebagai calon peserta Olimpiade Fisika. Meskipun pada awalnya Bram tidak menyutujui keinginan Clara, ia bisa mengerti ketika mendengar alasan Clara.
Cerita kemudian beralih ke Asrama FUSI dimana anak – anak terpilih dari seluruh Indonesia dilatih untuk menghadapi Olimpiade Fisika di Singapura. Latar belakang anak – anak itu menjadi bahan cerita tersendiri. Dengan sangat mengalir, Feby menuturkan karakter masing – masing anak dan aktivitas mereka di asrama.
Dari kejadian – kejadian di asrama yang dituturkan oleh Feby, peristiwa kecurangan yang dilakukan Angga dan peretasan (Hacking) yang dilakukan oleh Bagas terlihat paling menonjol. Selain menghasilkan pelajaran berharga bagi Angga dan Bagas, kelakuan Bagas ternyata juga mengancam kelangsungan FUSI.
Di sampul buku, Profesor Yohanes Surya mengatakan bahwa novel ini inspiratif. Akan tetapi menurut saya, novel ini akan jauh lebih inspiratif lagi jika Feby menuliskannya dengan lebih cermat dan tidak terburu – buru. Kekurangcermatan Feby bagi saya begitu mengganggu. Berikut yang menurut saya kekurangcermatan Feby.
Pertama, pada halaman 20, Erik mengatakan bahwa Bagas, si peretas, biasa menghabiskan waktu berjam – jam untuk mempelajari bahasa pemrograman komputer. Padahal di halaman 105 Prasetyo mengatakan bahwa penggunaan internet dibatasi. Lagipula, jika memang Bagas punya kegemaran meretas computer, saya kira ia tidak akan melakukannya di asrama ketika ia mengikuti pelatihan dan seleksi FUSI.
Kedua, di halaman 52 dan 60 disebutkan bahwa Angga dan Made merokok ketika mereka baru saja sampai di asrama. Merokok? Tidak bisa dipungkiri bahwa memang ada siswa SMP atau SMA yang merokok. Namun, sangat sulit menerima cerita tentang siswa yang berbakat Fisika merokok. Merokok sangatlah tabu bagi siswa. Jikalaupun seorang siswa berprestasi merokok, saya kira rasa malunya akan menghalanginya untuk merokok secara terang – terangan. Apalagi sampai ketua FUSI, Prasetyo,  mengetahuinya (halaman 105). 
Ketiga, hampir semua tokoh utama dalam novel ini memiliki latar belakang keluarga yang suram. Orang tua Clara bercerai. Bagas kurang mendapatkan perhatian dari ayahnya, sedangkan ibunya telah meninggal. Arif yang dari Madura, setiap hari harus mendengar orang tuanya bertengkar. George korban bullying teman sekolahnya. Saya juga agak kesulitan menerima cerita ini. Anak – anak berprestasi biasanya berasal dari keluarga baik – baik yang harmonis. Sedangkan keluarga yang bermasalah biasanya juga menghasilkan anak – anak yang bermasalah. Bisa jadi Feby sengaja membuat kisah semacam ini untuk menekankan konsep MESTAKUNG. Bahwa Mestakung pun sudah terjadi pada masing – masing peserta. Namun bagi saya ini terlalu dipaksakan.
Keempat, di halaman 406, Clara mengatakan bahwa lagu Kangen dari Dewa 19 merupakan lagunya ketika ia masih kecil. Padahal di halaman 362 ditulis bahwa Meddy berusia 8 tahun di tahun 1999. Bisa dipastikan bahwa Meddy dan Clara seusia. Jika ada senjang usia pasti hanya dalam hitungan bulan saja. Lagu Kangen Dewa 19 keluar tahun 1992. Jika di tahun 1999 Clara berusia 8 tahun, kemungkinan besar di tahun 1992 Clara baru berusia satu tahun! Bayi berusia satu tahun bisa mengingat lagu Dewa 19? Konon, Feby lahir tahun 1979. Lagu Kangen bisa jadi didengarkan Feby Indirani kecil. Tapi bukan Clara. Ada baiknya lagu Kangen diganti dengan Roman Picisan atau Cemburu. Clara kecil bisa jadi mengenal lagu – lagu itu.

Selebihnya ada beberapa hal yang menurut saya terlalu dipaksakan oleh Feby. Kasus Peretasan (hacking), Erik yang langsung membaca buku Engineering Thermodynamic ketika ia baru saja sampai dari Medan. Dan Bagas yang tiba – tiba saja jadi ramah setelah Clara menyapanya ketika sedang memetik gitar.
Meskipun demikian saya suka dengan perselisihan antara Tyo dan Bram mengenai FUSI. Perselisihan yang bisa digunakan untuk mewakili ketidakpuasan sebagian masyarakat dengan tetap terselenggaranya Ujian Nasional. Saya juga suka dengan ilmu – ilmu Fisika yang ditulis di beberapa tempat.
Jika saja Feby Indirani lebih cermat.


Informasi Buku:
Buku 28
Judul: Clara’s Medal
Penulis: Feby Indirani
Penerbit: Qanita

Tebal:  474 halaman
Cetakan:  I, September 2011

Senin, 09 Januari 2012

Dead Girl Walking, Masuk ke Tubuh yang Salah

Bisa jadi engkau orang yang paling malang sedunia. Bisa jadi engkau merasa bahwa seluruh kemalangan memang hanya diciptakan untukmu. Tapi percayalah bahwa masih banyak orang yang lebih malang dari dirimu. Bahkan orang yang menurutmu memiliki seluruh kebahagiaan di dunia ini terkadang juga menyembunyikan kepedihan. Menurut saya itulah yang ingin disampaikan penulis di buku ini.

Adalah Amber, seorang siswi SMA yang tidak begitu puas dengan hidupnya. Saya kira si Amber juga mengalami krisis percaya diri. Ia adalah seorang gadis yang begitu suka membaca buku – buku pengembangan diri dan selalu menemukan kutipan menggugah dari buku – buku itu di setiap kondisi yang mengancam.

Amber bercita – cita menjadi seorang agen pertunjukan yang sukses. Dan berdasarkan apa yang ia baca di salah satu buku pengembangan dirinya, Networking Works!, ia tahu bahwa kesuksesan tidak semata – mata ditentukan oleh kecerdasan, bakat ataupun keberuntungan melainkan juga oleh banyaknya koneksi. Karena alasan ini pulalah ia bersama dua rekannya mendirikan Halsey Hospitality Club, sebuah klub yang menyambut siswa baru di sekolah dengan memberikan keranjang hadiah. Meskipun dengan menjalankan klub semacam ini terbuka peluang untuk mendapatkan lebih banyak teman, namun ternyata klub ini tidak diminati oleh teman – teman lainnya. Sejak berdiri klub ini hanya memiliki tiga anggota saja.

Baiklah sekarang marilah kita membicarakan kemalangan – kemalangan yang menimpa si Amber. Pertama, uang kuliah yang disediakan oleh orang tua Amber terpaksa dipakai untuk perawatan kesuburan ibunya karena orang tuanya memutuskan untuk memiliki anak lagi. Tanpa uang itu, Amber terancam tidak kuliah.
Kedua, nampaknya Amber lebih cenderung menjadi seorang geek, kutu buku yang canggung bergaul, daripada orang populer. Karena itulah ia lebih nyaman bergaul dengan Dustin Cole dan Alyce Perfetti, anak – anak yang memiliki kecenderungan yang sama dengannya daripada bergaul dengan Jessica ataupun Leah yang popular di kalangan teman – teman sekolahnya. Kepribadian yang serupa ini sangat kontras dengan cita – cita Amber yang ingin menjadi agen pertunjukan – pekerjaan yang membutuhkan keluwesan dalam bergaul. Sebagaimana layaknya seorang geek  Amber berpenampilan apa adanya. Tentu berbeda dengan penampilan Leah dan gank-nya yang berpenampilan trendy dan mengikuti perkembangan fashion. Bagi Leah dan kawan – kawannya, penampilan Amber disebut fakir fashion.

Sudah bisa dipastikan bahwa geng Leah menolak bergaul dengan Amber karena masalah penampilan ini. Sikap mereka di depan Amber penuh dengan kepura – puraan. Padahal Amber benar – benar ingin agar ia bisa masuk ke lingkungan Leah ini demi menunjang karirnya di masa mendatang. Kepura – puraan geng Amber ini terungkap ketika Amber hadir dalam pesta yang diselenggarakan oleh salah satu dari mereka. Tanpa disadari oleh geng Leah, Amber mendengar pembicaraan mereka ketika sedang mengolok – olok dirinya. Tentu saja hancur hati Amber.


Kemalangan berikutnya adalah ketika ia pulang dari pesta dengan hati hancur. Di depan rumahnya ternyata sudah menunggu Sheila, tukang pos yang mengabarkan bahwa ia mendapatkan beasiswa ke perguruan tinggi. Saking gembiranya, ia bersujud ke permukaan jalan dan tanpa disadarinya mobil pos Sheila melindasnya! Amber koma!

Dalam keadaan mati suri, ia bertemu dengan neneknya yang sudah mati. Neneknyalah yang menyuruh Amber kembali karena belum saatnya ia mati. Neneknya member arah kembali namun Amber memiliki kekurangan dalam membaca arah. Alih – alih kembali ke tubuhnya, ia ternyata malah masuk ke tubuh Leah yang juga sedang koma karena percobaan bunuh diri. Amber yang membenci Leah, kini harus hidup dengan jalan hidup Leah yang ternyata jauh dari dugaannya.

Amber berjuang mati – matian agar ia bisa kembali ke tubuhnya sendiri. Pertama – tama ia mencoba meyakinkan teman dekatnya bahwa yang berada di dalam tubuh Leah adalah dirinya, Amber. Namun untuk bertemu teman – temannya itu bukanlah perkara yang mudah karena orang tua Leah menyekap Leah dalam kamar dan rumah yang penuh CCTV karena khawatir Leah mencoba bunuh diri lagi. Keadaan semakin genting ketika orang tua Amber berniat mendonorkan bagian tubuh Amber karena sepertinya kecil kemungkinannya bagi Amber untuk hidup.

Ketika mati suri itulah Amber menyadari betapa besar cinta orang tuanya kepadanya. Kekesalannya kepada mereka karena telah menggunakan uang kuliahnya hilang. Saat itu pulalah ia sadar betapa teman – temannya sendiri, Dustin dan Alyce, adalah benar – benar teman sejati. Memiliki dua teman sejati tentu jauh lebih baik daripada memiliki seratus teman yang penuh kepura – puraan. Nah, berhasilkah Amber kembali ke tubuhnya sendiri? Akhir cerita membuat saya benar – benar melongo! 


Informasi Buku
Buku 27
Judul: Dead Girl Walking, Masuk ke Tubuh yang Salah
Penulis: Linda Joy Singleton
Penerjemah: Maria Susanto
Penerbit: Atria
Tebal: 382 halaman
Cetakan: I, Januari 2012

Minggu, 01 Januari 2012

Seratus Tahun Kesunyian

Merangkum peristiwa selama satu abad tentu tidak mudah. Karena itu pula buku ini memiliki jalan cerita yang sangat cepat.
Awalnya saya mengira buku ini merupakan buku sains fiksi. Karena di halaman – halaman awal, buku ini memuat berbagai jargon yang berkenaan dengan sains. Astrolabe, sekstan, philosopher’s egg dan merkuri muncul di muka. Saya menjadi begitu bergairah untuk segera membacanya. Namun ternyata saya salah.
Seratus Tahun Kesunyian berkisah tentang Jose Arcadio Buendia yang membunuh Prudencio Aguilar karena ia mengejeknya impoten. Tak disangka – sangka hantu Prudencio terus muncul menyiksa Jose dengan rasa bersalah. Karenanya ia dan istrinya pun meninggalkan kampung mencari tempat tinggal baru. Sampailah mereka ke tempat yang sangat terpencil. Tempat baru mereka itu disebut Macondo.
Di Macondo pasangan Jose Arcadio Buendia dan Ursula Iguaran memiliki putra dan putri yaitu Jose Arcadio, Aureliano Buendia dan Amaranta. Macondo begitu terpencilnya hingga ia terputus dengan kehidupan luar. Satu – satunya yang sering mengunjungi Macondo adalah kelompok gypsy. Gypsy inilah yang mengenalkan berbagai produk teknologi dan membuat Jose Arcadio Buendia menjadi begitu tertarik dengannya.
Namun keterasingan Macondo tidak berlangsung lama. Kota kecil ini kemudian terhubung dengan kota – kota yang lain. Dan ternyata keterkaitan Macondo dengan kota lain ini merupakan awal bencana dari Macondo yang awalnya aman tentram. Tersiar kabar bahwa golongan liberal telah memutuskan berperang melawan golongan konservatif. Aureliano Buendia bersimpati dengan golongan liberal itu dan memutuskan berperang bersamanya. Ia pun mengangkat dirinya sendiri menjadi Kolonel.
Perang saudara tak terelakkan lagi. Kekejaman dan kebrutalan pemimpin Macondo semakin membuat daerah itu menjadi tidak menentu. Namun peperangan pun tidak berlaku selamanya. Perang berhenti dengan ditanda tanganinya perjanjian damai. Lepas dari peperangan yang menghancurkan, Macondo kembali dihantam permasalahan yang tak kalah dahsyatnya. Permasalahan yang akan membuat Macondo kembali menjadi kota sebagaimana asalnya dulu ketika ia baru dibangun oleh Jose Arcadio Buendia dan Ursula Iguaran. Apakah permasalahan yang dimaksud dan apa makna di balik judul Seratus Tahun Kesunyian dapat anda temukan di halaman – halaman buku ini.
Membaca Seratus Tahun Kesunyian akan mengingatkan kita pada kisah Nabi Adam dan Siti Hawa yang diusir dari surga karena telah melakukan dosa dengan memakan buah terlarang. Jose dan Iguaran berkelana ke daerah terpencil sebagaimana Adam dan Hawa harus hidup di bumi yang jauh dari kenikmatan.
Jose membangun kota yang nyaman hingga terjadi peperangan yang menghancurkan sebagaimana dunia yang awalnya tempat yang damai namun dalam gilirannya akan mengalami ketentraman hidup dan ketakutan perang. Akan berselang – seling antara kenyamanan dengan kegelisahan dan semua itu nantinya akan menjadikan dunia tempat kita hidup ini kembali menjadi tempat yang asing bahkan bagi kita sendiri yang telah menempatinya selama jutaan tahun.
Saya kurang menikmati membaca buku ini. Seperti yang saya tulis di awal, sumber ketidaknikmatan itu adalah karena penulis harus merangkum seluruh peristiwa yang terjadi dalam waktu seratus tahun. Karenanya, satu peristiwa, tidak peduli apakah itu penting atau tidak seringkali ditulis hanya dalam beberapa kalimat saja. Jalan cerita yang cepat dan pendek – pendek ini membuat saya menjadi begitu cepat bosan. Selain itu saya terkadang harus membuka halaman sebelumnya untuk mengetahui kaitan sebuah peristiwa dengan peristiwa sebelumnya. Dengan segera saya melupakan peristiwa awal yang ada kaitannya dengan peristiwa yang tengah saya baca karena begitu sedikitnya kalimat yang menggambarkannya!
Menurut saya, novel ini juga mencampurkan antara kehidupan nyata dengan khayalan “aneh”. Di kisah ini terdapat seorang tokoh yang bernama Remedios dengan julukan si Cantik. Ia dikisahkan sebagai seorang wanita tercantik di dunia. Yang aneh, ketika seseorang yang benar – benar terobsesi dengannya mengintipnya ketika sedang mandi, ia tidaknya marah atau malu melainkan malah berkata: “Hati – hati, nanti jatuh!”, sambil meneruskan mandinya. Lebih aneh lagi ketika mengetahui bahwa siapapun yang menyukai Remedios pasti akan mati. Si pengintip itu mati terjatuh dari genteng tempat ia mengintip sebelum Remedios menyelesaikan mandinya. Dan puncak keanehan itu adalah ketika Remedios terbang menuju surga beserta dengan tubuh fananya!
Novel yang sering disebut sebagai novel memikat ini ternyata tidak membuat saya mendapatkan kesan mendalam ketika selesai membacanya. Sepertinya saya memang bukan penikmat novel semacam ini.


Informasi Buku:
Buku 26
Judul: Seratus Tahun Kesunyian
Penulis: Gabriel Garcia Marquez
Penerbit: Bentang
Tebal: 547 halaman
Cetakan:  I, Mei 2007