Pages

Selasa, 31 Desember 2013

How Starbucks Saved My Life



Ini buku baru! Baru saya baca tepatnya. Buku yang sudah lama beredar di toko buku ini sempat saya timbang – timbang untuk saya beli dulu, tapi urung karena saya lebih memilih buku lainnya. Dan minggu kemarin, ketika saya main ke rumah salah seorang keponakan, saya menemukan buku ini di rak bukunya, saya baca beberapa halaman dan tertarik.

Buku yang ditulis oleh Michael Gates Gill ini berkisah tentang dirinya sendiri. Michael (Mike) adalah seorang lulusan Universitas Yale, dari keluarga yang mapan dan bekerja di bidang periklanan yang membuat dirinya dan keluarganya hidup berkecukupan.

Namun angin berbalik. Mike dipecat dari perusahaan dimana ia bekerja dengan alasan ia sudah terlampau tua untuk sebuah pekerjaan kreatif. Kondisi yang berat ini membuatnya goyah. Ia berselingkuh dan memiliki anak dari selingkuhannya itu. Mike pun bercerai dengan istrinya. Dan, cobaan ini belum berakhir, dokter memvonisnya menderita tumor otak!

Saya tidak bisa membayangkan jika apa yang terjadi pada Mike juga terjadi pada saya saat ini. Betapa berat beban yang harus ditanggung. Menjalani kehidupan miskin tentu sangat berat. Tapi akan sepuluh kali lebih berat jika anda harus hidup miskin ketika beberapa saat lalu anda hidup bergelimang harta! Apalagi jika masih ditambah dengan kehilangan keluarga dan penyakit yang mematikan!

Tapi Tuhan punya rencana. Ketika Mike minum kopi di kedai Starbucks, seorang wanita, Crystal, menawarinya pekerjaan sebagai karyawan di Starbucks. Awalnya berat bagi Mike untuk bekerja sebagai karyawan di kedai kopi, tentu karena masa lalunya yang kaya. Tapi, tawaran Crystal yang akan memberinya asuransi kesehatan  membuat Mike menerimanya. 

Michael Gates Gill bersama Tiffany Edwards yang dalam buku ini disamarkan dengan nama Crystal Thompson

Betapa Tuhan telah merancangnya dengan indah, dengan sangat detil! Michael Gates Gill yang hidup berkecukupan adalah orang yang angkuh. Dan Tuhan ingin menghilangkan kesombongannya itu dan agar kisah hidupnya menjadi pelajaran bagi orang lain. Maka Tuhan membuatnya dipecat dari pekerjaannya. Menjauhkannya dari keluarganya dan memberinya penyakit. Coba kalau ia tidak terkena tumor otak, bisa jadi Mike menolak tawaran Crystal. Dan jika ia tidak bekerja di Starbucks, ia tidak akan mendapatkan nilai – nilai mulia yang terkandung dalam sebuah pekerjaan.

Buku ini memang sebuah nasihat bagi siapapun bahwa semua manusia itu sama, bahwa semua pekerjaan itu mulia dan bahwa lingkungan kerja terbaik adalah lingkungan kerja yang memanusiakan manusia. Bukan menganggap manusia sebagai mesin uang yang jika sudah usang bolehlah ia dibuang!

Namun, meskipun berisi nasihat, anda tidak akan merasa digurui oleh si penulis. Bagi saya, buku ini juga merupakan buku panduan manajemen yang baik tanpa harus menjadi buku manual yang membosankan. Panduan manajemen bisnis moderen, di tangan Michael Gates Gill, diubah menjadi karya naratif yang kaya.

Kekurangan dari buku ini ada pada sampulnya. Sampul buku terjemahan ini tidak memberikan pesan apa – apa jika dibandingkan dengan sampul buku aslinya. Kemudian, menurut saya, buku ini akan mejadi lebih kaya jika dibubuhi dengan foto – foto. Ingin sekali saya tahu seperti apakah Crystal itu, sebesar apakah Kester, atau senyentrik apakah Charlie itu. 
Sampul Asli
Namun itu bukan esensi. Buku yang layak dibaca siapapun dan kapanpun juga ini membuat saya tertarik untuk membelinya, bukan hanya meminjamnya. Dengan demikian, ia bisa saya baca di lain waktu atau bisa saya wariskan untuk anak – anak saya.




Informasi Buku:
Buku 46
Judul: How Starbucks Saved My Life
Penulis: Michael Gates Gill
Penerbit: Penerbit Literati
Tebal: 386 Halaman
Cetakan: ke 2, Tahun 2012

Jumat, 20 Desember 2013

Riddle dari SS ku

Tahun ini aku ikut lagi Secret Santa dari BBI.



Dan sore ini, buku dari SS ku datang. Ya, baru sampai tiba sore ini. Mengapa baru sore ini? Padahal si SS anak Jogja. Dekat saja dari sini. Ternyata... baca sendiri mengapa di suratnya ini:


Nah, begitu katanya. Maaf ya telah merepotkan. Tapi.... bukunya bener - bener buku yang aku inginkan sejak luaaamaaa. Ini dia:


Shocking Japan, bener - bener membuatku shock sore ini. Buku ini sudah jarang beredar di toko buku Man!! Kalo mikir itu, aku bener - bener kasihan ama SS ku. Maaf dinda, telah merepotkanmu sedemikian rupa. Lalu masih dibonusi satu buku lagi sama si SS. Coba, kurang baik apa SS ku ini, sudah repot nyari buku setengah langka, masih kasih bonus pula... Sekali lagi aku ucapkan:

Matur Nuwun Diajeng, Gusti Alloh sing mbales

Bonusnya adalah buku 1Q84 jilid tiga dari Murakami, terbitan KPG. Tinggal nyari jilid satu dan duanya, maka 1Q84 ku akan lengkap edisi bahasa Inggris dan terjemahannya sekaligus. 

Arigato, Thank you!!

Btw, aku sudah tahu siapa kamu diajeng. Jadi, tunggu aja tanggal mainnya. 
Terima kasih telah berdarah - darah dalam mencari buku impianku ini.
KALEPATANIPUN...MATUR NUWUN. 

Jumat, 22 November 2013

David and Goliath, Ketika si Lemah Menang Melawan Raksasa



Sebagaimana yang sudah – sudah, Malcolm Gladwell kembali menulis buku dengan tema yang “Wah!”. Saya selalu menemukan paradoks pada buku – buku Gladwell. Di Tipping Point, anda akan menemukan anak – anak muda yang tanpa sengaja mempopulerkan kembali produk sepatu yang hampir ditinggalkan konsumen. Di Blink, anda akan menemukan Warren Harding Error; presiden Amerika yang paling dielu – elukan ternyata menjadi presiden pertama Amerika yang paling singkat menjabat. Di Outliers, anda akan terpana dengan seorang yang memiliki IQ 195! (Einstein “hanya” ber-IQ 150), tapi hidup sebagai petani!!. Dan paradoks itu semakin intens kemunculannya di What the Dog Saw. Bagi saya, paradoks yang ditulis oleh Gladwell adalah sesuatu yang membuat saya bergumam “Wah, wah, wah” sambil menggeleng – gelengkan kepala dan membuat saya selalu menunggu buku – buku dia selanjutnya.


Di bukunya yang terbaru ini, Gladwell menggunakan kisah yang terkenal di tiga agama besar dunia; Yahudi, Kristen dan Islam (kisah tentang David dan Goliath) untuk menunjukkan bahwa dalam kelemahan terdapat kekuatan dan sebaliknya, di dalam kekuatan seringkali terdapat sebuah kelemahan.


Ini seolah menjadi hukum alam yang akan terus terjadi sepanjang masa dan akan terjadi pada siapa saja. Gladwell mengumpulkan kisah – kisah senada David dan Goliath ini (dalam berbagai macam konteks), memilih yang paling bagus menurut dia dan menyusunnya dalam buku ini. Mari saya cuplikkan diantaranya.


Kisah pertama adalah kisah yang paling ringan menurut saya. Tentang Vivek Ranadive yang seumur – umur tidak pernah main bola basket tapi kemudian memutuskan untuk menjadi pelatih tim bola basket putrinya. Putri Ranadive dan teman – temannya tidak memiliki postur pemain bola basket. Mereka anak – anak ahli komputer yang biasa berkutat dengan buku bukan dengan bola basket. Pemain – pemain bertubuh kecil dikombinasikan dengan pelatih yang tidak tahu apa – apa mengenai bola basket. Klop sudah. Di atas kertas tim seperti ini pasti akan kalah jika melawan tim yang lebih terlatih yang memiliki pelatih dengan jam terbang yang sama tingginya. Namun tim Ranadive menang! Dan bukan menang yang kebetulan.


Jika dihubungkan dengan kisah David dan Goliath, tim Ranadive adalah David dan tim lawan diibaratkan Goliath. Jika dilihat dari postur tubuh, pengalaman perang dan peralatan yang dibawa, David kalah telak. Goliath tinggi besar, sedang David kecil. Goliath adalah seorang prajurit perang sedang David adalah seorang gembala. Dalam keadaan demikian, David dipastikan kalah jika berduel dalam jarak dekat. Namun, ia tidak memilih itu. Ia memilih melemparkan batu dari jarak jauh ke arah Goliath yang kemudian menewaskannya. Tim binaan Ranadive akan kalah jika mereka bermain dengan pola permainan yang biasa dilakukan oleh tim basket profesional. Karena itu mereka bermain secara tidak lazim menurut pola permainan bola basket di Amerika. Itulah yang memenangkan mereka.


Kisah berikutnya adalah tentang Caroline Sacks (nama samaran) perempuan cerdas di awal kuliahnya. Dia mendaftar di dua universitas. Brown University dan University of Maryland. Dia diterima dan memilih Brown University karena universitas ini lebih bagus daripada University of Maryland. Kita tentu sependapat dengan Sacks. Kuliah di universitas top tidak hanya menambah gengsi tapi juga menjanjikan pekerjaan yang lebih baik. Tapi Brown University adalah Goliath. Kehebatannya mengaburkan kelemahan. Di bab Caroline Sacks ini Gladwell menyajikan data – data yang mencengangkan. Data – data yang memporak – porandakan paradigma berpikir kita. Ternyata lebih baik menjadi ikan besar di kolam kecil daripada menjadi ikan kecil di kolam besar (halaman 72).


Gladwell adalah seorang jurnalis di The New Yorker. Maka tidak heran jika semua buku – bukunya dipenuhi dengan fakta – fakta dan ditulis dengan gaya jurnalis. Gaya jurnalis semacam ini mengingatkan saya akan buku – buku Daniel Goleman. Namun, meski begitu, buku – buku Gladwell bukan buku yang garing dan membosankan. Paradoks yang bertebaran di tiap halamannya selalu membuat saya ternganga – nganga.


Seringkali Gladwell melompat – lompat dari kisah tokoh yang menjadi judul bab ke kisah lainnya yang mendukung. Ini seperti mengumpulkan kepingan – kepingan yang berbeda – beda lalu menyusunnya menjadi gambar utuh yang menarik. Dari fakta – fakta yang tumpang tindih itu, seringkali pembaca diminta untuk menarik benang merahnya sendiri.


Karena suatu fakta atau data sering dimunculkan kembali di halaman lain sebagai pendukung, seringkali saya harus membuka kembali halaman dimana data atau fakta itu pertama kali muncul, karena sudah lupa. Ini adalah gaya Gladwell. Di David and Goliath ini, pembahasan mengenai kurva U terbalik banyak diulang. Dan beberapa kali saya harus membuka kembali halaman yang berisi pembahasan kurva U terbalik itu.


Terakhir, Malcolm Gladwell kembali berhasil menyajikan paradoks indah di David and Goliath ini. Dari berbagai fakta dan data yang mencengangkan di buku ini, dari potongan – potongan yang berserak, saya bisa membentuk sebuah “gambar” versi saya dari buku ini. Bahwa kekuatan apapun selalu menyimpan kelemahan di dalam dirinya. Namun diperlukan kecerdasan dan pengalaman untuk menemukan dimana titik kelemahannya. Buku Gladwell yang terakhir ini bisa menjadi langkah pertama untuk mendapatkan pengalaman itu.






Informasi Buku:
Buku 45
Judul: David and Goliath, Ketika si Lemah Menang Melawan Raksasa
Penulis: Malcolm Gladwell
Penerbit: Gramedia
Tebal: 301 Halaman
Cetakan: ke 1, Tahun 2013

Kamis, 29 Agustus 2013

Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma



Kalaupun memungkinkan, ingin sekali rasanya saya bisa mengoleksi buku – buku yang pernah saya baca waktu saya berusia SD. Buku sangat berharga di kala itu. Karena di kotaku tidak ada toko buku. Maka perpustakaan sekolah saja yang menjadi tujuan untuk membaca. Di perpustakaan itu saya membaca mulai Petualangan Tom Sawyer sampai Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Namun buku yang benar – benar membekas di ingatan saya dan berharap sekali untuk dapat mengoleksinya di saat ini adalah buku karya Idrus ini.

Dan sepertinya kami berjodoh. Ketika berjalan – jalan di satu – satunya toko buku yang ada di kotaku, aku menemukan Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma ini. Buku yang dicetak tahun 2008 ini berbeda dengan buku yang sama yang saya baca ketika SD. Bukunya lebih tipis karena ukuran font-nya diperkecil.

Saya membawanya pulang dan bersandar untuk membacanya. Ketika kisah pertama saya baca, saya seakan masuk ke dalam pintu ke mana saja yang menghubungkan saat ini dengan masa ketika saya masih kecil.

Ave Maria, kisah pertama.  Sebuah keluarga yang sering duduk – duduk di beranda, tiba – tiba kedatangan seorang tamu yang nampak linglung. Anehnya, orang yang linglung ini tak berkata apa – apa dan hanya meminjam majalah saja. Begitu setiap hari. Dia datang dan pergi meminjam majalah dan mengembalikan yang telah selesai dibacanya. Tapi seluruh keluarga heran, sebab setiap kali ia datang, setiap kali pula ia terlihat lebih baik. Dan akhirnya di hari terakhir ia bercerita tentang hidupnya dan pamit untuk mengabdi pada negara. Kisah Zulbahri, si orang linglung itu, membuat saya begitu trenyuh.

Buku ini berisi dua belas cerita pendek yang dikelompokkan dalam tiga bagian: Zaman Jepang, Corat – Coret di Bawah Tanah, dan Sesudah 17 Agustus 1945. Buku yang terbit pertama kali di tahun 1948 ini memang mengambil latar ketika zaman pendudukan Jepang dan sampai Indonesia merdeka. Kesukaan saya akan sesuatu yang berbau kuno membuat saya terpaku ketika membaca buku ini. Namun, sebenarnya yang membuat saya lebih mencintai buku ini adalah gaya bertutur yang dipakai Idrus, sang pengarang. Saya tidak tahu apakah gaya ini memang asli punya Idrus, atau sudah ada gaya serupa sebelumnya. Yang jelas, meskipun Idrus sering bersitegang dengan Chairil Anwar di seputaran karya sastra, hal itu tidak mengurangi minat saya untuk tetap mengidolakan Idrus sebagai pengarang paling bagus dari zaman itu.

Ketika saya sudah mulai keranjingan membaca sedangkan bahan bacaan di sekitar saya begitu terbatasnya, saya membaca cerita – cerita yang termuat di buku pelajaran Bahasa Indonesia milik kakak saya yang duduk di SMP kala itu. Di bukunya saya menemukan Kisah Sebuah Celana Pendek dan Jalan Lain ke Roma. Cerita yang belakangan saya tahu ternyata merupakan satu cerita dari kumpulan cerita karya Idrus di Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.

Kisah tentang pemuda yang hanya memiliki satu celana pendek saja yang dipakainya berulang kali dan juga tentang pemuda yang kelewat jujur di dua kisah ini, dan juga kisah Zulbahri di Ave Maria merupakan harta masa kecil saya yang kini tersimpan di perpustakaan pribadi saya yang bukunya tidak seberapa.

Informasi Buku:
Buku 44
Judul: Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
Penulis: Idrus
Penerbit: BalaiPustaka
Tebal: 171 Halaman
Cetakan: ke 24, Tahun 2008