Pages

Kamis, 17 Januari 2013

Life of Pi


Sebagai anak seorang pengusaha kebun binatang, Piscine Molitor Patel hidup dengan nyaman. Dia mendapatkan pendidikan yang baik, memiliki orang tua yang berpendidikan dan sangat demokratis, mampu membeli buku – buku dan memiliki banyak waktu untuk membaca.
Pi Patel adalah anak yang cerdas. Kecerdasannya membuatnya mampu menangkis ejekan teman – temannya yang memelesetkan namanya, Piscine,  menjadi Pissing. Kecerdasannya pula yang membuat ia sangat tertarik untuk mempelajari tiga agama; Hindu, Kristen dan Islam dan memeluk ketiganya.
Namun, kemudahan hidupnya tidak selamanya ia nikmati. Kondisi politik India yang tidak menguntungkan membuat ayah Pi memutuskan menutup kebun binatang mereka dan hijrah ke Canada untuk mencari penghidupan baru. Mereka pun berlayar ke Canada dengan kapal barang yang memuat sebagian binatang mereka. Di samudra Pasifik kapal tenggelam. Dan Pi dengan seekor hyena, seekor zebra, seekor orangutan dan seekor harimau bengal selamat karena dapat menumpang di sebuah sekoci. Kisah Pi selama 227 hari di lautan bersama hewan buas inilah yang menjadi inti cerita.
Buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama dibagi menjadi dua sub bagian lagi yaitu satu sub bagian berisi Pi yang mempelajari kehidupan binatang. Dan sub bagian berikutnya berisi Pi yang mempelajari ketiga agama dan memeluknya sekaligus karena ia ingin mencintai Tuhan. (Halaman 116).  
Namun bagian pertama buku ini bukan hanya sekedar pembuka cerita. Bagian pertama ini merupakan penjelasan logis dari bagian yang kedua. Mengenai Pi yang bisa hidup berdampingan dengan harimau bengal yang buas, Martel menulis tentang zoomorfisme; seekor binatang yang menganggap manusia atau binatang lain sebagai mahluk sejenisnya sendiri (halaman 132) dan batas teritorial yang dianut oleh binatang (halaman 75).
Sedangkan ilmu agama yang dipelajari oleh Pi membantunya untuk terus bertahan hidup. Memang dikatakan bahwa Pi berhutang budi kepada Richard Parker, sang harimau, karena sang binatang buas itulah yang mendorong Pi agar tetap hidup (halaman 239). Tapi Pi menganggap ini tidak lepas dari campur tangan yang Maha Kuasa. Ketika berhasil menangkap ikan dorado sambil menangis Pi berkata:
Terima kasih, Wisnu, terima kasih. Kau pernah menyelamatkan dunia ini dengan menjelma sebagai ikan. Sekarang kau menyelamatkan aku dengan menjelma menjadi ikan pula. Terima kasih, terima kasih. (halaman 267)
Di lembar – lembar awal, saya mengira bahwa novel ini berdasarkan kisah nyata. Namun belakangan saya tahu bahwa ini memang disengaja oleh penulis untuk menimbulkan rasa penasaran pembaca. Rasa takjub, simpati, jijik dan kehangatan di hati muncul silih berganti ketika membaca buku ini di halaman – halaman berikutnya. Bagaimana perasaan anda ketika membaca Pi yang memakan kotoran harimau karena lapar? Atau ketika ia memakan daging manusia?!! Bagaimana perasaan anda ketika membaca Pi yang menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun karena mengira bahwa hari itu adalah hari lahir ibunya yang ikut tenggelam? Dan saya menjadi terpekur lama sekali ketika membaca baris – baris kalimat di halaman 402.
Untuk mengakhiri, saya kutip perkataan Pi: Kita mesti menerima apa – apa yang diberikan kehidupan ini kepada kita, dan berusaha menjalaninya sebaik mungkin.



Informasi Buku:
Buku 37
Judul: Life of Pi, Kisah Pi
Penulis: Yann Martel
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit:  Gramedia
Tebal:  446 halaman
Cetakan:  VI, Desember 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar