Pages

Kamis, 31 Januari 2013

Lust For Life


Kisah hidup Van Gogh sekilas mirip dengan kehidupan yang dijalani oleh John Forbes Nash, Jr, matematikawan Amerika. Mereka sama – sama jenius, sama – sama eksentrik dan sama – sama gila di sebagian hidupnya. Yang membedakan keduanya adalah: John Nash sembuh dari gilanya dan kecerdasannya mendapatkan penghargaan tertinggi, Nobel. Sedangkan Van Gogh tidak mendapatkan pengakuan dunia kecuali ketika ia sudah tiada. Lust For Life memotret riwayat hidup Van Gogh yang sangat kelam.
Vincent Van Gogh mengawali karirnya dengan menjadi pramuniaga di sebuah galeri seni, Goupil, di London. Dan ia cukup sukses dengan pekerjaannya itu. Ia cukup bahagia dengan keadaannya. Apalagi setelah ia jatuh cinta dengan anak perempuan pemilik rumah yang disewanya, Ursula Loyer.
Sayangnya, cinta Van Gogh yang menggebu ini tidak bersambut. Ursula telah memiliki kekasih. Van Gogh yang terus menerus mendesak Ursula agar mau menerima cintanya, membuat Ursula dan ibunya muak dan marah. Van Gogh pun diusir dari rumah yang disewanya. Patah hati karena penolakan ini membuat Van Gogh sedih dan menarik diri dari pergaulan sosial. Ia tak lagi ramah dan periang seperti sebelumnya.
Penarikan dirinya dari pergaulan sosial membuat Van Gogh menjadi lebih kontemplatif. Ia menjadi lebih peka dengan penderitaan orang lain. Suatu saat ada seorang pelanggan yang berniat untuk membeli sebuah lukisan di galerinya. Menurut Van Gogh, lukisan yang akan dibeli oleh pelanggan itu jelek dan tidak sepadan dengan harganya. Pelanggan yang tersinggung dengan perkataan Van Gogh itu pun berlalu dan mengurungkan niatnya untuk membeli lukisan. Perilakunya ini mengundang kemarahan pemilik galeri. Ketidaksetujuan Van Gogh terhadap komersialisasi benda seni berujung pada keluarnya ia dari galeri itu.
Setelah berhenti dari pekerjaannya sebagai pramuniaga galeri, Van Gogh menjadi guru sukarelawan dan kemudian menjadi pendeta pembantu. Khotbahnya sebagai pendeta disukai banyak orang. Profesinya yang sekarang ini membuat Van Gogh menemukan kepercayaan dirinya lagi untuk kembali mendekati Ursula. Sayangnya, ketika ia akan mewujudkan niatnya itu, Ursula telah menikah dengan kekasihnya. Hati Van Gogh benar – benar hancur. Ia pun keluar dari Inggris untuk selama – lamanya.
Van Gogh lalu pergi ke Amsterdam. Ke tempat pamannya, Pendeta Stricker, yang akan mengajarinya ilmu agama. Ia juga belajar bahasa Latin dan Yunani kepada pakarnya yang bernama Mendes da Costa. Akan tetapi, dialognya bersama Mendes mengubah pendiriannya, ia pun pergi dari rumah Pendeta Stricker dan berhenti dari belajarnya.
Sebenarnya, ketika ia tinggal bersama pamannya, ia jatuh cinta kepada sepupunya, Kay Stricker. Untungnya, sebelum rasa cinta ini berkembang, Van Gogh mengetahui bahwa Kay telah bersuami. Namun, kelak Kay ini pun akan membuat Van Gogh patah hati untuk yang kedua kalinya.  
Menurut saya ada dua hal yang menjadi titik balik dari kehidupan Van Gogh. Pertama adalah kegagalannya yang terus menerus untuk menjalin cinta dengan wanita. Ia tidak berhasil mendapatkan cinta Ursula Loyer, ia pun gagal mendapatkan cinta dari sepupunya Kay Stricker. Van Gogh pernah berniat menikahi seorang pelacur pemabuk yang bernama Christine, namun ketika mereka hidup bersama, tahulah Van Gogh bahwa si Christine ini berusaha untuk mengatur hidupnya. Ia pun berpisah dengan Christine. Sebenarnya ada seorang wanita yang mencintainya dengan tulus, Margot Begemann. Namun keluarga Margot tidak menyutujui hubungan ini. Kegagalan berulang untuk membina hubungan dengan wanita ini membuat Van Gogh terlalu sensitif dan murung. Bahkan, bertahun – tahun setelahnya, kegagalan ini terus menghantuinya; dalam keadaan trance Van Gogh berhalusinasi bercinta dengan seorang perempuan yang bernama Maya.
Kedua, adalah apa yang terjadi di Borinage, Belgia, ketika ia menjadi pengabar Injil. Di area pertambangan batu bara yang miskin itu, Van Gogh menjadi skeptis dengan Tuhan. Penduduk Borinage yang miskin itu harus bekerja belasan jam di pertambangan yang mengancam nyawa dengan upah yang sedikit. Di Borinage putus asa dengan Tuhannya dan pengalaman pahitnya di sana mengubahnya menjadi seorang komunis. Pengalaman pahit itu pulalah yang mempengaruhi materi lukisan Van Gogh. Ia lebih suka melukis manusia dari golongan rendah daripada manusia dari golongan atas. Menurutnya, manusia dari golongan atas: ....”menjalani kehidupan yang begitu mudah sehingga tidak ada hal menarik yang terukir pada wajah mereka.”(hal. 151)
Saya kemudian bertanya – tanya, apakah kemalangan yang menimpa Van Gogh merupakan anugerah dari yang maha kuasa atau malah merupakan musibah yang terlalu berat? Jika tidak berkali – kali patah hati dan menjalani kehidupan yang berat di Borinage, mungkin Van Gogh tidak akan menjadi pelukis yang berkarakter. Namun kedua hal itu pula yang menjauhkannya dari kenikmatan hidup. Cuma, Tuhan memang telah mempersiapkannya untuk menjadi pelukis hebat. Disamping kemalangan yang menimpanya, Tuhan memberinya Theo Van Gogh, sang adik yang menyokong hidupnya selama sepuluh tahun lebih. Tanpa kemalangan dan tanpa sang adik, Vincent Van Gogh tidak akan menjadi pelukis yang terus dikenang dunia.
Irving Stone, penulis buku ini, mengatakan bahwa tidak semua yang ditulisnya benar – benar terjadi. Keseluruhan dialog dan bahkan halusinasi Van Gogh dengan Maya, murni rekaan pengarang. Dalam penyebutan Ursula, penulis membuat kesalahan. Ursula, wanita yang dicintai oleh Van Gogh, sebenarnya bernama Eugénie Loyer. Sedangkan Ursula adalah nama ibu dari EugénieLoyer ini. Namun, di luar itu, semuanya – menurut penulis – benar – benar terjadi.

Di luar keraguan tentang terjadi atau tidaknya semua peristiwa yang ada di buku ini, buku ini tetap layak untuk dibaca oleh siapa saja yang ingin berprestasi lebih dalam hidupnya. Selesai membaca buku ini saya berkesimpulan bahwa sampai kapanpun, kerja keras itu akan selalu berharga. Akan tetapi, siapapun yang bekerja keras harus selalu mempertimbangkan keseimbangan. Van Gogh bisa kita jadikan cermin.




Informasi Buku:
Buku 38
Judul: Lust for Life
Penulis: Irving Stone
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit:  Serambi
Tebal:  574 halaman
Cetakan:  I, Juli 2012

Oke, sekarang waktunya untuk menebak siapa Pemberi Rahasiaku. Inilah riddlenya:

Awalnya saya bingung juga dengan FDC No. 40 ini. Tapi kupikir, google bisa memberikan jawaban yang benar. Maka akupun googling dengan kata kunci FDC ini. Dugaanku benar. FDC no 40 adalah sebuah nama pewarna makanan sintetis. Nama lain dari FDC No 40 ini adalah ALLURA. Dari ALLURA inilah aku bisa memecahkan nama dari pemberi rahasiaku. Berikut illustrasinya:
Ya. Pemberi Rahasiaku adalah Alluna Maharani. Bukan begitu mbak Alluna?. Terima kasih ya??!!.

14 komentar:

  1. Bener sih :p

    Tapi allura bukan alluna maharani :p

    Kan ada kode keduanya tuh

    5 -> 14

    Maksudnya huruf kelima dr allura itu diganti huruf ke 14 dr urutan alfabetis.

    Eh kok cm 1 buku sih yg diripiw? :p

    Mas eko twitternya apa?

    BalasHapus
  2. @alluna: eh iya to? tak pikir angka 14 itu jumlah huruf di kata alluna maharani. Untuk buku selanjutnya diposting besok mbak. twitterku: https://twitter.com/BukuReview. makasih mbak

    BalasHapus
  3. Wah keren riddle-nya, mbak Luna emang jago bikin ridle, dan yang nebak juga ahli, aq pusing nebak Santa-ku ...
    Btw, great review mas Eko, ini salah satu timbunan dosaku yng belum ditebus alias bikin review :(

    BalasHapus
  4. @mas eko.. hahaha aku malah ga engeh klo alluna maharani 14 huruf :D

    @mbak maria :D justru aku malah ga jago mbak, yg kepikiran cuma itu doank makanya bikinnya ga panjang :D

    BalasHapus
  5. wahahaha keren bisa nebak dengan benar, menurutku riddlenya susah banget :)

    BalasHapus
  6. hehehehe, foto yang lari dari bak mandi gak ikut diupload mas? #kabur

    BalasHapus
  7. Keren riddle-nya. Aku ga bisa nebak

    BalasHapus
  8. Pada akhirnya kita dipaksa merenungkan, manakah hidup yg akan kita pilih (andai kita bisa memilih)---hidup nyaman tapi biasa-biasa saja, ataukah hidup penuh kesulitan namun sempat mengalami kebahagiaan tiada tara sebelum akhirnya meredup? Hmmm...ini komentar kok malah nanya, wkwkwk...

    Menurutku sih orang yang disebut sukses adalah yang mampu menjadi manusia yang utuh, yang berani mengejar hasrat jiwanya meski dunia menganggapnya gagal.

    Selamat udah bisa menebak riddle-nya. Seperti kata pepatah: "Malu bertanya, bertanyalah pada Google" #lho :))

    BalasHapus
  9. bhihihi, kimia banget :))

    BalasHapus
  10. Sumpah itu riddle paling bikin cengok karena ga ngeh :P
    Salut buat mba Alluna dan mas Eko yg bisa nebak :D

    BalasHapus
  11. ya ampun, itu caranya bikin video gitu gimana? *salah fokus*

    BalasHapus
  12. Aku juga mikirnya 5 ke 14 itu ya r diganti n.

    Wuaaa...aku belum sanggup review buku ini, bingung mo mulai Dari mana

    BalasHapus
  13. @hobby buku: baca mbak.kesan kelamnya terasa banget setelah baca.
    @peri hutan: yang keren yang bikin riddle mbak
    @Tezar: sensor!!!
    @desty: aku juga. google yang nebak. he he he
    @fanda: yei!! mbak fanda's here!!. buku ini berpengaruh pada mood ku mbak. selesai baca, kesan kelamnya gak ilang2
    @orybun: kimia ya?? masuk kimia gak ya??
    @Oky: mbak alluna yang sip bikin riddle. kok gak kepikiran ya.
    @bacaan bzee: gambar gif kok mas. bikin di flash
    @A.S dewi: aku gak kepikiran sampai kesitu.

    makasih semua!!

    BalasHapus
  14. Bookmarked! Ketidaksetujuan Van Gogh terhadap komersialisasi benda seni berujung pada keluarnya ia dari galeri itu.

    sering ngerasa komersialisasi berlebihan terhadap benda seni mengindikasikan orang yang melakukannya merusak nilai indah seni itu sendiri. review yang mantap..

    keren riddle-nya, keren jg yang menebaknya :)

    BalasHapus