Pages

Jumat, 01 Februari 2013

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken


Saya akan menyebut Jostein Gaarder sebagai seorang penulis “Penyederhana Kerumitan”. Dalam Dunia Sophie ia menyederhanakan filsafat. Dan di buku ini ia menyederhanakan ilmu perpustakaan.
Saya selalu senang dengan buku – buku serupa ini. Dulu sekali saya membaca buku – buku serial Pemula seperti Freud untuk Pemula, Einstein untuk Pemula dan lainnya. Buku yang ditulis dengan gambar – gambar komik ini kemudian saya temukan lagi di buku – buku Matematika Doraemon yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo.
Dan bagi saya, sebagaimana serial Pemula dan Komik Matematika Doraemon, Gaarder berhasil mengubah sesuatu yang “berat” menjadi mudah dipahami dan sekaligus menarik.
Kisah dalam buku ini dilakoni oleh dua orang sepupu, Nils Boyum Torgersen dan Berit Boyum. Dua anak cerdas yang tinggal berjauhan ini berkomunikasi dengan menggunakan surat – lebih tepatnya buku surat; surat – surat mereka ditulis di buku lalu buku itu yang dikirim melalui pos.
Setengah buku Jostein Gaarder ini berisi korespondensi antara Nils dan Berit. Di surat pertamanya Nils menulis bahwa ada seorang wanita aneh yang berniat membayari buku yang dibelinya. Dan wanita tua inilah yang kemudian menjadi topik utama dari surat – surat mereka. Kebaikan yang tidak diharapkan dan juga sikap aneh sang wanita tua membuat dua anak ini curiga.
Kecurigaan Nils dan Berit meramu cerita. Fantasi anak kecil terkadang jauh lebih cerdas daripada pikiran analitis seorang dewasa. Jika di masa kecil, anda sering menonton Power Rangers, saya yakin anda akan menganggap Bibbi Bokken, yang tiba – tiba muncul dengan keanehan – keanehan merupakan jelmaan monster. Karena itulah mereka bisa terus fokus pada wanita tua itu.
Ketika membaca buku surat, otak analitis saya menemukan kejanggalan seorang penulis. Bagi saya, yang telah berusia dewasa, terasa aneh jika buku surat itu hanya berisi pengamatan dua orang sepupu terhadap wanita tua. Seharusnya, lagi – lagi otak analitis saya yang bekerja, di surat – surat itu disisipkan juga peristiwa – peristiwa di luar kasus utama. Namun belakangan saya sadar. Bahkan di sinilah terungkap kejeniusan Jostein Gaarder.
Gaarder memilih anak – anak sebagai tokoh utama cerita karena imajinasi mereka lebih dominan. Mereka lebih fokus terhadap sesuatu yang sering diabaikan oleh orang dewasa. Jika Gaarder memilih orang dewasa sebagai tokoh cerita, tentu akan terasa aneh jika mereka membicarakan wanita tua yang ngiler karena memandangi buku di surat – surat mereka.
Imajinasi kedua anak ini kemudian menghantarkan mereka kepada sebuah pengetahuan baru. Lalu seberapa ajaibkah perpustakaan Bibbi Bokken? Buatlah segelas kopi dan duduklah senyaman mungkin untuk menikmati buku ini. Anda akan mendapatkan jawabannya setelah halaman terakhir usai.



Informasi Buku:
Buku 39
Judul: Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
Penulis: Jostein Gaarder
Penerjemah: Ridwana Saleh
Penerbit:  Mizan
Tebal:  282 halaman
Cetakan:  I, Maret 2011


5 komentar:

  1. menarik reviewnya, meskipun bukunya sudah lama tetapi terasa tetap aktual karena bahasanya padat dan bergizi.

    Sebuah kemustahilan yang nampaknya akan menjadi mesti tuh. Sukses ya, saya akan mampir terus untuk melihat review terbaru.

    Kita saling berbagi. Kebetulan saya memiliki blog baru mengenai menulis dan menerbitkan buku

    Salam kenal. Semoga sukses.
    Terima kasih

    BalasHapus
  2. Sepakat deh bilangnya kalau Jostein Gaarden menyederhanakan kerumitan ^^
    Jadi pengen baca ulang deh ni buku :) *ubek-ubek lemari*

    BalasHapus
  3. Buku ini dijual di toko buku mana ya? Thanx

    BalasHapus
  4. menarik gan review nya ada ebook ny??
    tas-spunbond.com

    BalasHapus
  5. saya jadi tertarik membaca buku ini, membuat hal rumit menjadi sederhana, membuat orang dewasa menjadi manusia dengan sikap yang tidak semanusiawi anak-anak :)

    BalasHapus