Pages

Senin, 13 Mei 2013

Inilah Pengaruh Negatif Google bagi Pecinta Buku


Dulu, saya biasa menamatkan buku setebal 300 sampai 400 halaman dalam lima sampai tujuh hari. Membaca buku – buku setebal itu adalah aktifitas yang menyenangkan bagi saya. Namun kini, entah mengapa, saya tidak sekuat dulu lagi dalam membaca. Kadang saya membeli sebuah buku yang nampaknya bagus namun seringkali saya tidak membacanya sampai selesai. Sepertinya saya sudah kehilangan gairah membaca.

Ketika saya menceritakan hal ini kepada beberapa teman, mereka mengatakan bahwa itu wajar – wajar saja. Mereka pun mengalaminya. Menurut mereka, faktor usia, pikiran dan beban tanggung jawab memiliki peran dalam mengurangi gairah membaca kita. Untuk beberapa saat saya bisa menerima ini sebagai suatu kewajaran.

Hingga suatu kali, tanpa rencana saya mengetikkan kata “reading books” di mesin pencari Google. Dan saya terkejut dengan sebuah artikel – ditulis oleh Nicholas Carr – yang  saya baca. Ternyata, bukan hanya saya dan teman – teman saya yang kini telah kehilangan selera membaca. Banyak orang yang awalnya begitu keranjingan membaca kini menjadi begitu malas membaca.

NEA di tahun 2007 melaporkan bahwa bahkan di kalangan lulusan universitas di Amerika sekalipun, ketahanan dan kebiasaan membaca turun sangat tajam. Data NEA menunjukkan bahwa hanya 47 % orang dewasa yang membaca karya literatur seperti novel, cerita pendek, naskah drama ataupun puisi. Kemudian, terdapat 65% lulusan universitas yang membaca kurang dari satu jam. Saya tertegun. Mengapa orang – orang di seluruh dunia cenderung kehilangan minat baca mereka?

Coba anda baca pernyataan Bruce Friedman, seorang ahli patologi di Universitas Michigan, juga seorang blogger yang secara rutin menulis tentang penggunaan komputer dalam dunia pengobatan di blog pribadinya. Ia menulis: “Sekarang ini saya hampir – hampir kehilangan kemampuan untuk membaca dan menyerap artikel yang panjang baik di Internet ataupun dalam bentuk cetak. Saya tidak lagi mampu membaca novel War and Peace. Saya telah kehilangan kemampuan untuk itu. Bahkan, untuk membaca artikel di blog yang panjangnya lebih dari tiga atau empat paragraf saja saya sudah kesulitan. Maka, saya hanya membacanya sekilas saja.”

Bayangkan, seorang ahli patologi di sebuah Universitas di Amerika merasa terlalu berat untuk membaca artikel yang panjangnya lebih dari tiga paragraf. Seorang pakar yang terbiasa membaca jurnal – jurnal ilmiah, buku – buku pengobatan yang tebal – tebal, dan membaca novel War and Peace karangan Leo Tolstoy yang berat sebagai selingan, kini nyaris menjadi “mantan” pembaca! Apa penyebab dari semua ini?

Pengaruh Internet
Ternyata, internetlah penyebabnya. Sebuah penelitian yang dilaksanakan oleh para pakar di Universitas College, London membuktikan hal ini. Penelitian yang dilaksanakan oleh pakar di Universitas College itu berlangsung selama lima tahun dengan meneliti pengunjung dari dua situs penelitian yang populer. Dua situs yang dimiliki oleh British Library dan United Kingdom Educational Consortium itu menyediakan akses ke jurnal – jurnal,  buku elektronik, dan sumber – sumber informasi tertulis lain.

Para pakar Universitas College London itu menemukan bahwa para pengunjung dari kedua situs itu ternyata hanya membaca artikel – artikel itu secara sekilas. Kemudian mereka berpindah dari satu artikel ke artikel lain dan jarang yang kembali ke artikel yang telah mereka kunjungi sebelumnya. Biasanya mereka hanya membaca satu atau dua halaman dari sebuah artikel atau buku sebelum mereka berpindah ke situs lain. Terkadang mereka menyimpan artikel yang panjang di komputer, namun tak ada bukti yang menunjukkan bahwa mereka kembali membuka artikel itu untuk membacanya.

Anda, sebagaimana saya, mungkin terkejut dengan temuan pakar Universitas College ini. Karena, ternyata temuan mereka itu sangat persis dengan perilaku kita sendiri ketika sedang online. Kita sering tertarik dengan sebuah artikel yang sangat baik. Tapi kita sering tidak bisa serius dalam membacanya. Kita seringkali mengunduh buku – buku elektronik yang kita inginkan. Tapi, sudahkan kita membacanya? Belum? Kita sama.

Bagaimana internet menurunkan minat baca kita? Berikut penjelasannya: Banyak yang menyangka bahwa otak manusia berhenti berkembang ketika mereka telah mencapai usia dewasa. Namun, James Olds, professor neuroscience di Krasnow Institute for Advanced Study, George Mason University, mengatakan bahwa otak manusia yang sudah dewasa pun masih bisa berkembang. Menurut Old, otak manusia mempunyai kemampuan untuk memprogram ulang dirinya dan mengubah cara bekerjanya. Sel – sel saraf otak kita secara rutin mengganti koneksi lama dengan yang baru.  Dan yang harus kita pahami adalah bahwa lingkungan dan alat merupakan faktor yang menyebabkan otak memprogram ulang dirinya.

Jam pertama kali dipakai secara umum pada abad ke 14. Dan setelah adanya jam itulah ritme kehidupan kita pun berubah. Sebelum jam ditemukan, orang akan makan ketika perut mereka lapar. Mereka akan tidur ketika mereka mengantuk dan bangun ketika sudah tidak lagi mengantuk. Tetapi setelah jam ditemukan, semua aktivitas kita ditentukan sepenuhnya oleh jam. Jam 7 pagi kita harus sarapan dan jam 10 malam kita harus tidur.

Sayangnya, alat – alat yang kita pakai itu seringkali menurunkan kualitas kita. Pada tahun 1882, seorang filosof terkenal, Friedrich Nietzsche, mulai menulis menggunakan mesin ketik karena penglihatannya mulai terganggu. Matanya terasa sakit dan kepalanya pusing saat menulis dengan menggunakan pensil. Dengan menggunakan mesin ketik, ia bisa terus menulis dengan memejamkan matanya sehingga rasa sakit dan pusing yang ia rasakan ketika menulis tidak mengganggunya. Namun, seorang sahabatnya merasakan kualitas tulisan Nietzsche mulai menurun ketika ia mulai menggunakan mesin ketik. Tulisannya berubah dari yang awalnya berupa argumen menjadi aforisme, dari yang awalnya buah pemikiran menjadi hanya permainan kata – kata, dari retorika menjadi tulisan pendek – pendek seperti telegram.
Ditemukannya mesin cetak Gutenberg pada abad ke 15 pun sudah pernah diprediksikan akan menurunkan kualitas manusia. Hieronimo Squarciafico, seorang humanis dari Italia mengatakan bahwa dengan semakin mudahnya buku didapat, manusia akan menjadi malas, semakin tidak terpelajar dan melemahkan pemikiran. Menurut Clay Shirky, profesor di New York University, pendapat mengenai dampat buruk mesin cetak itu benar. Ulama – ulama islam pada jaman dahulu mencari hadis dengan berkelana bukan dengan membaca buku. Namun dengan begitu mereka bisa menghafal jutaan hadis beserta periwayatnya sekaligus. Adakah orang yang memiliki kemampuan semacam itu pada saat ini?

Sekarang ini, kualitas manusia akan semakin menurun karena penggunaan internet. Ada yang mengatakan bahwa jika kita bertemu dengan orang yang sangat pintar, kita harus bertanya padanya tentang buku apa yang ia baca. Dengan demikian membaca merupakan ukuran dari kepintaran seseorang. Namun Maryanne Wolf, psikolog dari Tufts University mengatakan bahwa kita bukan saja apa yang kita baca, tetapi juga bagaimana kita membaca.

Tulisan – tulisan di internet dibuat berdasarkan efisiensi dan kesegeraan. Karena itu, tulisan – tulisan di internet cenderung lebih pendek dan lebih ringkas. Berbeda dengan artikel – artikel di internet, buku ditulis dalam format yang lebih kompleks. Dengan demikian, buku memaksa kita untuk lebih banyak berpikir. Lagipula, kita akan lebih fokus ketika membaca buku dibandingkan dengan ketika membaca artikel di internet. Artikel di internet pasti disertai dengan tautan – tautan ke artikel serupa yang menggoda kita untuk beralih ke artikel itu. Selain tautan, masih ada iklan dan video – video yang memecah konsentrasi kita dalam membaca. Inilah yang menyebabkan orang tidak bisa fokus ketika membaca artikel di internet. Saat kita semakin terbiasa membaca informasi di internet, otak kita mulai memprogram ulang dirinya. Saat itulah kita akan mulai merasa berat membaca buku bahkan sebuah artikel yang agak panjang.

Waspadalah
Sekarang adalah masa keemasan internet. Setiap orang di manapun mereka berada bisa terhubung dengan internet. Semakin banyak orang yang menghabiskan waktu – waktu mereka dengan terhubung ke internet. Salah satu buktinya adalah, Indonesia merupakan negara yang memiliki pengguna facebook terbanyak setelah Amerika.

Internet pun telah mempengaruhi media massa lain. Setiap stasiun televisi pasti memiliki waktu untuk menayangkan running text yang berisi berita dalam kalimat ringkas. Di internet, twitter.com adalah media untuk berbagi berita dalam format beberapa karakter saja. Semakin lama, kita akan semakin terbiasa untuk membaca tulisan yang pendek – pendek saja. Dan kebiasaan ini akan membuat kita semakin malas untuk membaca tulisan yang panjang dan menuntut kita untuk berpikir lebih intensif. Agar internet benar – benar berfaedah bagi kita dan bukannya menjadi alat yang akan menurunkan kualitas kita, kita harus lebih proporsional dalam menggunakan internet. Imbangi penggunaan internet dengan terus membaca buku – buku bermutu. Mudah – mudahan kita bisa belajar dari mesin ketiknya Friedrich Nietzsche.

11 komentar:

  1. mmm...sepertinya memang benar tanggapan tersebut, dan walau intinya sama, entahmengapa membaca papaerback dengan e-book tetap terasa berbeda terutama untuk buku-buku yg berbobot. Intinya kemudahan akses serta tehnologi membuat otot-otak juga kurang 'latihan' ya :D ijin link postingannya ya mas Eko :D

    BalasHapus
  2. Membaca artikel ini udah termasuk tes ya. Dan saya sudah agak nggak kuat baca dua paragraf terakhir. Sebenarnya keinginan membaca saya masih tinggi (untunglah) tapi hanya di printed books. Mata saya memang tidak kuat membaca di layar. E-books pun masih tersimpan tak dikutik hehe

    BalasHapus
  3. LAh bener juga nih! Gara2 internet kalau mengerjakan soal bahasa indonesia yang biasanya kayak koran jadi males bacanya---"

    BalasHapus
  4. Aku mau komenin yg 5 hari ah :D

    Aku baca 300-400 halaman itu sehari mas eko.. salah kali tuuh

    BalasHapus
  5. @alluna: gak salah mbak. saya memang pembaca yang lambat. saya biasa menghabiskan sekian halaman itu dalam rentang waktu lima sampai tujuh hari. kalau lebih cepat dari itu bisa aja sih. tapi saya sering kehilangan "rasa" ceritanya. makasih

    BalasHapus
  6. ooh, ternyata.. :3 ijin share, entah apakah nanti dibaca semua atau enggak, tapi saya *berusaha dengan sangat keras* menyelesaikan baca artikel ini :)

    BalasHapus
  7. hmm mungkin inilah kenapa akhir-akhir ini aku merasa malasnya luar biasa kalau ketemu teks bahasa inggris dan bahasa indonesia. bener nih, rasanya kayak koran hehehe :D

    BalasHapus
  8. Mas Eko, saya sepakat dengan kemalasan itu. Jujur saja, sekarang dalam sebulan saya hanya membaca 4 sampai 5 buku. Padahal, sebelum kenal lebih dalam dengan internet (dan belum ada tanggungan), tiap hari saya baca minimal satu buku. Saya juga sepakat dengan solusinya: menyeimbangkan bacaan buku dan internet.

    BalasHapus
  9. wah aku baru nyadar,makasih atas pembahasannya yang menyadarkan ku

    BalasHapus
  10. Hello salam kenal. Meninggalkan jejak kata telah bertandang disini. Rumah kata yg menyenangkan. Selamat berkata2 slalu

    BalasHapus