Pages

Jumat, 22 November 2013

David and Goliath, Ketika si Lemah Menang Melawan Raksasa



Sebagaimana yang sudah – sudah, Malcolm Gladwell kembali menulis buku dengan tema yang “Wah!”. Saya selalu menemukan paradoks pada buku – buku Gladwell. Di Tipping Point, anda akan menemukan anak – anak muda yang tanpa sengaja mempopulerkan kembali produk sepatu yang hampir ditinggalkan konsumen. Di Blink, anda akan menemukan Warren Harding Error; presiden Amerika yang paling dielu – elukan ternyata menjadi presiden pertama Amerika yang paling singkat menjabat. Di Outliers, anda akan terpana dengan seorang yang memiliki IQ 195! (Einstein “hanya” ber-IQ 150), tapi hidup sebagai petani!!. Dan paradoks itu semakin intens kemunculannya di What the Dog Saw. Bagi saya, paradoks yang ditulis oleh Gladwell adalah sesuatu yang membuat saya bergumam “Wah, wah, wah” sambil menggeleng – gelengkan kepala dan membuat saya selalu menunggu buku – buku dia selanjutnya.


Di bukunya yang terbaru ini, Gladwell menggunakan kisah yang terkenal di tiga agama besar dunia; Yahudi, Kristen dan Islam (kisah tentang David dan Goliath) untuk menunjukkan bahwa dalam kelemahan terdapat kekuatan dan sebaliknya, di dalam kekuatan seringkali terdapat sebuah kelemahan.


Ini seolah menjadi hukum alam yang akan terus terjadi sepanjang masa dan akan terjadi pada siapa saja. Gladwell mengumpulkan kisah – kisah senada David dan Goliath ini (dalam berbagai macam konteks), memilih yang paling bagus menurut dia dan menyusunnya dalam buku ini. Mari saya cuplikkan diantaranya.


Kisah pertama adalah kisah yang paling ringan menurut saya. Tentang Vivek Ranadive yang seumur – umur tidak pernah main bola basket tapi kemudian memutuskan untuk menjadi pelatih tim bola basket putrinya. Putri Ranadive dan teman – temannya tidak memiliki postur pemain bola basket. Mereka anak – anak ahli komputer yang biasa berkutat dengan buku bukan dengan bola basket. Pemain – pemain bertubuh kecil dikombinasikan dengan pelatih yang tidak tahu apa – apa mengenai bola basket. Klop sudah. Di atas kertas tim seperti ini pasti akan kalah jika melawan tim yang lebih terlatih yang memiliki pelatih dengan jam terbang yang sama tingginya. Namun tim Ranadive menang! Dan bukan menang yang kebetulan.


Jika dihubungkan dengan kisah David dan Goliath, tim Ranadive adalah David dan tim lawan diibaratkan Goliath. Jika dilihat dari postur tubuh, pengalaman perang dan peralatan yang dibawa, David kalah telak. Goliath tinggi besar, sedang David kecil. Goliath adalah seorang prajurit perang sedang David adalah seorang gembala. Dalam keadaan demikian, David dipastikan kalah jika berduel dalam jarak dekat. Namun, ia tidak memilih itu. Ia memilih melemparkan batu dari jarak jauh ke arah Goliath yang kemudian menewaskannya. Tim binaan Ranadive akan kalah jika mereka bermain dengan pola permainan yang biasa dilakukan oleh tim basket profesional. Karena itu mereka bermain secara tidak lazim menurut pola permainan bola basket di Amerika. Itulah yang memenangkan mereka.


Kisah berikutnya adalah tentang Caroline Sacks (nama samaran) perempuan cerdas di awal kuliahnya. Dia mendaftar di dua universitas. Brown University dan University of Maryland. Dia diterima dan memilih Brown University karena universitas ini lebih bagus daripada University of Maryland. Kita tentu sependapat dengan Sacks. Kuliah di universitas top tidak hanya menambah gengsi tapi juga menjanjikan pekerjaan yang lebih baik. Tapi Brown University adalah Goliath. Kehebatannya mengaburkan kelemahan. Di bab Caroline Sacks ini Gladwell menyajikan data – data yang mencengangkan. Data – data yang memporak – porandakan paradigma berpikir kita. Ternyata lebih baik menjadi ikan besar di kolam kecil daripada menjadi ikan kecil di kolam besar (halaman 72).


Gladwell adalah seorang jurnalis di The New Yorker. Maka tidak heran jika semua buku – bukunya dipenuhi dengan fakta – fakta dan ditulis dengan gaya jurnalis. Gaya jurnalis semacam ini mengingatkan saya akan buku – buku Daniel Goleman. Namun, meski begitu, buku – buku Gladwell bukan buku yang garing dan membosankan. Paradoks yang bertebaran di tiap halamannya selalu membuat saya ternganga – nganga.


Seringkali Gladwell melompat – lompat dari kisah tokoh yang menjadi judul bab ke kisah lainnya yang mendukung. Ini seperti mengumpulkan kepingan – kepingan yang berbeda – beda lalu menyusunnya menjadi gambar utuh yang menarik. Dari fakta – fakta yang tumpang tindih itu, seringkali pembaca diminta untuk menarik benang merahnya sendiri.


Karena suatu fakta atau data sering dimunculkan kembali di halaman lain sebagai pendukung, seringkali saya harus membuka kembali halaman dimana data atau fakta itu pertama kali muncul, karena sudah lupa. Ini adalah gaya Gladwell. Di David and Goliath ini, pembahasan mengenai kurva U terbalik banyak diulang. Dan beberapa kali saya harus membuka kembali halaman yang berisi pembahasan kurva U terbalik itu.


Terakhir, Malcolm Gladwell kembali berhasil menyajikan paradoks indah di David and Goliath ini. Dari berbagai fakta dan data yang mencengangkan di buku ini, dari potongan – potongan yang berserak, saya bisa membentuk sebuah “gambar” versi saya dari buku ini. Bahwa kekuatan apapun selalu menyimpan kelemahan di dalam dirinya. Namun diperlukan kecerdasan dan pengalaman untuk menemukan dimana titik kelemahannya. Buku Gladwell yang terakhir ini bisa menjadi langkah pertama untuk mendapatkan pengalaman itu.






Informasi Buku:
Buku 45
Judul: David and Goliath, Ketika si Lemah Menang Melawan Raksasa
Penulis: Malcolm Gladwell
Penerbit: Gramedia
Tebal: 301 Halaman
Cetakan: ke 1, Tahun 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar