Pages

Rabu, 29 Mei 2013

Upgrade Android 4.0 (Ice Cream Sandwich) ke Android 4.1.2 (Jelly Bean)

Ini bukan review!

Untuk pertama kalinya saya menulis postingan yang tidak ada kaitannya dengan buku. Sengaja saya lakukan sebagai ungkapan kegembiraan saya karena telah berhasil meng-upgrade Android Ice Cream Sandwich (ICS) saya ke Android Jelly Bean. Saya menuliskan ini dengan semangat berbagi dan berharap mudah – mudahan ada manfaatnya bagi anda yang ingin meningkatkan Android OS anda ke sistem operasi yang paling mutakhir saat ini.

Upgrade ini berlaku untuk HP Samsung. Saya menggunakan Samsung Galaxy Chat yang OS bawaannya adalah Android ICS. Saya tidak tahu apakah upgrade ini juga berlaku pada HP Samsung tipe lainnya. Tapi tidak ada salahnya untuk dicoba.

Untuk upgrade ke Jelly Bean, Samsung menawarkan dua cara. Yang pertama adalah melalui Kies dan yang kedua melalui FOTA (Firmware over the Air). Jika anda ingin meng-upgrade langsung melalui HP anda, anda bisa memilih melalui FOTA. Tapi menurut saya, langkah terbaik adalah melalui Kies.

Saya pun meng-upgrade Android saya melalui Kies. Dan berikut langkah – langkahnya:

Pertama, jika anda belum menginstal Kies, silakan anda download Kies di sini.

Kedua, instal Kies di komputer anda dan setelah selesai, jalankan.

Ketiga, sambungkan HP anda ke komputer dengan menggunakan kabel USB


Keempat, setelah HP anda terdeteksi Kies, kliklah nama HP anda yang telah terdeteksi itu.


Kelima, kalau upgrade software tersedia untuk HP samsung anda, akan muncul tampilan yang memberitahukan kepada anda bahwa ada firmware yang tersedia untuk Android yang anda pakai.


Keenam, kliklah tombol Firmware Upgrade



Ketujuh, proses download dimulai. Jangan lepaskan kabel USB HP anda selama proses download berlangsung. Lama proses download tergantung koneksi internet anda tentunya.


Kedelapan, setelah proses download selesai, proses selanjutnya adalah proses upgrade. Di langkah ini jangan sekali – kali melepas kabel USB HP anda.


Kesembilan, jika proses telah selesai, akan muncul pemberitahuan yang memerintahkan anda agar me-restart HP anda, mencabut kabel USB HP anda dan menyambungkannya kembali dengan komputer. Kliklah tombol OK. Lalu lakukan seperti yang telah diperintahkan.



Kesepuluh, Kies akan kembali mendeteksi HP anda. Kliklah Basic Information dan anda akan menemukan tulisan This is the Latest Firmware disana.


Jika tampilan seperti di atas yang terlihat di Kies anda, Selamat! Android anda kini telah ter-upgrade ­ke Jelly Bean


Catatan:
  1. Back Up semua data di HP anda dengan menggunakan Kies, sebelum melakukan proses upgrade.
  2. Jika anda melakukan langkah – langkah di atas dengan benar, Insya Alloh Android ICS anda akan ter-upgrade ke Jelly Bean, namun jika proses di atas gagal, saya tidak bertanggung jawab atas akibat apapun yang terjadi pada perangkat seluler anda!
  3. Screenshot di atas diambil dari tutorial Kies yang bisa anda tonton di sini.


Jumat, 24 Mei 2013

Kafka on the Shore

Buku ini sangat njlimet. Tapi kenjlimetannya itulah yang membuatnya menarik. Sebenarnya ide ceritanya cukup sederhana menurut saya. Hanya tentang seorang anak remaja yang minggat dari rumah dan selama minggat itulah ia mendapatkan banyak pelajaran hidup yang membuatnya lebih dewasa dalam menghadapi kehidupan. Tapi Murakami merangkai kesederhanaan cerita itu menjadi sedemikian rumit.

Kisah dibuka dengan Kafka Tamura yang berbincang dengan dirinya sendiri. Berbincang dengan diri sendiri. Sudah biasa dilakukan oleh siapa saja. Namun Murakami membuatnya rumit dengan seolah – olah Kafka berbincang dengan orang lain. Orang yang dalam cerita dilabeli Bocah Bernama Gagak. Saya berkesimpulan bahwa Bocah Bernama Gagak itu sebenarnya adalah si Kafka sendiri setelah saya membaca halaman 402. Di sana Murakami menulis bahwa Kafka dalam bahasa Ceko berarti Gagak!.

Dalam perbincangan dengan dirinya sendiri itu Kafka memutuskan untuk minggat dari rumah tepat setelah ia berusia 15 tahun. Dan minggatlah ia di bab pertama. Saya mengira bahwa kisah minggatnya Kafka akan dilanjutkan di bab berikutnya. Namun tidak. Murakami menggelontorkan kerumitan berikutnya di bab kedua. Di bab yang masih dini ini Murakami berkisah dengan gaya jurnalis. Setting mundur ke tahun 1946 ketika seorang guru Taman Kanak Kanak mengajak siswa – siswanya berwisata ke hutan untuk mencari jamur. Tanpa diketahui sebab musababnya anak – anak TK ini pingsan berbarengan. Dan kembali sadar setelah beberapa saat. Kecuali satu anak yang tetap pingsan. Demi menjaga ketentraman masyarakat pemberitaan tentang anak yang tetap pingsan ini dihentikan. Pembaca kembali bertanya – tanya tentang kelanjutan kisah anak yang pingsan itu. Namun di bab 6 halaman 57 teka – teki mengenai anak yang dihilangkan pemberitaannya itu terjawab. Murakami tidak lagi mengisahkan tentang anak TK di jaman perang. Di bab enam anak yang tetap pingsan itu telah menjadi kakek – kakek yang bisa berbicara dengan kucing, Nakata.

Apa hubungan antara Kafka dengan Nakata? Murakami menceritakan kisah Kafka dan Nakata secara berselang – seling. Di dalam kisah Kafka dan Nakata itulah tokoh – tokoh lainnya dimunculkan. Yang pertama muncul adalah Sakura, gadis yang menolong Kafka dalam pelariannya. Secara tidak langsung, Murakami bertanya kepada pembacanya, apakah Sakura ini kakak Kafka? Murakami tidak membocorkan jawaban dari teka – teki ini. Yang berikutnya adalah Oshima. Penolong Kafka yang berikutnya. Untuk tokoh yang ini pun Murakami melontarkan teka – tekinya. Apakah Oshima perempuan ataukah laki – laki? Yang berikutnya adalah Hoshino. Hoshino ini muncul di kisah Nakata dan menjadi asisten Nakata sampai akhir kisah. Menurut saya, tidak ada teka – teki untuk tokoh yang ini.

Tokoh berikutnya adalah Koichi Tamura, ayah Kafka. Di awal kemunculannya, Koichi ini dilabeli Johnnie Walker. Lagi – lagi Murakami membiarkan pembaca bertanya – tanya siapa Johnnie Walker ini sampai mereka membaca bab 21. Tokoh yang berikutnya adalah Miss Saeki. Murakami melalui Kafka mencoba meyakinkan pembaca bahwa Miss Saeki ini adalah ibu Kafka. Namun Murakami juga menawarkan kebingungan baru dengan membeberkan bahwa Miss Saeki ini adalah seorang gadis yang frustrasi karena kekasih hatinya harus mati ketika masih mahasiswa. Bagaimana perempuan lajang yang frustrasi karena kehilangan kekasihnya ini menjadi ibu Kafka? Murakami memberikan clue, karena Saeki pernah menulis buku tentang petir dan ayah Kafka pernah tersambar petir (???).

Buku ini dibumbui dengan keajaiban – keajaiban; ikan dan lintah yang jatuh dari langit, seks yang samar – samar (saya baru sadar bahwa buku ini tidak memuat tanda “Dewasa” di sampulnya) dan keanehan – keanehan. Di banyak tempat Murakami, seperti yang sudah saya katakan, melontarkan begitu banyak teka – teki dan menjawab teka – teki itu di tempat lain. Teka – teki ini sukses membuat saya penasaran untuk melanjutkan membaca halaman demi halaman. Akan tetapi, di beberapa tempat juga Murakami memaksa pembaca untuk merenungkan makna di balik kisah yang ia ceritakan. “Kunci untuk memahami Kafka on the Shore (judulbuku ini dalam bahasa Inggris) adalah dengan membacanya berulang kali.” Demikian kata Murakami.

Tapi, jikalaupun anda tetap bertanya – tanya setelah membacanya berulang kali, anda harus tahu bahwa sebenarnya, kehidupan itu sendiri merupakan sebuah misteri.


Informasi Buku:
Buku 42
Judul: Dunia Kafka
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit:  Pustaka Alvabet, Juni 2011
Tebal:  597 halaman
Cetakan:  I

Selasa, 14 Mei 2013

Giveaway dari Melody Violine

Buku yang akan diberikan secara gratis oleh Melody Violine ini berjudul Dreaming of You. Ditulis oleh Lisa Kleypas dan diterjemahkan oleh Melody Violine sendiri. Apa yang menarik dari buku Dreaming of You? Buku ini berkisah tentang percintaan seorang penulis terkenal yang lugu bernama Sara Fielding dengan seorang pria tampan pemilik rumah judi, Derek Craven. Yang menarik tentu saja kita akan mengenal sedikit dari kehidupan sehari - hari seorang penulis terkenal. Oke, untuk lebih jelasnya silakan anda langsung ke blog Melody Violine dengan mengklik link berikut: Melody Violine Giveaway

Senin, 13 Mei 2013

Inilah Pengaruh Negatif Google bagi Pecinta Buku


Dulu, saya biasa menamatkan buku setebal 300 sampai 400 halaman dalam lima sampai tujuh hari. Membaca buku – buku setebal itu adalah aktifitas yang menyenangkan bagi saya. Namun kini, entah mengapa, saya tidak sekuat dulu lagi dalam membaca. Kadang saya membeli sebuah buku yang nampaknya bagus namun seringkali saya tidak membacanya sampai selesai. Sepertinya saya sudah kehilangan gairah membaca.

Ketika saya menceritakan hal ini kepada beberapa teman, mereka mengatakan bahwa itu wajar – wajar saja. Mereka pun mengalaminya. Menurut mereka, faktor usia, pikiran dan beban tanggung jawab memiliki peran dalam mengurangi gairah membaca kita. Untuk beberapa saat saya bisa menerima ini sebagai suatu kewajaran.

Hingga suatu kali, tanpa rencana saya mengetikkan kata “reading books” di mesin pencari Google. Dan saya terkejut dengan sebuah artikel – ditulis oleh Nicholas Carr – yang  saya baca. Ternyata, bukan hanya saya dan teman – teman saya yang kini telah kehilangan selera membaca. Banyak orang yang awalnya begitu keranjingan membaca kini menjadi begitu malas membaca.

NEA di tahun 2007 melaporkan bahwa bahkan di kalangan lulusan universitas di Amerika sekalipun, ketahanan dan kebiasaan membaca turun sangat tajam. Data NEA menunjukkan bahwa hanya 47 % orang dewasa yang membaca karya literatur seperti novel, cerita pendek, naskah drama ataupun puisi. Kemudian, terdapat 65% lulusan universitas yang membaca kurang dari satu jam. Saya tertegun. Mengapa orang – orang di seluruh dunia cenderung kehilangan minat baca mereka?

Coba anda baca pernyataan Bruce Friedman, seorang ahli patologi di Universitas Michigan, juga seorang blogger yang secara rutin menulis tentang penggunaan komputer dalam dunia pengobatan di blog pribadinya. Ia menulis: “Sekarang ini saya hampir – hampir kehilangan kemampuan untuk membaca dan menyerap artikel yang panjang baik di Internet ataupun dalam bentuk cetak. Saya tidak lagi mampu membaca novel War and Peace. Saya telah kehilangan kemampuan untuk itu. Bahkan, untuk membaca artikel di blog yang panjangnya lebih dari tiga atau empat paragraf saja saya sudah kesulitan. Maka, saya hanya membacanya sekilas saja.”

Bayangkan, seorang ahli patologi di sebuah Universitas di Amerika merasa terlalu berat untuk membaca artikel yang panjangnya lebih dari tiga paragraf. Seorang pakar yang terbiasa membaca jurnal – jurnal ilmiah, buku – buku pengobatan yang tebal – tebal, dan membaca novel War and Peace karangan Leo Tolstoy yang berat sebagai selingan, kini nyaris menjadi “mantan” pembaca! Apa penyebab dari semua ini?

Pengaruh Internet
Ternyata, internetlah penyebabnya. Sebuah penelitian yang dilaksanakan oleh para pakar di Universitas College, London membuktikan hal ini. Penelitian yang dilaksanakan oleh pakar di Universitas College itu berlangsung selama lima tahun dengan meneliti pengunjung dari dua situs penelitian yang populer. Dua situs yang dimiliki oleh British Library dan United Kingdom Educational Consortium itu menyediakan akses ke jurnal – jurnal,  buku elektronik, dan sumber – sumber informasi tertulis lain.

Para pakar Universitas College London itu menemukan bahwa para pengunjung dari kedua situs itu ternyata hanya membaca artikel – artikel itu secara sekilas. Kemudian mereka berpindah dari satu artikel ke artikel lain dan jarang yang kembali ke artikel yang telah mereka kunjungi sebelumnya. Biasanya mereka hanya membaca satu atau dua halaman dari sebuah artikel atau buku sebelum mereka berpindah ke situs lain. Terkadang mereka menyimpan artikel yang panjang di komputer, namun tak ada bukti yang menunjukkan bahwa mereka kembali membuka artikel itu untuk membacanya.

Anda, sebagaimana saya, mungkin terkejut dengan temuan pakar Universitas College ini. Karena, ternyata temuan mereka itu sangat persis dengan perilaku kita sendiri ketika sedang online. Kita sering tertarik dengan sebuah artikel yang sangat baik. Tapi kita sering tidak bisa serius dalam membacanya. Kita seringkali mengunduh buku – buku elektronik yang kita inginkan. Tapi, sudahkan kita membacanya? Belum? Kita sama.

Bagaimana internet menurunkan minat baca kita? Berikut penjelasannya: Banyak yang menyangka bahwa otak manusia berhenti berkembang ketika mereka telah mencapai usia dewasa. Namun, James Olds, professor neuroscience di Krasnow Institute for Advanced Study, George Mason University, mengatakan bahwa otak manusia yang sudah dewasa pun masih bisa berkembang. Menurut Old, otak manusia mempunyai kemampuan untuk memprogram ulang dirinya dan mengubah cara bekerjanya. Sel – sel saraf otak kita secara rutin mengganti koneksi lama dengan yang baru.  Dan yang harus kita pahami adalah bahwa lingkungan dan alat merupakan faktor yang menyebabkan otak memprogram ulang dirinya.

Jam pertama kali dipakai secara umum pada abad ke 14. Dan setelah adanya jam itulah ritme kehidupan kita pun berubah. Sebelum jam ditemukan, orang akan makan ketika perut mereka lapar. Mereka akan tidur ketika mereka mengantuk dan bangun ketika sudah tidak lagi mengantuk. Tetapi setelah jam ditemukan, semua aktivitas kita ditentukan sepenuhnya oleh jam. Jam 7 pagi kita harus sarapan dan jam 10 malam kita harus tidur.

Sayangnya, alat – alat yang kita pakai itu seringkali menurunkan kualitas kita. Pada tahun 1882, seorang filosof terkenal, Friedrich Nietzsche, mulai menulis menggunakan mesin ketik karena penglihatannya mulai terganggu. Matanya terasa sakit dan kepalanya pusing saat menulis dengan menggunakan pensil. Dengan menggunakan mesin ketik, ia bisa terus menulis dengan memejamkan matanya sehingga rasa sakit dan pusing yang ia rasakan ketika menulis tidak mengganggunya. Namun, seorang sahabatnya merasakan kualitas tulisan Nietzsche mulai menurun ketika ia mulai menggunakan mesin ketik. Tulisannya berubah dari yang awalnya berupa argumen menjadi aforisme, dari yang awalnya buah pemikiran menjadi hanya permainan kata – kata, dari retorika menjadi tulisan pendek – pendek seperti telegram.
Ditemukannya mesin cetak Gutenberg pada abad ke 15 pun sudah pernah diprediksikan akan menurunkan kualitas manusia. Hieronimo Squarciafico, seorang humanis dari Italia mengatakan bahwa dengan semakin mudahnya buku didapat, manusia akan menjadi malas, semakin tidak terpelajar dan melemahkan pemikiran. Menurut Clay Shirky, profesor di New York University, pendapat mengenai dampat buruk mesin cetak itu benar. Ulama – ulama islam pada jaman dahulu mencari hadis dengan berkelana bukan dengan membaca buku. Namun dengan begitu mereka bisa menghafal jutaan hadis beserta periwayatnya sekaligus. Adakah orang yang memiliki kemampuan semacam itu pada saat ini?

Sekarang ini, kualitas manusia akan semakin menurun karena penggunaan internet. Ada yang mengatakan bahwa jika kita bertemu dengan orang yang sangat pintar, kita harus bertanya padanya tentang buku apa yang ia baca. Dengan demikian membaca merupakan ukuran dari kepintaran seseorang. Namun Maryanne Wolf, psikolog dari Tufts University mengatakan bahwa kita bukan saja apa yang kita baca, tetapi juga bagaimana kita membaca.

Tulisan – tulisan di internet dibuat berdasarkan efisiensi dan kesegeraan. Karena itu, tulisan – tulisan di internet cenderung lebih pendek dan lebih ringkas. Berbeda dengan artikel – artikel di internet, buku ditulis dalam format yang lebih kompleks. Dengan demikian, buku memaksa kita untuk lebih banyak berpikir. Lagipula, kita akan lebih fokus ketika membaca buku dibandingkan dengan ketika membaca artikel di internet. Artikel di internet pasti disertai dengan tautan – tautan ke artikel serupa yang menggoda kita untuk beralih ke artikel itu. Selain tautan, masih ada iklan dan video – video yang memecah konsentrasi kita dalam membaca. Inilah yang menyebabkan orang tidak bisa fokus ketika membaca artikel di internet. Saat kita semakin terbiasa membaca informasi di internet, otak kita mulai memprogram ulang dirinya. Saat itulah kita akan mulai merasa berat membaca buku bahkan sebuah artikel yang agak panjang.

Waspadalah
Sekarang adalah masa keemasan internet. Setiap orang di manapun mereka berada bisa terhubung dengan internet. Semakin banyak orang yang menghabiskan waktu – waktu mereka dengan terhubung ke internet. Salah satu buktinya adalah, Indonesia merupakan negara yang memiliki pengguna facebook terbanyak setelah Amerika.

Internet pun telah mempengaruhi media massa lain. Setiap stasiun televisi pasti memiliki waktu untuk menayangkan running text yang berisi berita dalam kalimat ringkas. Di internet, twitter.com adalah media untuk berbagi berita dalam format beberapa karakter saja. Semakin lama, kita akan semakin terbiasa untuk membaca tulisan yang pendek – pendek saja. Dan kebiasaan ini akan membuat kita semakin malas untuk membaca tulisan yang panjang dan menuntut kita untuk berpikir lebih intensif. Agar internet benar – benar berfaedah bagi kita dan bukannya menjadi alat yang akan menurunkan kualitas kita, kita harus lebih proporsional dalam menggunakan internet. Imbangi penggunaan internet dengan terus membaca buku – buku bermutu. Mudah – mudahan kita bisa belajar dari mesin ketiknya Friedrich Nietzsche.

Kamis, 09 Mei 2013

Sialan Salman!, Kisah Anak SMA yang Tak Biasa!


Di usia belasan, saya membaca buku tentang anak SMA yang kurus, berjambul dan selalu mengunyah permen karet. Lupus, karya Hilman Hariwijaya. Hilman menuturkan kisah tokoh rekaannya itu dengan gaya tulis yang mengalir lancar dan jenaka. Ngocol, begitu kosakata yang muncul saat itu untuk menunjukkan gaya bertutur Hilman.

Sudah lama saya tidak mendapatkan buku tentang anak SMA yang bisa membuat saya gembira. Sampai saya mendapatkan buku Sialan Salman! ini. Saya mulai membaca dari halaman paling depan: Endorsement, lalu Ucapan Terima Kasih, kata pengantar yang disebut penulisnya dengan Sepatah Dua Patah Salman dan ketika sampai di halaman 2, saya tertawa keras sekali. Tawa lepas yang membuat orang yang duduk di samping saya kaget bukan kepalang. Buku ini mampu membuat saya Tertawa Dini!.  Dan tiba – tiba saya merasa bahwa buku ini akan sangat cocok dengan selera saya.

Sialan Salman! berkisah tentang Salman yang baru saja lulus Ujian Nasional SMP, yang melanjutkan ke SMA 5 Bandung dan mengikuti MOS. Selama mengikuti MOS inilah kisah Salman dituturkan.

Salman, seperti anak – anak seusianya, adalah anak yang riang gembira, seringkali terlalu percaya diri dan sedikit nakal. Kepercayaan diri Salman memang di atas rata – rata. Betapa tidak, di hadapan teman – temannya yang baru saja dikenalnya ia menantang: “...sekarang ayo siapa yang mau menjadi kandidat KM selain gue ayo maju ke depan kalau berani!....”(halaman 52). Kepercayaan diri Salman yang besar itu membuat minder teman – temannya sehingga tidak ada satupun yang mau bersaing dengannya untuk menjadi Ketua Murid. Semua temannya memilih dia menjadi Ketua Murid dan ia puas dengan hal itu karena menurutnya, Ketua Murid adalah majikan dan murid lainnya adalah pembantu!. Ketika ada PR, ia meminta sekretarisnya untuk mengerjakannya! berguling di lantai

Nakalnya Salman di mana? Saat MOS ia dihukum oleh seniornya untuk push up hingga pingsan. Ketika siuman, pandangannya gelap. Ia pun meraba – raba hingga menyentuh dua buah jeli kembar. (halaman 44). Di adegan ini saya tertawa terbahak – bahak. Terus nakalnya dimana? Ya di jeli kembar itu. Memangnya jeli kembar itu apa? Silakan anda baca sendiri di buku ini. Yang jelas saya mendapatkan jeli kembar di dua halaman yang berbeda dari buku ini.

Buku ini dipenuhi dengan banyolan. Saya mencatat ada 43 halaman yang membuat saya tertawa terpingkal – pingkal. Karena buku ini memiliki 194 halaman, maka 22 % dari buku ini berhasil membuat saya meneteskan air mata (??????????????). Tertawa terpingkal hingga meneteskan air mata maksud saya.

Di sela – sela banyolan itu penulis menyisipkan sindiran dan keprihatinannya terhadap kondisi bangsa kita. Sindiran paling keras dari penulis menurut saya ada di halaman 41. Saya tidak akan menuliskan isi sindiran itu karena terlalu gamblang. Pembaca akan segera mengetahui siapa yang disindir setelah membacanya. Sindiran berikutnya adalah TATIB yang bengis dan suka membentak. Siapa yang dimaksud dengan TATIB? Anda tahu tentu saja.

Mengenai keprihatinan. Rupanya pemberitaan televisi mengenai siswa SD yang harus meniti tali untuk bisa sekolah membuat penulis iba. Ia menuliskannya dengan kalimat berikut: “Guys, kita harusnya malu dengan diri kita!.” (halaman 70). Penulis juga resah dengan semakin terdesaknya pasar tradisional (halaman 117), galau dengan banyaknya pelajar yang tawuran, yang menurutnya karena mereka terlalu banyak main game sehingga mematikan empati mereka terhadap sesama (halaman 127). Dan ia juga risau dengan Bandung yang semakin panas (halaman 175).

Kembali ke banyolan. Mungkin ada akan tertawa lebih banyak atau mungkin lebih sedikit daripada saya. Mengapa? Karena lelucon yang ditulis oleh penulis di buku ini berbeda dengan banyolan slapstick sebagaimana yang ada di acara – acara komedi televisi kita. Latar belakang pembaca akan berpengaruh dalam menentukan apakah kalimat ini lucu atau tidak. Namun jika anda tertawa terbahak ketika membaca buku ini, saya yakin, seperti saya sendiri, tawa anda adalah tawa yang jujur. Bukan tawa yang dipaksakan agar kita terlihat sopan di depan orang yang sedang melucu.

Sayangnya, mungkin karena terlalu fokus untuk menuliskan cerita yang lucu, menurut saya penulis lalai dalam membangun karakter tokohnya. Salman hanya digambarkan sebagai anak kelas satu SMA yang berambut ikal. Bahkan Nana, pacar si Salman pun luput dari pendiskripsian yang mencukupi untuk menguatkan karakternya. Cerita yang lucu memang membuat anda betah untuk berlama – lama membacanya. Namun karakter yang kuat akan membuat pembaca mengenangkan cerita bahkan boleh jadi akan mempengaruhinya. Penulis Sialan Salman! pun sebenarnya menyadari hal ini. Di halaman 133, penulis mengisahkan tentang juara satu dan dua dari lomba puisi yang tidak mau diwawancara karena terinspirasi tokoh Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta sehingga mereka menjadi acuh tak acuh seperti Rangga.

Selain karakter yang kurang kuat, menurut saya kelemahan dari buku ini adalah banyaknya typo. Saya mencatat ada 8 typo di buku ini. memang tidak terlalu mengganggu. Akan tetapi tetap akan lebih nyaman kalau kesalahan ketik ini tidak ada.

Terlepas dari kekurangan yang ada di buku ini, buku ini menghibur saya. Dan saya jamin anda pun akan terhibur saat membacanya.

Silakan anda kunjungi website penulis Sialan Salman! ini dengan  mengklik tautan di bawah ini:

atau dengan men-scan qr code berikut:




Informasi Buku:
Buku 41
Judul: Sialan Salman!, Kisah Anak SMA yang Tak Biasa!
Penulis: Salman Aditya
Penerbit:  Elex Media Komputindo, 2013
Tebal:  194 halaman
Cetakan:  I

Selasa, 07 Mei 2013

Animal Farm


Sebuah rejim, bagaimanapun sempurnanya, tidak akan pernah terlepas dari kritik. Tidak ada satupun kebijakan penguasa yang dapat memuaskan semua pihak. Dari keadaan semacam inilah muncul kritikan. Kritik juga merupakan sarana agar penguasa tetap berjalan pada “rel” yang benar. Namun mengkritik penguasa tiran bukanlah sebuah perkara mudah. Alih – alih mengubah perilaku penguasa, kritikan itu bisa membawa malapetaka bagi pengritik.

Sejak dulu para sastrawan melakukan kritikan terhadap penguasa menggunakan cara mereka sendiri, melalui karya sastra. Mereka menyamarkan kritikan melalui karya – karya sastra agar tidak terjadi perlawanan dari penguasa. Yang dengan demikian, tidak hanya akan menyelamatkan si sastrawan dari ancaman pembunuhan atau penculikan tetapi juga akan dapat memberikan ruang bagi karya sastra mereka agar dapat dibaca dan menyadarkan banyak orang. Novel George Orwell ini adalah karya sastra yang semacam itu.

Dikisahkan, seekor babi yang dihormati di Pertanian Manor, Mayor tua, berpidato pada binatang – binatang lainnya. Dalam pidatonya, Mayor tua mengajak para binatang untuk memberontak kepada manusia karena manusia telah mengeksploitasi dan menyengsarakan mereka. Pidato yang mengesankan ini sangat berpengaruh. Bahkan setelah Mayor tua mati.

Cita – cita Mayor tua diteruskan oleh babi juga karena babi dianggap binatang yang paling cerdas diantara yang lain. Dari babi – babi yang ada ada tiga yang paling menonjol. Snowball yang paling cerdas, lalu Napoleon yang berkarakter kuat serta Squealer yang ahli berdiplomasi. Suatu kali, ransum makanan mereka terlambat diberikan oleh para pekerja di Peternakan Manor milik Tua Jones itu. Amarah mereka tersulut, secara bersama – sama, mereka menyerang Tuan Jones dan keluarganya serta para pekerjanya. Manusia – manusia ini ketakutan dan mereka pergi dengan terpaksa dari Peternakan. Sejak saat itulah Peternakan Manor dikuasai oleh para binatang dan diubah namanya menjadi Peternakan Binatang. Namun apakah kemerdekaan binatang – binatang ini menjadi jaminan kesejahteraan mereka?

Orwell mencela habis – habisan korupsi, manipulasi dan ketidaksetaraan dalam novel ini. Korupsi digambarkan Orwell dengan hilangnya beberapa ember susu yang baru diperah dari sapi di peternakan. Manipulasi dilukiskan Orwell dengan terus diubahnya Tujuh Perintah, secara diam – diam, untuk melegalkan tindakan mereka yang menganggap dirinya paling mulia karena bekerja dengan otak. Dan ketidaksetaraan dicela dengan kalimat berikut:  “Sekarang mereka tidak lagi duduk bersama – sama, seperti yang telah mereka lakukan sebelumnya.” (hal. 86)

Mengapa babi yang menjadi tokoh utama dari novel Orwell ini? Menurut saya, karena babi adalah binatang yang paling rakus diantara binatang lain. Ketamakan adalah ibu dari lahirnya penguasa tiran. Karena ketamakan, lawan – lawan politik disingkirkan (hal. 81). Karena ketamakan itu pula data dimanipulasi (hal. 137). Data – data itu dimanipulasi untuk dua tujuan. Pertama, untuk menghibur rakyat bahwa sebenarnya mereka baik – baik saja. Kedua, untuk kepentingan politik luar negeri (hal. 114)

Menurut saya, Orwell menyindir dengan cukup “wah” di buku yang tipis ini. Ia mengkritik manusia dengan menggunakan binatang sebagai gambaran. Namun binatang yang digunakan untuk mengkritik perilaku manusia secara halus itu muncul justru setelah mereka menyerang dan mengusir manusia (Tuan Jones). Apakah keikutsertaan manusia di novel ini disengaja oleh penulis sebagai sindiran? Bahwa jika tidak bermoral, sebenarnya manusia tidak jauh beda dengan binatang? Hanya penulis yang tahu. Yang jelas penulis mengakhiri kisahnya dengan kalimat yang cukup menohok: “...tapi sudah tidak mungkin lagi untuk membedakan mana yang satu dan manakah yang lain.”


Informasi Buku:
Buku 40
Judul: Animal Farm
Penulis: George Orwell
Penerjemah: J. Fransisca
Penerbit:  Fresh Book, 2006
Tebal:  207 halaman
Cetakan:  II