Pages

Kamis, 29 Agustus 2013

Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma



Kalaupun memungkinkan, ingin sekali rasanya saya bisa mengoleksi buku – buku yang pernah saya baca waktu saya berusia SD. Buku sangat berharga di kala itu. Karena di kotaku tidak ada toko buku. Maka perpustakaan sekolah saja yang menjadi tujuan untuk membaca. Di perpustakaan itu saya membaca mulai Petualangan Tom Sawyer sampai Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Namun buku yang benar – benar membekas di ingatan saya dan berharap sekali untuk dapat mengoleksinya di saat ini adalah buku karya Idrus ini.

Dan sepertinya kami berjodoh. Ketika berjalan – jalan di satu – satunya toko buku yang ada di kotaku, aku menemukan Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma ini. Buku yang dicetak tahun 2008 ini berbeda dengan buku yang sama yang saya baca ketika SD. Bukunya lebih tipis karena ukuran font-nya diperkecil.

Saya membawanya pulang dan bersandar untuk membacanya. Ketika kisah pertama saya baca, saya seakan masuk ke dalam pintu ke mana saja yang menghubungkan saat ini dengan masa ketika saya masih kecil.

Ave Maria, kisah pertama.  Sebuah keluarga yang sering duduk – duduk di beranda, tiba – tiba kedatangan seorang tamu yang nampak linglung. Anehnya, orang yang linglung ini tak berkata apa – apa dan hanya meminjam majalah saja. Begitu setiap hari. Dia datang dan pergi meminjam majalah dan mengembalikan yang telah selesai dibacanya. Tapi seluruh keluarga heran, sebab setiap kali ia datang, setiap kali pula ia terlihat lebih baik. Dan akhirnya di hari terakhir ia bercerita tentang hidupnya dan pamit untuk mengabdi pada negara. Kisah Zulbahri, si orang linglung itu, membuat saya begitu trenyuh.

Buku ini berisi dua belas cerita pendek yang dikelompokkan dalam tiga bagian: Zaman Jepang, Corat – Coret di Bawah Tanah, dan Sesudah 17 Agustus 1945. Buku yang terbit pertama kali di tahun 1948 ini memang mengambil latar ketika zaman pendudukan Jepang dan sampai Indonesia merdeka. Kesukaan saya akan sesuatu yang berbau kuno membuat saya terpaku ketika membaca buku ini. Namun, sebenarnya yang membuat saya lebih mencintai buku ini adalah gaya bertutur yang dipakai Idrus, sang pengarang. Saya tidak tahu apakah gaya ini memang asli punya Idrus, atau sudah ada gaya serupa sebelumnya. Yang jelas, meskipun Idrus sering bersitegang dengan Chairil Anwar di seputaran karya sastra, hal itu tidak mengurangi minat saya untuk tetap mengidolakan Idrus sebagai pengarang paling bagus dari zaman itu.

Ketika saya sudah mulai keranjingan membaca sedangkan bahan bacaan di sekitar saya begitu terbatasnya, saya membaca cerita – cerita yang termuat di buku pelajaran Bahasa Indonesia milik kakak saya yang duduk di SMP kala itu. Di bukunya saya menemukan Kisah Sebuah Celana Pendek dan Jalan Lain ke Roma. Cerita yang belakangan saya tahu ternyata merupakan satu cerita dari kumpulan cerita karya Idrus di Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.

Kisah tentang pemuda yang hanya memiliki satu celana pendek saja yang dipakainya berulang kali dan juga tentang pemuda yang kelewat jujur di dua kisah ini, dan juga kisah Zulbahri di Ave Maria merupakan harta masa kecil saya yang kini tersimpan di perpustakaan pribadi saya yang bukunya tidak seberapa.

Informasi Buku:
Buku 44
Judul: Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
Penulis: Idrus
Penerbit: BalaiPustaka
Tebal: 171 Halaman
Cetakan: ke 24, Tahun 2008

Selasa, 27 Agustus 2013

Aku Ingin Jadi Peluru, Para Jendral Marah – Marah



Menurut saya ada dua orang Indonesia yang sangat berhasil menyuarakan ketimpangan sosial di sekitar kita. Satu, Iwan Fals. Dan yang kedua, Wiji Thukul. Lirik – lirik Iwan Fals memang “nakal”. Tapi kalimat – kalimat yang ditulis Wiji, meskipun – menurut saya kebanyakan tidak indah – sangat berani dan membangkitkan keberanian.

Mei lalu, Majalah Tempo menerbitkan edisi khusus Wiji Thukul dengan bonus buku kumpulan puisi Wiji selama dalam pelarian. Buku tipis bonus Tempo ini berisi tiga bagian. Pertama, Puisi dalam pelarian, lalu puisi berbahasa Jawa dan puisi lepas.

Bagian pertama dibuka dengan Para Jendral Marah – Marah yang mengisahkan awal pelarian Thukul, lalu diikuti dengan puisi – puisi lain yang ditulis Wiji di waktu bersembunyi. Dari puisi – puisi ketika ia bersembunyi itu kita akan ikut merasakan penderitaan Wiji, orang merdeka yang tidak merdeka. Namun yang paling membuat trenyuh  adalah puisi yang ditulis untuk anak perempuannya: Fitri Nganthi Wani: Wani,/bapakmu harus pergi/kalau teman – temanmu tanya/kenapa bapakmu dicari – cari polisi/jawab saja:/”karena bapakku orang berani”. Saya tidak bisa membayangkan betapa perih kerinduan Wiji kepada anak gadisnya. Anak yang digadang – gadang dan didoakan agar memiliki keberanian melalui nama yang diberikannya (Fitri Nganthi Wani berarti Fitri Membawa Keberanian). Namun penderitaan orang berani adalah penderitaan yang dipilih. Bukan penderitaan karena nasib. Oleh karenanya, Wiji pun tidak menuangkan penderitaannya itu dalam kalimat yang cengeng. Tapi dengan kalimat yang menghibur sang anak sekaligus menginspirasinya: jawab saja:/”karena bapakku orang berani”

Namun Wiji yang family man tidak hanya tercermin di puisi Wani, Bapakmu Harus Pergi saja. Di buku Aku Ingin Jadi Peluru, ada sebuah puisi yang ditujukan untuk istrinya, Sipon. Cuplikan dari puisi Baju Loak Sobek Pundaknya itu adalah: baju itu kulipat bojoku/di bawah bantal/ tak ada setrika bojoku/tak ada setrika/agar tak lusuh/agar tak lusuh/karena baju ini untukmu bojoku. Wiji yang bersembunyi dari satu tempat ke tempat lain itu pun masih sempat – sempatnya membelikan baju loak untuk istrinya.

Mungkin karena memuat lebih banyak puisi, buku Aku ingin Jadi Peluru ini lebih terasa gaharnya daripada Para Jendral Marah – Marah. Di buku ini pula termuat puisi Wiji yang sangat terkenal; Peringatan. Puisi yang sering dibaca ketika ada demonstrasi. Walaupun kalimat terakhir dari puisi ini – maka hanya ada satu kata: lawan! – bukan asli milik Wiji tapi pengaruh dari puisi temannya di teater jagat yang bernama Pardi.

Di buku ini pun banyak kalimat yang sangat menginspirasi. Berikut diantaranya: jika kita menghamba kepada ketakutan/kita memperpanjang barisan perbudakan (Ucapkan Kata - Katamu),  tapi dunia tak bergerak/setelah surat kabar itu dilipat. (Mendongkel Orang – Orang Pintar), harga diri memang tak bisa dibeli/tetapi jika kita gampang percaya dan tidak curiga/berhati-hatilah saudaraku (Kidung di Kala Sedih).

Penderitaan dan kerja keras serta perenungan sepertinya membuat Wiji menjadi manusia yang lebih bijaksana. Saya bisa katakan begini setelah membaca puisinya yang berjudul Sukmaku Merdeka. Waktu yang diisi keluh akan berisi keluh/waktu yang berkeringat karena kerja akan melahirkan/serdadu – serdadu kebijaksanaan/biar perang meletus kapan saja/itu bukan apa-apa/masalah nomor satu adalah hari ini/jangan mati sebelum dimampus takdir. Di puisi ini terlihat betapa Wiji tidak lagi mengutuki nasibnya. Ia tidak berkeluh kesah dengan kondisi hidupnya yang kekurangan: aku tak menyumpahi rahim ibuku lagi. Dan ia pun bangkit berjuang demi hidupnya: aku mengucap selamat pagi kepada hidup yang jelata/merdeka.

Standar saya untuk karya sastra yang baik adalah jika karya itu membuat saya terpengaruh secara psikologis saat atau setelah membacanya. Saat saya membaca puisi Wiji tentang kemiskinan, saya merasa seolah masuk kedalam kemiskinan itu. Saat saya membaca puisinya yang penuh amarah, saya juga menjadi marah. Begitu pun saat Wiji menghidangkan keberanian dalam puisinya. Keberanian saya pun bangkit. Lugasnya, puisi Wiji di buku ini memiliki “nyawa”. Dan “nyawa” ini muncul karena, menurut saya, Wiji adalah seorang penyair yang jujur dengan karya – karyanya.

Meski begitu, ada satu hal yang tidak saya sukai dari puisi Wiji Thukul. Itu adalah seringnya ia mengulang frase yang mengandung ya. Contohnya di puisi Jam Dua Malam Dingin Sampai ke Tulang: air naik/ ya air naik. Gaya berpuisi yang semacam ini sering diulang di puisi – puisi yang lain.

Sayang, Wiji kini tak jelas dimana. Jika ia masih ada, saya ingin sekali mengatakan kepadanya agar menghentikan gaya berpuisi yang seperti itu.



Informasi Buku:
Buku 43
Judul: Aku Ingin Jadi Peluru
Penulis: Wiji Thukul
Penerbit:  Indonesiatera, April 2004
Tebal:  223 halaman
Cetakan:  II
Judul: Para Jendral Marah - Marah, Kumpulan Puisi Wiji Thukul dalam Pelarian
Penulis: Wiji Thukul
Bonus Majalah Tempo Edisi Khusus