Pages

Kamis, 09 Januari 2014

Dua Belas Pasang Mata



Membaca buku ini membuat saya shock pada awalnya. Bagaimana tidak? Dua Belas Pasang Mata diterbitkan pertama kali pada tahun 1952. Di saat yang sama, di negara kita, murid – murid sekolah harus duduk dengan tangan terlipat di meja, memperhatikan guru tanpa interupsi, dan penghormatan kepada guru tanpa kompromi. Jika tidak, maka hukuman verbal ataupun fisik yang menyakitkan pasti akan kita terima. Namun di buku karangan Sakae Tsuboi ini, murid – murid bahkan mengolok – olok gurunya (halaman 34 dan 36).

Miss Oishi adalah seorang guru yang menggantikan Miss Kobayashi yang berhenti mengajar karena akan menikah. Sejak pertama kedatangannya di kampung nelayan itu, ia sudah menjadi perbincangan penduduk desa. Miss Oishi naik sepeda untuk pergi ke sekolah. Sesuatu yang wajar mengingat jarak antara rumah ke sekolah adalah sejauh 8 kilometer. Namun, di saat itu, adalah tabu bagi wanita untuk mengendarai sepeda! Apalagi, Miss Oishi mengenakan pakaian model barat di saat semua orang masih menggunakan kimono.

Namun demikian, dengan cepat ia dapat merebut hati murid – muridnya. Selain membawa hal baru dalam hal berpenampilan, ia juga membawa sesuatu yang baru dalam berperilaku. Ia selalu mengucapkan selamat pagi atau sampai jumpa kepada orang – orang yang ditemuinya di jalanan. Sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh guru sebelumnya. Ia bahkan menuliskan nama panggilan tiap – tiap muridnya di buku absen. Suatu bentuk perhatian yang membuat orang merasa dihargai.

Akan tetapi, meskipun anak – anak sudah bisa menerimanya, tidak demikian dengan orang tuanya. Sosoknya yang berbeda mengundang kebencian. Bahkan hal sepele yang ia lakukan, sudah cukup membuatnya dicaci – maki (halaman 49). Meskipun ia mengeluhkan hal ini kepada ibunya, di hadapan murid – muridnya tak sekalipun ia menampakkan kesedihan hingga akhirnya ia mengalami kecelakaan yang membuatnya berpisah dengan mereka.

Tsuboi tidak hanya menawarkan kisah seorang guru yang memiliki cinta yang besar pada pendidikan dan kemanusiaan tapi juga menunjukkan bahwa perang, apapun alasannya, hanya akan menghancurkan cinta kasih. Sayangnya, pengarang kurang mengeksplorasi perasaan tiap – tiap tokoh. Jika saja Tsuboi melakukannya, menurut saya buku ini akan menjadi lebih menarik.

Kekurangan selanjutnya dari buku ini adalah darimana buku ini diterjemahkan. Akan lebih baik jika buku yang diterbitkan oleh Gramedia ini diterjemahkan dari edisi aslinya yang berbahasa Jepang. Namun alih – alih demikian, penerbit malah menerjemahkannya dari terjemahan bahasa Inggris oleh Akira Miura. Karenanya, Lost in Translation mungkin banyak terjadi. Terakhir, saya tidak menyukai sampulnya! Di situs Gramedia, buku ini memiliki sampul putih. Namun di sampul buku ini ditambahi dengan kerlap – kerlip yang malah membuatnya terkesan murahan.


Namun, terlepas dari kekurangan – kekurangan itu, buku ini menurut saya wajib dibaca oleh para pendidik yang setiap hari terus bergulat dengan anak didiknya. Buku ini, saya kira, akan membuat para pendidik tidak akan lupa bahwa mereka juga harus berubah di tengah jaman yang terus berubah.




Informasi Buku:
Buku 48
Judul: Dua Belas Pasang Mata
Penulis: Sakae Tsuboi
Penerbit: Gramedia
Tebal: 244 Halaman
Cetakan: I, 2013

1 komentar: