Pages

Jumat, 23 Mei 2014

V for Vendetta



Tidak ada yang baru di bawah matahari, yang ada hanya variasi – variasi baru. Ungkapan ini sepertinya cocok jika disematkan pada novel grafis V for Vendetta karangan Alan Moore dan David Lloyd ini. Nampak sekali pengaruh novel 1984 karangan George Orwell pada V for Vendetta. Pemerintahan yang totaliter, pengawasan terhadap semua gerak – gerak warga dan berbagai macam propaganda. Lalu Alan Moore menambahkan pahlawan bertopeng ke dalam cerita.

Pemerintahan totaliter dalam kisah ini melakukan eksperimen dengan manusia sebagai objeknya. Mereka menyuntikkan berbagai macam zat kimia kepada beberapa orang dan menelitinya. Setiap objek penelitian ini ditempatkan di kamar – kamar yang berbeda dengan membubuhkan angka romawi I sampai V pada pintu kamar untuk menandainya sekaligus kata sandi untuk masing – masing objek.

Pahlawan bertopeng kita dalam buku ini ditempatkan di kamar yang ke lima. Semua objek penelitian mati kecuali lelaki dalam kamar nomor lima ini. Berbeda dengan objek penelitian lain yang mati, V tetap hidup dan mendapatkan karisma (dan mungkin juga kecerdasan) yang besar dari dampak suntikan yang dia dapatkan. Berkat kecerdasannya itu pula ia dapat merancang upaya balas dendam kepada orang yang telah menjadikannya objek penelitian, membuat bom yang meledakkan kamp tempat ia disekap dan melarikan diri untuk balas dendam di masa depan.

Selepas pelariannya, selama empat tahun, ia bersembunyi dan merancang upaya balas dendamnya. Kecerdasannya membuatnya mampu merancang upaya balas dendamnya itu secara detil. Rancangannya sangat sempurna dan tanpa cela. Sesempurna tokoh V ini yang bukan hanya seorang jenius tapi juga memiliki moral yang kokoh hingga akhir cerita.

Komik ini sangat berbobot, meski tetap ada yang mengganjal di hati saya. Perkataan V dipenuhi dengan kutipan – kutipan dari buku – buku yang ia baca dan juga kitab suci (V banyak membaca. Ia memiliki perpustakaan yang megah di kamar tidurnya. Di komik ini, perpustakaan V tidak begitu terekspos, berbeda dengan di filmnya). Dan ya, V for Vendetta tidak hanya terpengaruh 1984, tapi juga terpengaruh oleh Viktor Frankl yang mengatakan bahwa apapun bisa direnggut dari kita tapi tidak kehendak kita. Dalam komik ini, V mengatakan bahwa ia mampu bertahan hidup karena ia membaca ide Viktor Frankl dari secarik kertas yang ditulis oleh wanita di kamar nomor empat yang bernama Valerie.

Satu hal yang mengganjal di hati saya adalah betapa mustahilnya jika ada seseorang yang bersembunyi di tengah – tengah kota selama 4 tahun, mempersiapkan pemberontakan kepada pemerintah, dan tak ada seorang pun yang tahu keberadaannya.

Satu hal yang sangat menarik adalah Alan Moore banyak menggunakan huruf V untuk berbagai macam hal tetapi tetap berhubungan. Seperti kamar yang ditandai dengan huruf Romawi V, lalu V sendiri yang merupakan inisial dari Vendetta yang berarti Balas Dendam. Lalu markas V yang berada di stasiun kereta yang telah ditutup dan stasiun itu bernama Victory. Wanita yang menyemangati V bernama Valerie. Lalu dinding rumah V yang bertuliskan huruf V sebanyak 5 buah yang merupakan kependekan dari Vi Veri Veniversum Vivus Vici (Atas kekuatan kebenaran, aku, selagi hidup, telah menaklukkan semesta) yang dikutip dari  John Faust. Lalu teman dan penerus V sendiri bernama Evey. Semua huruf V. Salut dengan Alan Moore yang telah memikirkan semua ini dan semuanya berkaitan.

Terakhir, Novel grafis ini bukan hanya layak untuk dibaca, tetapi juga layak untuk dikoleksi.



Informasi Buku:
Buku 50
Judul:
V for Vendetta
Penulis: Alan Moore dan David Lloyd
Penerbit: Gramedia
Tebal: 276 Halaman
Cetakan: I, Oktober 2006

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar