Pages

Minggu, 08 Juni 2014

Oliver Twist



Di sampulnya, Penerbit Bentang menuliskan bahwa anak – anak Indonesia kini terancam mengalami hal serupa yang dialami oleh Oliver Twist. Dan ketika membacanya, saya sepakat dengan Bentang.

Oliver Twist adalah seorang anak yang dilahirkan oleh seorang wanita yang meninggal ketika melahirkannya. Oleh karenanya, sejak kecil ia harus menggantungkan hidupnya pada sebuah rumah sosial. Namun karena korupsi dan banyaknya anak yang harus ditanggung oleh rumah sosial, Oliver dan teman – temannya tidak pernah mendapatkan cukup makan.

Kelaparan yang diderita oleh anak – anak itu digambarkan oleh Dickens dengan baik. Tulisnya: ada seorang anak yang bertubuh besar yang sangat khawatir kalau kelaparan yang dideritanya akan memaksanya memakan teman yang tidur di sampingnya. Karena hal inilah, dibuatlah undian. Siapa yang mendapatkan undian akan meminta tambahan makan kepada kepala rumah sosial. Undian jatuh kepada Oliver. Dan keberanian Oliver menyebabkan dia harus disingkirkan dari tanggungan desa. Dia dipekerjakan di sebuah toko peti mati.

Namun, belum lama bekerja di toko peti mati itu, ia pun kembali mengalami masalah. Ia bertengkar dengan anak yang menghina ibunya yang telah meninggal. Tidak terima karena dihina, Oliver memukul anak itu dan berakhir dengan dikurungnya Oliver. Oliver teramat marah dengan apa yang telah menimpanya. Ia pun melarikan diri. London adalah tujuannya.

Akan tetapi, kemalangan belum mau melepaskan Oliver. Ia masih menyergap Oliver meski ia baru tiba di London. Di London ini, karena keluguan Oliver sendiri, ia terjebak di sebuah kelompok penjahat yang dipimpin oleh Fagin. Kelompok penjahat ini bukanlah penjahat dengan wajah garang yang merampok dengan menggunakan pistol. Mereka adalah anak – anak seusia Oliver yang dipekerjakan oleh Fagin untuk mencopet di keramaian. Oliver kemudian dilatih untuk menjadi pencopet sampai ketika nasib mempertemukannya dengan akhir cerita yang sama sekali tidak saya bayangkan.

Dickens menuturkan kisah Oliver ini dengan sangat manis. Di sana – sini bertebaran kalimat – kalimat sindiran kepada aparat yang korup dan munafik. Yang banyak bertutur dengan mengutip kitab suci tapi perbuatan mereka sangat tercela. Mereka tidak malu mengutip kitab suci bahkan ketika mereka melakukan perbuatan dosa.

Menurut saya, Dickens membagi tokoh – tokoh dalam cerita ini menjadi tiga. Yang pertama orang – orang munafik, yang diwakili oleh para aparat desa. Kemudian orang – orang yang benar – benar jahat, yang diwakili oleh Fagin dan sekutunya. Lalu orang – orang baik dan jujur, sebagaimana keluarga Mayle dan Tuan Brownlow.

Dickens secara tidak langsung menegaskan bahwa orang – orang jahat tidaklah seberbahaya orang – orang munafik. Orang – orang jahat akan diwaspadai orang karena kejahatannya. Tapi orang munafik menutup – nutupi keculasannya dibalik perbuatan yang seolah baik. Dan menurut saya, orang – orang munafiklah yang menimbulkan orang – orang jahat. Aparat desa yang munafik, melahirkan anak – anak yang rentan berbuat jahat. Dalam kisah ini, untung sekali orang – orang yang baik dan jujur menyelamatkan Oliver sebelum ia benar – benar berubah menjadi orang yang jahat.

Jika merujuk kepada Dickens, kita akan dapat berkesimpulan bahwa para koruptor adalah orang – orang munafik. Dan mereka akan menanggung dosa anak – anak yang terpaksa menjadi penjahat karena kemunafikan mereka.


Informasi Buku:
Buku 51
Judul:
Oliver Twist
Penulis: Charles Dickens
Penerbit: Bentang
Tebal: 577 Halaman
Cetakan: I, Maret 2011


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar