Pages

Senin, 30 Juni 2014

Project X: The New Beginning of Net Detective Indonesia



Saya belum pernah ditipu sebuah buku sebagaimana saya ditipu buku ini. Sebagaimana kebiasaan, saya selalu membaca secara urut dari depan ke belakang. Bab demi bab. Karena buku ini buku detektif tentu saja saya merasa tertipu ketika hampir setiap kasus dapat diselesaikan di hampir tiap bab. Ya saya mengira buku ini merupakan kumpulan dari berbagai kasus yang dikumpulkan jadi satu. Saya salah dan buku ini berhasil menipu saya.

Kisah pertama dibuka dengan Study in Celebes. Badai, seorang arsitek yang berteman dengan seorang Polisi tertarik memecahkan kasus pembunuhan yang secara beruntun terjadi di kotanya, Makassar. Semua korban pembunuhan adalah wanita. Dan semua dibunuh setelah dianiaya secara membabi buta. Dalam Study in Celebes, terasa sekali pengaruh Sir Arthur Conan Doyle. Bagi anda yang menyukai Sherlock Holmes anda akan merasakannya di bab ini. Dan mengenai arsitek-detektif yang membantu tugas polisi dalam memecahkan kasus anda tahu ini mirip sekali dengan komik detektif Conan. Tapi penulis berhasil membuat saya tidak mampu menebak siapa pelaku pembunuhan sampai akhir bab. Lagipula, di akhir bab, penulis kembali mengeluarkan sebuah teka – teki yang membuat saya lebih paham dengan karakter Badai.

Detektif yang kedua adalah seorang anak SMP!, Ya, dan dia berusaha membebaskan sahabatnya dari penculikan. Sagitta, sahabat yang diculik tadi,  mengirimkan pesan tersembunyi dalam SMS. Valent, sang detektif muda, yakin bahwa SMS yang dikirimkan oleh Sagitta memiliki makna yang lain. Sibuklah Valent memecahkan teka – teki SMS itu. Meski Valent berhasil mengetahui pesan tersembunyi dalam SMS Sagitta, pesan – pesan berikutnya semakin sulit dipahami oleh Valent. Karenanya ia harus berpikir ekstra keras atau kalau tidak, Sagitta akan menjadi korban pembunuhan.

Oh, teka – teki berupa pesan ini mengingatkan saya pada Takagi Fujimaru di Bloody Monday. Saya ingat temannya atau saudaranya (saya lupa) yang diculik juga mengirimkan pesan yang berisi pesan tersembunyi semacam ini.

Dari sekian kisah detektif dari buku ini, saya paling suka dengan Jatuhnya Sang Ilusionis. Kisah dalam bab ini benar – benar membuat saya berpikir. Dan lagi, karena penulis Jatuhnya Sang Ilusionis mengenalkan saya pada Matematikawan William Fitch Chenney, yang permainan kartunya bisa saya pelajari dan praktikkan di depan teman – teman saya. Terima kasih.

Secara umum buku ini menarik dan layak baca. Namun dari saya pribadi tentu ada beberapa kritik. Pertama, menurut saya, hampir semua kisah detektif kita selalu menyertakan detektif – detektif dunia yang memang berpengaruh. Sherlock Holmes, Hercule Poirot dan Conan, adalah kisah rekaan yang patut disebut sebagai detektif – detektif yang banyak berpengaruh. Meski sulit untuk lepas dari pengaruh mereka, saya rasa penulis tidak perlu menuliskannya di cerita. Kalimat – kalimat seperti “Sherlock Holmes selalu berkata.............” tidak perlu disebutkan. Akan lebih baik jika penulis – penulis detektif Indonesia menciptakan karakter detektif mereka sendiri yang seolah tidak pernah mengenal Holmes atau Conan.



Saya juga merasakan kalau penulis kisah – kisah detektif di buku ini terlalu terburu – buru dalam menulis. Ada beberapa kejanggalan yang mengganggu selain banyak sekali typo di sana – sini. Tapi sebagai karya pertama dari Net Detektif Indonesia, saya menyukai buku ini.




Informasi Buku:
Buku 52
Judul:
Project X: The New Beginning of Net Detective Indonesia
Penulis: Tim Penulis NDI
Penerbit: Visimedia
Tebal: 344 Halaman
Cetakan: I, 2014

1 komentar:

  1. Kovernya tidak menarik! Kenapa Bang Dion tidak membahas soal ini? Siapa tahu ada penjelasan mengenai hubungan kover dengan isi buku? Soalnya yang namanya kover itu mestinya menjadi penarik biar pembaca mau membacanya. Ya, kan?

    Isi reviewnya juga kurang komplit, nih. Misalnya total ada berapa cerita, trus benang merah dari masing-masing cerita itu apa? Apakah para tokoh detektifnya saling mengenal, dsb dsb. Apa ada kebetulan yang bermunculan seperti kebanyakan ciri khas karya anak bangsa?

    Apa kira-kira ... editor banyak membantu menjaga kualitas buku ini?

    Jadi gatel ingin membacanya sendiri ^^

    BalasHapus