Pages

Rabu, 01 Oktober 2014

The Monogram Murders

Kebohongan terbaik selalu mengandung kebenaran (Hercule Poirot)

Hercule Poirot berbincang dengan seorang wanita bernama Jennie Hobbs di sebuah kedai kopi karena melihat ada yang tak beres dengan wanita itu. Dan dugaan Poirot benar. Jennie terancam dibunuh oleh seseorang yang akan membalas dendam. Namun yang aneh, Jennie mengatakan bahwa jika memang ia berhasil dibunuh, maka keadilah telah ditegakkan (hal. 14). Poirot tidak berhasil meminta penjelasan kepada Jennie mengenai hal ini karena Jennie sudah terlanjur kabur.

Tak lama setelah perbincangan Poirot dengan Jennie, terjadilah tiga pembunuhan di tiga kamar yang berbeda di hotel Bloxham. Ketiga korban pembunuhan itu adalah Richard Negus, mantan pengacara, Ida Gransbury, mantan tunangan Richard Negus dan Harriet Sippel, teman lama Richard dan Ida. Semua korban dibunuh menggunakan racun sianida. Di dalam mulut masing – masing korban terdapat sebuah manset dengan monogram PIJ. Dan posisi kematian korban seolah telah diperhitungkan. Semua lengan korban terlentang di kedua sisi tubuh, telapak tangan menyentuh lantai dan kedua kaki dirapatkan (hal. 29).

Poirot dibantu temannya, Edward Catchpool berusaha menyingkap misteri pembunuhan. Poirot melakukan penyelidikan di London sedangkan Catchpool berangkat ke Great Holling, daerah asal ketiga korban. Di Great Holling Catchpool mendapatkan fakta – fakta yang membantu upaya penyingkapan misteri pembunuhan. Di Great Holling pula Catchpool mendapatkan pembenaran atas teorinya terhadap monogram yang ada di manset. Ternyata monogram yang ada di manset yang ditemukan di masing – masing mulut korban bukanlah PIJ melainkan PJI, inisial dari  Patrick James Ive. Patrick adalah seorang pendeta yang bersama – sama istrinya, Frances Maria Ive, telah mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari masyarakat yang kemudian mengakibatkan kematian mereka. Lalu, apakah pembunuhan ketiga orang di hotel Bloxham merupakan upaya pembalasan dendam dari kematian pendeta dan istrinya? Kalau memang iya, lalu sipakah orang yang membalas dendam itu? Dan, apakah Jennie akhirnya menjadi korban pembunuhan berikutnya?

Seperti novel – novel detektif pada umumnya, The Monogram Murders membuat pembaca menebak – nebak siapa pembunuhnya dan apa motifnya. Dan bagi saya, novel detektif yang berhasil adalah novel yang berhasil mengelabui pembacanya. Ketika sampai pada bab 19, saya merasa telah tahu siapa pembunuhnya. Namun, saya salah.

Kecuali sedikit typo, saya rasa yang kurang dari novel terjemahan ini adalah perlunya catatan kaki di halaman 33. Pembicaraan Poirot mengenai mereka dan –nya, bagi pembaca awam seperti saya mungkin akan sedikit membingungkan. Pembaca harus merujuk kepada novel bahasa Inggrisnya untuk memahami perkataan Poirot di halaman 33 ini.

Poirotnya Sophie Hannah sepertinya tidak berbeda dengan Poirotnya Agatha Christie. Karenanya buku ini tentu sangat layak untuk dikoleksi penggemar Hercule Poirot.


Informasi Buku:
Buku 53
Judul: The Monogram Murders, Pembunuhan Monogram

Penulis: Sophie Hannah
Penerbit: Gramedia
Tebal: 370 Halaman
Cetakan: I, 2014


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar