Pages

Sabtu, 25 Oktober 2014

Jentik Jen(t)aka Cinta

Sebagai seorang penulis, Salman Aditya, bisa dibilang produktif. Setelah menerbitkan Sialan Salman beberapa saat yang lalu, saat ini ia kembali mengeluarkan buku barunya, Jentik Jen(t)aka Cinta. Dan masih seperti Sialan Salman, JJC juga banyak dibumbui guyonan segar. Yang berbeda tentu saja tokoh utamanya. Jika di buku sebelumnya yang menjadi tokoh utama adalah seorang cowok bernama Salman, di buku ini tokoh utamanya adalah cowok bernama Adit. Saya curiga di buku selanjutnya, tokoh utamanya tetap seorang cowok tapi bernama Tya. laughing

Adit adalah seorang cowok yang ingin sekali menjadi seorang entertainer. Ia pun rajin mengikuti casting demi casting untuk mewujudkan impiannya itu. Namun, seperti sudah kita duga, perjalanan menjadi seorang entertainer memang tidak mudah. Meskipun berulang kali mengikuti casting, Adit belum juga mendapatkan apa yang diinginkannya. Uppss, salah. Adit akhirnya mendapatkan peran sebagai bintang iklan. Ia membintangi iklan ekstrak buah kelapa. Bukan sebagai bintang iklan utamanya sih, melainkan sebagai pohon kelapanya! (hal. 7) laughing

Tapi, ketekunan akan selalu berbuah manis. Pada akhirnya sebuah casting untuk film layar lebar menghampiri Adit. Dan memang kalau sudah jodoh, tidak akan kemana. Adit diterima sebagai pemeran utama dari film itu. Dan lawan main Adit bukan orang sembarangan. Adit akan beradu akting dengan Maudy Ayunya, selebriti yang bukan hanya sudah cukup terkenal tetapi juga sangat cerdas dan seorang bintang film panas dari Jepang, Miharu Ozawa.

Kalau anda merasa sudah sangat akrab dengan nama Maudy Ayunya atau Miharu Ozawa, anda tidak salah. Salman Aditya tidak hanya memelesetkan nama dua orang selebriti itu saja tapi juga Joe Tahmid dan Nicolas Sejahtera.

Baiklah, Adit memang sudah menggapai mimpinya untuk menjadi entertainer. Suka dukanya menjadi pendatang baru di dunia yang keras ini dipaparkan dengan apik oleh Salman Aditya. Namun menurut saya fokus buku ini bukanlah pada mimpi Adit untuk menjadi selebriti. Tapi lebih pada keinginan Adit untuk mengakhiri ke-jomblo-annya. Nama yang muncul pertama kali di buku ini adalah Shanti. Tetangga kos – kosan Adit yang baru saja putus dengan pacarnya. Shanti ini, meski hanya cewek biasa, tapi di mata Adit ia adalah wanita yang istimewa.

Tapi di tempat syuting, Adit juga menjajagi kemungkinan berpacaran dengan Maudy Ayunya dan Miharu Ozawa. Miharu Ozawa nampaknya memiliki rasa cinta untuk Adit. Mereka sering keluar bersepeda motor keliling Jogja di sela – sela jadwal syuting. Dan ketika mereka keluar bersama, Maudy Ayunya terlihat cemburu. Bahagianya si Adit. Dia dikerubuti oleh cewek – cewek cantik yang sepertinya tertarik dengannya. Tapi di akhir, dengan siapa Adit mengakhiri masa jomblonya? Saya jamin anda akan melongo tak berkesudahan.

Di beberapa tempat, buku ini membuat saya tertawa terbahak. Salman Aditya masih saja bisa menulis kalimat – kalimat lucu yang segar. Dan dari sekian humor – humor segar itu yang paling membuat saya tertawa terpingkal adalah ketika Pak Aris, sang sutradara, tiba – tiba berteriak cut ketika seharusnya mengucapkan action. Ketika ditanya ia menjawab: “Bentar ... ada yang salah sama celana saya. Bentar ya.” (hal. 164). Memang kenapa celana Pak Aris? rolling on the floor

Jika anda penyuka buku yang ditulis dengan alur cerita yang tidak rumit. Jika anda menyukai buku dengan humor – humor yang tidak garing, buku ini untuk anda. Buku yang sepertinya ditulis untuk remaja ini akan menyegarkan anda. Tiga bintang untuk Jentik Jen(t)aka Cinta.


Informasi Buku:
Buku 54
Judul: 
Jentik Jen(t)aka Cinta
Penulis: Salman Aditya
Penerbit: Elex Media Komputindo 
Tebal: 183 Halaman
Cetakan: I, 2014

Rabu, 01 Oktober 2014

The Monogram Murders

Kebohongan terbaik selalu mengandung kebenaran (Hercule Poirot)

Hercule Poirot berbincang dengan seorang wanita bernama Jennie Hobbs di sebuah kedai kopi karena melihat ada yang tak beres dengan wanita itu. Dan dugaan Poirot benar. Jennie terancam dibunuh oleh seseorang yang akan membalas dendam. Namun yang aneh, Jennie mengatakan bahwa jika memang ia berhasil dibunuh, maka keadilah telah ditegakkan (hal. 14). Poirot tidak berhasil meminta penjelasan kepada Jennie mengenai hal ini karena Jennie sudah terlanjur kabur.

Tak lama setelah perbincangan Poirot dengan Jennie, terjadilah tiga pembunuhan di tiga kamar yang berbeda di hotel Bloxham. Ketiga korban pembunuhan itu adalah Richard Negus, mantan pengacara, Ida Gransbury, mantan tunangan Richard Negus dan Harriet Sippel, teman lama Richard dan Ida. Semua korban dibunuh menggunakan racun sianida. Di dalam mulut masing – masing korban terdapat sebuah manset dengan monogram PIJ. Dan posisi kematian korban seolah telah diperhitungkan. Semua lengan korban terlentang di kedua sisi tubuh, telapak tangan menyentuh lantai dan kedua kaki dirapatkan (hal. 29).

Poirot dibantu temannya, Edward Catchpool berusaha menyingkap misteri pembunuhan. Poirot melakukan penyelidikan di London sedangkan Catchpool berangkat ke Great Holling, daerah asal ketiga korban. Di Great Holling Catchpool mendapatkan fakta – fakta yang membantu upaya penyingkapan misteri pembunuhan. Di Great Holling pula Catchpool mendapatkan pembenaran atas teorinya terhadap monogram yang ada di manset. Ternyata monogram yang ada di manset yang ditemukan di masing – masing mulut korban bukanlah PIJ melainkan PJI, inisial dari  Patrick James Ive. Patrick adalah seorang pendeta yang bersama – sama istrinya, Frances Maria Ive, telah mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari masyarakat yang kemudian mengakibatkan kematian mereka. Lalu, apakah pembunuhan ketiga orang di hotel Bloxham merupakan upaya pembalasan dendam dari kematian pendeta dan istrinya? Kalau memang iya, lalu sipakah orang yang membalas dendam itu? Dan, apakah Jennie akhirnya menjadi korban pembunuhan berikutnya?

Seperti novel – novel detektif pada umumnya, The Monogram Murders membuat pembaca menebak – nebak siapa pembunuhnya dan apa motifnya. Dan bagi saya, novel detektif yang berhasil adalah novel yang berhasil mengelabui pembacanya. Ketika sampai pada bab 19, saya merasa telah tahu siapa pembunuhnya. Namun, saya salah.

Kecuali sedikit typo, saya rasa yang kurang dari novel terjemahan ini adalah perlunya catatan kaki di halaman 33. Pembicaraan Poirot mengenai mereka dan –nya, bagi pembaca awam seperti saya mungkin akan sedikit membingungkan. Pembaca harus merujuk kepada novel bahasa Inggrisnya untuk memahami perkataan Poirot di halaman 33 ini.

Poirotnya Sophie Hannah sepertinya tidak berbeda dengan Poirotnya Agatha Christie. Karenanya buku ini tentu sangat layak untuk dikoleksi penggemar Hercule Poirot.


Informasi Buku:
Buku 53
Judul: The Monogram Murders, Pembunuhan Monogram

Penulis: Sophie Hannah
Penerbit: Gramedia
Tebal: 370 Halaman
Cetakan: I, 2014