Pages

Minggu, 03 Mei 2015

Bergumul dengan Gus Mul



Banyak yang terjadi di keseharian kita. Dan banyak yang berlalu begitu saja tanpa kesan. Di masa ketika internet mengubah pola hidup kita secara drastis (perhatian dan minat kita, tanpa kita sadari, bisa begitu cepat berubah karena kebiasaan kita dalam menggunakan internet) kehidupan sehari – hari kita berlalu begitu saja. Di masa kecil kita, tidak banyak yang bisa mengganggu aktivitas keseharian kita. Karenanya, setiap apa yang kita lakukan di masa muda dulu, menjadi sesuatu yang begitu kita rindukan ketika kita sudah dewasa. Bahkan kegiatan yang remeh sekalipun semisal bermain gasing, berenang di kali, ataupun mencuri jambu tetangga.

Namun, Agus Mulyadi, penulis buku ini, adalah pribadi yang menarik sekaligus unik. Sebelum menjadi penulis blog dan buku yang serius seperti sekarang ini, ia adalah seorang operator warnet. Artinya, persinggungannya dengan internet sangat – sangat intens. Yang menarik bagi saya adalah, Gus Mul (begitu ia menyebut dirinya) tidak terpengaruh dengan pola internet yang bisa sangat cepat mengubah perhatian dan minat seseorang. Alih – alih demikian, ia malah menjadi pengamat yang baik dari kehidupan yang berjalan di sekelilingnya. Namun ia tidak berhenti menjadi pengamat, ia juga menuliskannya.

Sebenarnya, yang ditulis oleh Gus Mul adalah persoalan – persoalan remeh temeh. Persoalan – persoalan kita semua. Masalah – masalah yang terjadi di kampung – kampung kita. Kita bisa menemukannya di mana saja. Apa yang diceritakan oleh Gus Mul? Ia “hanya” menceritakan jempol kakinya yang tidak mau tumbuh (Hukum Kuku Jempol Kaki), tentang Bapak dan Emaknya yang saling memanggil dengan panggilan “Jo” (Jo, Panggilan Bapak dan Emak), tentang kucingnya (Saya dan Kucing Peliharaan), atau tentang kawan – kawannya yang mbeling (Tentang Geng Koplo). Benar – benar soal biasa. Tapi yang biasa itu menjadi luar biasa ketika kita menyadari bahwa itulah keseharian kita semua. Dan menjadi sangat luar biasa ketika Gus Mul menuliskannya dengan kalimat – kalimat jenaka dan mengalir lancar. 

Agus Mulyadi adalah penulis yang baik. Kalimat – kalimatnya sederhana. Akan tetapi, menarik. Yang membuat menarik adalah, ia seringkali menggunakan suatu kata untuk mewakili suatu aktivitas yang sebenarnya sudah terwakili oleh kata yang lazim. Misalnya, ia menggunakan kata menafkahi (serius, saya benar – benar tertawa terpingkal dengan penggunaan kata ini), atau kalimat kocak ternyata keadilan masih tegak di bumi ini. Memang kata – kata itu nampaknya tidak memiliki sisi humor, tapi begitu anda membaca dengan konteks artikel yang ditulis oleh Gus Mul di buku ini, seperti saya, anda pasti akan terpingkal, minimal anda akan tersenyum simpul.  

Akhirnya, di tangan Agus Mulyadi, internet tidak lagi menjadi ndoro yang bisa mengatur – ngatur hidup kita. Internet tidak lagi menjadi juragan yang menjadikan kita cepat bosan dan tidak sabaran. Gus Mul dengan cerdas memanfaatkan internet untuk mengabadikan keseharian kita, yang tanpa kita ketahui, sebenarnya sangat berharga.


Ingin kontak dengan Gus Mul? 
Blog: agusmulyadi.web.id/
Twitter:  @AgusMagelangan
Youtube: Gus Mul

Informasi Buku:
Buku 57
Judul:
Bergumul dengan Gus Mul
Penulis:
Agus Mulyadi
Penerbit: MediaKita
Tebal: 208 Halaman
Cetakan: I, 2015

1 komentar:

  1. Haha ini orang favku nih. Baca blognya aku selalu ngakak.

    BalasHapus