Pages

Rabu, 11 Februari 2015

Le Petit Prince, Pangeran Cilik

Dunia adalah panggung sandiwara, kata sebuah ungkapan lama. Banyak orang yang tidak peduli dan mengambil peran dalam panggung yang maha besar ini. Namun banyak yang merasa muak dengan segala sandiwara (baca: kepalsuan) yang ada dalam kehidupan mereka. Antoine de Saint-Exupery adalah salah seorang yang muak dengan kepalsuan itu. Dengan Le Petit Prince, dia ingin menyindir dan membuka mata semua orang tentang betapa memuakkannya sandiwara yang mereka semua mainkan.

Ditulis dengan bahasa yang sederhana, yang mengingatkan kita pada buku anak – anak. Buku tipis ini benar – benar mengena. Dengan membacanya saya langsung yakin bahwa sang penulis adalah seorang yang sangat kontemplatif. Dugaan saya benar. Di halaman terakhir, di bagian biografi penulis, tertulis betapa berwarnanya kehidupan Antoine; masa kecil yang religius, masa dewasa yang dihabiskan menjadi penerbang, ditinggalkan wanita beberapa kali dan akhirnya hilang secara misterius ketika terbang.

Menurut saya, orang yang kontemplatif tidak pernah blak-blakan tentang sesuatu. Mereka sengaja mengaburkannya. Namun dengan mengaburkannya itulah, tulisannya menjadi begitu indah. Diawali dengan tokoh utama yang pesawatnya jatuh di gurun sahara karena mesinnya rusak. Di tengah kebimbangan sang tokoh ini, tiba – tiba ia dikejutkan dengan kedatangan seorang lelaki kecil, tidak nampak bekas perjalanan jauh padanya juga tak nampak kelelahan, yang memintanya menggambar seekor domba.

Dari pertemuan dengan anak kecil inilah cerita mengalir. Sedikit demi sedikit terkuaklah siapa sebenarnya si anak kecil ini. Yang membuat saya kagum dengan buku ini adalah ketika membaca bagian perjalanan sang bocah mulai dari planetnya yang kecil hingga sampai ke bumi. Perjalanan sang bocah lah yang digunakan penulis untuk menyindir habis – habisan sandiwara dunia.

Sebelum sampai ke bumi, si pangeran cilik ini bertemu sebuah planet kecil yang berisi seorang raja. Raja seharusnya berkuasa. Namun apa makna kekuasaan raja tanpa kehadiran rakyatnya? Seorang raja yang berkuasa sekalipun tetap membutuhkan rakyat untuk memberikan makna kekuasaannya. Lalu berturut – turut sebuah planet yang berisi orang yang sombong, orang pemabuk, pengusaha, penyulut lentera dan seorang ahli bumi. Semua orang ini digunakan penulis untuk menyindir sandiwara dunia.

Antoine menggunakan sang pangeran cilik untuk menyindir kehidupan orang dewasa yang menggelikan. Karena semua orang dewasa bersandiwara maka kepalsuan itu hanya bisa dipahami oleh anak kecil yang masih polos. Antoine menulis “Orang – orang dewasa amat ganjil” secara berulang – ulang untuk menegaskan hal ini.

Terakhir, buku kecil yang sangat bagus. Pangeran Cilik adalah sebuah buku yang bisa kita baca berulang kapan saja dan setiap kali selesai membacanya, kita selalu mendapatkan sesuatu yang baru.


Informasi Buku:
Buku 56
Judul: 
Le Petit Prince, Pangeran Cilik
Penulis: 
Antoine de Saint-Exupery
Penerbit: Gramedia
Tebal: 120 Halaman
Cetakan: I, 2011

Kamis, 05 Februari 2015

Love Letters


Foto Oleh: Ferly Arianto

Anda bisa menjuluki buku ini buku fotografi, buku sajak, atau pun buku kisah cinta yang nyata. Di halaman – halamannya yang semuanya berwarna, anda akan menemukan foto – foto karya sang penulis, Ferly Arianto, yang indah dan juga tulisan – tulisannya dalam bentuk sajak dan paragraf – paragraf pendek kisah cinta kenalannya.

Mari kita bahas mulai dari foto – fotonya. Sayang, saya bukan orang yang tahu dengan fotografi. Tapi mata awam saya bisa mengatakan bahwa foto – foto Ferly yang tercetak di buku ini sangat “wah!”. Banyak objek – objek bunga di sini. Tidak heran, karena memang buku ini berkisah tentang cinta. Yang membuat saya takjub adalah bahwa foto – foto bunga ini selalu pas dengan warna halaman – halaman buku. Jika anda mencukupkan diri hanya dengan melihat foto – foto yang terpampang di sini, anda sudah akan cukup puas.

Sekarang kita ke sajak – sajaknya. Terus terang, saya kurang bisa menikmati sajaknya. Bukan hanya karena sajaknya berbahasa Inggris. Akan tetapi karena sajak – sajak yang ditulis oleh Ferly, tidak berima. Ya, saya tidak bisa menikmati sajaknya karena mereka tidak ditulis berima. Tapi kalau mencermati isinya, ada sedikit rasa wah juga di hati saya. Coba baca salah satu favorit saya ini:

Timepieces

I’ve never walked along this street
That’s been known for it’s length
Only for you
To whom i’ll walk

It’s my first dip
Strawberries into melted chocolate
With you
I tasted the sweet and sour

But it’s the second season
Strolling lively

And because of you
My reason to hold on to

I’m here for you


Kemudian kisah – kisah nyata tentang cinta. Diawali dengan yang baru pacaran selama enam bulan sampai ke pasangan yang sudah 44 tahun menikah. Kisah cinta pasangan – pasangan yang diceritakan menurut saya unik. Keunikan – keunikan inilah yang menurut saya membuat penulis menuliskan sebuah kalimat singkat di awal buku: “Penulisan buku ini membuat saya tak lagi percaya ‘cinta pada pandangan pertama’ ”

Yang menyentuh dari buku ini adalah pada latar belakang penulisannya. Ferly terinspirasi oleh orang tuanya. Ayah Ferly yang pelaut terpaksa selalu terpisah dengan istri tercintanya. Jarak antar keduanya lah yang membuat mereka sering berkirim surat satu sama lain. Selama 40 tahun mereka menjalani kehidupan yang seperti ini dan mereka mampu menjaga cinta mereka dengan surat – surat yang selalu lancar terkirim. Namun, ketika akhirnya mereka bisa bersatu, setelah sang ayah pensiun, kedekatan mereka ini pun hanya berlangsung selama 1,5 tahun saja karena sang ayah berpulang. Cinta luar biasa yang menginspirasi bukan hanya bagi sang anak tapi juga bagi kita semua.

Sekali lagi, foto – foto yang indah dan kisah – kisah yang menyentuh, membuat buku ini, Wah!

Informasi Buku:
Buku 55
Judul:
Love Letters
Penulis: Ferly Arianto
Penerbit: Self-Publish