Pages

Kamis, 05 November 2015

Kode Untuk Republik, Peran Sandi Negara di Perang Kemerdekaan

Belanda tidak rela jika Indonesia merdeka. Karena itu dengan membonceng sekutu, mereka kembali ke Indonesia untuk menguasai tanah pertiwi. Karena situasi Jakarta yang tidak aman, Soekarno – Hatta pindah ke Jogjakarta. Namun, Perdana Menteri Sjahrir, tidak ikut ke Jogja. Ia bersama beberapa anggota kabinet memilih tetap tinggal di Jakarta.

Karena Belanda memulai serangan – serangan ke kubu Indonesia, komunikasi antara Presiden dan Perdana Menteri yang berjauhan menjadi tidak aman. Kekhawatiran akan bocornya komunikasi antara kedua pemimpin Indonesia ini membuat Amir Sjarifuddin memerintah dr. Roebiono Kertopati untuk membentuk Dinas Kode. Dan lahirlah Dinas Kode yang berada di bawah Kementrian Pertahanan ini pada tanggal 4 April 1946.

dr. Roebiono  Kertopati sebenarnya adalah seorang dokter. Tapi setelah kemerdekaan, beliau bergabung dengan Kementrian Pertahanan. Latar belakang beliau yang dokter sebenarnya tidak memungkinkan untuk bekerja menyusun sandi. Beliau hanya mendapatkan kursus singkat tentang persandian. Tapi itulah berkah dari keterbatasan. Keterbatasan seringkali memaksa seseorang untuk mengeluarkan potensi – potensi terpendam mereka.

Meskipun memiliki keterbatasan mengenai persandian, kecerdasan dr. Roebiono membuatnya mampu menyelesaikan buku panduan persandian dalam waktu dua bulan saja! Tidak hanya itu. Karena buku panduan ini harus segera selesai, dr. Roebiono menggunakan tangan kanan dan kirinya sekaligus untuk menuliskannya! Buku panduan persandian yang memuat 10.000 kata ini  kemudian dikenal sebagai buku Kode C.

Kemudian buku Kode C ini digandakan sebanyak 6 buah yang diketik oleh adik dan keponakan dr. Roebiono. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kerahasiaan sandi yang telah dibuat dengan susah payah ini. Selain itu, orang – orang yang bekerja menangani persandian ini pun dipilih dengan sangat ketat dan ditangani langsung oleh dr. Roebiono. Namun, jerih payah itu terbayar. Sistem sandi yang dibangun oleh Dinas Kode terbukti mampu mengamankan komunikasi di medan gerilya maupun perundingan – perundingan RI dengan Belanda.

Buku ini sangat menarik. Dibuka dengan sejarah persandian dan diikuti dengan latar belakang di balik lahirnya Dinas Kode serta peran Dinas Kode dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia. Dengan membaca buku ini, anda akan tahu rasa nasionalisme yang tinggi yang dimiliki oleh para pendahulu kita. Betapa besar peran yang telah diberikan para pahlawan – pahlawan kita dalam merebut kemerdekaan.

Anda akan bangga sebagai orang Indonesia ketika membaca peran Dinas Kode ini ketika terjadi perang gerilya. Jiwa anda akan tergetar ketika membaca heroisme kurir yang membawa pesan berkode menyusuri sungai dan belantara baik siang ataupun malam hari. Anda akan takjub dengan orang seperti Sjafruddin Prawiranegara mampu membalas cemoohan Belanda meski dalam kesulitan perang gerilya (hal. 178). 

Dilengkapi dengan DVD yang berisi film sejarah berdirinya Dinas Kode, buku ini membuat anda berkesimpulan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan hasil kerja kolektif dari manusia – manusia Indonesia yang  brilian. Dan Dinas Kode merupakan batu bata penting dari dinding kemerdekaan Indonesia.


Informasi Buku:
Buku 58
Judul: Kode Untuk Republik, Peran Sandi Negara di Perang Kemerdekaan
Penulis: Pratama D. Persadha
Penerbit: Marawa
Tebal: 237 Halaman
Cetakan: I, 2015