Pages

Selasa, 31 Mei 2011

Blink, Kemampuan Berpikir Tanpa Berpikir

Bayangkanlah hal ini: Suatu saat anda sakit dan merasa perlu untuk mendatangi dokter. Anda masuk ke ruang praktek dokter itu dan sang dokter terus menulis di atas kertas seolah – olah tidak ada orang lain, tidak tersenyum dan baru berbicara ketika anda mengatakan bahwa anda perlu pertolongan. Jika anda mengalami hal ini, apakah menurut anda dokter semacam ini bisa menjadi seorang dokter yang baik? Yang bisa menyembuhkan banyak pasien? Saya rasa anda akan menjawab: “Meskipun sang dokter bergelar Ph. D dari Amerika, nampaknya berat bagi dia menjadi seorang dokter yang berhasil.”
Jika pertanyaan semacam ini diberikan kepada seratus orang lainnya, saya yakin sebagian besar dari mereka akan menjawab bahwa dokter ini tidak akan menjadi dokter yang sukses. Namun, pertanyaannya, bagaimana mereka bisa yakin bahwa sang dokter akan gagal? Bagaimana mereka bisa mengambil kesimpulan hanya dari kesan pertama mereka atas sang dokter? Itulah Blink!
Buku kedua dari Malcolm Gladwell ini berisi tentang kesimpulan yang kita buat berdasarkan kesan pertama kita atas sesuatu. Menurut Gladwell kesan pertama kita atas sesuatu benar – benar kuat, benar – benar penting dan terkadang benar – benar baik. Tentu saja pendapat Gladwell ini mendapatkan banyak kritikan. Bagaimana sebuah kesimpulan dari sebuah kesan bisa dikatakan sebagai sebuah kesimpulan yang baik? Saya teringat pepatah dalam buku Stephen Covey, 7 Habits of Highly Effective People, yang berbunyi: “Ukur dua kali, potong sekali”. Pepatah yang berasal dari aktivitas tukang kayu ini mengajarkan kepada kita agar berpikir matang, mengumpulkan sebanyak mungkin informasi sebelum membuat kesimpulan dan berbuat. Kita memang diajari untuk tidak terburu – buru.
Namun, seperti dalam Tipping Point, Gladwell memiliki cukup data yang menguatkan pendapatnya ini. Berikut ini contohnya: Suatu saat ada seorang yang mendatangi Museum J. Paul Getty di California dan mengatakan bahwa ia memiliki sebuah patung dari abad ke enam sebelum masehi. Pihak museum melakukan penelitian atas patung itu dengan peralatan canggih dan berkesimpulan bahwa patung itu memang patung dari jaman purbakala. Maka pihak museum pun membelinya.
Akan tetapi ketika dipamerkan, pakar sejarah dan pemahat profesional mengatakan bahwa patung itu bukan dari jaman purbakala. Pihak museum melakukan penelitan dengan peralatan canggih selama empat belas bulan sebelum berkesimpulan bahwa patung itu memang berasal dari jaman purba. Tapi pakar sejarah dan pemahat profesional dengan yakin mengatakan bahwa patung itu palsu hanya setelah selubung patung dibuka. Dan tahukah anda siapa yang benar? Para pakar dan pemahat profesionallah yang benar!
Masih banyak lagi kisah – kisah yang menguatkan pendapat Gladwell dalam buku ini. Ada Vic Braden, seorang pelatih tenis profesional yang tahu bahwa seorang petenis akan mendapatkan double fault hanya dari servis yang dilakukannya. Ada Brian Grazer yang tahu bahwa Tom Hanks akan menjadi seorang bintang film top sejak ia bertemu untuk yang pertama kalinya dengan Hanks. Dan juga ada David Sibley yang mengetahu apakah seekor burung itu langka atau tidak dari jarak dua ratus meter dan ketika sang burung sedang terbang!
Namun, dalam buku ini juga Gladwell menulis bahwa tidak selamanya kesan pertama itu benar. Konon, Gladwell mendapatkan ide untuk menulis buku ini dari pengalaman pribadinya. Gladwell, suatu saat berkeinginan untuk memanjangkan rambutnya yang kribo. Ketika ia berjalan di sebuah jalan, tiba – tiba muncul beberapa orang polisi yang berniat untuk menangkap dia karena menurut polisi itu ia mirip dengan sketsa pemerkosa yang sedang dicari – cari polisi. Tentu saja polisi itu salah. Inilah contoh dari kesan pertama yang salah.
Kesalahan dalam kesan pertama seperti ini disebut Gladwell sebagai  “Warren Harding Error”. Mengapa Gladwell menyebutnya demikian? Warren Harding adalah presiden Amerika ke 29 yang terpilih karena kesalahan kesan pertama. Harding adalah seorang yang bertubuh tinggi besar dan tampan. Orang – orang pun memilihnya menjadi Presiden karena tampilan fisiknya yang sempurna. Tetapi, Harding hanya menjadi presiden Amerika selama dua tahun – mati karena stroke – dan banyak sejarawan setuju bahwa Harding adalah presiden Amerika terburuk.
Ya, buku ini memang berisi tentang kesimpulan dari kesan pertama yang baik dan kesimpulan dari kesan pertama yang buruk sekaligus. Namun, buku ini tidak hanya berisi kisah – kisah dari keduanya tetapi juga berisi bagaimana caranya agar kita dapat menarik kesimpulan yang baik dari kesan pertama. Karena banyak orang yang bisa membuat kesimpulan yang baik dari kesan pertama mereka, Gladwell mengatakan bahwa sebenarnya membuat kesimpulan yang baik dari kesan pertama itu bisa dipelajari dan dilatih. Blink juga berisi hal terakhir ini.
Bagi saya, Blink jauh lebih enak dinikmati daripada Tipping Point. Dan seperti Tipping Point, kekuatan buku ini adalah banyaknya data – data dari lapangan.

Informasi Buku:
Buku 4
Judul: Blink, Kemampuan Berpikir Tanpa Berpikir
Penulis: Malcolm Gladwell
Penerjemah: Alex Tri Kantjono Widodo
Penerbit: Gramedia
Tebal: 316 halaman
Cetakan: VI,Februari 2009

Senin, 30 Mei 2011

Tipping Point

Saya memang berusaha untuk menulis review setiap minggu pagi. Namun, blog saya ini masih sangat baru. Sedangkan ada beberapa buku yang sudah saya baca jauh sebelum saya memutuskan untuk membuat blog review. Karena itu saya rasa ada baiknya saya menulis review buku – buku lama itu sembari tetap menuliskan review buku yang baru saya baca di setiap minggu pagi.
Saya akan awali dengan membuat review buku – buku Malcolm Gladwell, salah satu pengarang kesukaan saya. Buku pertama Malcolm Gladwell adalah Tipping Point, How Little Things Can Make a Big Different (Edisi Indonesianya: Tipping Point, Bagaimana Hal – Hal Kecil Berhasil Membuat Perubahan Besar). Benar – benar buku yang ditulis dengan sangat baik, oleh seorang pengarang yang baik. Malcolm Gladwell adalah penulis kelahiran Inggris tahun 1963. Pernah menjadi reporter di The Washington Post dan sejak 1996 menjadi penulis di majalah The New Yorker. Latar belakang pendidikannya di bidang sejarah dan pengalamannya di dunia jurnalistik membuat tulisannya dipenuhi dengan data – data yang mengagumkan. Gaya penulisan semacam ini mengingatkan saya kepada buku Daniel Goleman, Emotional Intelligence.
Membaca judul buku ini, kita pasti segera tahu apa isinya. Kita, entah kita sadari atau tidak, dikelilingi oleh berbagai macam hal yang nampaknya tidak akan mungkin bisa diubah. Namun, sering tanpa kita sadari, tiba – tiba saja keadaan berubah sama sekali. Gladwell menuliskan sesuatu yang menakjubkan di awal buku ini sebagai contoh. Perusahaan Wolverine sudah berencana untuk menghentikan produksi sepatu Hush Puppies karena semakin menurun daya jualnya. Namun tiba – tiba saja Wolverine dibanjiri pesanan sepatu Hush Puppies itu. Penjualan sepatu itu membumbung hingga Wolverine mengurungkan niatnya untuk menutup perusahaan. Pertanyaannya, apa yang membuat perubahan besar ini? Dari yang awalnya sangat tidak populer menjadi sangat populer hanya dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun? Ternyata, perubahan ini dipicu oleh hal yang kecil. Beberapa anak muda yang ingin tampil beda, menggunakan sepatu Hush Puppies itu. Tanpa mereka sadari, ini mempengaruhi pemuda lain untuk menggunakannya hingga semua anak muda menjadi begitu terobsesi dengan sepatu yang hampir punah itu.
Gladwell menyebutnya dengan Tipping Point. Apa itu Tipping Point? Ungkapan ini pertama dikenalkan pada tahun 1970an. Pada saat itu, banyak terjadi perpindahan warga kulit putih karena semakin bertambahnya warga kulit hitam di daerah mereka.  Saat pendatang kulit hitam  mencapai angka tertentu di suatu wilayah, warga kulit putih langsung berpindah dari daerah itu. Bertambahnya warga kulit hitam yang menyebabkan warga kulit hitam berpindah itu, saat itu disebut sebagai Tipping Point.  
Kasus serupa Hush Puppies ini ternyata berulang dan terus terjadi di bidang lain. Dan menurut Gladwell, perubahan yang ekstrem semacam ini seringkali dipicu oleh hal – hal yang kecil. Akan tetapi, tidak semua hal kecil bisa merubah keadaan yang sudah mapan. Ada tiga syarat menurut Gladwell, yang harus terpenuhi agar hal kecil bisa melakukan perubahan yang besar.
Yang pertama adalah Hukum Tentang yang Sedikit (The Law of The Few). Hal kecil bisa membuat perubahan yang besar ini jika syarat Hukum Tentang yang Sedikit ini terpenuhi. Agar dapat berubah, harus ada orang – orang yang walaupun jumlahnya sedikit, memiliki ketrampilan bergaul, semangat hidup yang tinggi dan memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain. Dalam kasus Hush Puppies, ada sekelompok anak muda yang memakainya. Sangat besar kemungkinannya bahwa anak – anak muda yang memakai Hush Puppies di saat sepatu ini hampir hilang dari peredaran, merupakan anak yang memiliki ketiga faktor di atas. Sehingga dengan mudahnya mereka bisa menularkan gaya berdandan mereka kepada orang lain. Di sepanjang buku ini, Gladwell menyebutkan orang – orang yang memiliki kemampuan ini. Salah satu dari orang yang disebut adalah Mark Alpert yang membuat saya juga terkagum – kagum.
Yang kedua adalah adanya Faktor Kelekatan (The Stickiness Factor). Contoh yang saya rasa tepat untuk mendeskripsikan Faktor Kelekatan ini adalah film anak – anak, Sesame Street. Sesame Street adalah sebuah tayangan anak – anak yang terbukti mampu mengajari anak – anak pra sekolah untuk membaca. Bagaimana bisa begitu? Sesame Street memiliki tokoh – tokoh yang berpotensi diingat (baca: melekat) oleh anak – anak. Ketika belajar mengeja kata “HUG” misalnya, tokoh Sesame akan mendekati huruf H, mengucapkannya, lalu ke U dan G, juga dengan mengucapkannya, kembali ke H, U dan G lagi, baru mengucapkan HUG sebagai sebuah kata. Lalu muncullah tokoh lain yang juga melakukan hal yang sama dan diakhiri dengan saling berangkulan. Adegan semacam ini melekat (Sticky). Kelekatan akan memudahkan perubahan.
Lalu yang ketiga adalah Kekuatan Konteks (The Power of Context). Perilaku manusia sangat ditentukan oleh lingkungan. Menurut Gladwell, masalah – masalah yang besar bisa diselesaikan dengan menangani masalah – masalah kecil yang terjadi di lingkungan. Untuk yang ketiga ini  Gladwell memberikan contoh turunnya angka kejahatan di New York hanya dengan menangani graffiti yang tersebar di penjuru kota.
Buku ini ditulis dengan sempurna. Namun saya harus mengerutkan dahi untuk memahami setiap potongan dari buku ini. Saya harus berusaha keras menyusun potongan – potongan ini agar membentuk satu kesatuan. Ketidak mampuan saya ini mungkin disebabkan oleh kurangnya saya dalam membaca buku – buku sejenis. Namun, Malcolm Gladwell tidak membuat saya kapok. 

Informasi Buku:
Buku 3
Judul: Tipping Point, Bagaimana Hal - Hal Kecil Berhasil Membuat Perubahan Besar
Penulis: Malcolm Gladwell
Penerjemah: Alex Tri Kantjono Widodo
Penerbit: Gramedia
Tebal: 340 halaman
Cetakan: IV,Agustus 2007

Minggu, 29 Mei 2011

The Moneyless Man

Sebagian besar kita terobsesi dengan kemapanan. Karena itu jika ada orang yang meninggalkan kemapanan untuk sesuatu yang belum jelas, tentu menarik untuk disimak. Mark Boyle, adalah salah satunya.
Boyle adalah seorang pengelola perusahaan makanan organik di Inggris. Pengetahuannya di bidang ekonomi membuka matanya bahwa apa yang terjadi di dunia saat ini merupakan kesalahan yang akan mempercepat kehancuran peradaban manusia. Manusia saat ini begitu konsumtifnya sehingga segala sesuatu pasti akan diukur dengan uang. Dan karena uang itulah manusia saling bersaing.
Boyle mengawali bukunya dengan dongeng – persis dengan yang saya terima dalam pelajaran ekonomi  waktu SMP – tentang ditemukannya uang.
Awalnya manusia melakukan barter. Tapi barter bukannya tanpa masalah. Ketika pembuat gerabah ingin menukar gerabahnya dengan sebutir telur, belum tentu si pemilik telur menginginkan gerabah. Karena itulah ada yang kemudian mengusulkan dipakainya alat tukar berupa kerang. Namun, dalam perjalanannya, kepemilikan alat tukar ini kemudian menentukan status sosial masyarakat. Saat kita masih menggunakan sistem barter, gotong royong diantara anggota masyarakat masih sangat baik. Orang – orang akan saling berkunjung dan menciptakan lingkungan sosial yang sehat. Namun, ketika status sosial mulai muncul, gotong royong mulai luntur. Tidak ada lagi orang yang mau berbuat sesuatu bagi orang lain tanpa bayaran. Orang yang awalnya memiliki kehidupan sosial yang sehat mulai bersikap individualistis.
Ketika masyarakat primitif menggunakan alat tukar untuk kebutuhan – kebutuhan primer, dunia moderen kita menggunakan uang untuk kenyamanan hidup. Pemimpin – pemimpin dunia berlomba untuk menyejahterakan rakyatnya. Mereka berutang untuk mendapatkan modal dan mereka mulai mengeksploitasi alam. Eksploitasi alam tanpa perhitungan inilah yang akan menyebabkan perubahan iklim dan habisnya sumber daya alam. Dua hal inilah yang akan memusnahkan manusia. Perubahan iklim akan merusak bumi yang kita tinggali, dan habisnya sumber daya alam akan membuat manusia saling berperang demi memperebutkannya.
Bencana dahsyat kehidupan manusia ini disebabkan oleh uang. Inilah yang meresahkan Boyle. Karena itulah ia membuat sebuah komunitas yang tidak bergantung kepada uang melainkan kepada kepada ketrampilan masing – masing anggotanya. Komunitas yang diberi nama “Freeconomy Community” ini berisi individu – individu dengan ketrampilan yang berbeda – beda. Anggota dari komunitas yang memiliki ketrampilan tertentu akan membantu seseorang yang membutuhkan ketrampilannya tersebut tanpa imbalan uang. Semakin banyak anggota komunitas, akan semakin banyak ketrampilan yang terkumpul.  Anggota komunitas akan merasa aman karena kebutuhannya pasti akan terpenuhi oleh ketrampilan orang lain. Berbeda dengan uang yang hanya akan menimbulkan kesenjangan, saling berbagi ketrampilan ini akan menimbulkan keterikatan. Keterikatan dari sesama anggota komunitas inilah yang diyakini Boyle dapat menjadi solusi dari masalah – masalah dunia di masa – masa mendatang.
Sebagaimana teori – teori yang ada, teori tentang kesalingtergantungan atas dasar ketrampilan – bukan uang – ini tentu tidak akan lepas dari kritik. Karena itulah Boyle ingin bereksperimen. Ia akan mencoba hidup selama satu tahun tanpa uang dan hanya bergantung kepada ketrampilannya. Pada november tahun 2008, ia memulai eksperimennya. Ia tidak membelanjakan uang. Tidak menggunakan listrik. Ia menggunakan telepon genggam. Tapi telepon genggam itu hanya digunakan untuk menerima panggilan saja. Ia menggunakan laptop, tetapi laptop yang menggunakan tenaga surya.
Mark Boyle (Foto:www.justfortheloveofit.org)
Ia menggunakan skype untuk berkomunikasi dengan orang – orang yang jauh. Dan, ini yang menarik perhatian saya, ia juga menyarankan agar menggunakan free software untuk komputer. Menurutnya, free software seperti Linux dan OpenOffice, selain menawarkan keamanan, juga dikembangkan oleh komunitas yang bergantung kepada ketrampilan – mirip dengan gagasannya tentang freeconomy.
Boyle adalah seorang dengan tekad yang kuat. Ia tipe orang yang sangat yakin dengan gagasannya. Seorang yang sangat berani. Karena itulah, menurut saya, tulisannya dalam buku ini juga memuat emosi dan semangatnya yang memungkinkan kita tertular virus freeconomy.
Buku ini ditulis bukan dalam bentuk diary. Menurut saya, akan sangat memikat jika buku ini ditulis dalam bentuk catatan harian lengkap dengan hari, jam dan tanggalnya. Boyle juga menuliskan kelelahan mentalnya dalam menjalani eksperimen ini. Jika dibuat dalam bentuk diary, atau gabungan dari keduanya seperti dalam novel Robinson Crusoe, naik turunnya emosi Boyle dalam menjalankan eksperimen ini tentu lebih dramatis. Namun, saya rasa Boyle melakukan ini karena ia ingin agar buku ini tidak terlalu tebal dan bertele – tele.
Banyak yang mengkritik Boyle. Ia disebut – sebut sebagai orang yang hanya mencari popularitas saja. Lagipula dengan menulis buku ini, bukankah ia menerima royaltinya? Begitu juga dengan pemberitaan dan wawancara dari media massa yang mungkin juga mendatangkan uang baginya?
Akan tetapi, menurut saya,  kita tidak perlu melihat apa motif Boyle sebenarnya. Akan lebih baik jika mempertimbangkan solusi Boyle bagi dunia yang semakin tidak menentu ini.

Informasi Buku:
Buku 2
Judul: The Moneyless Man
Penulis: Mark Boyle
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penyunting: Moh. Sidik Nugraha
Penerbit: Serambi
Tebal: 352 halaman
Cetakan: I, Mei 2011

NB: Review ini baru saya posting jam 20.20 WIB, Karena seharian ini listrik mati.

Minggu, 22 Mei 2011

The Accidental Billionaires

Di balik ketenaran facebook, terdapat persengketaan yang cukup serius. Saya rasa inilah yang ingin ditunjukkan oleh buku ini. Buku ini ditulis oleh Ben Mezrich, penulis yang juga alumnus Universitas Harvard. Mezrich menulis riwayat dibuatnya facebook dalam bentuk novel. Namun, novel ini ditulis berdasarkan data – data asli yang berjumlah ribuan, termasuk wawancara dan juga catatan – catatan pengadilan. Menceritakan kisah dibuatnya facebook dengan gaya naratif khas novel membuat buku ini menarik untuk dibaca berlama – lama.
Ketika majalah Time menobatkan Mark Zuckerberg sebagai Person of the Year 2010, saya merasa bahwa ia memang pantas menerimanya. Mark adalah seorang muda pembuat situs jejaring social paling  mencorong pada saat ini. Sebuah situs pertemanan yang memiliki pengguna paling banyak di seluruh dunia. Bahkan di Indonesia, di desa terpencil yang belum terjamah jaringan internet sekalipun, banyak orang – orang muda yang biasa mengakses akun facebook mereka melalui telepon genggam.
Namun, ketika saya selesai membaca buku ini, saya rasa Mark Zuckerberg tidak sepenuhnya pantas menerimanya.
Mark Zuckerberg dan Eduardo Saverin menjadi mahasiswa Harvard di tahun yang sama. Siapa Eduardo Saverin? Ia adalah penyandang dana facebook ketika situs ini baru pertama kalinya muncul di dunia maya. Saverin sangat berminat menjadi anggota dari salah satu klub yang ada Harvard. Bagi Saverin, menjadi anggota klub saat ini akan membuka jalan kesuksesannya di masa mendatang. Klub – klub itu telah terbukti melahirkan beberapa anggotanya menjadi pemimpin - pemimpin penting. Konon, Roosevelt dan Rockefeller dulunya adalah anggota klub Porcellian, klub tertua di Harvard.
Saverin sadar bahwa untuk menjadi seorang yang sukses di masa mendatang, dia harus terhubung dengan banyak orang yang sukses. Dengan tergabung pada sebuah klub, terbuka kesempatan baginya untuk  terhubung dengan orang – orang yang sukses. Jadi, kata kunci agar sukses adalah “terhubung”. Namun, untuk menjadi anggota dari sebuah klub – klub terkenal di Harvard bukanlah perkara yang mudah. Terdapat seleksi ketat yang harus dilalui oleh mahasiswa yang diundang untuk bergabung dengan klub. “Terhubung” yang eksklusif ala klub ini nantinya akan diganti dengan “terhubung” ala facebook yang terbuka.
Awalnya, Mark Zuckerberg membuat sebuah situs yang bernama facemash.com. Situs ini berisi foto – foto mahasiswi yang ia dapatkan dengan cara meretas jaringan computer Universitas Harvard. Pengunjung situs ini bisa membandingkan dua foto gadis dan memilih mana yang lebih cantik. Dan dari pilihan – pilihan pengunjung itulah nantinya akan dapat diketahui siapa gadis paling cantik se-kampus.
Mark Zuckerberg mengirim e-mail kepada beberapa temannya untuk mendapatkan umpan balik mengenai situs yang baru saja dibuatnya itu. Namun, ternyata teman – temannya tadi meneruskan e-mailnya hingga dalam waktu yang singkat, situs itu telah tersebar luas di seluruh kampus. Dalam waktu tiga puluh menit, empat ratus mahasiswa sudah mengakses situs baru ini. Tetapi, kepopuleran Zuckerberg karena situs ini harus dibayar dengan ancaman dikeluarkan dari Universitas karena telah meretas jaringan computer kampus.
Meski mendapatkan ancaman, berita tentang seorang anak yang membuat situs popular dalam waktu singkat ini menarik Tyler dan Cameron Winklevoss. Si kembar Tyler dan Cameron dan temannya yang bernama Divya Narendra berencana untuk membuat sebuah situs yang memungkinkan semua mahasiswa Harvard bisa terhubung secara online. Namun, mereka kesulitan untuk mendapatkan programmer yang akan menggarap situs itu. Berita tentang Mark Zuckerberg dan Facemash-nya membuka mata mereka bahwa mereka telah menemukan orang yang tepat.
Tyler dan Cameron pun menghubungi Mark dan menyampaikan hal ini. Mark Zuckerberg begitu tertarik dengan ide ini dan langsung mengiyakannya. Namun, setelah itu Mark begitu sulit dihubungi. Ia bagai hilang ditelan bumi. E-mail – e-mail yang dikirimkan Tyler dan Cameron yang menanyakan tentang perkembangan situs itu dijawab oleh Mark dengan mengatakan bahwa ia begitu sibuk dengan tugas – tugas kuliahnya. Tyler dan Cameron Winklevoss belum sadar bahwa saat itu Mark tengah mencuri ide mereka untuk membuat situs pertemanannya sendiri; thefacebook.com.
Ketika akhirnya mengetahui hal ini, Tyler dan Cameron tentu sangat berang. Dan inilah persengketaan pertama dalam sejarah dibuatnya facebook. Tyler dan Cameron pun mengadukan kecurangan ini kepada pihak universitas. Namun sayang, Universitas tidak memihak mereka. Thefacebook.com pun beroperasi dan menjadi terkenal di Harvard dengan dana operasional dari Eduardo Saverin, yang saat itu memiliki cukup uang dari bermain saham.
Setelah Harvard, thefacebook pun mulai merambah, universitas lain seperti Stanford dan Yale. Dalam perjalanannya, Mark dan Eduardo bertemu dengan Sean Parker, seorang programmer brilian pembuat Napster, sebuah situs berbagi file yang cukup populer, sebelum akhirnya hancur. Sean Parker adalah orang yang turut andil membesarkan facebook hingga seperti sekarang. Namun, facebook yang semakin besarlah yang kemudian membuat Eduardo Saverin dan Sean Parker, orang – orang yang sangat berjasa di facebook, terdepak keluar darinya. 

Informasi Buku:
Buku 1
Judul : The Accidental Billionaires, Uang, Kejeniusan, dan Pengkhianatan dalam Perang Memperebutkan Facebook
Penulis : Ben Mezrich
Penerjemah : Widati Utami
Penerbit : Penerbit Qanita
Cetakan : I, Nopember 2010
Tebal : 337 hlm