Pages

Minggu, 28 Agustus 2011

You Can Negotiate Anything

Seperti lebaran – lebaran sebelumnya, lebaran tahun itu bapakku juga membelikanku baju baru. Dan masih seperti tahun lalu pula, bapak mengajakku membeli baju di alun – alun. Setiap awal puasa sampai akhir lebaran, pedagang – pedagang baju dari solo itu memang selalu berjualan di alun – alun. Bapak tidak membeli baju di toko, karena katanya baju di toko tidak bisa ditawar. Sedangkan bapak bisa mendapatkan harga yang pantas di alun – alun.
Kenanganku bersama ayah ini muncul ketika saya membaca buku You Can Negotiate Anything – buku tentang bagaimana agar kita bisa mendapatkan apapun yang kita inginkan melalui ketrampilan berunding. Lalu apa hubungan antara buku ini dengan kenangan akan ayahku yang membelikan baju baru untuk lebaran? Begini, di alun – alun, pedagang – pedagang baju itu menjual dagangannya secara sebelah – bersebelahan. Dan karena berasal dari kota yang sama, pedagang – pedagang itu menjual barang – barang yang sama. Karena itu, posisi tawar pembeli, mestinya akan lebih besar daripada pedagang karena terdapat banyak pilihan.
Namun, jika tidak berpengalaman, pembeli akan membeli baju dengan harga – bahkan – tiga kali lipat dari harga yang sebenarnya. Bapakku adalah seorang pekerja keras, karenanya beliau benar – benar mempertimbangkan setiap rupiah yang beliau keluarkan. Ketika aku dan bapak masuk ke sebuah lapak, dan memilihkan baju untukku, beliau akan segera menawar separuh harga dari yang ditawarkan pedagang. Tentu saja sang pedagang tidak mau melepaskannya. Bapak lalu menaikkan sedikit tawarannya. Begitu terus sampai dirasa itu merupakan tawaran tertinggi yang bisa bapak bayar. Jika sang pedagang belum juga mau melepaskannya, bapak akan berpura – pura meninggalkan lapak dan menuju lapak yang lain. Saya selalu ingat bahwa strategi bapak ini seringkali berhasil.
Dan ternyata, strategi bapak berpuluh tahun lalu ini – menurut Herb Cohen, si pengarang buku – merupakan salah satu bentuk negosiasi. Dalam buku ini, Cohen memaparkan cara – cara bernegosiasi yang kemungkinan besar akan berhasil jika anda terapkan. Saya katakan “kemungkinan” karena berunding memerlukan tidak hanya pengetahuan melainkan juga pengalaman. Sebagai contoh, saya pernah mencoba melakukan negosiasi untuk membeli komik sin chan bekas di blok Majapahit Malang. Bentuk negosiasi yang saya gunakan, dalam buku ini disebut sebagai “Bagaimana bila....?”.
Begitu mengetahui harga yang ditawarkan untuk satu komik Sin Chan bekas, saya berkata: “Kalau anda bersedia menjual kepada saya sekian, saya akan membeli lima komik sekaligus.” Dan saya gagal mendapatkan komik yang saya harapkan.
Ya saya gagal mendapatkan komik itu karena mungkin saya belum berpengalaman dalam menawar. Namun, setelah membaca buku ini, saya rasa bukan hanya karena kurangnya pengalaman saya melainkan juga karena faktor – faktor lain. Faktor – faktor itu misalnya, pembeli mengetahui bahwa saya tidak menetap di Malang. Hal ini bisa diketahui dari pakaian yang saya kenakan atau dari logat bicara saya. Jika saya tidak menetap di Malang, berarti saya memiliki waktu yang terbatas. Maka, jika saya benar – benar menginginkan komik itu, tentu saya akan membayar seperti yang dikehendaki penjual karena bisa jadi di daerah asal saya, komik semacam itu tidak bisa saya temukan.
Berbeda dengan waktu saya yang terbatas, waktu yang dimiliki penjual lebih longgar. Saya ingat setelah saya tidak bisa mendapatkan komik itu dengan harga yang saya harapkan, saya beralih ke lapak lain, dan memang lapak lain tidak menjual komik serupa itu. Artinya, jika penjual komik tidak berhasil menjual komik itu kepada saya, ia tentu berkesempatan lebih untuk mendapatkan pembeli lain. Kondisi saya saat menawar komik tentu jauh berbeda dengan kondisi bapak ketika menawar baju.
Karena itu, menurut Cohen, agar negosiasi dapat berhasil, harus ada tiga hal yang hadir. Pertama, adalah Kekuatan. Kekuatan di sini berarti persepsi dari orang lain bahwa kita bisa menolong atau mencelakai mereka. Karenanya, ia harus timbul dari kepercayaan diri kita sendiri.  Cohen menulis sebuah contoh yang bagus untuk menerangkan kekuatan: Ada seorang tahanan yang mencoba meminta rokok kepada sipir penjara dengan sopan. Sang sipir menolaknya. Karena ditolak, sang tahanan mengatakan bahwa jika ia tidak mendapatkan rokok itu, ia akan membenturkan kepalanya ke dinding hingga berdarah dan mengatakan bahwa itu merupakan perbuatan sang sipir. Meskipun kebohongan itu pasti akan ketahuan, urusan dengan polisi tentu lebih “mahal” jika dibandingkan harga sebatang rokok. Karena itulah sang sipir mengalah dan memberikan rokoknya. Dalam buku ini, Cohen menulis empat belas kekuatan yang sebenarnya kita miliki untuk memenangkan negosiasi.
Kedua adalah Waktu. Kata Cohen, kesepakatan yang paling penting dan setiap persetujuan terjadi dekat dengan tenggat waktu. Kembali ke para pedagang baju dari Solo di alun – alun kota saya, orang – orang biasanya akan memenuhi alun – alun ketika malam itu adalah malam terakhir bagi para pedagang untuk berdagang di alun – alun. Keesokan harinya, alun – alun harus bersih dari lapak – lapak mereka. Kenapa di malam terakhir semakin banyak orang berniat membeli. Karena pada malam itu, mereka dapat melakukan penawaran serendah – rendahnya. Mengapa tidak? Bukankah esok para pedagang itu harus kembali ke Solo? Yang dengan demikian mereka tentu berharap bisa menjual sebanyak mungkin meskipun dengan untung yang hanya pas.
Yang terakhir adalah Informasi. Cohen membeberkan sebuah contoh yang bagus untuk informasi. Salah seorang Presiden Amerika, Richard Nixon, pernah akan didakwa. Sebelumnya diadakanlah survey untuk mengetahui reaksi rakyat Amerika atas rencana ini. Di awal survey, 92 persen rakyat Amerika menentangnya. Selang beberapa waktu diadakanlah survey kedua dan angka itu menurun menjadi 80 persen. Survey ketiga angka itu turun lagi ke 69 persen dan survey terakhir hanya 60 persen rakyat Amerika yang menentangnya. Mengapa angka itu terus menurun? Karena rakyat Amerika saat itu, telah menerima informasi baru yang mempengaruhi keputusan yang mereka buat.
Selanjutnya dalam buku ini Cohen menulis tentang gaya – gaya negosiasi. Ada dua gaya negosiasi dalam buku ini dan yang baru bagi saya adalah apa yang disebut Cohen sebagai gaya Soviet. Cohen memaparkannya dengan gamblang sehingga saya sangat terpukau dengan ketrampilan orang Rusia dalam bernegosiasi.
Jika kita cermati, cara – cara yang dipaparkan Cohen dalam buku ini seolah mengajari kita cara – cara yang culas dan memanipulasi orang lain demi kepentingan kita sendiri. Karena itu buru – buru Cohen menulis:
Kebanyakan dari kita akan mempertanyakan taktik ini dari sisi etika. Saya memaparkannya bukan agar ditiru atau menyetujuinya, melainkan untuk bisa dipahami........... Bukan karena saya ingin anda menggunakannya, melainkan karena saya ingin anda mengenalinya sehingga tidak akan terpedaya olehnya.(halaman 205)
Jadi, apakah buku ini mengajari cara bernegosiasi secara culas atau apakah agar kita terhindar dari negosiasi yang manipulatif, tergantung bagaimana kita menggunakannya. Namun, jangan khawatir, tidak semua cara yang dipaparkan di sini merupakan cara – cara yang negatif. Banyak cara – cara lain yang syah secara moral.
Penerjemahan buku ini saya rasa cukup bagus. Namun banyak kata dalam bahasa Inggris yang sulit dicari padanannya dalam bahasa Indonesia. Karena itu, jika menerjemahkan kata yang sedemikian ini, akan lebih baik juga ditulis kata dalam bahasa Inggrisnya dalam tanda kurung. Contoh untuk kata semacam ini adalah kata “Mengunggis”. Terus terang saja, saya baru mengenal kata ini. Jika saja penerjemah mencantumkan juga kata aslinya di dalam tanda kurung, kemungkinan akan ada orang yang mengusulkan penerjemahan yang lebih dikenal.
Terakhir, karena kita selalu berada dalam kondisi bernegosiasi di setiap tempat dan waktu, ada baiknya kita membaca buku ini. 


Informasi Buku:
Buku 16
Judul: You Can Negotiate Anything
Penulis: Herb Cohen
Penerjemah: Fahmy Yamani
Penyunting: Moh. Sidik Nugraha
Tebal: 388 halaman
Cetakan: I, Agustus2011

Kamis, 18 Agustus 2011

Untung Surapati


Sumbangsih Yudhi Herwibowo bagi kesusastraan Indonesia perlu kita apresiasi. Dia mengubah teks sejarah yang jarang bisa dinikmati khalayak umum, menjadi sebuah novel yang menarik. Dan yang sudah saya baca, diantara novel sejarahnya yang lain, adalah Untung Surapati ini.
Untung Surapati adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang saya ragu kalau siswa – siwa kita tahu tentang dia. Saat saya kecil dulu, kisah Untung Surapati dan Kapten Tack dibuat umbul (kertas kecil – kecil bergambar yang dimainkan dengan cara melemparkannya ke udara). Jadi, meskipun hanya sedikit, kita mengenal Untung Surapati ini. Namun, sekarang siapa yang mau memainkan umbul?
Saya tidak tahu apakah Untung Surapati tercantum dalam buku teks IPS saat ini. Akan tetapi, meskipun tercantum, buku teks tetaplah buku teks – sangat sedikit menarik perhatian kita. Oleh karena itu, jerih payah Yudhi Herwibowo dalam meramu teks sejarah menjadi sebuah novel sejarah yang istimewa ini sangat perlu kita hargai.
Untung Surapati, awalnya adalah seorang budak dari Mijnheer Moor. Badannya yang kecil dan kurus membuat teman – teman budak yang lain memanggilnya dengan sebutan “kurus”. Dan ia, sampai beberapa saat, memang dipanggil dengan sebutan itu. Namun, Mijnheer Moor merasa selalu mendapatkan keuntungan setelah si Kurus ikut dengannya. Karena itulah Moor mengubah nama Kurus itu menjadi Untung. Sejak itulah nama Untung melekat pada dirinya.
Karena kesetiaannya kepada keluarga Moor, Untung mendapatkan perlakuan istimewa. Saban hari Untung bermain dengan anak Mijnheer Moor yang bernama Suzanne. Dan selama ia masih bermain dengan Suzanne, ia dibebaskan dari tugas – tugas yang lain. Suzanne senang sekali dengan kupu – kupu sehingga ia selalu mengajak Untung untuk menangkapnya. Tidak ada yang menduga bahwa kebiasaan Suzanne dan Untung saat masih kanak – kanak ini akan tetap mewarnai sejarah kehidupan Untung Surapati hingga ia menjadi dewasa.
Dalam sebuah kesempatan, Untung melihat sesosok manusia yang berlari di atas air. Ia menjadi begitu kagum dengan orang ini. Karena kekaguman yang luar biasa itulah ia berani mencegat orang yang bisa berlari di atas air ini di ujung sungai. Orang sakti ini adalah Ki Tembang Jara Driya. Orang yang berambut putih meskipun masih muda ini kemudian menjadi guru bela diri Untung Surapati. Ki Tembang pulalah yang pertama kali mengenalkan Untung dengan kondisi bangsanya yang sedemikian sengsara.
Menurut saya, Suzanne dan Ki Tembang adalah dua orang yang membuat Untung menjadi pejuang bagi bangsanya. Jika tidak ada Suzanne, mustahil Untung melakukan pemberontakan. Dan jika tidak ada Ki Tembang, Untung tidak akan mampu melakukan perlawanan. Keadaan semacam ini bukanlah keadaan biasa yang bisa terjadi pada setiap orang. Oleh karena itu, kesimpulan saya, Untung sedari awal memang telah dipersiapkan (baca: ditakdirkan) untuk menjadi seorang pahlawan. Karena dua orang ini, Untung menjadi orang yang terkenal. Bagi pribumi ia pahlawan dan bagi VOC, ia adalah duri dalam daging yang seharusnya segera dibinasakan.
Novel Untung Surapati ini ditulis dengan gaya tutur yang mengalir lancar. Membaca novel ini, bagi saya layaknya menonton wayang wong – akhir cerita sudah sedemikian terang benderang. Namun, penulis mampu membangkitkan keingintahuan pembaca sedari awal. Pada bagian prolog, penulis menuturkan cerita penangkapan Untung Surapati. Awalnya Untung telah diumumkan mati dan dikubur di dua tempat yang berbeda. Namun terdengar desas – desus bahwa Untung sebenarnya masih hidup. Karena itu kompeni mengutus Majoor Goovert Knole untuk membasmi pemberontak dan pengikutnya ini. Dalam peperangan kecil, akhirnya Knole berhasil mengalahkan pasukan Untung. Setelah kekalahan itulah Knole berusaha memastikan bahwa Untung telah tewas dengan membuka tandu yang diyakini dipakai untuk mengangkut Untung. Yudhi menuliskannya dengan bahasa yang membangkitkan minat ingin tahu:
Tangannya kemudian segera menyibak kain yang menutup tandu itu. Dan, detik itu juga, ia terbelalak!
Sayangnya, di beberapa bagian terdapat hal yang menurut saya menjadi kekurangan dari novel ini:
Pertama, penulis terlalu berpanjang lebar dengan fakta – fakta sejarah. Di awal – awal buku ini penulis bahkan menuliskan kalimat berikut: VOC merupakan singkatan dari..........  Menurut saya, apalagi ditulis di awal novel, fakta – fakta seperti ini kembali menurunkan minat pembaca untuk membaca lebih lanjut setelah tersulut minatnya dengan membaca prolog.
Kedua, ketimbang menjlentrehkan fakta sejarah dengan panjang lebar, menurut saya akan lebih baik bagi penulis untuk mengeksplorasi kondisi batin tokoh – tokohnya. Bagaimana perasaan Suzanne ketika Untung melarikan diri, bagaimana saat – saat terakhir Suzanne menemui ajal, dan bagaimana kesedihan Untung saat mendengar berita kematian kekasihnya saya rasa kurang dikembangkan.
Ketiga, ketidak konsistenan penulis dalam menggunakan istilah “Kakak” dan “Kakang”. Kedua kata ini bermakna sama. Namun mengapa Untung memanggil Pande dengan sebutan “kakak”, Suzanne juga memanggil Untung dengan sebutan “Kakak”, sedangkan Raden Ayu Goesik memanggil Untung dengan sebutan “Kakang”?
Itu kelemahan novel ini menurut saya. Akan tetapi, kelemahan ini tidak perlu mengurangi niat kita untuk mengapresiasi jerih payah Yudhi Herwibowo dalam mengangkat kisah sejarah, yang bisa jadi tidak diminati banyak orang, menjadi sebuah cerita yang apik.


Informasi Buku:
Buku 15
Judul: Untung Surapati
Penulis: Yudhi Herwibowo
Penerbit: Metamind
Tebal:  660 halaman
Cetakan:  Februari 2011

Minggu, 14 Agustus 2011

Memperbaiki Nasib

Kabarnya, John Lennon, Agatha Christie, Winston Churchill, Tom Cruise dan Leonardo da Vinci adalah orang – orang yang memiliki cacat mental. Kalau kemudian mereka menjadi orang – orang besar di bidangnya masing – masing, tentu jalan yang mereka tempuh sedemikian panjang. Namun, bukankah orang yang memiliki cacat mental ataupun normal – normal saja tetap harus meniti jalan yang panjang untuk mencapai kesuksesan? Bukankah itu merupakan harga yang harus dibayar?
Tentu saja begitu. Yang jadi persoalan adalah, mengapa ada orang yang secara mental baik-baik saja, tidak mampu mencapai keberhasilan sebagaimana orang – orang yang saya sebut di atas? Tentu faktor – faktor seperti koneksi dan nasib baik juga memiliki pengaruh. Akan tetapi, kebanyakan orang – orang yang memiliki kemampuan di atas rata – rata pun tidak menjadi apa – apa karena mereka tidak memiliki sikap yang mendorong mereka ke keberhasilan.
Buku Memperbaiki Nasib yang dikarang oleh Dr. Ibrahim Elfiky ini berbicara mengenai sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang agar selalu memperoleh keberhasilan sepanjang hidupnya. Tunggu dulu, bukankah keberhasilan ditentukan oleh kecerdasan? Einstein menjadi besar karena kecerdasannya yang luar biasa. Tidak selalu. Christopher Langan memiliki IQ 195 sedangkan Einstein “hanya” 150. Apakah anda pernah mendengar nama Christopher Langan? Tidak? Tentu saja, Langan memang cerdas, tapi ia “bukan siapa – siapa”.
Jika Ibrahim Elfiky pernah membaca sebuah iklan bimbingan belajar yang berbunyi: BAHASA INGGRIS + MATEMATIKA = SUKSES, tentu ia akan tersenyum. Ya, kecerdasan ataupun bakat yang cemerlang bukan penentu utama keberhasilan. Saat SMA, saya benar – benar menyukai grup band Nirvana. Musik mereka menghentak dan lirik – lirik lagu mereka memiliki makna ganda. Di balik musik dan lirik yang brilian itu, terdapat seorang yang tampan dan cool, Kurt Cobain. Tentu saja saya sangat kecewa ketika mendengar berita tentang kematian Kurt, di saat popularitasnya sedang berada di puncak. Namun saat mengetahui bahwa Kurt mati karena bunuh diri, saya mencoba mencari tahu mengapa dan betapa terkejutnya saya ketika mengetahui bahwa salah satu penyebab bunuh diri itu adalah karena istrinya yang terlalu dominan sehingga membuat ia begitu tertekan. Nah, bukankah bakat cemerlang pun bukan jaminan keberhasilan?
Orang memang perlu cerdas dan berbakat, mereka perlu jaringan, kesempatan dan nasib baik untuk berhasil. Tapi jika tidak dibarengi dengan sikap yang baik, keberhasilan jadi begitu sulit untuk diraih. Sayangnya, seringkali sikap dan perilaku kita sudah demikian permanen. Menurut Elfiky, ada lima hal yang mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang. Yang pertama adalah orang tua. Masuk akal, karena orang tua adalah orang – orang pertama yang bergaul dengan kita. Orang tua kita, meski dengan maksud yang baik, terkadang berbuat kesalahan sehingga membentuk sikap kita hingga kita dewasa. Padahal, di usia tujuh tahun, 90% nilai pendidikan yang diajarkan oleh orang tua akan tertanam di pikiran seorang anak.
Kedua adalah sekolah. Anda tentu masih ingat guru yang membuat anda jengkel sekali. Sekali anda tidak menyukai gurunya, apakah anda akan menyukai pelajaran yang diampunya? Yang ketiga adalah sahabat. Apakah anda perokok? Jika ya, saya sangat yakin bahwa jika bukan orang tua anda, pasti kawan – kawan anda yang mempengaruhi anda untuk merokok.
Yang keempat adalah informasi. Seorang tokoh di sinetron Anak Menteng – ini sinetron saat saya masih SMA, selalu mengemut permen lolipop. Esok harinya di sekolah, teman – teman saya banyak yang mengemut lolipop. Dan yang kelima adalah diri sendiri.
Elfiky, dalam buku ini, tidak membahas empat hal yang pertama. Ia banyak berbicara mengenai faktor yang kelima itu. Intinya, sebenarnya kitalah yang seharusnya bertanggung jawab atas apapun yang terjadi pada kita. Kita tidak perlu mencari – cari alasan atas apapun yang menimpa kita. Dalam buku setebal 190 halaman inilah Elfiky memberitahukan cara – cara agar kita bisa menjadi pribadi yang memiliki sikap terbaik, yang akan menghantarkan kita ke kesuksesan.
Jika anda sudah terbiasa membaca buku – buku pengembangan diri yang tebal – tebal seperti buku yang ditulis oleh Stephen Covey atau Dale Carnegie, membaca buku Elfiky ini seolah menyesap setetes air dari samudra yang luas. Namun, jika anda memerlukan buku yang bisa anda buka setiap saat anda memerlukan nasihat, tanpa perlu membaca penjelasan yang bertele – tele, buku ini untuk anda.
Terakhir, saya rasa buku ini terwakilkan tagline sebuah iklan es krim: Sedap Sekali Hap!.



Informasi Buku:
Buku 14
Judul: Memperbaiki Nasib, Terapi Mengendalikan Diri Agar Hidup Terus Lebih Baik
Penulis: Dr. Ibrahim Elfiky
Penerjemah: Nur Hizbullah
Penerbit: Zaman
Tebal:  190 halaman
Cetakan:  2011

Rabu, 03 Agustus 2011

Cinta Tak Pernah Mati

Cerita dalam buku ini ditulis oleh penulis – penulis tenar sepanjang masa. Karenanya saya sangat ingin segera membacanya. Sebutlah nama Edgar Allan Poe, Anton Chekov, Leo Tolstoy, Fyodor Dostoyevsky, Rabindranath Tagore dan Mark Twain, dan anda akan tercengang karena mulai dari sastrawan hingga pembaca buku biasa kenal dengan mereka. Tapi bukan hanya karena sastrawan – sastrawan dunia itu yang membuat saya ingin sesegera mungkin membacanya, melainkan karena mereka mengusung tema yang paling sering dibicarakan; cinta.
Fyodor sering menulis bertemakan sosial, Leo Tolstoy adalah pengarang moral yang besar, dan Mark Twain terkenal karena buku anak – anaknya. Saya memiliki rasa ingin tahu yang besar bagaimana jika mereka menulis tentang cinta? Bagaimana mereka menuturkan cinta? Apakah selalu tentang wanita yang merana karena ditinggal  menikah kekasihnya atau tentang pria yang bunuh diri karena ditolak cintanya?
Sedari awal saya sangat yakin bahwa penulis - penulis besar itu tidak akan memandang sama suatu perkara. Dan saya benar. Karya – karya mereka di buku ini benar – benar membuat saya terperangah. Memang kebanyakan dari mereka menulis tentang kejadian sehari – hari. Tapi memang mereka patut diakui sebagai sastrawan besar yang pernah dimiliki dunia. Kejadian sehari – hari yang mereka angkat menjadi begitu enak dinikmati.
Karya Mark Twain di buku ini berjudul Keberuntungan. Keberuntungan berkisah tentang Letnan Jendral Lord Arthur Scoresby. Scoresby, tutur Twain, adalah seorang pahlawan yang dielu – elukan oleh rakyat Inggris. Tapi siapa sangka jika seorang pahlawan yang sedemikian dikagumi oleh rakyat Inggris ini sebenarnya adalah seorang yang idiot? Bagaimana bisa seorang idiot menjadi pahlawan perang yang dikagumi? Apakah karena keberuntungan sebagaimana judul cerpen ini? Ternyata bukan semata – mata karena keberuntungan.
Kebahagiaan oleh Leo Tolstoy tak kalah memikat. Ini berkisah tentang seorang petani bernama Ilyas. Petani tekun ini menjadi kaya raya karena kerja kerasnya. Dan kekayaannya membuat ia menjadi terkenal. Tidak seorangpun yang tak mendengar namanya disebut dan kekayaannya dibicarakan. Namun, suatu kali terjadi wabah yang membuat hewan ternaknya banyak yang mati dan dirinya menjadi sakit – sakitan. Berlakulah giliran kehidupan pada dirinya. Ia jatuh miskin dan harus bekerja pada orang lain agar dapat makan. Kalau hal ini terjadi pada kebanyakan orang, mungkin mereka akan bersedih, sakit – sakitan dan kemudian mati. Tapi tidak pada Ilyas. Setelah jatuh miskin, ia malah hidup berbahagia. Mengapa? Lanjutkanlah penuturan Tolstoy di buku ini.
Rabindranath Tagore mengisahkan Kesetiaan dengan gayanya sendiri. Di Kesetiaan, Paresh dikisahkan sebagai seorang suami yang sangat mencintai istrinya, Gouri. Begitu cintanya ia pada istrinya hingga ia menjadi begitu cemburu dengan istrinya itu. Ia memerintahkan pembantunya untuk memata – matai sang istri. Kecemburuan sang suami dianggap Gouri sebagai ketidak percayaan sang suami terhadap dirinya. Dan hal ini membuat dirinya tidak bahagia. Ketidakbahagiaan ini membuat Gouri mencari seorang guru spiritual. Namun sayang pergaulannya dengan sang guru membuat dirinya jatuh cinta padanya. Sang guru ini pun mencintainya. Celakanya, hubungan gelap mereka diketahui oleh Paresh yang hal ini membuatnya syok hingga menemui ajal. Jika memang Gouri mencintai sang guru dan begitu juga sebaliknya, tentu kematian Paresh akan memuluskan jalan mereka. Tapi Rabindranath Tagore memiliki jalannya sendiri. Di akhir cerita, Gouri tidak menikah dengan sang guru. Lalu?
Cerita menakjubkan berikutnya adalah milik O. Henry yang berjudul Tamu Pernikahan. Berkisah tentang Andy Donovan yang jatuh cinta pada Nona Conway. Nona Conway yang cantik ini ternyata adalah seorang gadis yang sedang patah hati. Tunangannya mati. Karenanya ia selalu memakai baju berwarna hitam dan terus menerus bermuram durja. Donovan yang jatuh cinta kepada Conway mencoba untuk memilikinya. Pucuk dicinta ulam tiba. Ternyata Conway menerima cinta Donovan. Mereka pun akan segera menikah. Sebelum pernikahan itulah Donovan bertanya kepada Conway apakah dirinya akan mencintainya sebagaimana ia mencintai kekasihnya yang telah tiada? Dan jawaban Conway begitu sangat mengejutkan.
Buku kumpulan cerita pendek ini mengingatkan saya kepada sebuah buku cerita pendek lainnya karangan Idrus; Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma. Apakah kedua buku itu sama? Tidak tentu saja. Tetapi kedua buku itu sama – sama membuat saya terpesona. Saya baru mencuplik empat cerita. Masih ada tiga belas cerita lainnya. Semuanya memikat dan penuh kejutan. Jadi kalau ditanya apakah yang kurang dari buku ini? Saya jawab tidak ada. Buku ini adalah karya pilihan dari tujuhbelas sastrawan dunia. Bagaimana bisa saya menilai kekurangannya?


Informasi Buku:
Buku 13
Judul: Cinta  Tak Pernah Mati
Penulis: 17 Sastrawan Terbaik Dunia
Penerjemah: Atta Verin & Anton Kurnia
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Tebal:  232 halaman
Cetakan: Juni 2011