Pages

Jumat, 11 November 2011

Luka dan Api Kehidupan

Anda pernah main Super Mario Bros? Pernahkah anda bayangkan jika tiba – tiba anda masuk ke dimensi game popular itu, dan setiap kali anda berhasil melakukan sesuatu anda mendapatkan tambahan “kehidupan”? Di buku karya Salman Rushdie ini anda akan menemukan yang seperti itu.
Buku ini berkisah tentang Luka, seorang anak dari seorang pendongeng yang terkenal. Rashid Khalifa. Luka ini memiliki dua peliharaan yang tidak biasa. Pertama, adalah seekor beruang dan satunya adalah anjing – eh kalo yang ini biasa ya. Nama kedua binatang itu lebih tidak biasa lagi. Si beruang diberi nama anjing, dan si anjing diberi nama beruang.
Cara mendapatkan dua piaraan ini pun tidak biasa.
Suatu kali sebuah sirkus datang ke kota. Luka yang melihat betapa kejamnya pelatih binatang dalam melatih binatang – binatang itu agar dapat tampil maksimal di sirkus menjadi begitu berang dan menyumpah: “Semoga semua binatangmu berhenti mematuhi perintahmu dan cincin apimu melalap habis tenda jelekmu.” Sangat aneh, tiba – tiba saja semua binatang berhenti mematuhi si pawang  ketika sirkus berlangsung dan di malam harinya tenda – tenda sirkus itu benar – benar terbakar habis. Anjing si beruang dan beruang si anjing, dua binatang dari beberapa binatang sirkus itu menghampiri rumah Luka dan menjadi sahabatnya.
Luka digambarkan sebagai anak yang suka sekali main video game. Mengenai kesukaan anak bungsunya ini, si ayah, Rashid Khalifa dan ibunya, Soraya berbeda pendapat. Rashid beranggapan bahwa video game dapat melatih ketangkasan dan ketrampilan Luka sedangkan ibunya yang lebih rasional menganggap bahwa permainan itu tidak akan bermanfaat bagi Luka. Ketika berdebat dengan Rashid, Soraya berkata:
“Ini bukan ketrampilan yang berguna. Dalam dunia nyata tidak ada level – level, hanya ada kesulitan. Jika dia membuat kesalahan ceroboh dalam permainan itu, dia mendapat kesempatan lain. Jika dia membuat kesalahan ceroboh dalam ujian kimia, dia mendapat nilai minus. Hidup ini lebih keras daripada video game. Inilah yang perlu dia ketahui, dan begitu juga kamu.” (halaman 26).
Dalam hal ini, saya sependapat dengan ibunya Luka. Namun dalam cerita ini, ketangkasan Luka dalam bermain game benar – benar membantunya ketika ia berada di dimensi game. Eh, tapi bagaimana ceritanya hingga Luka bisa masuk ke “alam” game? Begini ceritanya. Suatu kali, Rashid Khalifa merasakan berat pada kakinya. Merambat ke tangannya lalu tubuhnya dan akhirnya ia jatuh tertidur yang tidak bisa dibangunkan. Belakangan Luka tahu bahwa yang menyebabkan demikian adalah pemilik sirkus yang ingin menuntut balas sumpah serapah Luka yang telah menghancurkan karir sirkusnya. Luka ingin menyelamatkan ayahnya dengan masuk ke dunia magis untuk mencuri api kehidupan demi menyelamatkan ayahnya.
Membaca buku Rusdhie ini saya teringat dengan buku Alice and Wonderland. Luka dan Alice sama – sama masuk ke dimensi lain dan bertemu dengan tokoh – tokoh bernama aneh. Coba eja nama berikut: Nobodaddy, Jaldibadal, El Tiempo dan Insultana Ott. Aneh bukan?
Buku ini ditulis dengan kecerdasan imajinasi yang bagus menurut saya. Namun, sangat berat untuk melepas prasangka pada penulis yang pernah mendapatkan ancaman hukuman mati karena menulis novel yang berjudul The Satanic Verses ini. Coba renungkan kalimat yang ada di halaman 20 ini:
“Informasi penting tata letak Negeri Dongeng ini – dan, bahkan, keberadaannya sendiri – telah tersembunyi selama ribuan tahun, dijaga oleh kaum misterius, perusak kesenangan berjubah, yang menyebut diri mereka Aalim, atau Yang Serba Tahu.”
Dengan mencermati kalimat yang tercetak tebal (cetakan tebal dari saya sendiri) kita yang sudah tahu masa lalu Salman Rusdhie pasti merasakan betapa masih dalamnya kebencian Rusdhie terhadap Ulama yang dulu pernah menjatuhkan fatwa hukuman mati kepada sang pengarang.
Terlepas dari latar belakang Salman Rusdhie yang controversial, pesan yang ingin disampaikan dalam kisah Luka ini begitu penting. Kita seringkali ditentukan oleh lingkungan yang membentuk kita. Begitu kuatnya dominasi lingkungan di sekitar kita membuat kita “mengekor” apapun yang menjadi kebiasaan atau yang menjadi keyakinan dari lingkungan kita itu. Rusdhie dengan kisah Lukanya ingin menyampaikan bahwa sebaik apapun nampaknya “jalan” yang dipilih oleh kebanyakan orang, akan lebih baik jika kita memilih “jalan” kita sendiri, jalan sepi yang kemungkinan dihindari oleh banyak orang lain (The Road Not Taken, Robert Frost)
Pesan inilah yang membuat buku ini sangat layak untuk kita baca.


Informasi Buku:
Buku 22
Judul: Luka dan Api Kehidupan
Penulis: Salman Rusdhie
Penerjemah:Yuliani Liputo
Penerbit: Serambi
Tebal: 
300 halaman
Cetakan: 
I, September 2011

Minggu, 06 November 2011

Surgabukuku Birthday Giveaway

Ketika Melmarian bertanya: BagaimanaSurga Buku menurut versimu? Aku teringat dengan masa ketika aku masih di  “Dunia Buku”. Ya, sebelum aku berada di Surga Bukuku, aku tinggal di Dunia Bukuku untuk beberapa lama.
Di Dunia Bukuku, aku sudah akrab dengan huruf – huruf. Aku sudah akrab dengan kata, kalimat, lalu teks. Aku sudah karib dengan berlembar – lembar kalimat. Namun aku harus menahan diri untuk tidak terlalu berharap memiliki jilidan – jilidan kertas yang mengikat kalimat.
Kawan sepermainanku berlangganan Bobo yang datang tiap hari kamis. Lalu ia berbaik hati meminjamiku majalah keluarga kelinci itu di hari Rabu minggu depannya. Begitu seterusnya. Aku memang berkesempatan untuk menikmati teks – teks yang mengembangkan imajinasiku tapi tetap saja rasa untuk memiliki tidak bisa aku singkirkan.
Aku ingin membaca, aku ingin memajangnya dan aku ingin kembali membacanya setiap kali aku rindu. Namun, ketika kuutarakan keinginanku itu kepada Bapakku, beliau menjawab: “Tentu saja bapak ingin agar engkau juga memiliki majalah itu, namun,  tak tersisa lagi uang untuk membelinya.” Aku mengerti.
Suatu hari, temanku yang baik hati itu membuka sebuah halaman dari majalahnya lalu ditunjukkannya kepadaku. Oh, halaman itu berisi sebuah iklan tentang sudah terbitnya buku detektif anak – anak berjudul Memburu Kereta Api Hantu. Lima Sekawan yang tenar karena selalu diperbincangkan kawan – kawanku di jam – jam istirahat sekolah.
Selang beberapa waktu lamanya, temanku menunjukkan sebuah buku tebal dengan sampul hitam. Inilah buku Lima Sekawan itu. Betapa memikat sekali kelihatannya. Aku berniat untuk meminjamnya dan menghabiskan waktu hanya berdua dengannya. Namun kawanku yang baik berkata: “Aku tidak bermaksud untuk menjadi kawan yang bakhil bagimu. Namun buku ini masihlah baru. Ia selayak kekasih bagiku. Buku ini begitu tebal. Karenanyalah ia begitu mahal. Dan tentu tak perlu aku menjelaskan kepadamu bahwa ia kubeli dari tempat yang jauh”. Engkau memang bisa mendapatkan Bobo di kota kecilku. Namun untuk membeli buku – buku bagus engkau harus bepergian ke Jogja atau Solo.
Aku kecewa sekali mendengarnya. Namun tentu hak kawanku untuk tidak meminjamkan bukunya. Aku tidak selayaknya marah karena selama ini ia telah berbaik hati meminjamiku majalah. Seluruh buku di perpustakaan sekolah sudah semua aku baca. Tak tersisa satupun juga. Tom Sawyer, Winnetou, juga si Doel yang anak Betawi. Tapi Lima Sekawan berbeda. Mereka istimewa. Maka aku pun masygul karena tak berkesempatan membacanya.
Tentu saja temanku bercerita kisah Memburu Kereta Api Hantu. Tapi, pasti berbeda mendengarkan pengalaman orang lain dengan mengalaminya. Karena itu, alih – alih memuaskan rasa ingin tahuku, cerita temanku malah semakin membuatku bermuram durja.
Untunglah aku segera tersadar. Bermuram durja tidaklah bijaksana. Tentu lebih baik aku tekun berusaha agar suatu saat kelak aku juga mendapatkan buku – buku serupa. Aduhai, jika aku kembali teringat jam – jam panjang dimana aku berjuang. Waktu – waktu yang sunyi dimana aku berdoa. Semoga kelak aku bisa berada di Surga Bukuku sendiri. Memajang rak – rakku yang tinggi.
Oh, kiranya Tuhan kasihan padaku. Dia benar – benar memberiku Surga Buku. Hohohoho buku – buku setebal bantal menghias rak buku yang megah. Dan selepas penat bekerja, aku akan duduk di depan deretan buku – buku itu. Dengan teduh memandangi sebagaimana pecinta ikan memandangi koi. Koi – koi itu mengusir penat yang terkumpul seharian, kata pecinta Koi. Hhmm, deretan bukuku lebih berwarna – warni. Mereka mampu mengusir tumpukan penat semalam dan sehari ini.
Anehnya, lama – lama aku gundah kembali. Aku sudah di Surga Buku. Mengapa aku gundah? Gundah adalah kata sifat yang muncul di Dunia Buku. Bukan di Surga Buku. Tentu ada yang salah. Mengapa? Berpuluh – puluh Kata Mengapa membawaku kepada perenungan. Hingga suatu malam aku mendapatkan jawaban. Aku gundah karena ingin menikmati Surga Bukuku sendirian. Aku bakhil karena temanku menikmati bukunya untuk dirinya sendiri. Wahai, betapa bodohnya aku. Karena itu aku sesegera memanggil teman – temanku hadir. Inilah Surga Bukuku. Ambillah satu, dua atau sepuluh. Jangan kau pikirkan jika halaman – halamannya “Dog-eared”. Janganlah kau gundah bila salah satu dari mereka hilang karena engkau lupa menaruhnya dimana.
Yah,mereka berkumpul bersamaku. Berbincang dengan santai mengenai suatu kisah. Mendiskusikannya dan saling memberi saran. Mencela sesekali dan memuji sesekali. Dan aku mendapatkan kebahagiaanku kembali. Kawan – kawan, Surga Bukuku tidak kunikmati sendiri. Membaginya membuat Surga Bukuku menjadi lebih memiliki arti.


Cerpen ini aku tulis untuk ikut memperingati blog Melmarian (http://surgabukuku.wordpress.com) yang sudah genap setahun. Aku berharap tulisan ini menjadi perantara bagiku untuk mendapatkan buku Dunia Sophie-nya Jostein Gaarder.

Jumat, 04 November 2011

The Boy Sherlock Holmes, Eye of the Crow

Sir Arthur Conan Doyle memang luar biasa. Setelah menginspirasi Aoyama Gosho dalam menciptakan tokoh detektif cilik, Conan. Kini ia menginspirasi Shane Peacock dalam menulis buku ini.
Sherlock Holmes terkenal karena kepiawaiannya dalam memecahkan berbagai kasus. Kisahnya dibaca di berbagai belahan dunia dan ia terus mendapatkan penggemar baru hingga saat ini. Holmes beserta topinya yang legendaris itu telah menjadi ikon kisah – kisah detektif. Saya, dengan sangat ekstrim meyakini bahwa tidak ada satupun kisah detektif setelah Holmes yang tidak terpengaruh olehnya.
Namun, Peacock menulis bahwa di sisi lain dari otak Holmes yang brilian itu tersimpan kekelaman. Dalam buku ini Holmes kecil digambarkan sebagai anak yang memiliki kehidupan masa kecil yang tragis. Ayahnya memang seorang jenius dan seorang calon profesor. Sedang ibunya adalah seorang wanita ningrat yang memiliki darah seni yang kental. Sayangnya, hubungan cinta antara ayah Holmes dan ibunya ini tidak direstui oleh orang tua Rose Sherrinford-ibu Holmes-karena Wilber Holmes-ayah Sherlock-adalah seorang Yahudi. Kenekatan mereka dalam mempertahankan cinta membuat Rose tidak lagi diakui sebagai anggota keluarga Sherrinford dan Wilbur gagal menjadi profesor. Sherlock Holmes adalah buah cinta mereka yang lahir dalam kehidupan yang miskin.  Saya rasa, Peacock sengaja membuat kelam masa lalu Holmes karena Holmes-di masa tuanya adalah seorang pecandu. Kebiasaan buruk yang mungkin dilakukannya untuk menghilangkan memori masa kanak – kanaknya yang gelap.
Kasus pertama Holmes dalam buku ini adalah terbunuhnya seorang aktris secara misterius. Namun sebelum pembunuh sebenarnya terungkap, polisi sudah terlanjur percaya bahwa pembunuh aktris itu adalah seorang Arab yang bernama Mohammad. Polisi sedemikian yakin bahwa si pembunuh adalah Mohammad karena dari TKP terdapat jejak kaki bernoda darah yang ketika ditelusur sampailah kepada tempat tinggal Mohammad. Sebuah pisau berlumuran darah yang terdapat dalam kamar Mohammad pun menjadi penguat. Namun, Holmes sangsi.
Holmes lalu menyelidik. Mata jelinya menangkap bahwa di TKP terdapat beberapa burung gagak. Ayah Holmes, Wilbur adalah seorang ilmuwan yang menekuni perilaku burung. Menurut Wilbur, burung gagak adalah burung yang suka dengan segala sesuatu yang berkilau. Karena gagak – gagak itu terus berkeliaran di TKP, Holmes pun meneliti TKP dengan seksama. Berkat kejeliannya dalam mengamati perilaku gagak itulah ia menemukan sebuah bola mata palsu yang mengantarkannya pada sang pembunuh.
Peacock menulis petualangan pertama Holmes ini dengan sangat memikat. Setiap akhir bab membuat saya ingin meneruskan ke bab berikutnya. Sepertinya penulis memang sengaja menjaga rasa penasaran pembaca hingga ke halaman terakhir. Namun begitu, ada satu hal yang membuat saya berpikir bahwa itulah kekurangan dari buku ini. Sherlock Holmes ditahan karena dicurigai berperan dalam pembunuhan. Di dalam tahanan itulah ia dibantu oleh seorang yang baru saja dikenalnya untuk melarikan diri. Bagaimana ia bisa melarikan diri? Sang teman menjatuhkan kunci selnya ke dalam pasta sarapan Holmes agar membentuk pola kunci sehingga Holmes dapat membuat duplikat kunci itu dari pasta yang mengering. Saya rasa kisah – kisah Holmes selalu rasional. Nah, menurut anda, apakah mungkin membuat sebuah kunci tiruan dari pasta yang mengering? Apalagi kunci tiruan itu juga sukses membuka pintu sel.
Yang mungkin saja disengaja oleh Shane Peacock adalah latar belakang Sherlock Holmes yang setengah Yahudi – ia sering di-bully karena latar belakang ini, menolong seorang muslim yang dituduh telah melakukan pembunuhan. Kepedulian seorang Yahudi kepada seorang muslim terdengar begitu “aneh” di telinga saya karena apa yang terjadi di   Palestina. Apakah Peacock ingin menyampaikan pesan perdamaian melalui kisah ini? Atau ia hanya ingin menonjolkan sisi kecerdasan dan petualangan Sherlock Holmes yang murni?
Dalam buku ini, Peacock juga menyisipkan tokoh yang ada dalam kisah Holmes ketika dewasa yaitu Inspektur Lestrade. Sir Arthur Conan Doyle pun muncul sebagai Andrew C. Doyle, anggota perkumpulan kunjungan sesama. Doyle digambarkan memiliki seorang anak perempuan yang bernama Irene, ia memiliki peran yang sangat penting dalam membantu Holmes memecahkan misteri pembunuhan ini.
Terakhir, ada sebuah kisah kelam di akhir – akhir halaman yang menurut saya merupakan pendorong Holmes dalam memilih jalan hidupnya – memecahkan berbagai kasus yang segera akan ditemuinya di masa mendatang hingga dewasanya. Suatu hal yang tragis yang bisa jadi membuat Holmes terjebak dalam penggunaan obat terlarang ketika dewasa karena merasa bersalah berkepanjangan.
Peacock menggambarkan Holmes sebagai pribadi yang jenius sekaligus memiliki luka dalam kepribadiannya. Satu hal yang tidak akan anda temui di kisah Sherlock Holmes ketika ia sudah dewasa.


Informasi Buku:
Buku 21
Judul:
The Boy Sherlock Holmes, Eye of the Crow
Penulis: Shane Peacock
Penerbit: Qanita
Tebal: 
351 halaman
Cetakan: 
I, Oktober 2011