Pages

Jumat, 28 Desember 2012

The Hunter


Seorang lelaki yang berumur sekitar tiga puluhan tahun memasuki sebuah restoran 24 jam di tengah malam. Ia memesan makanan dan menunggu ketika tiba – tiba api membakar dirinya hingga tewas. Api juga membakar restoran dan lantai di atasnya yang disewa untuk usaha lainnya.
Polisi segera menyelidiki tempat kejadian. Darimanakah sumber api? Kebakaran kebanyakan berasal dari dapur. Anehnya, kasus kebakaran ini berasal dari tempat duduk korban, begitu kesaksian para saksi mata. Akhirnya penelitian yang cermat menyimpulkan bahwa api berasal dari gesper ikat pinggang si korban(???). Bagaimana sebuah gesper ikat pinggang bisa menimbulkan api yang besar dan meluluhlantakkan sebuah restoran dan lantai di atasnya yang membuat kesuluruhan bangunan terancam diambrukkan karena api membuat struktur bangunan menjadi tidak aman lagi? Apakah ini kasus bunuh diri? Ataukah pembunuhan?
Tim detektif dibentuk untuk menyelidiki kasus ini. Detektif senior Takizawa dipasangkan dengan detektif wanita Takako Otomichi. Takako yang piawai mengendarai motor, ia adalah mantan polisi patroli sepeda motor, selalu dipandang sebelah mata oleh Takizawa karena ia seorang perempuan dan berusia muda. Tim ini kemudian mengorek masa lalu korban yang ternyata bernama Takuma Sugawara.
Ketika identitas Takuma mulai sedikit terkuak, tiba – tiba terjadi lagi pembunuhan. Korban yang bernama Kazuki Horikawa, 32 tahun, tewas dengan tenggorokan putus. Diduga karena diserang bintang buas. Polisi awalnya mengira tidak ada kaitan antara pembunuhan di restoran dengan pembunuhan Kazuki. Namun ketika Chieko Yoshii, 28 tahun, seorang ibu rumah tangga, juga mati diserang binatang buas ketika pulang berbelanja, penelitian polisi yang meluas menghasilkan kesimpulan yang sangat mengejutkan.
Berbeda dengan buku – buku detektif yang lain, yang mengungkap pelaku di di akhir kisah, Asa Nonami, penulis buku ini yang mendapatkan penghargaan Japanese Mystery and Suspense Award,  mengungkap pelaku pembunuhan secara tidak langsung di halaman 302. Namun terkuaknya pelaku tidak kemudian membuat pembaca berhenti melanjutkan hingga ke akhir halaman. Karena ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab seperti: Bagaimana gesper ikat pinggang bisa menimbulkan kebakaran besar? Mengapa korban pertama terbakar sedang korban – korban berikutnya (terdapat 4 korban ditambah satu korban lainnya) diserang binatang buas? Apakah ada kaitan diantara korban – korban itu? Lalu, apa motif di balik pembunuhan ini? Di akhir kisah, pembaca akan disuguhi adegan yang sangat menyayat hati.
Membaca buku ini seolah menonton sebuah dorama. Adegan satu dengan adegan lainnya muncul silih berganti. Namun anda tidak akan mendapatkan sosok sempurna di buku ini sebagaimana yang bisa anda temukan di seri Sherlock Holmes. Semua karakter muncul dengan sangat manusiawi. Bahkan menurut saya, karakter – karakter di The Hunter ini jauh lebih manusiawi dibandingkan Tokyo Zodiac Murder.
The Hunter memiliki sifat sebuah buku yang harus anda habiskan dalam sekali duduk.

Informasi Buku:
Buku 36
Judul: The Hunter
Penulis: Asa Nonami
Penerjemah: Julanda Tantani
Illustrator: Eduard Iwan Mangopang
Penerbit:  Gramedia
Tebal:  536 halaman
Cetakan:  Desember 2012

Selasa, 25 Desember 2012

Pemberi Rahasiaku, Terungkap!!

Hari Senin sore tanggal 17 Desember 2012, saya dapat telepon dari JNE samping rumah, "Mas, ada paketan untuk masnya. Diambil ke sini atau saya antar?". Tak sabaran saya menjawab: "Saya ambil saja mas." Samping rumah, 20 meteran saja, pikir saya. Meluncurlah saya ke sana. Saya pikir paketan kaos dari Oky Septya, ternyata, buntelannya tebal, dan kertasnya kuning berpola. SANTA, ada tulisan seperti itu di sampulnya. Yes!! ini buku dari si Pemberi Rahasiaku di acara Secret Santa yang digelar Blogger Buku Indonesia. Langsung ku bawa pulang dan kubongkar, jreng...... jreng.......jreng..............!!!:
Saat - saat membuka buntelan dari Si Pemberi Rahasia
Isinya tiga buku, guys!! Liburan yang indah. Di liburan ini, saya akan ditemani 3 buku dari si Pemberi Rahasia dan tiga buku yang saya beli sendiri, Kenyang!!!!. 
Kok ada yang kurang ya?, pikir saya. Oh ya!! kok gak ada riddle? Saya bongkar - bongkar kertang bungkus buntelannya. Tak ada. Saya bongkar segel bukunya. Cuma pembatas buku yang ada. Berarti si Pemberi Rahasia tidak menyertakan riddle, pikir saya. Saya hampir saja membuang bungkus dan plastik segel ke tempat sampah ketika saya menemukan ini di segel buku:
Ternyata ini riddlenya
Ini toh riddle-nya. Otak saya pun berputar - putar. "Apa - apaan ini?", pikir saya. Saya terpekur di depan tumpukan buku sambil memandangi riddle ini. "Ah biarlah jika saya tidak bisa memecahkannya. Toh ini tidak berkaitan dengan hajat hidup orang banyak." Pikir saya. Tapi guru saya; Sir Sherlock Holmes berbisik melalui media yang tidak saya ketahui. Katanya: "Untuk apa engkau belajar padaku selama ini?. Aku telah mengajarkan dasar - dasar kimia kepadamu, dan hanya untuk yang seperti ini saja kamu tak tahu? Aduhai, tak patut!!" 
Saya seperti tertampar. Lalu Blaakkk!!! Saya tahu!!, Eureka!!!. FDC No. 40. 5 - 14? Saya tahu!!, Eureka. Saya pun melompat keluar dari bak kamar mandi dan berlari - lari tanpa..................
Lupa memakai baju dan celana terlebih dahulu. "Eureka.....Eureka.....Eurekaaaaa!!!!"
Untuk melaporkan identitas Pemberi Rahasiaku, perlu waktu. Saatnya nanti, publik akan tahu. Dan, Sir Sherlock Holmes tidak akan pernah malu memiliki murid seperti diriku.

Rabu, 31 Oktober 2012

Just So Stories


Seingat saya, ketika kecil dulu, saya pernah membaca cerita – cerita seperti yang ditulis oleh Kipling ini. Mengapa Nyamuk Mendenging di Telinga? Judul sebuah cerita  yang saya baca. Karena si nyamuk mencari anting – antingnya yang dipinjam oleh si manusia. Lalu Mengapa Air Laut Terasa Asin?
Alkisah, jaman dahulu ada seorang yang memiliki lesung ajaib. Lesung kecil ini dapat mengabulkan apapun permintaan si pemilik dengan mengetukkan alu. Suatu saat, si pemilik lesung berperahu ke laut. Tak lupa lesung ajaib ini dibawa serta. Tiba saatnya makan, si pemilik lesung baru teringat jika ia lupa membawa garam. Maka ia pun memerintahkan lesung untuk menyediakan garam. Lesung pun mengetukkan alunya dan muncullah garam. Sayangnya, alu itu jatuh ke laut sebelum si pemilik memerintahkan lesung untuk berhenti menyediakan garam. Maka si lesung pun terus mengeluarkan garam hingga mengasinkan semua air laut.
Orang tua yang membaca kisah seperti ini, tentu akan merasa geli atau bahkan bosan. Tapi jika yang membaca adalah anak – anak, akan lain lagi. Kisah – kisah seperti ini akan membangkitkan imajinasi mereka. Dan imajinasi penting bagi kehidupan mereka di masa mendatang. Reader’s Digest menyebutkan lima keuntungan imajinasi bagi anak– anak. Dikatakan bahwa imajinasi akan mengembangkan ketrampilan sosial, membangun kepercayaan diri, meningkatkan pertumbuhan intelektual, mempraktekkan ketrampilan berbahasa dan mengatasi ketakutan.   
Kisah – kisah yang ditulis oleh Kipling dalam Just So Stories sangat mirip dengan kisah yang saya baca pada saat kecil. Karena buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1902, besar kemungkinan bahwa kisah – kisah yang saya baca itu terpengaruh oleh tulisan Kipling. Buku ini dibuka dengan kisah yang berjudul: Kenapa Paus tidak Bisa Memakan Manusia? Karena ada rakit di dalam tenggorokannya. Itu kata Kipling! Lalu bagaimana bisa rakit itu menyumpal tenggorokan Ikan Paus? Jawabannya ada dalam kisah pembuka ini.
Saya menghitung ada lima cerita yang diberi judul dengan pertanyaan seperti ini. Selain kisah si Paus, juga ada: Bagaimana Unta Mendapatkan Punuknya, Kenapa Kulit Badak Penuh Lipatan, Dari Mana Macan Mendapatkan Tutulnya, dan Bagaimana Alfabet Dirumuskan. Sedang tujuh cerita yang lain diberi judul biasa. Bukan dengan kalimat tanya.
Semuanya ditulis dengan khayalan tingkat tinggi. Namun yang menarik bagi saya adalah kisah yang bercerita tentang bagaimana alphabet ditemukan. Saya rasa puncak khayalan Kipling ada pada cerita ini sehingga ia harus memecahnya menjadi dua bagian cerita yang berdiri sendiri: Surat Bergambar dan Bagaimana Alfabet Dirumuskan. Dalam Surat Bergambar diceritakan bahwa Taffy dan ayahnya sedang menombak ikan ketika mata tombak yang digunakannya patah terantuk batu kali. Taffy yang cerdas namun tidak bisa menulis ini membuat gambar seri di kulit pohon sebagai pesan untuk ibunya. Seorang asing yang tidak bisa bahasa setempat dijadikan kurir untuk menyampaikan pesan ini kepada ibunya agar ibunya menitipkan mata panah yang utuh kepada si orang asing agar disampaikan kepada Taffy dan ayahnya sehingga mereka bisa melanjutkan berburu ikan. Namun, si ibu menafsirkan pesan gambar itu secara salah.
Karena peristiwa inilah, Taffy dan ayahnya merumuskan huruf – huruf alphabet. Awalnya, huruf – huruf ini dibuat untuk mewakili sebuah gerakan tertentu agar ibu Taffy terkesan karena hanya Taffy dan ayahnya saja yang tahu arti dari symbol – symbol yang mereka gunakan. Namun dalam perkembangannya mereka membuat symbol yang mewakili suatu kata tertentu.
Betapa tingginya imajinasi Kipling. Mulanya Taffy meminta ayahnya agar mengucapkan suatu suara yang akan digambarkan simbolnya oleh Taffy. Si ayah mengucapkan kata ”Ah”. Taffy menggambarkan suara yang dibuat sang ayah ini dengan kepala ikan yang sedang membuka mulutnya. Taffy menggambar seperti symbol ini: Ω. Lalu sang ayah menambahkan garis melintang yang disebutnya sebagai Sekat Perasa si ikan.
Lalu dengan cerdik, Kipling juga menciptakan bahasa suku yang dengannya ia mengeluarkan alphabet – alphabet yang lainnya. Dalam cerita Kipling menggambarkan bahwa makan dalam bahasa suku adalah SO. Taffy membuat symbol ular untuk (S) dan telur untuk (O). Tapi ada kata SHO  yang artinya jemuran. Maka Taffy menambahkan symbol H sebagai wakil tiang jemuran. Begitulah kisah ditemukannya 25 alfabet. Ups salah. Bukan 25 alfabet, tapi 23 saja. Kata Kipling huruf P dan Q hilang. Saya rasa ini bagian dari kecerdikan Kipling yang tidak bisa membayangkan symbol yang tepat untuk kedua huruf itu!.
Siapa Kipling? Ia adalah seorang penulis Inggris yang dilahirkan di India. Ia adalah seorang penulis hebat pada masanya sehingga George Orwell pun menjulukinya sebagai “Nabinya Imperialisme Inggris”. Pada tahun 1907, Kipling menerima hadiah Nobel. Kipling dianugerahi Nobel karena “..kuatnya pengamatan, keaslian imajinasi, ide yang berani dan bakat yang luar bisa dalam bercerita yang membuat karya – karyanya berkarakter.”
Yang mungkin belum diketahui adalah bahwa Kipling adalah anggota Freemasonry. Begitu terkesannya ia dengan keanggotaannya dalam Freemasonry sehingga ia menuliskannya dalam sebuah puisi yang berjudul  The Mother Lodge.




Informasi Buku:
Buku 35
Judul: Just So Stories, Sekedar Cerita
Penulis: Rudyard Kipling
Penerjemah: Maggie Tiojakin
Illustrator: Staven Andersen
Penerbit:  Gramedia
Tebal:  158 halaman
Cetakan:  Desember 2011

Jumat, 28 September 2012

The Tokyo Zodiac Murders


Setelah 40 tahun tidak ada yang sanggup memecahkan misteri pembunuhan berantai di Tokyo, akhirnya Kiyoshi Mitarai berhasil mengungkapnya.
Kasus pembunuhan yang dikenal dengan Pembunuhan Zodiak Tokyo itu memang sangat pelik. Awalnya, ditemukan sebuah catatan dari seorang seniman edan yang sangat terobsesi dengan wanita cantik, Heikichi Umezawa. Dalam catatan itu diketahui bahwa Umezawa berharap dapat menciptakan seorang wanita sempurna dari  potongan – potongan tubuh wanita. Berdasarkan pengetahuannya tentang zodiak, ia tahu bahwa kepala manusia yang sempurna adalah kepala orang yang memiliki zodiak Aries. Dada wanita yang sempurna adalah dada wanita yang berbintang Cancer. Untuk perut yang sempurna, wanita berbintang Virgolah yang memilikinya. Wanita berbintang Scorpio memiliki pinggul yang paling baik. Sedangkan untuk paha wanita yang sempurna didapat dari wanita berbintang Sagitarius. Dan untuk kaki yang sempurna, wanita Aquarius yang memilikinya.
Suatu kebetulan yang aneh jika ternyata wanita – wanita dengan bintang yang dibutuhkan untuk menciptakan wanita sempurna itu, ternyata berada di sekeliling Umezawa; anak – anaknya dan dua keponakannya. Meskipun mereka anak – anak dan keponakan sendiri, Umezawa telah berniat untuk membunuh mereka dengan racun lalu memutilasi tubuh mereka untuk digabungkan menjadi satu perempuan sempurna. Perempuan yang akan diberi nama Azoth (A to Z, kreasi tertinggi. Saya baru tahu dari novel ini makna nama dari mobil ATOZ).
Awalnya saya mengira bahwa pembunuhan oleh Umezawa inilah yang telah mempecundangi Polisi selama empat puluh tahun. Tapi saya salah. Ternyata, sebelum sempat membunuh putri – putrinya itu, Umezawa telah terbunuh di studionya sendiri. Ketika menyelidiki kasus pembunuhan Umezawa itulah polisi menemukan catatan Umezawa yang berisi rencananya untuk menciptakan Azoth.
Kasus pembunuhan Umezawa sendiri merupakan kasus yang teramat rumit karena Umezawa dibunuh di studionya yang terkunci rapat dari dalam. Dan kasus ini semakin bertambah pelik ketika hanya beberapa saat setelah pembunuhan Umezawa, anak – anak dan keponakannya pun terbunuh persis seperti yang tertulis dalam catatannya. Siapakah pembunuhnya? Lalu apa motif dari pembunuhan sadis yang telah mempermalukan Kepolisian Jepang selama empat puluh tahun itu?
Pengaruh Sherlock Holmes dalam novel ini sangat terasa. Dan Soji Shimada, penulis novel ini, tidak menutup – nutupinya. Tapi ia memang menciptakan tokoh utama, sang detektif, Kiyoshi Mitarai, kebalikan dari Sherlock Holmes. Jika Sherlock Holmes digambarkan sebagai seorang pengguna kokain, Mitarai merokok pun tidak. Jika Sherlock Holmes sering menggoda Dr. Watson karena analisisnya yang dangkal, di Tokyo Zodiac Murder ini, asisten Mitarai, Kazumi Ishioka, yang membuat malu Mitarai. Detektif Mitarai sangat serius mempelajari kasus ini. Dan setelah berpikir keras ia menemukan sebuah teori yang dia anggap sebagai pemecahan atas kasus pembunuhan zodiac Tokyo. Namun Ishioka mengatakan bahwa telah ada orang lain yang mengatakan teori tersebut dan terbukti bahwa teori itu salah. Karena hal ini, Mitarai tersinggung dan marah besar (halaman 118)
Meskipun dari beberapa sisi Soji Shimada terpengaruh Sherlock Holmes, melalui buku ini Soji mengkritik kisah – kisah Sherlock Holmes yang ditulis oleh Conan Doyle tersebut. Ia, melalui sang tokoh cerita, Detektif Mitarai, mengkritik Sherlock Holmes yang dalam sebuah cerita menyamar sebagai wanita. Menurut Soji, tinggi tubuh Holmes yang 180 senti itu tidak memungkinkan untuk menyamar sebagai wanita.
Dan saya senang bukan kepalang ketika Soji juga mengkritik kisah Sherlock Holmes yang berjudul Sabuk Berbintik, karena kritikan yang sama juga saya tulis di review saya; Petualangan Sherlock Holmes
Meskipun novel ini sangat memukau saya, namun buku ini juga memiliki lubang – lubang yang bisa kita gunakan untuk mengkritik. Pertama adalah putri – putri dan keponakan Umezawa yang memiliki bintang persis dengan yang dikehendakinya untuk menciptakan Azoth. Ini memang fiksi. Tapi yang dikatakan oleh Umezawa sebagai “kebetulan” ini, bagi saya merupakan kebetulan yang teramat aneh dan terlalu dipaksakan.
Kedua adalah tidak tegasnya Soji dalam menentukan karakter Sherlock Holmes, apakah ia karakter dalam buku yang ditulis oleh Conan Doyle atau karakter asli yang ditulis oleh Dr. Watson. Ketika membaca dialog antara Mitarai dan Ishioka dari halaman 168 sampai 171, kita akan mendapatkan kesan bahwa Holmes adalah karakter asli yang ditulis kisahnya oleh Dr. Watson. Tapi di halaman 169, Soji menulis:
“Baik…. Sabuk Berbintik. Itu kesukaan Arthur Conan Doyle sendiri, dan juga kisahnya yang paling terkenal.”
Saya sangat menyukai kaver novel ini, simpel tapi sangat elegan. Pilihan warna dasar putih yang dikombinasikan dengan warna hitam, abu – abu atau merah membuat saya suka. Buku Sherlock Holmes keluaran Gramedia yang terbaru, The Reader dan sekarang Tokyo Zodiac Murder memiliki sampul yang nyaman di mata saya. Namun sampul belakang buku ini juga memiliki kekurang tepatan. Di sampul belakang itu tertulis:
Dengan didampingi Dr. Watson versinya sendiri – seorang illustrator dan penggemar kisah detektif, Kazumi Ishioka…..
Padahal yang mengkhayal jadi Sherlock Holmes adalah Ishioka. (halaman 167).
Kisah yang luar biasa ini akan membuat anda tercengang dan puas. Karenanya saya sempat bertanya: Mengapa Gramedia harus menunggu sampai 25 tahun untuk menerbitkan buku yang luar biasa ini.



Informasi Buku:
Buku 34
Judul: The Tokyo Zodiac Murders
Penulis: Soji Shimada
Penerbit:  Gramedia
Tebal:  354 halaman
Cetakan:  Juli 2012

Jumat, 31 Agustus 2012

The Reader, Sang Juru Baca


Dari harian KOMPAS minggu, beberapa tahun lalu, saya tahu bahwa film The Reader yang dibintangi oleh Kate Winslet itu diadaptasi dari sebuah novel. Karena tertarik, saya mencari novel yang masih berbahasa Inggris itu dan berniat untuk menerjemahkannya karena belum satupun penerbit Indonesia yang melakukannya. Sayang, karena kesibukan, saya berhenti hanya sampai pada bagian pertama dari novel. Waktu berlalu dan baru di tahun ini saya mendapatkan terjemahan bahasa Indonesianya dari Penerbit Elex Media Komputindo.

Novel dewasa ini diawali dengan adegan dimana Michael Berg, anak muda berusia lima belas tahun, muntah – muntah di depan apartemen sewaan seorang wanita, Hanna Schmitz. Hanna menolongnya dan mengantarnya pulang. Selang beberapa hari setelah kejadian itu, Michael menceritakan kejadian yang telah dilaluinya. Sang ibu menyarankan agar Michael memberi Hanna bunga sebagai tanda terima kasih.

Michael yang memergoki Hanna ketika sedang berganti pakaian, membuat Michael kembali ke apartemen Hanna. Mengapa ia kembali? Tentu saja karena tidak kuat memendam hasrat setelah ia melihat Hanna berganti pakaian. Namun ia menyembunyikan hasrat itu dibalik alasan – alasan yang dibuat – buat seperti ia ingin meminta maaf karena telah berbuat kurang ajar dengan mencuri pandang ketika Hanna sedang tidak dalam berpakaian lengkap. Sebenarnya, ketika ia memutuskan untuk kembali menemui Hanna, terjadi tarik menarik dalam pikiran Michael. Oleh karena itulah ia berkata: “Apakah pendidikan moral yang kudapat pada akhirnya berbalik melawan pendidikan moral itu sendiri?” (hal. 20)

Hanna adalah wanita yang sangat peka. Ia tahu apa yang membuat Michael kembali. Maka, dengan sengaja ia pun memenuhi hasrat Michael. Kisah percintaan antara anak muda belasan tahun dengan seorang perempuan berusia tiga puluhan tahun pun dimulai!.

Ada yang tak biasa dari “Ritual Pemenuhan Hasrat” yang dilakukan oleh Hanna dan Michael. Karena pada awalnya mereka mandi sebelum melakukannya, ritual – ritual yang berikutnya pun mereka lakukan setelah mereka mandi. Namun dari sebuah obrolan, Hanna ingin menambahkan satu lagi aktivitas dalam rangkaian ritual mereka itu; Michael harus membacakan Hanna sebuah buku sebelum mandi. Urut – urutannya adalah: membaca buku, mandi dan pelaksanaan ritual itu.

Apakah Hanna mencintai Michael? Apakah Michael mencintai Hanna? Ataukah mereka terikat karena keinginan untuk melakukan ritual itu? Tidak. Hanna benar – benar mencintai Michael. Begitu juga dengan Michael kepada Hanna. Namun, ada sesuatu yang tidak biasa di tengah – tengah cerita. Hanna meninggalkan Michael begitu saja. Tanpa pemberitahuan, tanpa ada tanda – tanda.

Saya menyukai buku ini bukan karena kisah “ritual”nya. Namun karena sadar akan betapa kompleksnya hubungan antara laki – laki muda dengan wanita yang jauh lebih tua. Secara psikologis, konon kabarnya wanita lebih cepat dewasa dibandingkan pria. Wanita yang berusia dua belas tahun tidak sama dengan pria yang berusia dua belas tahun. Wanita jauh lebih matang. Nah, jika ada anak muda usia belasan memiliki hubungan cinta dengan wanita yang berusia dua kali lipat dari usianya sendiri, apa yang akan terjadi?

Dulu, saya pernah melihat film dengan tema serupa ini. Judul film itu Forbidden Love. Sayangnya, kisah dalam film ini harus berakhir sedih. Sang wanita yang lebih tua harus berpisah dengan kekasihnya yang jauh lebih muda itu karena perbedaan pola pikir yang mencolok. Sesuatu yang menyenangkan bagi si pria muda menjadi masalah yang memberatkan bagi si wanita. Akhirnya mereka pun menyerah.

Awalnya saya pun mengira bahwa The Reader ini juga akan berakhir sama. Dua orang beda usia yang saling mencinta harus berpisah karena tidak mampu lagi menyesuaikan perbedaan pandangan. Ketika melihat film The Reader ini, saya pun berkesimpulan seperti itu. Hanna membutuhkan perhatian dari seorang yang dicintainya. Sedangkan Michael, yang jauh lebih muda, menginginkan kesenangan yang lebih. Kesenangan yang didapatnya bersama Hanna dan juga kesenangan yang didapatnya dari teman – teman sebayanya. Namun ternyata saya salah.

Perbedaan itu memang menyebabkan masalah. Hanna pernah marah besar sehingga membuat Michael menangis karena merasa direndahkan. Namun bukan perbedaan pola pikir yang membuat Hanna meninggalkan Michael. Hanya dengan membaca novelnya saya tahu alasan mengapa Hanna meninggalkan Michael.

Novel ini layak dibaca. Memang ada adegan – adegan dewasa, namun tidak ada kalimat – kalimat vulgar di halaman – halamannya (sungguh jauh berbeda ketika anda melihat filmnya).

Novel ini ditulis ringkas namun tetap meninggalkan kesan yang mendalam. Ketika menggambarkan peristiwa yang memilukan dari tokoh utama, penulis hanya menggunakan dua kalimat saja (hal. 212). Namun di dalamnya juga terdapat banyak kalimat – kalimat instropektif yang akan membuat kita merenunginya.

Novel ini pun masuk dalam salah satu novel yang harus dibaca sebelum mati (1001 Books You Must Read Before You Die). Dan saya rasa ia layak masuk daftar itu karena dengan membacanya ia akan mengajari kita untuk menjaga harga diri dengan sekuat tenaga (keteguhan Hanna dalam menyimpan rahasia), pentingnya ketekunan dan konsistensi (Michael yang membaca keras – keras buku – buku setebal Novel War and Peace dan merekamnya untuk Hanna)  dan pentingnya untuk bersikap tengah – tengah (Hanna bersikap spontan dan terkesan tidak mempertimbangkan akibat dari perbuatannya. Sedangkan Michael selalu penuh dengan perencanaan yang membuatnya kesulitan untuk berdamai dengan pikirannya sendiri).

Bukan hanya sampul yang elegan (saya selalu suka sampul buku dengan kombinasi warna hitam, putih dan abu – abu), namun menyelami sisi kejiwaan manusia akan selalu menarik perhatian saya.



Informasi Buku:
Buku 33
Judul: The Reader, Sang Juru Baca
Penulis: Bernhard Schlink
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tebal:  232 halaman
Cetakan:  Juni 2012


Senin, 13 Agustus 2012

Little Girls Wiser than Men (Short Story)


Dua anak kecil bermain – main di kubangan di musim dingin. Karena saking riangnya, salah satu dari anak itu, Malasha, menghentakkan kaki sekuat – kuatnya hingga air di kubangan itu muncrat dan mengenai baju temannya, Akoulya. Akoulya marah dan mengejar Malasha untuk meninjunya. Malasha lari di saat ibu Akoulya mengetahui baju anaknya kotor karena lumpur. Akoulya mengadukan perbuatan Malasha.
Ibu Akoulya marah dan memukul Malasha. Malasha menangis melolong. Ibu Malasha, mendengar anaknya menangis, keluar dan memarahi ibu Akoulya. Kedua ibu ini pun bertengkar. Seorang ibu tua yang berusaha mendamaikan 2 ibu yang bertengkar itu pun tak berhasil. Pertengkaran yang sengit di antara ibu – ibu itu bahkan menyeret bapak – bapak mereka untuk ikut bertengkar. Lagi – lagi nenek tua yang mencoba melerai mereka tak juga membuahkan hasil.
Di saat pertengkaran semakin tak terkendali itulah dua orang anak yang menjadi sumber pertengkaran berbuat sesuatu yang membuat orang tua mereka malu.
Cerita pendek Tolstoy yang sangat pendek ini, hanya sekitar satu halaman folio dengan font Times New Roman ukuran 12, spasi satu setengah, kembali sukses menohok manusia tua yang terkadang berbuat sesuatu yang tidak dewasa. Keluguan anak – anak didasari oleh hati yang bersih. Iri dan dengki tidak terdapat dalam jiwa anak – anak. Kekacauan hidup akibat iri dan dengki selalu didominasi oleh orang – orang tua.
Except ye turn, and become as little children, ye shall in no wise enter into the kingdom of heaven, tulis Tolstoy di akhir kisahnya. Orang – orang tua memang telah menciptakan neraka mereka sendiri jika tidak belajar dari kebijakan kanak – kanak.
Satu – satunya yang tidak menentramkan hati dari cerita pendek Tolstoy yang satu ini adalah panjang cerita. Sangat sulit untuk membekaskan kesan mendalam dengan cerita yang pendek saja.

Minggu, 12 Agustus 2012

God Sees the Truth, but Waits (Short Story)

Sebuah cerita pendek memang tidak ditulis serumit sebuah novel. Namun kesan setelah membaca sebuah cerita pendek yang baik sebanding dengan membaca sebuah novel yang tebal. Saya menemukan cerita pendek – cerita pendek yang memukau karya sastrawan – sastrawan Rusia. Dan diantara para sastrawan Rusia, Tolstoy, menurut saya, merupakan salah seorang yang paling menonjol.
Terinspirasi oleh mbak Fanda, yang mengulas cerita pendek satu persatu dari sebuah kumpulan cerita pendek, saya pun berniat untuk mengulas cerita pendek – cerita pendek karya Tolstoy. Mengapa Tolstoy? Ketenaran War and Peace membuat saya ingin membaca karya sastrawan yang satu ini. Gutenberg menyediakan versi digital dari semua karya Tolstoy untuk diunduh secara gratis. Namun untuk alasan kenyamanan, saya lebih memilih versi cetaknya. Karena belum menemukan novel ini dalam versi cetaknya, saya pun membaca cerpen – cerpennya dalam versi digitalnya. Membaca cerpen meskipun dalam format digital jauh lebih mudah daripada membaca novel dalam format yang sama. 
Cerita pendek Tolstoy yang saya baca pertama kali adalah God Sees the Truth, but Waits. Cerpen ini berkisah tentang seorang saudagar yang bernama Ivan Dmitrich
Aksionov
. Di masa mudanya Aksionov adalah seorang pemabuk yang terkadang berbuat onar. Namun setelah ia menikah, ia menghentikan kebiasaan buruknya itu. Suatu kali, Aksionov berpamitan kepada keluarganya untuk pergi ke sebuah pekan raya untuk berdagang. Istrinya mencoba mencegahnya karena ia bermimpi buruk tentang Aksionov. Tentu saja Aksionov menolak membatalkan rencananya.
Ia pun berangkat. Di tengah perjalanan ia bertemu seorang saudagar kenalannya dan mereka menginap di penginapan yang sama. Mereka berbagi kamar di penginapan itu. Di pagi harinya Aksionov bangun lebih awal. Ia bersiap dan melanjutkan perjalanan kembali. Di tengah perjalanan ia berhenti untuk mengistirahatkan kudanya. Namun tanpa disangka – sangka, dalam istirahatnya itu, tiga orang serdadu mendekatinya dan menuduhnya telah membunuh saudagar kenalannya di saat mereka berbagi kamar di penginapan. Aksionov tidak bisa mengelak karena sebuah pisau yang berlumuran darah ditemukan di dalam tas yang dibawanya. Ia pun ditahan.
Di dalam tahanan, istri dan anak – anaknya menjenguknya. Dan bertambahlah duka Aksionov saat istrinya pun ragu jika Aksionov tidak melakukan kejahatan itu. Ia menangis dan pasrah. Jika istrinya pun tidak mempercayainya, siapa lagi yang dapat diharapkannya? "It seems that only God can know the truth; it is to Him alone we must appeal, and from Him alone expect mercy."  Katanya pada dirinya sendiri. Ia berhenti berusaha agar dibebaskan dan hanya berdoa kepada Tuhan. Dia dihukum cambuk dan dibuang ke Siberia.
Dua puluh enam tahun sudah ia dipenjara di Siberia. Dan mimpi buruk istrinya pun menjadi kenyataan, rambutnya memutih dan jenggotnya berwarna keabu – abuan. Ia jarang tertawa dan berbicara. Namun ia selalu berdoa. Karenanya, ia menjadi orang yang dituakan di tahanan dan disegani.
Suatu saat, sekelompok tahanan baru datang. Melalui obrolan,  tahulah Aksionov bahwa  salah satu dari mereka, Makar Semyonich,  adalah sang pembunuh saudagar dua puluh enam tahun yang lalu. Kemarahan yang meluap membuat Aksionov terus menerus berdoa namun kali ini doanya tidak menentramkan hatinya.
Ketentuan Tuhan membuat Aksionov memergoki Makar sedang membuat lubang di lantai untuk melarikan diri. Makar yang ketakutan mengancam Aksionov jika sampai melaporkan apa yang telah dilihatnya. Atas izin Tuhan juga akhirnya penjaga penjara mengetahui lubang untuk melarikan diri itu. Maka para tahanan pun ditanyai tentang siapa yang membuat lubang itu. Tak terkecuali Aksionov. Namun Aksionov bungkam. Ia tidak melaporkan apa yang telah dilihatnya.
Aksionov bungkam bukan karena takut kepada Makar. Ia hanya berpikir bahwa jika ia melaporkannya, ia tidak mendapatkan manfaat darinya. And, after all, what good would it be to me? Kebaikan hati dan kebijaksanaan yang timbul dari penderitaan selama bertahun – tahun inilah yang membuat akhir cerita menjadi begitu mengharukan sekaligus mencerahkan hati.
Cerita pendek Tolstoy yang satu ini mengandung makna yang sangat dalam. Terkadang Tuhan harus menimpakan kemalangan kepada seseorang agar ia kembali kepadaNya dan mendapatkan ketentraman hidup. Aksionov yang bekas pemabuk diselamatkan Tuhan melalui perkawinan. Dan ia yang saudagar kaya disadarkan Tuhan melalui dua puluh enam tahun di penjara atas kejahatan yang tidak dilakukannya bahwa membalas dendam bukanlah cara yang bijak untuk menentramkan hati.
Mengapa cerpen ini diberi judul God Sees the Truth, but Waits? Tentu saja Tuhan tidak tidur sehingga Dia pasti tahu siapa yang bersalah. Mudah saja bagi Tuhan untuk menunjukkan siapa yang telah membunuh sang saudagar. Namun Dia lebih mengutamakan kebaikan bagi Aksionov daripada mengungkap siapa yang telah berbuat dosa.
Saya tidak melihat cela dari cerita pendek ini. Kejeniusan Tolstoy telah menyelamatkannya.

Selasa, 29 Mei 2012

Petualangan Sherlock Holmes

Dr. Watson menuturkan petualangannya bersama sahabatnya, Sherlock Holmes, di buku Petualangan Sherlock Holmes ini. Meskipun buku ini seperti buku – buku Sherlock Holmes yang lain – memuat kesimpulan brilian dari sang detektif – menurut saya buku Sir Arthur Conan Doyle yang ini ditulis dengan cukup unik.

Sir Arthur Conan Doyle memang seorang penulis yang piawai. Biarpun ke 12 kisah dalam buku ini berformat cerita pendek, ia bisa meramunya hingga tetap semenarik novel Sherlock Holmes yang lain. Kisah pertama berjudul Skandal di Bohemia. Berisi cerita tentang seorang bangsawan yang terlibat skandal dengan seorang wanita biasa. Awalnya itu bukan sebuah masalah yang perlu diributkan oleh sang bangsawan. Tetapi ketika ia akan menikah dengan seorang wanita yang juga seorang bangsawan, ia menjadi resah. Wanita yang pernah dicintai oleh sang bangsawan itu mengancam akan mengacaukan pernikahan mereka. Dalam kegalauannya, sang bangsawan meminta pertolongan kepada Sherlock Holmes. Namun, apa daya, ternyata Sherlock Holmes malah jatuh hati kepada sang wanita. Bagaimana nasib sang Bangsawan?

Kisah yang tak kalah menarik adalah sebuah kisah yang berjudul Lima Butir Biji Jeruk. Kisah ini mengingatkan saya pada SMS berantai yang berisi perintah agar si penerima sms mengirimkan kembali SMS itu kepada beberapa orang atau kalau tidak ia akan mendapatkan musibah. Jika anda mendapatkan SMS seperti itu, apakah anda akan mengindahkannya? Tentu tidak.

John Openshaw mendapatkan sebuah surat yang berisi lima butir biji jeruk dan sebuah perintah. Berbeda dengan sikap kita ketika menerima sebuah SMS berantai, John Openshaw menjadi sangat ketakutan sehingga merasa perlu meminta pertolongan kepada Sherlock Holmes. Holmes pun bertindak. Namun, berbeda dengan kisah Holmes pada umumnya, kisah ini ditutup tanpa sebab kecerdasan si detektif.

Kisah favorit saya adalah kisah tentang Batu Delima Biru. Seorang pencuri batu permata secara tiba – tiba mendapatkan ilham untuk menyembunyikan hasil curiannya ke dalam perut seekor bebek. Kekuatan analisis Holmes sangat terasa dalam kisah ini. Di sini kita juga bisa tahu bahwa Holmes adalah seorang cerdas dengan karakter yang kuat. Kelebihan Holmes ini bisa kita ketahui ketika dia mendebat sekaligus mengorek informasi dari seorang penjual bebek yang marah. Namun, kasus ini terungkap bukan hanya karena kelebihan Holmes dalam menganalisa. Kasus ini berhasil diselesaikan oleh Holmes karena si pelaku pencurian yang masih sangat amatir.

Kisah – kisah lainnya sangat sayang untuk dilewatkan. Semuanya menarik. Namun setelah menyelesaikan sekian kisah itu, saya curiga Sir Arthur Conan Doyle menulis sebuah kisah dalam buku ini dengan mengembangkan ide dari kisah lainnya. Kisah Skandal di Bohemia dan Bangsawan Muda sama – sama mengisahkan tentang bangsawan yang akan menikah. Bedanya, di Skandal di Bohemia sang bangsawan takut jika percintaannya dengan rakyat biasa di masa lalu bisa merusak proses pernikahannya, sedang di Bangsawan Muda, si bangsawan gagal menikahi gadis yang dicintainya karena sang gadis kembali kepada kekasihnya di masa lampau.

Dalam Kasus Identitas, seorang ayah tiri menyaru menjadi pemuda yang mencintai anak tirinya sendiri dan kemudian membuatnya patah hati. Dengan membuat anak tirinya patah hati, diharapkan si anak tidak lagi mempunyai kehendak untuk menikah sehingga si ayah tiri bisa leluasa memanfaatkan harta warisan untuk si gadis. Mirip dengan Kasus Identitas, dalam Pria Berbibir Miring, seorang ayah sengaja menyamar menjadi pengemis, tanpa sepengetahuan anak istrinya agar dapat menafkahi mereka secara layak. Kedua kisah sama – sama mengangkat tokoh yang menyamar karena alasan harta benda.

Dalam Perkumpulan Orang Berambut Merah, tokoh cerita dipekerjakan oleh seseorang dengan gaji yang besar untuk sebuah pekerjaan yang bisa dikatakan sangat sepele. Iming – iming bayaran besar dengan pekerjaan yang ringan juga bisa kita temukan di kisah Ibu Jari Sang Insinyur dan Petualangan di Copper Beeches. Tokoh – tokoh dalam ketiga kisah itu juga digambarkan sedang mengalami kesulitan keuangan.

Kekurangan dari karya Conan Doyle ini, menurut saya, ada pada kisah yang pertama; Skandal di Bohemia. Saya rasa, apa yang direncanakan dan dilakukan oleh Holmes di kisah ini biasa – biasa saja. Sehingga tentu saja si target operasi bisa langsung membaca rencana itu. Akan tetapi, Doyle terlalu melebih – lebihkannya sehingga Sherlock Holmes menjadi sangat mengagumi orang yang telah menggagalkan operasinya. Dalam Lilitan Bintik – Bintik, dikisahkan si Dokter bisa melepaskan ular peliharaannya kemudian memanggilnya kembali dengan siulan. Jika hewan yang dilibatkan dalam kisah ini berupa kuda atau anjing, saya akan mempercayainya. Namun jika itu ular, saya sangsi jika hewan berbisa ini bisa secerdas itu.

Nah, sekarang kembali kepada pernyataan saya di paragraf awal. Apa yang unik dari buku ini? Buku ini dikarang sedemikian rupa sehingga seolah – olah ditulis oleh Dr. Watson. Dan di kisah Petualangan di Copper Beeches, Sherlock Holmes mengejek Dr. Watson telah “menurunkan derajat serangkaian bahan kuliah menjadi serial cerita dongeng”!!


Informasi Buku:
Buku 32
Judul: Petualangan Sherlock Holmes
Penulis: Sir Arthur Conan Doyle
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal:  498 halaman
Cetakan:  IX, Februari 2012

Rabu, 09 Mei 2012

Kutipan dari The Last Secret

"Kau terburu - buru .... seperti hidupmu, kurasa. Biarkan terbuka dengan sendirinya, Cotten Stone. Jika kau tergesa - gesa, banyak yang akan terlewatkan dan kau akan melaluinya tanpa pernah melihatnya. Semua masalah - semua jawaban - diberikan kepada kita bila kita telah siap menerimanya."

Senin, 07 Mei 2012

Manusia – Manusia Paling Misterius di Indonesia


Semua Negara, sepanjang sejarahnya, memiliki manusia – manusia besar yang turut membentuk karakternya. Negara besar seperti Amerika, pernah memiliki seorang besar seperti George Washington yang akan dikenang rakyat sebagai pemimpin yang jujur. Dan    bukan cuma Washington, ada ribuan orang lain. Bahkan mungkin ratusan juta orang.

Begitu juga dengan Negara kita. Kita pernah memiliki seorang pemimpin besar seperti Ir. Soekarno. Seorang presiden yang disegani di seluruh dunia. Seorang pemimpin dengan karakter yang sangat kuat sekaligus pendiri bangsa. Seorang yang cerdas sehingga menguasai begitu banyak disiplin ilmu. Seorang yang tampan dan gagah sehingga menjadi pujaan banyak wanita. Kita berbangga hati karena pernah memiliki pemimpin seperti itu. Namun, seperti Amerika, kita tidak hanya memiliki seorang saja. Ada jutaan orang.
Namun, karena sejarah tidak selalu dicatat, akan selalu muncul kesimpang siuran kabar. Yang karena kesimpang siuran itulah ada banyak tokoh yang tidak dikenal dan ada banyak tokoh yang misterius.

Kita bisa memaklumi hal ini karena rentang waktu antara kehidupan tokoh – tokoh itu dengan kehidupan kita di masa kini begitu panjang. Kalau ada distorsi sejarah selama kurun waktu itu, tentu hal yang wajar. Akan tetapi distorsi itu  tidak selalu dikarenakan kesalahan wajar. Banyak juga sejarah yang diselewengkan karena kepentingan pribadi atau golongan tertentu.
Terlepas dari itu semua, Anton WP menulis Manusia – Manusia Paling Misterius di Indonesia ini. Buku yang berisi sepuluh orang Indonesia yang dianggap paling misterius ini dimulai dengan kisah Gajah Mada. Lalu diikuti kisah hidup Hang Tuah, Syekh Siti Jenar, Ronggowarsito, Si Pitung, Tan Malaka, Supriyadi, Kahar Muzakar, Syam Kamaruzaman dan Sudjana Kerton. Urut – urutan ini sudah cukup menarik bagi saya. Karena semua tokoh yang dipilih sudah mewakili setiap zaman. Gajah Mada, sang pemersatu nusantara, mewakili zaman kuno. Sedang zaman modern diwakili oleh Sudjana Kerton yang konon pernah diculik oleh UFO.

Distorsi sejarah seperti yang telah saya tulis di muka akan sangat Nampak di kisah Syekh Siti Jenar. Kalau anda pernah menonton film Syekh Siti Jenar, anda akan melihat hal – hal mistis di dalamnya. Sunan Kalijaga yang mengejar Siti Jenar yang ambles ke tanah lalu berhasil menangkap dan memenggal kepalanya.

Dalam sejarahnya, para wali memang memiliki beberapa karomah yang bagi beberapa orang bisa dianggap sangat menakjubkan. Tapi visualisasi dalam film sangat berlebihan. Kalau anda ingat, dalam film sunan Kalijaga, digambarkan betapa dia harus bertapa di tepi kali hingga ditumbuhi lumut agar diterima sebagai murid salah seorang sunan.

Syekh Siti Jenar pun diperlakukan demikian. Masyarakat kita, sampai saat ini pun, masih sangat mempercayai hal – hal mistis, sehingga ada anggapan bahwa Siti Jenar adalah seseorang yang berasal dari cacing. Diubah menjadi manusia oleh Sunan Bonang karena mencuri dengar pembicaraan para wali. Sesuatu yang sangat mustahil bisa dilakukan oleh manusia!!

Untungnya, penulis berimbang dalam mengutip pendapat – pendapat mengenai Siti Jenar. Kalau menurut saya, pendapat yang paling benar adalah yang mengatakan bahwa Siti Jenar adalah penganut sufi yang mengajarkan manunggaling kawula gusti. Kalau para wali yang lain berdakwah tauhid, mengesakan Alloh, dakwah Siti Jenar ini mengancam kemurnian ajaran Islam. Karena itulah ia dihukum mati.

Ronggowarsito bisa jadi merupakan tokoh yang ditunggu – tunggu juga. Ia merupakan pujangga sekaligus peramal handal yang masih sering dijadikan rujukan hingga sekarang. Salah satu bait karangan Ronggowarsito yang tetap relevan hingga saat ini adalah seperti yang tertulis dalam Serat Kalatida: Sakbegja – begjaning wong kang lali, luwih begja kang eling lan waspadan (Seuntung – untungnya orang yang lupa, lebih untung orang yang ingat dan waspada). Di kisah Ronggowarsito ini pula penulis mengutip ramalan Ronggowarsito mengenai presiden Indonesia. Kalau anda membacanya, anda akan tercengang dengan ketepatan ramalannya. Tapi kalau kita lebih rasional, ramalan Ronggowarsito mengenai presiden ini terlihat hanya sebagai otak – atik mathuk (dihubung – hubungkan) saja. Kalau anda belum pernah mendengar mengenai ramalan Ronggowarsito ini, anda harus membaca buku ini.

Tokoh “misterius” lainnya adalah Syam Kamaru Zaman. Saya memberikan tanda kutip pada kata misterius karena menurut saya Syam Kamaru Zaman tidaklah misterius. Dalam sejarah, memang banyak orang yang sengaja disusupkan oleh pemerintah ke dalam kelompok tertentu untuk menghancurkan kelompok itu dari dalam. Syam adalah salah satunya. Dia disebut – sebut sebagai pentolan PKI yang turut membidani pemberontakan. Namun dalam persidangan ia justru memberikan kesaksian yang memberatkan tokoh – tokoh PKI yang lain. 

Menurut saya, buku ini ditulis dengan lebih baik daripada buku Manusia – Manusia Paling Misterius di Dunia. Meskipun tidak menyertakan banyak rujukan seperti buku yang sebelumnya, buku ini membuka mata saya bahwa seringkali sejarah dibelokkan demi keuntungan pribadi atau golongan. Kita harus selalu waspada.



Informasi Buku:
Buku 31
Judul: Manusia – Manusia Paling Misterius di Indonesia
Penulis: Anton WP
Penerbit: Buku Katta
Tebal:  125 halaman
Cetakan:  I, 2012