Pages

Jumat, 31 Agustus 2012

The Reader, Sang Juru Baca


Dari harian KOMPAS minggu, beberapa tahun lalu, saya tahu bahwa film The Reader yang dibintangi oleh Kate Winslet itu diadaptasi dari sebuah novel. Karena tertarik, saya mencari novel yang masih berbahasa Inggris itu dan berniat untuk menerjemahkannya karena belum satupun penerbit Indonesia yang melakukannya. Sayang, karena kesibukan, saya berhenti hanya sampai pada bagian pertama dari novel. Waktu berlalu dan baru di tahun ini saya mendapatkan terjemahan bahasa Indonesianya dari Penerbit Elex Media Komputindo.

Novel dewasa ini diawali dengan adegan dimana Michael Berg, anak muda berusia lima belas tahun, muntah – muntah di depan apartemen sewaan seorang wanita, Hanna Schmitz. Hanna menolongnya dan mengantarnya pulang. Selang beberapa hari setelah kejadian itu, Michael menceritakan kejadian yang telah dilaluinya. Sang ibu menyarankan agar Michael memberi Hanna bunga sebagai tanda terima kasih.

Michael yang memergoki Hanna ketika sedang berganti pakaian, membuat Michael kembali ke apartemen Hanna. Mengapa ia kembali? Tentu saja karena tidak kuat memendam hasrat setelah ia melihat Hanna berganti pakaian. Namun ia menyembunyikan hasrat itu dibalik alasan – alasan yang dibuat – buat seperti ia ingin meminta maaf karena telah berbuat kurang ajar dengan mencuri pandang ketika Hanna sedang tidak dalam berpakaian lengkap. Sebenarnya, ketika ia memutuskan untuk kembali menemui Hanna, terjadi tarik menarik dalam pikiran Michael. Oleh karena itulah ia berkata: “Apakah pendidikan moral yang kudapat pada akhirnya berbalik melawan pendidikan moral itu sendiri?” (hal. 20)

Hanna adalah wanita yang sangat peka. Ia tahu apa yang membuat Michael kembali. Maka, dengan sengaja ia pun memenuhi hasrat Michael. Kisah percintaan antara anak muda belasan tahun dengan seorang perempuan berusia tiga puluhan tahun pun dimulai!.

Ada yang tak biasa dari “Ritual Pemenuhan Hasrat” yang dilakukan oleh Hanna dan Michael. Karena pada awalnya mereka mandi sebelum melakukannya, ritual – ritual yang berikutnya pun mereka lakukan setelah mereka mandi. Namun dari sebuah obrolan, Hanna ingin menambahkan satu lagi aktivitas dalam rangkaian ritual mereka itu; Michael harus membacakan Hanna sebuah buku sebelum mandi. Urut – urutannya adalah: membaca buku, mandi dan pelaksanaan ritual itu.

Apakah Hanna mencintai Michael? Apakah Michael mencintai Hanna? Ataukah mereka terikat karena keinginan untuk melakukan ritual itu? Tidak. Hanna benar – benar mencintai Michael. Begitu juga dengan Michael kepada Hanna. Namun, ada sesuatu yang tidak biasa di tengah – tengah cerita. Hanna meninggalkan Michael begitu saja. Tanpa pemberitahuan, tanpa ada tanda – tanda.

Saya menyukai buku ini bukan karena kisah “ritual”nya. Namun karena sadar akan betapa kompleksnya hubungan antara laki – laki muda dengan wanita yang jauh lebih tua. Secara psikologis, konon kabarnya wanita lebih cepat dewasa dibandingkan pria. Wanita yang berusia dua belas tahun tidak sama dengan pria yang berusia dua belas tahun. Wanita jauh lebih matang. Nah, jika ada anak muda usia belasan memiliki hubungan cinta dengan wanita yang berusia dua kali lipat dari usianya sendiri, apa yang akan terjadi?

Dulu, saya pernah melihat film dengan tema serupa ini. Judul film itu Forbidden Love. Sayangnya, kisah dalam film ini harus berakhir sedih. Sang wanita yang lebih tua harus berpisah dengan kekasihnya yang jauh lebih muda itu karena perbedaan pola pikir yang mencolok. Sesuatu yang menyenangkan bagi si pria muda menjadi masalah yang memberatkan bagi si wanita. Akhirnya mereka pun menyerah.

Awalnya saya pun mengira bahwa The Reader ini juga akan berakhir sama. Dua orang beda usia yang saling mencinta harus berpisah karena tidak mampu lagi menyesuaikan perbedaan pandangan. Ketika melihat film The Reader ini, saya pun berkesimpulan seperti itu. Hanna membutuhkan perhatian dari seorang yang dicintainya. Sedangkan Michael, yang jauh lebih muda, menginginkan kesenangan yang lebih. Kesenangan yang didapatnya bersama Hanna dan juga kesenangan yang didapatnya dari teman – teman sebayanya. Namun ternyata saya salah.

Perbedaan itu memang menyebabkan masalah. Hanna pernah marah besar sehingga membuat Michael menangis karena merasa direndahkan. Namun bukan perbedaan pola pikir yang membuat Hanna meninggalkan Michael. Hanya dengan membaca novelnya saya tahu alasan mengapa Hanna meninggalkan Michael.

Novel ini layak dibaca. Memang ada adegan – adegan dewasa, namun tidak ada kalimat – kalimat vulgar di halaman – halamannya (sungguh jauh berbeda ketika anda melihat filmnya).

Novel ini ditulis ringkas namun tetap meninggalkan kesan yang mendalam. Ketika menggambarkan peristiwa yang memilukan dari tokoh utama, penulis hanya menggunakan dua kalimat saja (hal. 212). Namun di dalamnya juga terdapat banyak kalimat – kalimat instropektif yang akan membuat kita merenunginya.

Novel ini pun masuk dalam salah satu novel yang harus dibaca sebelum mati (1001 Books You Must Read Before You Die). Dan saya rasa ia layak masuk daftar itu karena dengan membacanya ia akan mengajari kita untuk menjaga harga diri dengan sekuat tenaga (keteguhan Hanna dalam menyimpan rahasia), pentingnya ketekunan dan konsistensi (Michael yang membaca keras – keras buku – buku setebal Novel War and Peace dan merekamnya untuk Hanna)  dan pentingnya untuk bersikap tengah – tengah (Hanna bersikap spontan dan terkesan tidak mempertimbangkan akibat dari perbuatannya. Sedangkan Michael selalu penuh dengan perencanaan yang membuatnya kesulitan untuk berdamai dengan pikirannya sendiri).

Bukan hanya sampul yang elegan (saya selalu suka sampul buku dengan kombinasi warna hitam, putih dan abu – abu), namun menyelami sisi kejiwaan manusia akan selalu menarik perhatian saya.



Informasi Buku:
Buku 33
Judul: The Reader, Sang Juru Baca
Penulis: Bernhard Schlink
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tebal:  232 halaman
Cetakan:  Juni 2012


Senin, 13 Agustus 2012

Little Girls Wiser than Men (Short Story)


Dua anak kecil bermain – main di kubangan di musim dingin. Karena saking riangnya, salah satu dari anak itu, Malasha, menghentakkan kaki sekuat – kuatnya hingga air di kubangan itu muncrat dan mengenai baju temannya, Akoulya. Akoulya marah dan mengejar Malasha untuk meninjunya. Malasha lari di saat ibu Akoulya mengetahui baju anaknya kotor karena lumpur. Akoulya mengadukan perbuatan Malasha.
Ibu Akoulya marah dan memukul Malasha. Malasha menangis melolong. Ibu Malasha, mendengar anaknya menangis, keluar dan memarahi ibu Akoulya. Kedua ibu ini pun bertengkar. Seorang ibu tua yang berusaha mendamaikan 2 ibu yang bertengkar itu pun tak berhasil. Pertengkaran yang sengit di antara ibu – ibu itu bahkan menyeret bapak – bapak mereka untuk ikut bertengkar. Lagi – lagi nenek tua yang mencoba melerai mereka tak juga membuahkan hasil.
Di saat pertengkaran semakin tak terkendali itulah dua orang anak yang menjadi sumber pertengkaran berbuat sesuatu yang membuat orang tua mereka malu.
Cerita pendek Tolstoy yang sangat pendek ini, hanya sekitar satu halaman folio dengan font Times New Roman ukuran 12, spasi satu setengah, kembali sukses menohok manusia tua yang terkadang berbuat sesuatu yang tidak dewasa. Keluguan anak – anak didasari oleh hati yang bersih. Iri dan dengki tidak terdapat dalam jiwa anak – anak. Kekacauan hidup akibat iri dan dengki selalu didominasi oleh orang – orang tua.
Except ye turn, and become as little children, ye shall in no wise enter into the kingdom of heaven, tulis Tolstoy di akhir kisahnya. Orang – orang tua memang telah menciptakan neraka mereka sendiri jika tidak belajar dari kebijakan kanak – kanak.
Satu – satunya yang tidak menentramkan hati dari cerita pendek Tolstoy yang satu ini adalah panjang cerita. Sangat sulit untuk membekaskan kesan mendalam dengan cerita yang pendek saja.

Minggu, 12 Agustus 2012

God Sees the Truth, but Waits (Short Story)

Sebuah cerita pendek memang tidak ditulis serumit sebuah novel. Namun kesan setelah membaca sebuah cerita pendek yang baik sebanding dengan membaca sebuah novel yang tebal. Saya menemukan cerita pendek – cerita pendek yang memukau karya sastrawan – sastrawan Rusia. Dan diantara para sastrawan Rusia, Tolstoy, menurut saya, merupakan salah seorang yang paling menonjol.
Terinspirasi oleh mbak Fanda, yang mengulas cerita pendek satu persatu dari sebuah kumpulan cerita pendek, saya pun berniat untuk mengulas cerita pendek – cerita pendek karya Tolstoy. Mengapa Tolstoy? Ketenaran War and Peace membuat saya ingin membaca karya sastrawan yang satu ini. Gutenberg menyediakan versi digital dari semua karya Tolstoy untuk diunduh secara gratis. Namun untuk alasan kenyamanan, saya lebih memilih versi cetaknya. Karena belum menemukan novel ini dalam versi cetaknya, saya pun membaca cerpen – cerpennya dalam versi digitalnya. Membaca cerpen meskipun dalam format digital jauh lebih mudah daripada membaca novel dalam format yang sama. 
Cerita pendek Tolstoy yang saya baca pertama kali adalah God Sees the Truth, but Waits. Cerpen ini berkisah tentang seorang saudagar yang bernama Ivan Dmitrich
Aksionov
. Di masa mudanya Aksionov adalah seorang pemabuk yang terkadang berbuat onar. Namun setelah ia menikah, ia menghentikan kebiasaan buruknya itu. Suatu kali, Aksionov berpamitan kepada keluarganya untuk pergi ke sebuah pekan raya untuk berdagang. Istrinya mencoba mencegahnya karena ia bermimpi buruk tentang Aksionov. Tentu saja Aksionov menolak membatalkan rencananya.
Ia pun berangkat. Di tengah perjalanan ia bertemu seorang saudagar kenalannya dan mereka menginap di penginapan yang sama. Mereka berbagi kamar di penginapan itu. Di pagi harinya Aksionov bangun lebih awal. Ia bersiap dan melanjutkan perjalanan kembali. Di tengah perjalanan ia berhenti untuk mengistirahatkan kudanya. Namun tanpa disangka – sangka, dalam istirahatnya itu, tiga orang serdadu mendekatinya dan menuduhnya telah membunuh saudagar kenalannya di saat mereka berbagi kamar di penginapan. Aksionov tidak bisa mengelak karena sebuah pisau yang berlumuran darah ditemukan di dalam tas yang dibawanya. Ia pun ditahan.
Di dalam tahanan, istri dan anak – anaknya menjenguknya. Dan bertambahlah duka Aksionov saat istrinya pun ragu jika Aksionov tidak melakukan kejahatan itu. Ia menangis dan pasrah. Jika istrinya pun tidak mempercayainya, siapa lagi yang dapat diharapkannya? "It seems that only God can know the truth; it is to Him alone we must appeal, and from Him alone expect mercy."  Katanya pada dirinya sendiri. Ia berhenti berusaha agar dibebaskan dan hanya berdoa kepada Tuhan. Dia dihukum cambuk dan dibuang ke Siberia.
Dua puluh enam tahun sudah ia dipenjara di Siberia. Dan mimpi buruk istrinya pun menjadi kenyataan, rambutnya memutih dan jenggotnya berwarna keabu – abuan. Ia jarang tertawa dan berbicara. Namun ia selalu berdoa. Karenanya, ia menjadi orang yang dituakan di tahanan dan disegani.
Suatu saat, sekelompok tahanan baru datang. Melalui obrolan,  tahulah Aksionov bahwa  salah satu dari mereka, Makar Semyonich,  adalah sang pembunuh saudagar dua puluh enam tahun yang lalu. Kemarahan yang meluap membuat Aksionov terus menerus berdoa namun kali ini doanya tidak menentramkan hatinya.
Ketentuan Tuhan membuat Aksionov memergoki Makar sedang membuat lubang di lantai untuk melarikan diri. Makar yang ketakutan mengancam Aksionov jika sampai melaporkan apa yang telah dilihatnya. Atas izin Tuhan juga akhirnya penjaga penjara mengetahui lubang untuk melarikan diri itu. Maka para tahanan pun ditanyai tentang siapa yang membuat lubang itu. Tak terkecuali Aksionov. Namun Aksionov bungkam. Ia tidak melaporkan apa yang telah dilihatnya.
Aksionov bungkam bukan karena takut kepada Makar. Ia hanya berpikir bahwa jika ia melaporkannya, ia tidak mendapatkan manfaat darinya. And, after all, what good would it be to me? Kebaikan hati dan kebijaksanaan yang timbul dari penderitaan selama bertahun – tahun inilah yang membuat akhir cerita menjadi begitu mengharukan sekaligus mencerahkan hati.
Cerita pendek Tolstoy yang satu ini mengandung makna yang sangat dalam. Terkadang Tuhan harus menimpakan kemalangan kepada seseorang agar ia kembali kepadaNya dan mendapatkan ketentraman hidup. Aksionov yang bekas pemabuk diselamatkan Tuhan melalui perkawinan. Dan ia yang saudagar kaya disadarkan Tuhan melalui dua puluh enam tahun di penjara atas kejahatan yang tidak dilakukannya bahwa membalas dendam bukanlah cara yang bijak untuk menentramkan hati.
Mengapa cerpen ini diberi judul God Sees the Truth, but Waits? Tentu saja Tuhan tidak tidur sehingga Dia pasti tahu siapa yang bersalah. Mudah saja bagi Tuhan untuk menunjukkan siapa yang telah membunuh sang saudagar. Namun Dia lebih mengutamakan kebaikan bagi Aksionov daripada mengungkap siapa yang telah berbuat dosa.
Saya tidak melihat cela dari cerita pendek ini. Kejeniusan Tolstoy telah menyelamatkannya.